Kecupan Penambah Nyali

2356 Words
Aku tak tahu apa yang sedang terjadi padaku saat ini. Sebuah rasa baru, berbeda, mendebarkan, sekaligus menegangkan yang membuatku tak sanggup berhenti pun merasa cukup [Abella Rasheika Valerian,  Evano Rafanial Cokroatmojo — Sećanja: Memori] Bella mengernyit, sepertinya ada yang salah. Dia membuka pejaman matanya dan  terperanjat seketika saat menyadari kondisi suaminya, “K-kamu kenapa, Van? Kok keringetmu banjir gini? Apa yang kamu rasain? Ada yang gak nyaman? Mana yang sakit?” cecar Bella panik. Sejak kejadian terakhir, Bella memang lebih mudah terserang panik. Detak jantungnya mulai meningkat, tangannya sedikit gemetar saat mengusap bulir keringat dingin yang membasahi kening, pelipis, bahkan leher suaminya. Melihat reaksi istrinya, Evano memaksakan senyuman karena ia jadi merasa bersalah. Perhatian dan kepanikan istrinya membuat napasnya yang tadi sempat memburu berangsur-angsur normal tanpa ia sadari. Dia tidak mau membuat istrinya panik lagi, “Aku gak kenapa-napa kok, My Belle. Setidaknya sejauh ini,” ujar Evano masih dengan suara lemah. Mata Bella berkaca-kaca, ia hampir menangis lagi. Evano semakin merasa bersalah melihat istrinya yang seperti ini, meskipun hatinya menghangat merasakan reaksi istrinya. Bella menangkup rahang tegas suaminya, “Jangan bikin aku takut gini dong, Mm-mas. Emm, tadi mau bilang apa, Mm-mas?” tanya Bella dengan nada kaku sedikit canggung, wajahnya merona dan ia mulai salah tingkah. “Apa? Barusan panggil aku apa? Coba ulangi sekali lagi.” Evano terhenyak, dua jarinya menjepit dagu Bella agar tak menunduk terus. Ia ingin melihat ekspresi istrinya yang merona malu, bikin gemas dan ingin nekat saja rasanya. Tadi istrinya sudah mulai berani memanggilnya Mas, ‘kan? Dia jadi bertanya-tanya apa istrinya ini bisa membaca pikiran? Memang sih, dari tadi Evano ingin mengusulkan panggilan lain setelah mereka sah menjadi pasangan suami istri. Dia bahkan sudah memberi kode saat memanggil Bella dengan sebutan My Belle. Menurutnya kalau mereka terus pakai aku-kamu, pasti hubungan mereka tak akan bisa maju pesat dan akan terus jalan di tempat. “M-mas?” ucap Bella ragu, tak berani menatap mata Evano. “Lagi,” kata Evano sambil mengulum senyum melihat istrinya yang sedang gugup. “Mas?” Bella menggigit pelan dinding mulut bagian bibir bawahnya. “Sekali lagi?” pinta Evano dengan nada gemas, keadaannya sudah jauh lebih baik saat ini. “Iiih, Mas, mas, mas, maaaaassss,” pekik Bella sampai terpejam geregetan. Sudah jelas ia mulai kesal dan gemas sekaligus. Evano tertawa senang, “Apa, Sayang? Iya, Istriku. Ada apa, Dek?” Bella melotot dengan bibir sedikit terbuka seolah kehabisan kata. Evano seperti sudah punya hobi baru seperti para pria di sekitar Bella, menggoda sekaligus merayu istri sampai ngambek. “Jadi, tadi manggil sampai gemes gitu karena mau bilang sesuatu atau mau minta apa, hm?” goda Evano lagi dan lagi “Jangan mulai bikin kesel deh, Mas?!” “Oho, sekarang udah lancar banget manggilnya, Dek.” Bella cemberut, ia kesal sampai mual saat suami gagahnya masih terus saja menggodanya. Tangan kanan Evano tiba-tiba menarik pelan pinggang Bella, membuat tubuh bagian depan mereka menempel sempurna, “Iya, aku gak akan godain lagi sekarang ..., entah kalau sebentar lagi, Sayang.” Evano terkekeh saat Bella memukul pelan dádanya, “Kalau gitu mulai sekarang selain My Belle aku juga boleh panggil Adek sama Sayang, ‘kan?” Bella mengangguk sambil tersenyum malu, kepalanya bersandar di dáda bidang Evano, “Boleh, Mas.” Bella mendongak, “Kalau panggilan buatku sebanyak itu, berarti aku juga harus panggil Mas sesuai panggilanku, ya?” “Oh, kalau Mas manggil Dek berarti istrinya