Sedang menimati teh sambil di selengi membolak-balik katalog fashion. Dia memang jenis orang yang selalu update perihal fashion. Biasanya katalog ini tidak jarang di penuhi oleh wajah Meysha. Dari situlah mulanya dia meminati Meysha, tapi sekarang Meysha itu tidak lebih bagaikan lalat pengganggu baginya. “Nanti abang pulang cepat. Ingat tunggu, abang.” Ami langsung menoleh pada sumber suara. Tampak Fathan dan Meysha turun bersama dari lantai atas. Wajah Ami langsung berubah tidak senang. Ketika Fathan menoleh padanya, Ami cepat merubah raut wajahnya dengan senyuman. “Pagi, Ma.” Fathan dan Meysha menghampiri. “Pagi, sayang.” sahut Ami dengan senyum hangat. Fathan menyalami tangan sang Mama, “Fathan, pergi dulu.” Ami sekedar mengangguk, “Hati-hati di jalan jangan ngebut.” Pesan Ami pul

