Segala sesuatu pasti membutuhkan waktu. Seperti jalan kita saat bertemu, hingga takdir kita yang saling bertaut.
[Abella Rasheika Valerian, Evano Rafanial Cokroatmojo — Sećanja: Memori]
Dengan nakalnya Evano menggesekkan dagu dan rahang tegas bercambang tipisnya ke sepanjang ceruk juga garis pundak Abella lalu kembali menyusuri kulit selembut sutra milik Bella mengarah ke atas hingga berakhir di telinga pengantinnya, rengkuhan posesifnya kian erat dengan remasan perlahan pada pinggang dan satu tangan kekar lainnya yang menopang sempurna tubuh semampai milik istrinya.
Abella terpejam dengan desahan tipis yang terus mengalun melalui celah bibir merekah nan basah merona, hasil karya suaminya yang didasari rasa penasaran dan keingin tahuan. Mencoba mencari tahu sejauh mana insting primitif dapat melecut hasratnya hingga mampu menumpulkan logikanya dan membuktikan jika tubuhnya sekarang sudah kembali ke keadaan yang seharusnya.
“Mm-maass,” desah Bella gelisah setengah frustasi. Sampai kapan dia harus merasakan tubuhnya dibuat kian meremang, mendamba, dengan rasa panas yang sudah menjalar sempurna. Semakin rapat matanya terpejam maka kian terdengar merdu pula embusan napas keduanya yang bersahutan, menggebu, sungguh padu. Belum lagi suara kecupan-kecupan yang terasa kian basah dan sesekali menyengat, seakan sedang menggelitik sisi sensuál nan liar dalam diri Abella untuk segera bangun dan ikut mengambil bagian.
Apa yang dilakukan Evano Rafanial saat ini mampu membuat Abella Rasheika membalasnya dengan sentuhan yang lebih berani. Kesepuluh jemari lentik itu akhirnya berani merayap naik dari sisi lengan berotot hingga ke pundak, dan dengan segera menyelusup di balik kemeja yang sempat ia tarik paksa akibat rasa frustasi berpadu gelisahnya sejak semula. Terus meraba merasakan betapa menjanjikannya punggung dan pundak kokoh yang mulai sekarang akan menjadi penopangnya. Terbukti dengan segala reaksi yang dihasilkan dari sensasi di tubuhnya, membuat Bella semakin rakus menghirup oksigen ketika satu tangan nakal suaminya seolah tergelincir ke tempat yang tepat. Membuat Bella menarik napas tajam hingga menyentakkan kepalanya ke belakang dengan rintihan geli yang kentara.
Remasan yang dirasakan Evano pada punggungnya lambat laun menjadi cengkeraman, seakan hidup wanitanya bergantung pada pelukan yang dia rasakan saat ini. Tatkala sisi kuku pendek milik istrinya berusaha menggores permukaan kulitnya yang mulai lembab berkeringat, nyatanya Evano malah tersenyum dan semakin berani menggoda dengan jemari sihirnya, mengelus setiap bagian yang ia inginkan, menyibak setiap sisi yang jarinya lalui. Merasakan kelembapan sang istri menyapanya dengan segera.
Bella dibuat tak berdaya seketika, ia pasrah pada sentuhan berani yang baru pertama kali ia rasakan dalam hidupnya. Apa pun yang prianya lakukan saat ini, jelas membuatnya terombang-ambing dalam kenikmatan rasa yang berbeda. Hanya saja kali ini berbeda, sebab dia secara suka rela merentangkan kedua kakinya. Menjawab setiap tantangan tak terucap dari bahasa tubuh prianya. Hanya butuh satu titik yang terkunci sempurna maka tubuh Bella segera meliuk dengan indahnya.