Mas ini bakal manggil Mas? Kalau Mas manggil Sayang sama My Belle, kira-kira mau panggil Mas pakai sebutan apa, Sayang?” Evano sengaja bertanya untuk sedikit mengulur waktu. Buatnya, mengungkapkan hal besar yang berhubungan dengan kondisinya selalu saja membutuhkan keberanian dan energi ekstra. Dia pun bingung dengan keputusannya saat ini, tapi entah kenapa dia merasa nyaman dan percaya pada istrinya. Sedangkan pada mbak Cle-nya saja, dia seakan takut kalau kondisinya akan menjadi beban untuk kakak yang sudah seperti ibu baginya itu. Bella mulai berpikir. Dia harus mencari panggilan yang manis, tapi jangan sampai berlebihan juga. Ternyata memilih panggilan untuk suami, sama sulitnya dengan belajar membuat cake untuk pertama kali. Ya, ini sih hanya berlaku bagi Abella Rasheika saja, “Mmm. Kalau Hubby sama Sayang aja, gimana?” tanya Bella sambil menatap dengan tatapan polos. Evano mengangguk senang, dia mengecup dahi Bella berkali-kali. Evano sekarang baru menyadari kenapa dia suka sekali mengecup kening dan rambut istrinya. Aroma khas milik Bella membuat Evano merasa tenang dan rasa paniknya tak mudah menyerang saat berdekatan dengan lawan jenis. Dia nyaman setiap kali berada di dekat Bella. Satu aroma yang membuat Evano selalu betah memeluk tubuh hangat istrinya, aroma wangi Bella bercampur keringat wanitanya seperti sekarang. Inilah yang membuat Evano seolah kehilangan kendali dan tubuhnya bereaksi seperti yang seharusnya. Kok seharusnya sih? “Jadi, Mas mau sampai kapan coba mengalihkan topik terus, Hubby?” Sekakmat! Kalimat Bella membuat Evano tak berkutik. Istrinya ini selain perhatian, ternyata cerdas juga. Evano tertawa canggung, “Istrinya Mas ternyata jeli. Tahu aja Mas lagi mengalihkan topik, Sayang. Ya, udah. Mas cerita sekarang. Mas harap Adek gak akan menyerah setelah dengar rahasia besar Mas.” Bella mengangguk. Dia menegakkan duduknya dengan kedua tangan masih memeluk pinggang suaminya. “Jadi, Mas udah bilang kalau Mas agak susah berdekatan sama perempuan, ‘kan? Itu karena Mas punya trauma dan mungkin juga hampir jadi phobia meskipun Mas gak tahu seberapa parahnya. Ada beberapa keadaan yang membuat Mas kehilangan kontrol kalau udah kena pemicunya. Sebenernya Ayah udah nagih calon menantunya dari lama, tapi Mas selalu ngehindar karena Mas gak berani terus terang soal kondisi Mas ke Ayah. Apalagi udah makin banyak gosip yang beredar dari masuk akal sampai nyeleneh yang bilang Mas menyimpang.” Evano mulai mengawali ceritanya. Dia melanjutkan jika kedua teman dekatnya terkadang meledeknya, tapi dia tahu kalau sebenarnya kedua orang itu sudah sadar dengan kondisinya. Cara mereka meledek juga bukan dengan kalimat yang menjatuhkan mental, “Kayak si profesor budák cinta buta itu contohnya. Emang kadang dia ngeledekin Mas haus belaian wanita, tapi dia bilang gitu cuma kalau lagi cemburu aja karena Mas suka senyam-senyum pas denger dia nyeritain kehidupan rumah tangganya dan jadi kelihatan sebucin itu sama istrinya.“ Evano bertingkah begitu bukan karena dia tertarik pada Jenna, tapi karena dia seketika membayangkan betapa manisnya hidup berumah tangga dengan wanita yang bisa menerima rahasia besar yang dimiliki pasangannya. Dia membayangkan jika suatu hari nanti bisa bertemu dengan wanita yang akan menerimanya, memahami kondisinya, dan mau bersabar, juga berusaha bersama-sama agar dia terlepas dari rasa traumanya yang sudah mengarah ke phobia, “Sebenernya kami termasuk spesies yang susah jatuh cinta, tapi sekalinya udah ketemu sama pawangnya pasti kami gak akan rela jauh-jauh dan jadi bucin akut, Sayang. Mas akhirnya sepakat sama perkataannya Alister. Logika dan ketakutan kami bisa menguap kalau kena