Tatapan Duka

2130 Words

Erwin melajukan sepeda motornya cukup cepat, tidak seperti biasanya. Sepanjang mengenal Erwin dan membonceng di jok belakang sepeda motornya, baru kali ini Saras mengalami hal ini. Akan tetapi, ia memilih diam dan tak berkomentar. Ia yakin Erwin akan kembali berkilah bahwa ia takut mereka telat tiba di tempat tujuan. Ramai sekali orang yang memenuhi rumah duka. Erwin dan Saras baru datang menjelang pukul lima sore. Mereka bahkan kesulitan untuk masuk ke dalam rumah. “Ayo, Dik,” ajak Erwin. Ia menggenggam erat tangan Saras, seolah takut istrinya hilang dalam keramaian. Susah payah Erwin menyibak kerumunan orang yang menghalangi pintu masuk utama, kemudian merangsek sedikit demi sedikit untuk masuk. Saras mengikuti Erwin dari belakang, menggunakan jalan yang telah dibukakan Erwin untuknya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD