Erwin menatap nanar ke arah Saras. “Ka—kamu ke sana, Dik?” ulang Erwin. Wajahnya menggambarkan rasa terperanjat. Kaki Erwin melangkah mendekat, membuat Saras mendadak cemas. Tanpa sadar, Saras mundur selangkah. Ia takut Erwin akan melakukan sesuatu, meskipun Erwin tak pernah berbuat kasar selama Saras mengenalnya. “Dik. Kamu ke sana buat apa?” tanya Erwin heran. Suaranya terdengar murni penasaran. Tak ada sikap menghakimi ataupun mengancam yang sempat dikhawatirkan oleh Saras. “Aku—aku ... bertemu Devi dan ibunya,” ujar Saras datar. Sejatinya, ia takut berkata jujur. Akan tetapi, Saras memilih untuk menguatkan hati. Ia sudah berniat untuk membuka masalah ini blak-blakan. Ia ingin kejujuran Erwin, maka ia juga harus jujur. “Kalian mengobrol?” lanjut Erwin lagi. “Ya. Kami mengobrol.

