Tepuk tangan meriah terdengar ketika MC mulai membuka acara. Tidak lama setelah pembukaan, tanpa berlama-lama MC tersebut langsung mempersilakan Karin untuk ke depan. Sekali lagi tepuk tangan bergemuruh saat Karin mulai melangkah ke depan. Banyak mulut dan mata tamu yang memuji kecantikan Karin. Mereka yang tadi sliweran langsung fokus ke depan melihat gadis itu.
“Terima kasih, semuanya.” Ujar Karin dengan penuh kesopanan dan senyuman yang begitu tulus.
Tepuk tangan berhenti, para tamu tenang memperhatikan Karin di depan.
“Saya mengucapkan banyak terima kasih pada tamu yang hadir pada malam ini.” ujar Karin memulai kalimatnya. Dia melihat pada semua tamu, “Wah, saya sangat tidak menyangka akan semeriah ini.” Kata Karin degan sangat bersahabat. Karin menyampaikan pidatonya dengan sangat tenang. Mengenai karir dan meneruskan estapet profesi yang mulia ini dengan baik. Meskipun dia mempunyai klinik sendiri, Karin berjanji juga akan ikut aktif sebagai dokter rumah sakit swasta binaan keluarganya itu. Menjadi dokter berbudi pekerti dan tanpa pandang bulu dalam melayani setiap pasien yang datang.
Penyampaian pidato Karin yang sangat santun mendapat respon yang baik. Para dokter dan pebisnis yang hadir mengangguk dan mendukung apa yang di sampaikan Karin. Terlebih kedua orang tua Karin, mereka terlihat sangat bangga melihat betapa bijaknya putri mereka satu-satunya ini.
Setelah Karin usai berpidato, next ke acara pemotongan kue, serta ada sesi dansa. Dengan alunan musik yang tenang, para tamu mulai membawa pasangannya masing-masing untuk berdansa.
Di satu meja Fathan, Ami, Karin dan kedua orang Tuan Karin duduk di sana. Mereka tampak berbincang dengan hangat.
“Anak Papa tidak ada pasangan?” ujar Tuan Billi tiba-tiba. Dia melirik Karin dengan mengangkat satu alis, sangat jelas mengejek. Seketika bibir Karin langsung manyun.
“Papa… please jangan mulai.” Jawab Karin dengan gelagat merajuk.
Semua orang di sana tertawa.
“Karin, Karin, apalah kurangnya anak Papa ini. Cantik, berprestasi, karir bagus tapi kenapa tidak ada pasangan. Lihat Fathan yang lelaki saja sudah menikah. Apa anak Papa terlalu mementingkan karir, ya? benar begitu Fathan?”
Fathan tersenyum, “Jodoh tidak bisa di duga-duga Om. Bila sudah waktunya, dari sudut bumi manapun pasti akan di pertemukan.”
Billi mengangguk-angguk kecil, “Kamu benar. Oh iya, kamu kenapa tidak mengajak istrimu ke sini?”
Seketika Karin langsung tercekat. Dia langsung menatap Fathan, sangat segan pada teman baiknya itu. Sementara itu wajah Ami langsung terlihat kesal serta was-was. Dia paling malas jika sudah menyinggung soal menantunya itu. Malu!
“Kondisi Esha masih tidak memungkinkan Om.” Jawab Fathan tetap sopan.
Ami mengetab bibirnya kuat. Hatinya kesal sungguh kesal.Kenapa dia mempunyai menantu yang tidak bisa dibanggakan sedikitpun. Meysha, Meysha wujudnya tidak ada saja di sini tapi masih saja merepotkan, apalagi jika ada. Memang beban banget kamu jadi orang. kutuk Ami di dalam hatinya.
“Nyonya Ami, Karin bilang pada saya jika kondisi Meysha sedikit membaik.”
