Pesona Sang Dewi

1072 Words
Saras tersentak mendengar nama yang disebut oleh Erwin. Apakah ini mantan kekasih Erwin? Saras mengamati sosok perempuan itu dalam diam, sementara Devi dan Erwin berbasa-basi. Perempuan itu tinggi semampai. Rambutnya yang sedikit melewati bahu diikat ekor kuda dengan sebuah karet berbalut kain yang dihiasi bunga-bungaan imitasi. Meskipun hanya diikat ekor kuda, tapi rambutnya telah diikalkan dengan roll dan dibuat kaku dengan hair spray sehingga bergelombang indah. Wajahnya dipoles kosmetik dengan cermat dalam nuansa natural. Hasilnya, riasannya tampak elegan. Rona wajah Devi mengingatkan Saras pada rupa para model di majalah wanita kenamaan. Busananya gaun hitam sebatas lutut tanpa lengan. Kain gaunnya yang lunak menonjolkan bentuk pinggulnya yang sempurna. Dalam tebakan Saras, gaun itu terbuat dari bahan lame atau satin. Bentuk tubuhnya yang feminin menjadi lebih jelas terlihat. Tas tangan dan sepatunya berwarna senada dengan warna gaunnya. Secara keseluruhan penampilan wanita itu cantik dan seksi. Semua mata lelaki pasti memandang dua kali ke arah Devi. “Kamu ngapain di sini, Dev?” tanya Erwin gugup. Saking gugupnya, keluarlah pertanyaan bodoh itu. “Nonton, dong. Masak mau belanja,” Devi terpingkal. Suaranya terdengar merdu. “Oh, iya. Mas Budi sudah pernah ketemu kan, sama Mas Erwin?” Devi menarik tangan seorang lelaki tinggi semampai berpostur gagah di sampingnya. Wajahnya mengingatkan Saras pada tokoh aristokrat Jawa kuno. “Sudah pernah, Yang. Halo, Mas. Apa kabar?” Lelaki gagah itu menjabat tangan Erwin. “Baik, Mas.” Jawab Erwin seperti orang yang sedang tak berkonsentrasi. Ia memandangi jari manis Devi terus menerus. Setelah Saras perhatikan, ternyata di tangan itu ada sebentuk cincin emas melingkar. Pandangan Saras kembali pada Budi. Secara postur, Erwin kalah gagah dan kalah pamor dari lelaki yang dipanggil Mas Budi itu. Sorot mata Budi menampakkan rasa percaya diri yang sangat tinggi. Saat ia menatap Erwin, tersirat pandangan orang yang menang perang di mata legamnya. Menang perang? Ah, Saras baru ingat. Bukankah mereka memang pernah memperebutkan Devi? Dan lelaki itu berhasil merebut Devi dari Erwin. Sampai di sini Saras takjub, Erwin tak terlihat dendam ataupun marah sedikitpun pada Devi maupun lelaki perebut pacar orang itu. Apakah Erwin telah ikhlas melepaskan Devi? Betapa pemaafnya Erwin jika betul begitu. Kemudian Devi melirik Saras yang berada di samping Erwin. “Datang sama pacar, Mas?” Devi tersenyum ramah kepada Saras. Senyumnya memang manis dan menawan. Saras yang seorang perempuan saja terpesona, apalagi pria. “Oh, iya. Kenalkan, ini Saras.” Erwin menggamit lengan Saras agar mendekat ke tubuhnya. Kini tubuh Saras dan tubuh Erwin berdempetan. Saras menahan napas. Belum pernah ia sedekat ini dengan Erwin sebelumnya. “Hai, Mbak,” sapa Saras tenang. Saras tersenyum dan mengulurkan tangan. Devi menjabat tangan Saras dengan hangat. Bibirnya menyunggingkan senyum tulus. “Nah... gitu dong, Mas. Move on! Punya pacar terus nikah, ya. Jangan ingat aku terus,” kata Devi dengan sangat percaya diri. Erwin tampak terpukul mendengar ucapan itu. Ekspresi itu terpampang jelas di wajahnya, nyata terlihat. Untuk sesaat Saras terpana. Saat ia beralih pandang ke arah Devi, Saras menyaksikan tatapan mata Devi yang iba kepada Erwin. “Hahaha...” Erwin tertawa kering. Sekarang Devi memutar kepala lagi ke arah Saras. Jemari lentik Devi menyentuh sekilas pergelangan tangan Saras, sebelum bertutur. “Tolong jaga Mas Erwin, ya. Dia lelaki baik. Aku titip dia pada Mbak,” pesan Devi, sementara sorot matanya menatap lurus dan