Bab 19

1079 Words
Arabella menggigit apel itu perlahan. Rasa manisnya menyebar di lidah, namun pikirannya justru melayang ke arah lain. Keheningan di antara mereka tiba-tiba terasa terlalu sunyi, seolah memberi ruang bagi pikirannya untuk mengingat sesuatu yang sejak tadi mengganjal. Ia menurunkan apel itu secara perlahan, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap Michael. “Michael,” panggilnya ragu. “Hm?” sahut Michael sambil menyandarkan tubuh di kursinya, menatap Arabella dengan ekspresi tenang. Arabella menarik napas kecil, seakan sedang mengumpulkan keberanian. “Kau ingat tidak… waktu itu kau pernah bilang, kalau bisa saja Julian sama seperti mantan istrimu?” Michael tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat alisnya sedikit, menunggu Bella melanjutkan. “Apa yang kau katakan soal Julian itu benar?” tanya puan itu. Lalu kemudian Bella melanjutkan, “atau itu hanya omong kosongmu belaka?” Michael tersenyum tipis. Ia menautkan jari-jarinya di atas meja, lalu menatap Bella dengan sorot mata yang sulit ditebak. “Itu terserah kau sendiri,” jawabnya akhirnya. “Mau kau anggap benar, atau hanya omong kosong saja.” Bella mengernyit pelan. “Kau terlalu polos, Bella,” lanjut Michael tanpa nada menggurui. “Terlalu sabar. Dan jujur saja, itu tidak selalu baik untukmu di kemudian hari.” Bella hendak membuka mulut untuk menyahut, namun Michael kembali berbicara lebih dulu. “Kau harus menjadi wanita yang tegas,” katanya mantap. “Wanita yang tangguh, yang tidak lemah. Dan asal kau tau, bergantung pada pria yang tidak tepat itu hanya akan menyengsarakan dirimu sendiri.” Apa yang Michael katakan barusan membuat Bella sedikit tersentak. Alisnya berkerut, dadanya terasa tidak nyaman. Ada rasa tersinggung yang tidak bisa ia sembunyikan. Michael menyadari perubahan ekspresi itu. “Kau marah?” tanyanya santai. “Kau yakin bertanya seperti itu padaku? Jadi, menurutmu?” jawab Bella ketus, tanpa menatapnya. Michael justru terkekeh geli. “Jangan marah,” katanya ringan. “Anggap saja ini saran dariku. Aku mengatakan ini bukan untuk menjatuhkanmu, tapi justru demi kebaikanmu sendiri.” Bella masih memilih untuk diam. “Dan ingat,” tambah Michael, nada bicaranya kini lebih lembut, “kau bisa bergantung sepenuhnya pada seorang pria. Tapi hanya jika pria itu memang tepat untukmu.” Bella akhirnya menoleh. Menatap pria itu dengan ekspresi penuh tanda tanya. “Jadi menurutmu,” ucapnya pelan namun jelas, “Julian bukan pria yang tepat untukku?” Michael mengangkat bahu kecil. “Mungkin.” Jawaban singkat itu membuat jantung Bella berdetak sedikit lebih cepat. “Lalu,” Bella kembali bertanya, suaranya nyaris bergetar, “siapa pria yang tepat untukku jika bukan Julian orangnya?” Michael tidak langsung menjawab. Ia justru berdiri sedikit dari kursinya, lalu melangkah mendekat. Jarak di antara mereka menyempit begitu cepat hingga Bella refleks menahan napas. Pupil matanya membulat saat wajah Michael kini begitu dekat dengannya. Michael mengangkat tangannya, jemarinya menyentuh rambut Bella dengan gerakan pelan. “Mungkin,” ucapnya dengan suara yang rendah, nyaris seperti bisikan, “bisa saja aku?” Bella mendadak terpaku. Detik itu juga, jantungnya serasa berhenti berdetak. Namun sebelum Bella sempat bereaksi—bahkan sebelum amarah sempat muncul—Michael tiba-tiba menjauhkan wajahnya. Ia menarik tangannya, lalu menunjukkan sesuatu di ujung jarinya, satu butir nasi. Michael tersenyum santai. “Apa rambutmu ikut makan tadi?” katanya ringan. Bella terdiam beberapa detik, lalu sadar apa yang baru saja