Arabella terbangun dengan kepala yang terasa sedikit berat. Kelopak matanya berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kamar tamu yang masih menyala redup. Ia memandangi langit-langit sejenak, lalu tersadar—ia ketiduran.
“Astaga...” gumamnya pelan. “Jam berapa sekarang?!”
Ia segera bangkit dari ranjang, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu melirik jam di ponselnya. Angka yang tertera membuatnya terkejut kecil. Sudah lewat tengah malam.
Arabella langsung bergegas keluar kamar. Langkahnya sedikit tergesa saat menyusuri lorong menuju ruang tamu, dengan pikiran bahwa yang lain pasti masih berkumpul di sana.
Namun begitu ia tiba, langkahnya spontan terhenti. Keadaan ruang tamu saat ini begitu berantakan. Beberapa botol minuman tergeletak di lantai, kotak pizza terbuka begitu saja di atas meja, dan sofa dipenuhi gelas-gelas kosong.
Di sana, Julian dan Reynald tampak tertidur dengan posisi yang sama sekali tidak rapi—kepala Julian bersandar miring di sandaran sofa, sementara Reynald setengah rebah dengan satu tangan menjuntai ke bawah. Keduanya jelas sudah teler. Arabella sontak menghembuskan napas pelan, sedikit terkejut sekaligus bingung.
“Kau baru bangun?”
Suara itu membuat Arabella menoleh. Michael muncul dari arah dapur sambil membawa segelas air. Wajahnya tampak santai, seolah pemandangan ruang tamu yang berantakan itu sudah sangat biasa baginya.
“Iya,” jawab Arabella pelan. “Mereka…”
“Mereka terlalu banyak minum tadi,” potong Michael ringan. “Baru saja mereka tertidur. Aku sudah berusaha menghentikan, tapi ya… kau tahu sendiri bagaimana mereka jika sudah berhadapan dengan minuman kan?”
Arabella mengangguk pelan, lalu teringat sesuatu. “Lalu Selly ke mana?”
“Oh, Selly? Dia tidur di kamar tamu satunya,” jawab Michael singkat. “Katanya, kepalanya pusing tadi. Tapi memang dia ke kamar saat Reynald masih terjaga.”
“Oh, begitu.” sahut Arabella, lalu terdiam sejenak.
Perutnya tiba-tiba berbunyi pelan. Ia refleks menahan perutnya sendiri, baru menyadari satu hal penting.
“Aku belum makan,” ucapnya tanpa sadar.
Michael tersenyum kecil. “Ayo ke dapur. Aku juga belum makan. Jadi, ayo kita makan malam atau lebih tepatnya, makan tengah malam.”
Arabella sempat ragu sesaat, lalu mengangguk. “Iya… sepertinya aku ketiduran lama sekali.”
“Lumayan,” sahut Michael sambil berjalan lebih dulu. “Jam sudah lewat dua belas.”
Arabella mengikutinya ke dapur. Di sana, Michael menyiapkan piring dan menghangatkan sisa makanan. Mereka duduk berhadapan di meja kecil, suasana jauh lebih tenang dibandingkan ruang tamu. Untuk beberapa saat, mereka makan dalam diam.
“Terima kasih,” ucap Arabella akhirnya. “Sudah menungguku.”
Michael mengangkat bahu. “Jujur saja, aku tidak suka makan sendirian.”
Arabella menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis. “Begitu ya?”
“Iya,” jawab Michael jujur. “Kalau nanti aku punya istri lagi, aku ingin setiap makan selalu ditemani.”
Ucapan Michael barusan membuat Arabella terdiam sejenak. Tangannya bahkan sampai berhenti bergerak, yang mana membuat sendoknya menggantung di udara.
Michael melanjutkan dengan nada datar namun tulus, “Makan itu sesuatu hal yang sangat sederhana, tapi rasanya berbeda kalau ada orang di depan kita.”
Arabella menunduk, mencoba menyembunyikan perasaan yang tiba-tiba menghangat di dadanya.
“Julian beruntung punya kau,” tambah Michael tiba-tiba, sembari menatap Arabella dengan tatapan berbeda. “Sangat beruntung.”
Arabella lantas tersenyum kecil, getir. Dengan cepat, ia mengangkat wajahnya, balik menatap Michael dengan senyum tipisnya yang masih terlihat di sana.
“Entahlah. Sepertinya dia tidak merasa begitu.” ujar Bella.
Michael tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Arabella beberapa detik, lalu berkata pelan, “Kadang orang tidak sadar apa yang mereka miliki, sampai mereka kehilangannya.”
Ucapan itu membuat Arabella cukup terkejut. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap Michael dengan sorot mata yang penuh tanda tanya. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia tersenyum kecil, lalu bertanya balik dengan nada yang terdengar santai, meski jelas diliputi rasa penasaran.