“Ah, iya. Itu sejak Karin yang merawatnya. Karin benar-benar dokter yang hebat.” Balas Ami dengan senyum merekah yang penuh kepura-puraan.
Vivi tersenyum senang apabila anaknya di puji.
“Dulu saya sering hadir di setiap acara fashion show Meysha. Setalah dia tidak ada di dunia modeling, saya juga jadi jarang ikut sekarang.” ujar Vivi dengan sedikit nada keluhan.
Ami hanya bisa memaksa senyum. Dia tidak tahu harus berkata apa. Vivi tampaknya salah satu peminat Meysha, tapi dengan keadaan Meysha sekarang mana mungkin dia untuk berbasa basi mengajak Vivi untuk bertemu dengan menantunya itu.
Meysha… geram Ami sekali lagi. Dia benar-benar tidak tahan lagi.
“Oh iya bagaimana jika Fathan dengan Karin ikut berdansa.” Ujar Ami sangat antusias. Seketika semua orang di meja itu menoleh padanya.
“Kenapa? Fathan dan Karin kan sudah berteman lama, jadi apa salahnya?” Ami berucap tanpa beban, “Ya kan Fathan.” Kaki Ami di bawah meja menyenggol kaki anaknya itu. Fathan hanya menatap sang Mama dengan datar.
“Ma, Fathan ada istri dan Fathan tidak akan pernah mengkhianati Esha walau sedikitpun.”
Ami tertawa awkward untuk menutupi rasa malunya pada Billi, Vivi dan Karin.
“Ya ampun, kenapa kamu baperan banget sih Fathan. Ini hanya berdansa, mana bisa itu dikatakan dengan berkhianat. Lagian kamu dan Karin berteman baik.” Kaki Ami kembali menyenggol kaki anaknya itu.
Fathan mendengus senyum. Hatinya sedikit tergores. Tiba-tiba ponsel Fathan bergetar. Fathan segera mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Screen di lihat sekilas, lalu Fathan menoleh pada Tuan Billi dan Nyonya Vivi.
“Om, Tante Fathan permisi dulu menjawab panggilan ini.”
“Oh, iya iya. Silakan.”
Fathan langsung bangkit dan beranjak dari situ tanpa menoleh pada Karin sedikitpun. Karin tersenyum kelat. Dia ikhlas Fathan bersama orang lain, dia ikhlas yang kenyataannya bahwa bukan dia perempuan pilihan pria itu. Dia juga tidak lagi menaruh harap, tapi entah kenapa hatinya pedih jika Fathan tidak seperti dulu lagi memperdulikannya. Ya, cemburu ini hanya sebatas hubungan pertemanan yang baik kemudian terasa sedikit renggang. Karin selalu mengingatkan hal ini pada dirinya. Ini hanya rasa kehilangan perhatian seorang sahabat, bukan kekasih!
“Karin.”
Karin tersentak saat Ami menyentuh tangannya.
“Maaf kan Fathan, ya.”
“Tidak ada yang perlu di maafkan tante. Karin sangat tahu bagaimana Fathan. Dia pria yang baik, Meysha memang sangat beruntung.” Ujar Karin dengan tulus.
Ami tersentuh dengan ketulusan Karin. Dia semakin ingin Karin menjadi menantunya.
***
Mobil hitam mewah itu berhenti di depan rumah. Fathan dan Ami langsung keluar dari dalam mobil tersebut.
“Fathan.” Panggil Ami ketika melihat anak lelakinya itu langsung saja bergegas ke dalam rumah.
“Ada apa Ma?” Fathan menoleh.
“Ada hal yang ingin Mama bicarakan. Ikut Mama ke ruang baca Papa.” Kata Ami dan berlalu melewati Fathan.
Fathan menghela napas berat. Jika sudah menyinggung ruang baca almarhum sang Papa, pasti ada hal yang serius. Hal apakah? Rasanya tidak ada masalah sekarang ini. Mau tidak mau Fathan patuh saja.
