Adakah Cahaya Di Ujung Sana?

1107 Words
Para karyawan tampak senang melihat setiap menu yang tengah dihidangkan oleh waiters. Beragam menu andalan datang silih bergeanti. Banyak bener. Mereka saling lirik dengan senyuman, lumayan hari ini bisa memanjakan lidah dengan menu-menu spesial ini sekaligus. Semua menu sudah terhidang memenuhi meja. “Okey, tunggu apalagi. Silakan dimulai.” Ujar Fathan mempersilakan. Semua orangan mengangguk dengan senyum. Menu diambil sesuai selera masing-masing. “Selamat makan semua.” Kata mereka lalu mulai menyuap. Semuanya tampak senang. Kiki menatap semua orang, lalu terakhir pada boss yang sangat dia kagumi. Dia salut melihat bagaimana baiknya Fathan memperlakukan karyawannya. Sangat jarang seorang CEO mau langsung bercampur baur begini dengan pekerjanya. Alangkah beruntungnya perempuan yang menjadi istrinya. Pada pekerjanya saja baik bukan main, apalagi istrinya. Di perlakukan seperti ratu setiap saat mungkin. Bisik hati Kiki. Meski masih dirindung kecewa, namun Kiki tidak mau jadi manusia biadab jika mengganggu rumah tangga orang hanya demi kepuasannya belaka. Perlahan dia akan mengobati patah hatinya itu. Fathan melihat semua orang. Dia turut senang melihat melihat pekerjanya yang tampak bahagia. Tiba-tiba Fathan baru menyadari satu hal. “Eh, ada yang kurang ya?” Semua orang langsung menoleh pada Fathan, “Kurang apa lagi boss? Masih ada lagi menu belum terhidang?” tanya salah satu dari mereka. Mereka juga saling tatap. Gila ini bos, ini mengamuk atau apa ini? menu sebanyak ini, tapi masih belum semuanya terhidang. Fathan sedikit tergelak melihat reaksi karyawannya. Perlahan dia menggeleng, “No, maksud saya Tania. Mana dia?” Semua orang juga baru sadar. Serentak mereka menoleh pada Kiki. Kiki yang kala itu mulutnya sedang penuh dengan makanan, dia segera menelannya dengan cepat, lalu minum. “Nia, Nia tadi dia bilang menyusul boss. Dia…” “Hai semua,” sapa Tania yang baru muncul. Semua orang menoleh padanya, membuat Tania tidak enak dan sedikit salah tingkah dilihat begitu. Dia hanya mampu tersenyum segan sambil mengusap tengkuknya. “Kamu datang. Ayo silakan bergabung.” Tania menoleh pada bosnya itu. Lalu ikut bergabung. “Kamu kemana tadi?” tanya Lecy yang berada di sebelah Tania. “Tidak kemana-mana, cuma ada hal terdesak saja.” Lecy sekedar mengangguk, “Ya sudah, yuk makan. Lecy kembali melanjutkan makannya. “Kak Lecy, tadi ada bos menanyai saya?” tanyanya sekedar ingin tahu. Lecy mengangguk, “Kalau bukan karena bos, mungkin kami tidak akan sadar kalau kamu tidak ada. Kami semua sudah terhipnotis dengan semua makanan ini.” “Really?” tanya Tania lebih memastikan sambil tangannya menarik piring yang berisikan steak. Menu yang sama dengan Fathan. “Ha’ah.” Tania langsung melihat ke arah Fathan. Pria itu makan dengan sangat elegan dan berwibawa. Setiap inci yang ada pada Fathan diperhatikannya dengan seksama. Mata tajam dengan bola mata coklat yang indah, hidung mancung, bibir merah yang menggoda di tambah dengan jambang tipis membuat penampilan Fathan sangat berkharisma. Tania juga yakin, dibalik jas itu Fathan juga pasti memiliki postur tubuh yang kekar. Ugh.. Fathan memang sangat sesuai dengan kriterianya. Tania juga yakin bahwa selera Fathan adalah perempuan mature dan sexy. Ya, perempuan seperti itu memang lebih sesuai. Di tengah sibuk menerka perempuan selera Fathan, tiba-tiba Tania teringat tentang istri bosnya itu. Rasa penasaran juga langsung memenuhi Tania. Siapakah istri bosnya ini? dari mana dan bagaimanakah bentuk perempuan yang mendahuluinya mendapatkan Fathan? Tania jadi kesal sendiri mengingat hal ini. Bibirnya