Fathan membuka pintu kamar, terlihat Meysha sudah nyenyak dibuai mimpi. Perlahan pintu kamar di tutup kembali, langkah kakinya dibawa mendekati ranjang. Fathan mengambil tempat duduk di sebelah Meysha. Pipi mulus sang istri diusapnya lembut, dalam waktu bersamaan air mata Fathan menetes begitu saja mengingat perkataan Mama.
“Esha…” Fathan melepas tangis, tidak tahan lagi. begitu sesak di d**a. Fathan menunduk sambil menekup wajah dengan kedua telapak tangannya.
“Abang tidak bisa. Abang sangat mencintai sayang, abang tidak akan sanggup hidup tanpa sayang. Tapi…” Fathan tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ini sungguh berat baginya. Istri dan mama dua-duanya sangat penting. Dia bertanggung jawab untuk membahagiakan dua wanita ini. Tapi, kenapa dia ditempatkan pada situasi yang teramat sulit ini?
Fathan merasakan Meysha bergerak-gerak seperti mau bangun, Fathan cepat menghadap ke arah lain sambil mengusap air matanya.
Okey, Fathan. Kamu tidak boleh terlihat lemah. Jangan sampai Meysha mencurigai apapun.
Fathan segera kembali menghadap ke arah Meysha. Fathan menatap Meysha yang masih menggeliat. Perlahan Meysha membuka matanya, dia langsung terkejut ketika melihat sang suami sudah di depan mata. Menatapnya dengan senyum. Cepat Meysha bangkit dan duduk.
“Abang? Abang sejak kapan pulang?”
Fathan tersenyum lembut, “Baru saja. Sayang kenapa begitu kaget melihat abang? apa karena terlalu tampan?” ujar Fathan dengan nada gurauan.
Meysha mencebikkan bibir, percaya diri sekali suaminya ini.
“Bukan, tadi Esha kira hantu. Tiba-tiba sudah di depan mata saja.”
“Hantu? Memangnya ada hantu setampan ini?” dagu yang berbulu tipis itu diusapnya.
Meysha sekedar tersengih. Perkara rupa, Fathan memang tidak di ragukan lagi, hanya saja Meysha tidak percaya jika suaminya ini suka memuji diri sendiri. Ini pertama kali.
“Sudahlah, abang. Sudah tengah malam, Esha siapkan baju tidur abang, terus gosok gigi, cuci muka dan kaki.” Meysha bangkit dan mengambil baju satin tidur Fathan yang memang sudah dia siapkan, lalu menyerahkannya pada sang suami. Fathan pun hanya patuh dan langsung membawa diri ke kamar mandi sambil membawa baju tidur tersebut.
Ketika pintu kamar mandi tertutup, seketika Meysha langsung limbung. Beruntung tangannya dapat menjangkau tepi ranjang. Perlahan Meysha duduk terduduk di lantai. Meysha langsung tersedu sambil memeluk kedua lututnya. Tampak sangat tertekan.
Fathan tengah membuka kancing kemejanya, tangannya langsung berhenti ketika mendengar suara tangisan kecil, Fathan menajamkan telinga. semakin jelas, Fathan langsung berlari keluar dan menghampiri sang istri yang menangis bagaikan anak kecil yang ketakutan.
“Ya Allah sayang.” Fathan memeluk sang istri, namun tubuhnya langsung di tolak dengan kasar oleh Meysha.
“Jangan ganggu saya. Keluar.” jerit Meysha.
Fathan terkejut melihat melihat Meysha seperti ini. Tidak ubahnya saat pertama kali menggila dan dan di sah kan sakit.
Fathan menggeleng pedih, “Sayang,”
“KELUAR!” Jerit Meysha lebih keras.
Mau tidak mau, perlahan Fathan bangkit dan berjalan menuju pintu. Dia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, Hatinya sungguh pilu melihat seperti itu. Rasanya sangat ingin menenangkan sang istri, namun apalah daya, melihatnya saja Meysha seperti tidak sudi. Meski berat Fathan tetap keluar dari kamar itu dan langsung membawa diri ke dapur. Minuman dingin diambilnya dalam kulkas.
Muncul juga Ami di dapur. Keningnya langsung berkerut melihat Fathan yang seperti frustasi habis bangkrut saja. meneguk minum tanpa henti dengan kancing baju kemeja yang separuh terbuka.
“Kamu kenapa Fathan?” tegur Ami.
Fathan melirik sang Mama, lalu mengakhiri minumnya.
“Fathan baik-baik saja, Ma.” Ujar Fathan sengaja menafikan.
Ami sekedar mengangguk, lalu mendekati kulkas dan mengeluarkan beberapa buah-buahan di sana.
“Meysha sudah tidur?” tanya Ami basa basi.
“Hmmm.” Balas Fathan singkat.
“Mama harap kamu dapat mengambil keputusan secepatnya.” Ami kembali memperingati anak lelakinya itu. Lalu berlalu meninggalkan Fathan begitu saja.
Argghh… Fathan menghela napas keluhan.