Evano mengamati ekspresi wanitanya yang kian menggoda, saat satu tangannya perlahan merebahkan kembali tubuh Abella, lalu dengan tangkas membuat kain sifon sutra lilac milik Abella terlepas, ‘Sempurna!’ pekiknya riang di dalam kepala. Kini sepasang netra cokelat pekat yang berkilat nakal terasa dimanjakan oleh gerakan sensual dari istrinya. Terus menggoda hingga Abella berusaha keras mengerjapkan sepasang mata cokelat yang kian menggelap, sayu, berkabut dengan kilatan hasrat yang berkobar. Tatapan iris cokelat muda yang menggelap dan netra cokelat pekat itu saling mengunci, mencoba berinteraksi dalam bahasa cinta yang hanya keduanya pahami.
Belum sempat Evano merunduk setelah satu jarinya baru saja berhasil melesak masuk, terdengar dua suara yang lebih ribut dari depan pintu kamar pengantin mereka. Oh, sial! Sepertinya mereka terpaksa harus bersabar. Evano menggeram kesal saat dua suara dari dua orang berbeda jenis kelamin di luar sana terus saja tak henti-hentinya beradu argumen.
“Adik iparmu minta dijewer, My Belle!” geram Evano frustasi.
Bella terkekeh dengan perasaan lebih jengkel, “Adik iparnya Mas juga minta dijewer, tapi sebelumnya ....” ucapan Bella tak akan pernah tuntas sebab dia lebih memilih memberikan kode dengan usapan tangannya.
Evano mengerti maksud Bella, tapi dia sebenarnya tak rela memindahkan tangannya dari tempat paling tepat untuk dia goda saat ini, “Yakin? Gak mau dilanjutin aja, Sayang?” tanya Evano masih mencoba peruntungannya.
Bella menggeleng pasrah, jelas sekali dia tak rela, “Mas mau kita saingan teriakan sama para bungsu di depan kamar kita?” Bella memutar bola matanya setelah menatap nanar ke arah pintu kamar.
Evano pun merasa sama geramnya. Tanpa ia sengaja, dengan gerakan cepat satu jari yang baru menyapa pintu surga di bawah sana ia cabut keluar dengan segera. Tak ayal Bella terpekik kecil disertai tarikan napas tajam. Keduanya kembali saling pandang seakan benar-benar tak rela jika kegiatan panas mereka terdistraksi. Evano memagut lembut bibir pengantinnya kembali, mencecap di setiap sisi hingga keduanya kembali kehabisan pasokan udara.
“Lihat aja, Mas gak bakalan lepasin mereka berdua kalau ini disengaja!” sumpah Evano sembari menarik quilt untuk menutupi tubuh indah yang nyaris polos milik istrinya. Dengan tak sabaran dia membetulkan kembali penampilannya, berjalan tergesa hanya untuk membuat celah yang cukup menampakkan separuh sisi tubuhnya, “Kalian ngapain di sini?!” tegur Evano datar dengan ekspresi dinginnya.
“Eh! Ini nih, Mas. Udah dibilangin jangan naik sekarang malah Adeknya Mas ini yang kayak orang kelebihan energi. Gak mau dengerin perkataan orang yang lebih tua!” adu Nasima pada kakak ipar barunya.
“Kamu ngapain lagi sih, No? Kenapa baru dateng udah ngajakin ribut Adik iparnya Mas?” tukas Evano dengan delikan tajam pada adik bungsunya.
“Loh, kok jadi aku toh, Mas?! Lha aku ‘kan cuma menjalankan tugas aja. Mama, Nonna sama Nonno nyariin pengantin baru tuh. Katanya ada yang mau dibahas soal hal urgent. Cuman mau bilang gini wae malah aku yang kena semprot lagi!” sengit Euno Jarvish Cokroatmojo sambil melipat kedua tangan di depan dadá.
“Beneran mereka nyariin kami?” selidik Evano dengan tatapan menyipit seolah tak percaya, lalu pandangannya seketika berubah lembut saat beralih ke arah Nasima, “Ada apa emangnya, Dek?” tanyanya lembut.