“Sepertinya kau sangat paham sekali ya mengenai hal-hal yang seperti itu?” tanyanya pelan.
Michael tertawa kecil. Tawanya singkat, namun terdengar getir. Ia menunduk sebentar, lalu menghela napas ringan sebelum menjawab.
“Aku sudah pernah kehilangan seseorang di masa lalu,” ucapnya jujur. “Dan rasanya… kali ini aku ingin berjuang untuk mendapatkannya lagi. Tidak peduli apa pun penghalangnya.”
Arabella terdiam. Ia menatap Michael lebih lama dari sebelumnya, mencoba membaca arti dari tatapan pria itu. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang dalam, tenang, namun terasa berat. Sayangnya, ia sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada di baliknya.
“Siapa orangnya?” tanya Arabella akhirnya, nadanya terdengar lebih pelan. “Karena entah kenapa, aku merasa… sepertinya bukan mantan istrimu.”
Michael tersenyum tipis. “Memang bukan.”
“Hm?” Arabella mengangkat alisnya.
“Bukan mantan istriku,” ulang Michael. Ia tidak melanjutkan dengan nama, tidak juga memberi penjelasan lebih jauh. “Pokoknya, wanita itu sekarang sedang dekat denganku.”
Jawaban itu justru membuat Arabella semakin penasaran. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Michael dengan ekspresi ingin tahu yang tidak ia sembunyikan.
“Kalau kau ingin berjuang untuk mendapatkannya, tidak peduli apa pun halangannya,” ujar Arabella pelan, “lalu dulu… kenapa kau tidak berjuang untuknya?”
Michael terdiam. Tatapannya menerawang sesaat, seolah pikirannya kembali ke masa lalu. Setelah beberapa detik, ia menjawab dengan suara yang lebih rendah.
“Dulu aku berpikir cinta itu tentang merelakan,” katanya. “Membiarkan orang yang kita cintai bersama orang lain, selama dia bahagia.”
Arabella menelan ludah, mendengarkan dengan saksama.
“Tapi ternyata aku salah,” lanjut Michael. “Kalau saja aku tahu wanita itu tidak diperlakukan dengan baik… sejak dulu aku tidak akan pernah merelakannya bersama orang lain. Aku akan memilih untuk memperjuangkannya.”
Ada ketulusan yang begitu jelas dalam nada bicara Michael. Tanpa sadar, Arabella merasa dadanya menghangat—dan juga sedikit perih.
“Kasihan sekali,” ucapnya lirih.
Tanpa ia sadari, tangannya terangkat dan menyentuh tangan Michael yang terletak di atas meja. Sentuhan itu begitu spontan, begitu alami. Arabella tersenyum lembut, lalu berkata, “Aku harap kau bisa mendapatkan wanita itu lagi. Dan aku akan mendukungmu.”
Michael tidak langsung menyahut. Ia hanya menatap Arabella, tatapan yang kali ini terasa jauh lebih dalam. Sorot matanya membuat Arabella tiba-tiba tersadar—tangannya masih menyentuh tangan Michael. Dengan cepat, ia menarik tangannya kembali. Wajahnya sedikit memanas, gerak-geriknya tampak kikuk.
“A-aku… maaf,” ucapnya pelan.
Michael tersenyum kecil, lalu tertawa ringan, seolah ingin mencairkan suasana. “Tidak apa-apa,” katanya. “Ayo, lanjutkan makanmu. Nanti keburu dingin.”
Arabella mengangguk cepat. Mereka kembali makan, kali ini dalam diam. Tidak ada percakapan, hanya suara sendok dan piring yang sesekali terdengar. Namun suasananya tidak lagi canggung—lebih kepada tenang, dengan sesuatu yang menggantung di udara.
Setelah mereka selesai makan, Michael berdiri dan mengambil sebuah apel dari mangkuk buah. Tanpa berkata apa-apa, ia mulai mengupas apel itu dengan tenang.
“Michael, tidak usah,” ujar Arabella terkejut. “Aku bisa sendiri.”
Michael tidak menoleh. Tangannya tetap bergerak mengupas apel dengan rapi. “Makan saja,” katanya singkat.
“Benar, aku tidak perlu—”
“Bella,” potong Michael lembut namun tegas. “Makan.”
Arabella terdiam. Ia hanya bisa memandangi Michael yang akhirnya menyodorkan apel yang sudah terupas itu ke hadapannya.
Dengan ragu, Arabella mengambilnya. “Terima kasih,” ucapnya pelan.
Ia menggigit apel itu secara perlahan. Rasanya manis, segar—dan entah kenapa, ia mendadak merasa nyaman? Atau mungkin karena ia hanya sedang merasa terkesan saja?