“Duduk lah.” ujar Ami ketika mereka sudah sampai.
Fathan duduk di sofa, sementara Ami bergerak menuju meja kerja almarhum suaminya.
“Mama mau membicarakan apa?” Fathan menatap sang Mama.
Ami mengambil bingkai foto sang suami yang ada di atas meja, lalu membawa langkah mendekati anak lelakinya itu.
“Fathan, kamu tahu sejak kepergian Papa... dunia mama sangatlah terasa hampa. Sepi. Tawa, jahil, bahkan marah papa Mama sangat rindu. Tidak ada yang meghiasi hari-hari mama.”
“Ma…” Fathan langsung mengusap tangan sang Mama, “Fathan sangat paham perasaan Mama. Tapi kita tidak boleh begini terus. Setiap yang bernyawa pasti menemui ajalnya, kita harus ikhlas agar Papa juga bisa tenang di alam sana. Fathan, Esha dan Adik ada untuk Mama.” bujuk Fathan. Hatinya pedih terlebih Ami sudah terisak.
“Mama ikhlas, mama sudah redha bahwa kenyataannya papa sudah tidak bersama kita lagi. Tapi semakin bertambah usia mama semakin sepi di rumah sebesar ini.” Air mata Ami mengalir lancar.
“Maafkan Fathan Ma. Fathan jarang meluangkan waktu.” Ujar Fathan dengan sangat menyesal. Anak mana yang tidak sedih melihat orang tuanya begini.
Ami mengusap air matanya, “Fathan, kamu mau membuat Mama bahagia?”
Cepat Fathan mengangguk, “Tentu saja. Katakan, apa yang mama mau?”
“Mama mau cucu.”
Fathan langsung terdiam seketika. Cucu?
“Rumah ini terlalu sepi Fathan. Mama juga mau seperti teman-teman mama yang lainnya. Mama juga mau jadi seorang nenek. Dengan kamu punya anak, mama pasti tidak bosan dan kesepian lagi.” luah Ami dengan penuh harap.
“Tapi Ma,” Fathan tidak jadi melanjutkan kalimatnya saat melihat wajah antusias dan penuh harap sang mama langsung suram.
“Kesehatan Esha?” tanya Ami lemah.
“Maafkan Fathan, Ma. Tapi Fathan janji, setelah Esha sembuh, Fathan dan Esha akan memberikan Mama cucu.”
“Kapan?”
Fathan tercekat kali ini. Tidak ada yang tahu kapan istrinya itu akan bisa kembali sehat.
“Mama tidak muda lagi. Semakin hari usia mama bertambah. Ajal juga tidak ada yang tahu. Kamu mau mama terus kesepian hingga akhir hayat?”
“Ma,” marah Fathan mendengar kalimat sang Mama yang seperti hilang semangat.
“Fathan, mama bukan bermaksud apa-apa. Mama bukan ingin menekan kamu maupun Meysha. Yang jelas jika kamu memang sayang dan peduli dengan kebahagiaan Mama… beri mama cucu secepatnya. Jika Meysha tidak bisa, kamu bisa menceraikannya.”
Jantung Fathan bagai disambar petir mendengar kalimat terakhir sang mama. Menceraikan Meysha?
Fathan mau berucap, tapi Ami lebih cepat memotong.
“Kamu anak pertama dan satu-satunya anak lelaki Mama. Pikirkan lah jika kamu memang peduli dengan kebahagiaan mama.” ujar Ami, kemudian beranjak meninggalkan Fathan begitu saja. sebelum keluar dari ruangan itu Ami melirik Fathan yang terdiam kaku di sofa itu. Ami tersenyum penuh muslihat. Dia sangat yakin jika rencananya pasti berhasil. Setelah Fathan menceraikan Meysha, rencana selanjutnya pasti akan sangat mudah.
Hahaha… Ami bersorak gembira di dalam hatinya.