“Hilih! Sama Adik iparnya aja kalau ngomong dipakein cairan pelembut. Giliran sama Adeknya dewe kalau ngomong pakai air keras!” protes Euno mirip bocah, “Buruan turun! Kamu juga, Mbak barbar!” sembur Euno lagi, lalu bergegas lari setelah menghindari pukulan tak serius yang dilayangkan Nasima. Wanitanya Akio ini menggeram kesal melihat tingkah anggota kerabat barunya.
“Maaf kalau kami ganggu, Mas. Adiknya Mas itu emang ngeselin ya ternyata?! Ngomong-ngomong kalau masih mau lanjut, monggo dilanjut. Satu jam cukup, ‘kan? Soal alesan serahin aja sama Adikmu ini,” ujar Nasima dengan ekspresi jenaka, “Oh iya, kasih tahu ke istrinya Mas biar gak usah susah-susah nahan jerit. Mau jerit kayak apa kami gak bakalan denger asal Mas nutup ini pintu rapet-rapet,” sambung Nasima, ia kembali turun sambil terkekeh geli saat menyadari betapa merahnya wajah kakak iparnya saat ini.
Evano segera menutup pintu rapat-rapat dan tak lupa menguncinya lagi, ia berjalan dengan langkah lebar ke arah sang istri yang menunggunya dengan raut wajah penasaran bercampur heran, “Mas kenapa mukanya merah banget? Habis digodain Adikku yang jahil itu, ya?!” tebak Bella tepat sasaran.
“Yang tadi itu lebih tepat kalau disebut separuh nggoda, ngedukung, sama ngasih saran, Sayang. Orang-orang lagi nunggu kita soalnya mau diajak bahasin sesuatu katanya.”
“Oh, ya udah. Ayo, Mas, kita turun bentar lagi,” ajak Bella bermaksud bangkit, tapi tubuhnya segera ditahan oleh sang suami.
“Tunggu, Sayang. Adik iparnya Mas yang pengertian ngasih kita waktu satu jam. Dia bakal ngulur waktu kalau kita mau lanjut yang tadi itu tuh, Adek mau lanjut apa gimana?” tanya Evano. Sebenarnya Bella menyadari jika pertanyaan itu sangatlah retoris, tapi satu jam untuk yang pertama kali? Sepertinya itu bukanlah pilihan yang tepat dan bijak. Siapa yang bisa menjamin dia bisa berjalan dengan cara yang benar dalam satu jam ke depan? Terlepas dari itu, siapa yang bisa menjamin mereka akan keluar dari kamar ini tepat satu jam lagi? Maka dengan alasan logis itu Bella pun menggeleng pasrah dengan wajah sendu. Evano akhirnya terpaksa menyerah. Sepertinya hal yang manis memang butuh waktu. Ah, bagaimana dia bisa lupa jika yang pertama kali haruslah istimewa sebab wanitanya amatlah berharga.
Butuh waktu lima belas menit sampai sepasang pengantin baru ini bergabung dengan anggota keluarga mereka yang sedang berkumpul di ruang tengah. Ternyata Nasima juga datang bersama Akio. Tadi, saat mereka mendapatkan notifikasi di grup keluarga tentang jam nikah kilat antara para kakak kesayangan mereka, saat itu Nasima dan Akio segera kembali dari Paris lebih cepat dari jadwal yang seharusnya. Sedangkan Jarvish yang sempat diam-diam menyelinap pergi ke sirkuit Nürburgring Nordschleife Jerman untuk menyaksikan balapan gran turismo karena ingin mencuci mata dengan deretan mobil-mobil sport nan eksotis seperti kesukaannya selama ini langsung terlonjak dari tempatnya duduk, dan meminta pilotnya membawa pesawat jet pribadi khusus untuknya ke Roma secepat mungkin.
Akhirnya di sinilah mereka, sempat tak sengaja mengganggu acara unboxing sepasang pengantin baru setelah berdebat sengit saat ingin mengabarkan rencana resepsi yang juga ikut serba kilat. Seminggu lagi adalah waktu tersingkat untuk menyiapkan resepsi pernikahan. Apa lagi jika pernikahan itu diselenggarakan untuk hari besar ahli waris jaringan bisnis setara keluarga Valerian dan Cokroatmojo.
“Sayang, Nonna dan Mama minta maaf kalau kami mengganggu kalian. Kami tahu kalian sangat lelah terlebih lagi setelah mendengar apa yang terjadi kemarin, tapi kita harus secepatnya mencetak undangan paling lambat sebelum malam ini juga biar mereka bisa mengirimkan semuanya segera setelah kita menyetujui contohnya,” sesal Mama Oryz.
“Gak masalah, Mama. Kami berdua tahu ada beberapa hal yang gak bisa kalian putuskan tanpa persetujuan kami lebih dulu, ‘kan?” tebak Abella sambil menggenggam tangan wanita yang sangat dia sayangi.
Evano tersenyum sambil merangkul pundak istrinya, “Iya, Nonna juga pasti pusing kalau harus mengurusi segala hal padahal ini adalah hari spesial kami berdua. Kami seharusnya tidak merepotkan kalian,” timpal Evano menatap wanita lansia yang sedang tersenyum hangat padanya.
“Tuh, lihat! Dibilangin gak ada salahnya manggil mereka turun. Kenapa juga tadi lo pakai sok-sokan nyegah gue segala?!” sengit Jarvish lagi tepat ke arah Nasima sambil menikmati cheesecake berlumur saus cranberry organik buatan ibu mertua kakaknya.
“Manggil sih manggil, tapi harusnya lo lihat sikon dulu dong, No! Iya kalau mereka gak langsung tancap gas, kalau lagi pemanasan?! Yang ada lo malah gangguin pengantin baru nyari pahala. Dosa, Lo!” sembur Nasima tak kalah sengitnya.
“Ini baru berapa jam, lo kira kedua Kakak kita nikahnya karena mereka yang mau? Ini tuh nikah karena perjodohan, malah bisa aja mereka merasa terpaksa, ‘kan?!” Jarvish masih tak mau kalah.
“Heh! Makanya buruan nikah biar tahu, lo sih segala pacaran sama mesin turbo! Makanya hobinya jadi ngegas mulu, ‘kan?! Gak ada ceritanya singa bakalan nolak kalau udah disodorin daging segar, dan itu termasuk lo!” Kekesalan Nasima sudah berada di ubun-ubun, ia jadi teringat dengan Abang Mauza teman debatnya yang paling setia.
“Sayang. Udah, Sayang,” tegur Akio dengan suara lembutnya yang membuat semua orang kembali terheran-heran. Pasalnya wajah tegas misterius milik Akio sangat kontras dengan nada suaranya saat berbicara dengan Nasima dan keluarga istrinya, bahkan di kediaman Murakami pun dia terbiasa berbicara dengan nada singkat, padat, dan super jelas.
“Assalamualaikum, selamat siang menjelang sore semuanya?” sapa seorang wanita yang terlihat anggun dengan logat Jawa kentalnya. Saat semua menoleh ke arah pintu utama, sudah ada sesosok wanita bule yang sedang menatap ke arah mereka bergantian.
“Wadaw, Mami Cle udah dateng. Cepetan masuk, Mbak. Gak perlu kelamaan basa-basi ntar jadi basi,” celetuk Jarvish kembali menuang air mineral dingin dalam gelasnya hingga penuh.
“Ngomong opo toh bocah iki?!” sarkas Clemira sambil menepuk disambung meremas kencang pundak adik bungsunya setelah Jarvish meletakkan kembali gelas kristal di tangannya ke atas meja. Kontras dengan wajah yang tersenyum saat berbicara, tapi sorot matanya memandang kesal-kesal gemas ke arah si bungsu.
Jarvish hampir mengumpat saat sendok hidangan penutup di tangannya nyaris terpental, tapi ia mengurungkan niatnya saat melihat kakak tertua mereka mencium punggung tangan kakek, nenek, dan ibunda Abella bergantian.