sungguh-sungguh. “Ish... apa-apaan, Dev. Aku yang akan menjaga Saras,” sela Erwin. Tangan Erwin mendadak sudah mendarat di pundak Saras. Inilah kali pertama Erwin merangkulnya demikian erat. Saras merasakan kejantanan Erwin menyelubungi tubuhnya. Alangkah romantisnya ucapan Erwin barusan. Erwin akan menjaganya. Baru kali ini Saras merasa menjadi seorang perempuan bagi lelakinya. “Ahahaha... iya, betul. Aku salah, Mas,” Devi menertawakan ucapannya barusan. Bahkan tawa lepas yang spontan itu terdengar manis dan melenakan di telinga. “Para penonton yang terhormat...” Tiba-tiba suara perempuan dari pengeras suara menghentikan obrolan mereka. Film akan segera diputar. Para penonton yang telah memegang tiket dipersilakan untuk memasuki ruangan yang telah disediakan. “Oke. Sampai jumpa, Mas, Mbak.” Mas Budi melambaikan tangan pada Erwin dan Saras. Tangan Mas Budi menggamit lengan Devi penuh kemesraan. Devi dan pasangannya berlalu sambil bergandengan erat. Salah satu jari Devi berkilau tertimpa sinar lampu bioskop, kilau dari cincin pernikahannya. “Ayo kita masuk,” Saras menarik lengan Erwin setengah memaksa. Saras sengaja berbuat itu agar Erwin tak menatap Devi berlama-lama. Dalam hatinya ada sebongkah cemburu yang menggumpal. Ia tak rela bila kencannya kali ini harus berantakan karena pesona Sang Dewi. *** Seperti dugaan Saras sebelumnya, kencannya amburadul karena Devi. Selama di dalam bioskop, Erwin hanya termenung saja. Matanya menatap kosong pada layar bioskop. Erwin tampak kaku dan mematung. Matanya memandang layar, tapi pikirannya mengembara entah kemana. Saras tak ingin tahu kemana pikiran itu bermuara. Saras mencoba menikmati jalannya film sambil menyantap pop corn. Ia berusaha fokus pada jalan cerita, tanpa memandang maupun memikirkan Erwin. Biarlah Erwin menikmati pikirannya sepanjang film berlangsung. Selepas film selesai, Erwin lebih banyak terdiam dan melamun. Tidak seperti Erwin yang biasanya senang mengobrolkan isi film yang selesai ditonton. Saras tak ingin mengganggu, maka dia pun tak mengajak mengobrol. Erwin mengantarkan Saras sampai ke tempat kosnya. Sepanjang perjalanan, mereka berdua sama-sama terdiam. Saras tahu bahwa Erwin masih memikirkan Devi yang barusan mereka jumpai. “Masuk dulu, Mas. Aku buatkan kopi,” kata Saras penuh perhatian. Ia memang prihatin dengan keadaan Erwin yang terguncang karena melihat Devi bersama suaminya. “Lagipula di luar dingin. Minum yang hangat-hangat dulu,” Saras kembali merayu. Akhirnya Erwin mengangguk. Ia melepaskan helm dan memarkirkan sepeda motor. Erwin mengikuti Saras yang masuk ke dalam rumah kosnya. Suasana rumah kos saat itu sepi. Sebagian besar penghuni sedang keluar menghabiskan malam minggu. Kebanyakan mereka akan kembali menjelang tengah malam. Dengan cekatan, Saras menyeduhkan segelas kopi untuk Erwin. Ia juga menyeduh teh hangat untuk dirinya sendiri. Kemudian mereka duduk berdua di kursi sofa yang ada di dalam kamar kos Saras. Saras mengamati ketika Erwin menyeruput kopinya pelan-pelan, tampak sangat menghayati. Seteguk, dua teguk... Ketika jelas Erwin tak berminat memulai percakapan, Saras berinisiatif untuk berbicara terlebih dahulu. “Mas terlihat kaget ketika berjumpa Devi,” ujar Saras. “Ya, Dik. Mas kaget banget. Nggak nyangka Devi akan nonton film di sana dengan suaminya,” jawab Erwin panjang. Ternyata Erwin perlu dipancing untuk berbicara banyak. “Kenapa kaget? Siapa saja kan boleh nonton di sana,” tantang Saras. “Ya, Mas nggak siap saja bertemu Devi. Apalagi dia bersama suaminya,” sahut Erwin. “Mas masih mencintainya, ya?” tembak Saras. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD