Memata-matai bukanlah sifat Saras. Bagi Saras, lebih baik ia bicara blak-blakan di depan daripada harus main kucing-kucingan di belakang. Akan tetapi, ia berubah pikiran setelah melihat Erwin bertingkah aneh selama dua bulan belakangan. Pada hari libur, Erwin terkadang pergi selama tiga jam dengan sepeda motornya. Ia tak mau memberitahukan urusannya. Pada hari kerja, terkadang Erwin pergi malam hari setelah mereka berdua pulang dari kantor. Waktu yang seharusnya digunakan bersantai berdua, tapi ia malah ditinggal pergi. “Mas mau ke mana sebetulnya?” tanya Saras suatu kali. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam. Erwin bersiap mengenakan jaket dan helmnya untuk berangkat entah ke mana. “Ada urusan, Dik. Penting. Genting. Aku belum bisa cerita sekarang,” jawab Erwin saat itu. “Aku kan