wanita penakluk macam istri kami. Sepertinya Mas kualat, Sayang. Dulu Mas gak yakin ada wanita yang bisa bikin trauma Mas buat bersentuhan dan menjalin hubungan serius bakal nemuin obatnya. Wanita yang bikin Mas gak banyak mikir, gak takut ketahuan, gak khawatir ini, itu. Ternyata pas ketemu Adek, bukan cuma logika aja, tapi tubuh Mas kayak gak bisa dikendaliin. Apa Mas terlalu penasaran karena gak pernah merasakan belaian wanita selain Bunda kayak kata Alister sama Elle? Mbak Cle aja bisanya mukul, nyubit, bukan ngelus. Galak banget, ‘kan?” Bella tertawa geli mendengar kalimat bagian penutup yang diucapkan Evano, “Aduh, Sayang. Aku tadi udah dengerin serius banget loh, malah Mas ngelawak pas akhir-akhir. Mas tahu gak? Aku juga punya trauma, aku takut melihat seseorang pergi meninggalkan aku bahkan kalau sampai meregang nyawa di depanku. Makanya pas aku nolongin Mas kemarin, aku sempat pingsan, ‘kan? Lagian sebenernya gak tahu sejak kapan aku juga ngerasa takut banget sama yang namanya hubungan serius. Mungkin aku takut karena dulu sempat lihat obsesi Papa sebelum aku tahu alasannya, aku takut suamiku hanya menganggapku sebagai pabrik pembuat ahli waris. Aku takut kalau dia akan meninggalkanku pas aku gak bisa kasih anak lelaki. Macem-macem deh, Mas.” “Sayang, emangnya anak perempuan gak bisa ngelola perusahaan? Gak becus jadi ahli waris? Terus istrinya Mas ini apa dong? Semua saudara ipar Mas? Kak Mina, Jenna, bunda mertuanya Elle, auntynya Mas Ardan. Tuh, banyak banget ‘kan? Kalian semua wanita hebat yang bisa membuktikan ke kami para pria dan dunia soal tanggung jawab dan kepercayaan tanpa melupakan tugas utama kalian sebagai istri. Satu hal lagi, Adek tenang aja, Sayang. Insyaallah Mas gak akan menyerah buat mempertahankan pernikahan kita, jalan buat kita ketemu aja udah segini menegangkannya. Mas juga udah mentok banget nih sama Adek. Kalau gak percaya coba aja cek sendiri. Mas baru sadar apa yang bikin Mas suka banget nempel sama istri Mas ini. Aroma manis dari badan Adek yang bikin Mas kecanduan,” ucap Evano mengaku pada istrinya dengan tatapan polos dan nada meyakinkan sampai ubun-ubun. Bella tersenyum geli, suaminya ini ternyata polos-polos menggemaskan, “Ya Allah. Iya, Sayang. Aku percaya, Hubby. Adek juga mau berusaha bareng Mas. Semoga kita bisa saling mengobati rasa trauma kita. Makasih udah jujur dari awal dan makasih udah percaya sama Adek, Suamiku.” Ketakutan terbesar Bella menyublim, dia memberanikan diri untuk mengecup lembut bibir suaminya. Evano terperanjat setelah mendapat satu serangan tak terduga dari istri polosnya. Dia bergeming, tubuhnya mendadak membeku, pikirannya yang sempat panas meliar seketika mengkristal sampai Evano lupa berkedip karenanya. Bahkan hanya dengan satu serangan, itu pun terasa begitu melumpuhkan dengan telak maka desakan untuk membalasnya adalah hal yang mutlak, dan itu, segera! Bella mengernyit ketika menyadari reaksi Evano, apakah dia sudah membuat kesalahan? ”M-mas? Kok diem aja? Adek bikin kaget, ya? Kalau gitu ntar gak akan cium duluan la- ammpptthh.” Evano merampas bibir Bella dengan pagutan yang semakin lama kian menuntut hingga keinginan untuk mendominasinya mendadak terlecut, langsung mengenai logikanya. Evano Rafanial mencecap dan menghisap bibir istrinya di setiap sisi yang ia suka bak seorang pengembara yang sedang memuaskan dahaganya. Kedua tangan Bella meremas kemeja bagian depan suaminya. Ia berusaha mengimbangi lumatan suaminya yang sekarang mulai mengajaknya berperang lidah. Adu bibir dan silat lidah dalam arti yang sebenarnya ini mulai membuat jiwa keduanya dijalari rasa panas yang menyublim. Naluri dasar mereka sudah mulai mengambil alih, