Degup-degup jantung bertalu bisa didengar oleh telinganya sendiri. Gemetar jari Erwin saat menulis balasan pesan. [Devi? Apa kabar? Ada apa?] [Betul ini nomor Mas Erwin?] [Iya. ini nomorku, Dev.] [Oke, Mas. Ponselku rusak, beberapa nomor hilang. Aku harus entri manual lagi.] [Oh, oke.] Ada seiris kecewa yang menyelinap di hati Erwin. Jadi hanya itu alasan Devi mengirim pesan? Entahlah, ia berharap ada yang lebih dari itu. Ia masih menginginkan keakraban dari Devi. [Maaf sudah mengganggu, yaaa.] [Oke, Dev. Kalau ada apa-apa, kontak aja aku.] [Betul, nih?] [Serius.] [Asiiik.] Lalu, perbincangan terputus begitu saja. Erwin tercenung. Hatinya dilanda dilema. Di satu sisi, ada rasa bersalah yang hinggap karena sekarang ia berstatus calon suami Saras. Namun, rasa puas dan bahagia tel