Ya Allah, bantu hamba mu ini melewati ujian ini. Hamba yakin, Engkau tidak mungkin menguji diluar batas kemampuan hamba. Luaskan sabar hamba dan tenangkan pikiran hamba, agar hamba tidak sembarangan dalam mengambil tindakan. Doa berbisik di dalam hatinya. Hanya kepada Allah lah dia berserah dan hanya kepada Allah lah dia berharap akan penyelesaian masalahnya ini.
***
Tania keluar dari pantry dengan membawa segelas air hangat. Ketika melihat Fathan yang baru datang, Tania langsung merapikan rambut.
“Morning, bos.” Sapa Tania.
“Morning.” Balas Fathan balas sambil berlalu.
Tania tersenyum masam karena respon Fathan tidak sesuai dengan ekspektasinya. Kiranya bosnya itu akan berhenti dan mengingatkannya perkara makan siang yang Fathan janjikan kemarin. Tania memaksa tawa.
Okey, tidak apa Tania. Dia jual mahal, aku makin suka. Lebih menantang. Bisik hatinya. Tania tersengih dan kembali ke meja kerjanya.
***
Di dalam ruangannya Fathan sibuk bekerja. Klien dan tamu juga silih berganti masuk ke dalam ruangan itu. Hingga akhirnya siang menjelang dan waktu istirahat pun tiba.
Tok, tok, tok!
Seseorang mengetuk pintu dari luar.
“Masuk.” Sahut Fathan.
Pintu terbuka dan terjengul wajah Viko di sana, “Masih sibuk bos?” tanyanya.
“Saya hampir selesai, ada apa?” tanya Fathan tanpa menoleh pada sekretarisnya nya itu. Matanya fokus pada layar tablet di tangan. Dia tengah memperhatikan pergerakan pasar saham.
“Hari ini free makan siang dengan tamu maupun klien. Jadi bos mau makan di luar atau diorder saja?” tanya Viko menanyai keinginan bosnya itu. Bosnya ini memang agak mageran untuk makan di luar jika tidak ada hal yang begitu penting.
Fathan diam sejenak, “Humm, baiknya makan di luar saja.” ujar Fathan. Tab dimatikan dan di taruh di atas meja, lalu dia melangkah keluar. Viko hanya mengekor saja.
Tania kala itu tengah mematikan komputer kerjanya, namun ketika melihat Fathan yang baru keluar dari ruangan, Tania kembali menyalakan komputer dan seolah masih sibuk bekerja. Dalam hati Tani terus brharap jika Fathan menghampirinya dan mengajak makan siang.
Senyum Tania mereka saat melihat Fathan semakin dekat dan dia sangat yakin jika Fathan menghampirinya. Tania langsung memfokuskan mata ke arah screen laptop.
“Nona Tania.”
Hati Tania langsung bersorak. Tuh kan benar, dia menghampiriku. Perlahan Tania menoleh dan menatap Fathan.
“Kamu masih bekerja? Ini sudah jam makan siang.”
“Sudah jam istirahat? Ya ampun saya benar-benar tidak sadarkan diri.” ujar Tania mengambil muka.
Fathan tersenyum tipis, “Kerja itu memang perlu, tpi jangan sampai menyia-nyiakan kesehatan. Sehat adalah nikmat yang tinggi. Nah ayo kita makan siang sama-sama.”
Tania langsung merona, dia bahkan merasakan seolah begitu banyak kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Bak lirik lagu, jatuh cinta berjuta rasanya. Slebew…
Tania mengangguk dan segera mengemasi meja kerjanya. Dia berdiri sambil menyandang sling bag nya.
“Ayo, bos.” ujar Tania.
Fathan mengangguk, “Ayok, mari semuanya. Saya mentraktir kalian di resto sebelah saja, tidak apa-apa kan?”
“Tidak menolak bos.” Karyawan lama bersemangat menjawab. Mana tidak, resto di sebelah kelas bintang lima. Gila kali ya, kalo di tolak.
Tania menoleh ke belakang. tampak semua karyawan termasuk Kiki juga sudah bersiap-siap. Tania langsung mendengus kecewa. Kiranya hanya dia dan bos, ternyata satu divisi ini di ajak.
Fathan dan karyawan lainnya sudah mulai bergerak keluar. sementara Tania masih dia berdiri. Kiki menghampiri teman baiknya itu.
“Kamu kenapa , Nia?”
Tania hanya menggeleng, “ Tidak apa-apa.”
“Terus kenapa kau tidak bergerak? Ayo berangkat.” Ajak Kiki.
“Kamu duluan sja. Aku mau ke toilet sebentar. Aku menyusul,” Tania langsung membawa langkah menuju toilet.
Kiki pun tidak ada pilihan dan ikut bergabung dengan karyawan lainnya.
Tania langsung menghidupkan air di wastafel. Wajahnya segara di basuh beberapa kali. Serasa cukup, Tania mengangkat wajah dan memandanginya di cermin. d**a Tania naik turun karena saking kesalnya pada situasi tadi. Dia sudah benar-benar berharap.
Tania tidak terima. Baru kali ini ada pria yang dengan mudah mengabaikannya. Selama ini dia selalu di perlakukan dengan spesial. Tasnya di rogoh untuk mengambil ponsel. Satu kontak Tania hubungi.
“Halo, aku butuh bantuan kamu. tolong carikan saya informasi tentang Fathan Murat, CEO Emperor Group.”