berkedut-kedut kesal. Kekesalan Tania semakin membuncah, hingga membuat dia memotong steak nya dengan asal. Lecy menoleh pada piring Tania, lalu pada Tania. Lecy heran sendiri. What happen with her? Lecy sedikit merinding melihat Tania begitu. *** “Auch, sakit Ma.” Rintih Meysha karena sang mertua menarik tangannya dengan kasar menuruni anak tangga terakhir. Ami tidak peduli dengan rintihan Meysha. Dia malah semakin kasar dan memegang tangan Meysha lebih kuat. Hatinya kesal karena Meysha tidak mau ke rumah sakit, makanya dia paksa saja menantunya ini. “Ma,” rintih Meysha sambil menahan diri hingga membuat langkah Ami terhenti. Spontan saja Ami menoleh. “Kamu mau apalagi Meysha? Tidak puas kamu menyusahkan semua orang, hah?” bentak Ami penuh murka. “E-esha, Esha tidak mau ke rumah sakit lagi.” ujar Meysha dengan suara tertahan dan menunduk penuh takut. Ami mendengus kasar, “Esha kamu ini sudah sakit tapi masih saja keras kepala. Selalu saja mau ke klinik, tahu apa kamu? aku kan sudah bilang, kalau kamu chek up di rumah sakit, ya di rumah sakit. Lama-lama aku bisa gila kerana mesti teriak-teriak dulu baru kamu mengerti.” Meysha menggeleng kali ini, “Tidak. Esha tidak mau.” Ujarnya yang sudah menangis. Ami mengetab gigi. Susah betul mengurus orang kurang waras ini, decih hatinya. Disaat yang bersamaan ponsel Ami di dalam handbag bergetar. Ami melepas kasar tangan Meysha dan mengeluarkan ponsel dari tas. Melihat nama Fathan di screen, Ami langsung menghembuskan napas keluhan. Ami mau menjawab panggilan, namun dia dibuat naik pitam melihat Meysha melarikan diri. Gadis itu berlari ke lantai atas. “Meysha mau kemana kamu, hah? balik ke sini!” jerit Ami. Dia memilih untuk mengejar Meysha dan mengabaikan panggilan Fathan. Meysha berlari sambil menangis. Gagang pintu dicapai dan pintu kamar dibuka. Ketika dia hendak masuk, Ami dengan sigap menahan. Meysha menatap mama mertuanya dengan penuh ketakutan. Ami tersengih, lalu menarik tangan Meysha dari gagang pintu. Kemudian… Plak! Satu tamparan keras hinggap di pipi Meysha. Meysha hanya mampu menangis sambil memegang pipinya yang panas akibat tamparan sang mertua. Ami mendengus remeh, “Meysha, kamu jangan terlalu menguji aku ya! Tidak cukup kah kamu menyiksa dan merepotkan anak ku, hah? Semalam apa yang sudah kamu lakukan? sakit bodoh kamu itu kambuh, terus kamu marahi dan usir anak ku, hingga anak ku bagaikan orang frustasi di dapur. Jangan kamu kira saya tidak tahu, aku tahu semuanya. Cukup kamu saja yang gila, jangan buat anak ku ikutan gila karena kamu.” caci Ami telunjuknya diarahkan dengan arrogant pada menantunya yang malang itu. “Sekarang terserah kamulah jika tidak mau ikut aku ke rumah sakit. Toh tidak ada untung juga buat aku, yang ada hanya membuat aku lelah. Oh iya…” Ami maju selangkah mensejajarkan dengan Meysha, lalu dia menoleh pada Meysha. “Apa dikata jika aku meminta cucu pada Fathan? apa kamu sanggup untuk itu?” ujar Ami dengan setengah berbisik, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Meysha. Tangan Meysha menggenggam erat. Perlahan dia melangkah memasuki kamar. Setibanya di tepi ranjang, Meysha langsung duduk di lantai. Memeluk kedua lutut serta menunduk. Tangisnya tersedu. Kemana takdir membawanya mengembara? Bagaimanakah akhirnya? Adakah cahaya diujung sana menantinya? Sementara sekarang saja dia merasa baru saja kehilangan cahaya yang baru saja dia dapatkan beberapa waktu lalu. Sekarang dunianya semakin gelap dan menyedihkan. Dia seperti ditarik kembali memasuki ruangan ini. Bahkan kali ini terasa lebih gelap dan menyakitkan dari sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD