Khafid POV

1149 Words
Besok aku di undang oleh guruku untuk menjadi imam di masjidnya. Beliau mengundangku setelah sekian lama aku lulus dari pesantren miliknya. Ya memang setelah lulus waktu itu aku langsung melanjutkan pendidikan di Kairo, Mesir. Dan kebetulan sekali di sana juga aku bertemu dengan putra beliau. Sejak saat itu kami bersahabat. Pekerjaanku adalah tentu saja sebagai ustadz namun selain ustadz aku juga mengurus usaha abi yang ada di Pulau Jawa ini. Usaha restoran. Rumah keluargaku tidak terlalu jauh dari resto usaha kami, Ya masih sekitar Jawa Timur bagian Barat. Abi dan guruku memang sudah lama bersahabat, mangkanya tidak heran jika abi memondokkanku di pesantren milik sahabatnya. Yang ku tahu setelah berapa lama, Ponpesnya semakin berkembang bahkan kini telah berdiri beberapa lembaga lain. Ya pastinya kabar itu ku dapat dari Hamzah sahabatku. Berhubung guruku mengundang untuk menjadi imam sholat ied, aku putuskan untuk ke daerah beliau hari ini setelah dhuhur, Selain undangan khusus dari guruku, sahabatku Hamzah pun mengundangku untuk datang kerumahnya. Tak lama aku berada di perjalanan, aku sudah sampai di depan ponpes tempat ku dulu menuntut ilmu. Ya aku memutuskan untuk bermalam di ponpes saja. Aku rindu dengan suasana ponpes ini. Tepat sekali aku sampai di ponpes, Hamzah ada di sana. Setelah lulus dari Kairo memang dia ingin menjadi ulama di tanah kelahirannya. Kini dia mengurus ponpes milik abinya. Ku parkirkan mobil Honda Jaz ku di pelataran pondok. Aku keluar dari mobil dengan memakai baju setelan kantor layaknya manager. Kemudian tak berapa lama Hamzah datang. “Assalamu’alaikum subhanallah ini antum Fid, widih gaya ne sing duwe restoran kaifa haluk ?” katanya kemudian memelukku. “Alah Ham ra usah berlebihan lah alhamdulillah, bi khoir. antum piye kabare  ?” kataku sambil melepas pelukan. “Lah aku ....yo wis ngene iki, alhamdulillah.” “Lha kok antum malah nang pondok to bukane nang omah ae, kan besok antum dadi Imam to nang masjid ?” tanyanya. “Hehe gak popo Ham ana rindu suasana pondok, ana bermalam di sini saja, ndak enak ana sama abah Saiful kalo ke rumah.” kataku.   “halah Fid, ndak usah ngerasa gak enak, orang antum  juga sudah dianggap anak sama abi.” katanya sambil menepuk pundakku. “Ndak ndak usah Ham ana di sini saja, lagian di rumah juga ada adikmu kan gak apik iso dadi fitnah.” kataku. “Yo yo halah bentar lagi juga udah halal to?” katanya menggoda. “hehe iso ae antum iyo lak adikmu mau sama aku.” kataku. “Ah yo wis lah ayo melbu, engkok aku tak ngomong abi, kalau antum bermalam di sini” katanya. kemudian aku dan Hamzah masuk ke dalam ponpes. Ya dari percakapan itu bisa diketahui aku akan menikah dengan adiknya Hamzah alias anaknya abah Syaiful. Tapi jujur saja sampai saat ini aku belum pernah bertemu dengannya. Pernikahan kami memang sudah di atur oleh Abah dan abi. Waktu aku di Kairo, abi membicarakannya. Katanya aku akan menikah dengan putrinya abah Syaiful. Yang saat itu aku mengetahui putri abah Syaiful ada dua. Entah aku akan menikah dengan siapa. Dengan dia yang dulu ku dengar desas-desus pondok mondok di tempat abah atau yang satunya lagi. Setelah kabar itu abi bilang kalau salah satunya sudah meninggal. Hatiku menjadi sedikit tenang namun tetap penuh kebimbangan. ### Maghrib Ketika akan maghrib, Hamzah pun udah pulang ke kediaman abah Syaiful. Aku masih ada di pondok. Setelah Hamzah pergi aku putuskan untuk ke masjid sekaligus mencari makan untuk buka puasa di hari terakhir ini. Aku menegenakan kemeja biru muda lengan panjang, celana hitam kain dan