terjadi. Wajahnya langsung memanas. “Michael!” serunya, antara kesal dan malu. Michael tertawa pelan. Tawa yang terdengar begitu lepas, seolah barusan tidak terjadi apa-apa—sementara bagi Bella, detik barusan terasa jauh dari sekadar bercanda. Michael bangkit lebih dulu dari kursinya. “Ikut aku sebentar,” katanya ringan, seolah itu bukan permintaan yang bisa ditolak. Arabella menoleh, sedikit heran. “Mau ke mana, Michael?” “Ke samping rumah,” jawab Michael. “Ke area kolam renang.” Bella sempat ragu, tapi tetap mengikutinya. Udara malam terasa sejuk saat mereka melangkah keluar. Lampu-lampu taman menyala temaram, memantulkan bayangan air kolam yang tenang. Michael berhenti di tepi kolam, lalu mendongak ke atas. “Tadi sebelum kau bangun,” katanya santai, “aku sempat merokok di luar. Langitnya cerah sekali, dan aku melihat ada banyak bintang.” Bella menatap wajahnya, jelas tak langsung percaya. “Hah, benarkah?” Michael menoleh, memasang ekspresi sok tersinggung. “Coba lihat baik-baik wajahku,” katanya sambil menunjuk wajah sendiri, “apa ada tampang seorang pembohong?” Bella menahan senyum, lalu mengangguk kecil. “Oke,” ujar puan itu akhirnya. “Mari kita lihat bintangnya.” Mereka duduk berdampingan di pinggir kolam, bersila. Air kolam berkilau memantulkan cahaya bintang. Keduanya mendongak bersamaan, menatap langit malam yang dipenuhi titik-titik cahaya. Hening yang tercipta terasa nyaman, bukan canggung. “Rumahmu ini, terasa sangat menenangkan,” ucap Bella pelan. “Nyaman juga.” Michael terkekeh kecil. “Percuma juga kalau nyaman,” sahutnya, “kalau aku tinggal sendirian di sini.” Bella meliriknya sekilas. “Ya itu salahmu sendiri,” balasnya santai. “Siapa suruh menceraikan istrimu.” Michael tak langsung tertawa. Ia menatap langit, lalu berkata dengan raut wajah yang datar, “Aku tidak pernah merasa bersalah. Atau bahkan merasa menyesal dengan keputusan yang sudah aku ambil. Karena menurutku, percuma saja mempertahankan yang memang tak bisa dipertahankan.” Lagi-lagi, ucapan yang keluar dari mulut Michael seperti menghantam Bella tanpa peringatan. Dadanya menghangat, lalu mengencang. Pikirannya melayang pada Julian—pada pertengkaran yang tak pernah benar-benar selesai, pada upaya-upaya mempertahankan sesuatu yang terasa semakin rapuh. Percuma mempertahankan yang tak bisa dipertahankan. Kata-kata itu berulang di kepalanya. Apakah langkah yang ia ambil selama ini salah? “Bella,” panggil Michael lembut. Bella tersentak, kembali ke dunia nyata. “Kita bicarakan hal yang lain saja,” lanjut Michael cepat, seolah tahu ke mana pikiran Bella melayang saat ini. “Aku ingin tau, apa makanan kesukaanmu.” Bella menghembuskan napas kecil, berusaha tersenyum. “Aku suka cokelat,” jawabnya. “Dan buah-buahan apa saja. Pokoknya apapun itu, aku suka!” “Aku tahu itu,” sahut Michael ringan. Bella langsung mengernyit. “Kau tahu? Dari mana kau tahu?” Michael hendak menjawab, tapi tiba-tiba cahaya melesat di langit. “Itu!” serunya sambil menunjuk ke atas. “Ada bintang jatuh.” Bella ikut mendongak, matanya membulat. “Cepat,” kata Michael antusias. “Tutup mata. Berdoa. Katanya, apapun itu, semua keinginan akan terkabul.” Michael menutup matanya buru-buru. Bella pun mengikuti, menautkan jemarinya di pangkuan. Namun beberapa detik kemudian, Michael membuka matanya diam-diam. Ia menoleh, menatap wajah Bella yang tertutup mata dengan ekspresi tenang—terlalu tenang. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang menyimpan harapan sederhana. Andai saja aku bisa bersamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD