Berbulan-bulan setelah pertemuan pertama itu, hubungan Erwin dan Saras semakin dekat. Awalnya hanya teman biasa. Lama kelamaan menjadi sahabat baik. Saras menyukai Erwin dengan semua sifatnya. Lembut, baik hati, setia kawan, tak mudah marah, pengalah, dan tak pernah kasar apapun yang terjadi.
Mereka sudah saling terbuka tentang kehidupan masing-masing. Tak ada lagi rahasia kehidupan masa lalu diantara mereka. Saras sudah menceritakan tentang mantan-mantan pacarnya dan sejauh apa hubungannya dengan mereka. Erwin pun sudah menceritakan tentang kisah cinta masa lalunya.
Ternyata, bagi Erwin hanya ada satu cinta di masa lalunya. Devi, seorang gadis yang dipacarinya sejak masa SMU dan bersamanya selama 6 tahun. Mereka putus karena Devi jatuh cinta pada lelaki lain dan memilih menikah dengan lelaki itu.
Karena sama-sama jomblo, mereka sering pergi bersama. Erwin sering menjemput Saras seusai jam kantor untuk diantar pulang ke rumah kosnya. Banyak teman-teman Saras yang menganggap Erwin pacarnya Saras. Mereka sering menggoda Saras.
“Yaduh, yaduh... Kapan nih diresmikannya?” Goda Bu Sati, teman di kantor Saras yang sudah berumur tapi masih centil.
“Iya, lho. Kami menunggu hari besar datang,” timpal Yuni disertai lirikan-lirikan usil menggoda.
“Jadi kapan nih, Dik?” tanya Pak Hari terang-terangan.
Saras tersenyum senang dan tersipu malu-malu.
“Belum tahu kapan, Pak Hari.” Jawab Saras apa adanya.
“Jangan kelamaan, lho. Kalau sudah sama-sama cocok tunggu apalagi?” Bu Sati kembali memanas-manasi.
“Mohon doanya saja, Bu,” pungkas Saras akhirnya.
Jujur saja, Saras bingung harus berkata apa kepada teman-temannya. Dibilang pacar, Erwin tak pernah menyatakan cinta apalagi mengajak berkomitmen. Dibilang teman, Erwin berlagak bak pacar Saras. Sering mengantar jemput Saras ke kantor dan mengajak makan dan menonton ke bioskop.
Jadi apa namanya hubungan mereka? Hubungan tanpa status? Atau... seperti istilah yang lagi tren saat ini, friends with benefit? Saras betul-betul bingung.
Memang, sejauh ini Erwin tak pernah berbuat kurang ajar maupun meminta hal yang menjurus pada hubungan perempuan dan lelaki dewasa. Erwin sangat sopan. Erwin seperti seorang kakak yang menyayangi adiknya.
Tapi Saras tahu itu tak mungkin. Mana ada lelaki yang melihat perempuan yang bukan adiknya seperti adik kandungnya?
Untuk menanyakan status hubungan mereka kepada Erwin, Saras tak berani. Entahlah, Saras khawatir mendengar jawaban yang ditakutkannya. Bahwa dirinya tak berarti apa-apa bagi Erwin. Bahwa mereka hanya sekadar sahabat semata. Sementara Saras telah jatuh cinta kepada Erwin dan menginginkan hal yang lebih.
Jadilah Saras mengambil sikap diam. Biarlah hubungan mereka seperti ini dulu. Berjalan apa adanya, mengalir seperti air. Bukankah setiap aliran sungai akan menuju muara juga pada akhirnya? Maka Saras memutuskan untuk menunggu. Biarlah waktu yang akan menjawab semua pertanyaannya.
Genap setahun setelah perkenalan mereka, tetap tak ada pembicaraan sedikit pun tentang masa depan hubungan mereka dari Erwin. Saras menjadi gelisah. Sebagai perempuan, ia memerlukan kepastian dalam hubungan.
Saras mulai mempertanyakan sendiri keputusannya dulu untuk menyerahkan segalanya pada waktu. Masalahnya, umurnya terus merangkak banyak. Waktunya sudah diambang siang. Apabila tak bergegas, ia bisa kesorean memasuki mahligai pernikahan.
Alarm dari keluarganya sudah mulai menjerit-jerit. Pertanyaan dari Bapak dan Ibu mulai sering terdengar. Apalagi Erwin telah sering mengantarnya pulang ke rumah orangtuanya di Purworejo. Dalam kunjungan-kunjungan itu, Erwin mengaku sebagai sahabat dekat Saras.
“Lelaki yang mengantarmu kemari tempo hari, itu pacarmu atau bukan?” Bapak bertanya memastikan.
Saras tergagap dan kebingungan.
“Kapan kamu nikah, Nak?” Ibu bertanya pada suatu akhir pekan, ketika Saras pulang ke kota kelahirannya.
Haruskah Saras mengambil keputusan baru?
***
Sekembalinya dari Purworejo, berkali-kali Saras hendak membicarakan perihal mereka kepada Erwin. Namun berkali-kali pula ia membatalkan niat. Berulang kali Saras meyakinkan diri, akan tetapi pada akhirnya kembali hatinya meragu.
Saras terus-menerus berada diantara dua pilihan. Bicara atau diam saja. Persoalannya terdengar sepele bagi kebanyakan orang. Tinggal bicara saja apa susahnya? Gitu aja kok repot?
Tapi sungguh persoalan sepele ini tidak mudah bagi Saras. Semua ini karena instingnya sebagai perempuan sudah mengatakan, bahwa Erwin tak mencintainya. Sementara Saras tak siap menerima penolakan dari Erwin.
Ia takut Erwin berubah sikap setelah ia mendesak. Saras takut tak bisa lagi menikmati kebersamaan dengan Erwin setelah ia bertanya. Saras takut patah hati. Ia tak siap untuk terluka.
Saras ingin tetap memiliki waktu-waktu bersama Erwin. Saras bahagia dengan keadaan mereka saat ini. Meskipun ia tahu, kebahagiaannya semu semata. Tidak ada ikatan yang mengukuhkan kebahagiaannya.
Pada suatu malam minggu, Erwin kembali mengajak Saras keluar untuk makan malam bersama.
“Habis makan kita nonton. Ada film baru yang lagi tayang,” ajak Erwin bersemangat.
“Wah, asyik!” cetus Saras senang. Ya, apapun kegiatannya yang penting bersama Erwin. Semua terasa indah bila ada Erwin di sampingnya.
Mereka makan di sebuah food court di sebuah mall. Rencananya, setelah makan mereka akan menuju bioskop XXI yang berada di lantai atas mall.
Saat tengah asyik menikmati makanan pesanan, tatapan Saras tertumbuk pada sebuah keluarga kecil di seberang meja mereka. Sepasang suami istri dengan seorang anak balita yang makan ayam goreng dengan lahap. Mereka tampak bahagia.
Seketika pikiran Saras berkelana kemana-mana. Ia berkhayal, akankah ia juga memiliki anak selucu itu dengan Erwin?
“Dik, kamu kok melamun terus dari tadi?” tegur Erwin saat melihat Saras memandang kosong ke arah keluarga kecil di seberang meja.
“Eh... Maaf, Mas. Nggak tahu nih kok aku jadi melamun,” Saras tersenyum malu ke arah Erwin.
“Jangan kebanyakan bengong. Nanti makananmu aku copet.” Tangan Erwin terulur cepat sepotong udang goreng tepung dari piring Saras.
“Hap! Ketangkap, hahaha...” Saras bergerak sigap mencekal pergelangan tangan Erwin yang nakal. Sejurus kemudian Saras tergelak merayakan kemenangannya.
“Ah, aku nggak akan menang melawan kamu, Dik,” kata Erwin menyenangkan hati.
Mereka berdua tertawa bersama. Alangkah indahnya. Seandainya saat-saat ini terus terjadi selamanya.
“Yuk, filmnya sudah akan mulai,” ajak Erwin setelah piringnya kosong.
Saras dan Erwin menghabiskan minuman, kemudian mereka berjalan beriringan menuju lift di lantai atas.
Udara sejuk menyambut kedatangan Saras dan Erwin di ruangan tunggu bioskop XXI. Aroma pop corn dan kentang goreng menguar ke seluruh ruangan, menggoda hidung semua orang.
“Wangi banget. Untung kita sudah makan, jadi nggak tergoda lagi,” kata Saras setengah bercanda.
“Tergoda lagi juga nggak apa-apa, kok. Kalau Dik Saras mau, aku belikan,” tawar Erwin dengan tatapan sungguh-sungguh.
Saras jadi tak enak hati. Erwin memang royal apabila berjalan-jalan bersama Saras. Apapun yang Saras inginkan, tak pernah Erwin menolak untuk membelikan.
“Nggak usah, Mas. Aku masih kenyang,” tolak Saras. Ia tak ingin dianggap memanfaatkan kebaikan Erwin.
“Lho, pop corn sih nggak akan bikin kenyang. Enak lho nonton sambil ngemil pop corn. Yuk!” Erwin menarik tangan Saras.
Mereka antre di depan pedagang pop corn dekat loket penjualan tiket film. Saat Erwin mengeluarkan dompet dari saku celananya, tak sengaja tangannya menyenggol tas tangan seorang perempuan yang antre di depannya.
“Ups...! Maaf, Mbak... saya nggak se...”
Perempuan itu berbalik menghadap Erwin.
“Mas Erwin?! Wow, nggak nyangka ketemu di sini!”
“Eh...? Devi...!”
***