juga jas. Pakaiaan yan senantiasa menemaniku bekerja baik menjadi ustadz atau penegelola restoran. Namun tetap ada bedanya. Biasanya kalau aku sedang ada kajian atau ceramah akau memakai sarung dan kopyah. Namun entah kali ini aku ingin memakai baju yang seperti ini. Adzan magrib pun telah berkumandang. Dan sholat akan di mulai. Setelah sholat aku bertemu dengan abah Syaiful. Beliau menawarkanku untuk buka puasa di rumahnya. “Fid ayo le buka bareng nang omah..” katanya. “mm ngapunten bah mboten usah pun. Saya mau makan di luar saja, saya endak enak sama abah.” kataku menolak dengan halus. “Ealah le gak usah ngeroso gak enak barang wis ayo.” kata abah. “Mboten pun bah abah kale Hamzah duluan saja. Saya bisa makan di luar kok.” kataku. “Yo wis lak itu maumu, abi sama Hamzah pulang dulu yo assalamu’alaikum.” kata abah. “Inggih bah monggo wa’alaikumsalam.” jawabku. Kemudian Hamzah menghampiriku. “Alah bro bro modelmu sok-sok nolak, padahal asline kepingin melu cek ero adikku. Yo wis lak ngunu ana duluan yo Assalamu’alaikum” katanya. “Halah. opo to wis ndang kono, wa’alaikum salam.” Isya’.................... Setelah buka puasa, suara takbir hari raya telah bersaut-sautan. Kini sudah masuk waktu isya’. Aku meminta izin pada marbot masjid biar aku saja yang adzan, Alhamdulillah dia mengizinkan. Aku adzan dan beberapa menit kemudian sholat isya’ pun dilakukuan. Setelah sholat, berdzikir, dan berdoa aku dan semua jamaah di kejutkan dengan teriakan istigfar. Hamzah yang berada di barisan belakang langsung lari mengahampiri suara teriakan itu. Tak berama lama kemudian ia keluar masjid tanpa memakai sandal mencari seseorang. Aku yang masih di dalam masjid langsung keluar melihat ada apa sebenarnya. Setelah keluar ternyata para jamaah sedang mencari sandalnya masing-masing yang entah di sembunyikan siapa. Aku bertanya pada salah seorang bapak. “ngapunten pak itu kenapa kok pada bingung gitu ?” tanyaku. “Itu mas sandalnya di sembunyikan sama si Biyan anak nakal.” katanya.  “Ooh inggih matursuwon pak.” Kemudian aku turun dan ikut membantu mencari sandal para jemaah tentu saja sandalku juga. Setengah jam berlalu, sandal para jamaah sudah ketemu begitupun dengan sandalku. Ketika aku akan beranjak menuju mobil aku melihat ada seorang gadis berhijab yang masih mencari sandalnya. Kemudian tak lama dia menerima telepon dari seseorang. Bukannya aku menguping tapi aku sedikit mendengar perkataannya. “.......Haduh jangan pada pulang dulu dong....ini bentar lagi kesana.” kata gadis itu. setelah itu dia menutup telponnya dan melanjutkan kegiatannya mencari sandal. Dia kelihatan frustasi karena sandalnya belum juga ketemu. Aku kasian melihat dia. Akhirnya aku putuskan untuk membantunya. Ku hampiri dia, ku tawari dia untuk memakai sandalku tapi dia menolak. Dia mencoba mencari sandalnya lagi. Aku tetap membujuknya agar mau menerima bantuanku. Dia terdiam. Aku tau apa yang dipikirannya. Dia berpikir aku memakai sepatu kantor karena pakaianku yang memang terkesan orang kantoran. Lalu segera ku tepis pemikirannya. “Oh tenang ukhti, bukan sepatu kok, ini sandal kok ukhti pakai saja. tidak apa-apa.” kataku sambil menyerahkan sandalku. Setelah itu dia berterima kasih dan pergi meninggalkanku. “Cantik semoga kita ketemu lagi ya ukhti, Astaughfirullah...” batinku. Kemudian aku kembali ke dalam masjid. Ku putuskan untuk ikut takbiran sebentar. Setelah selesai dan waktu telah menunjukkan pukul 21.30 aku kembali ke pesantren. Aku telah menyiapkan materi khutbah untuk besok. ♠♠♠   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD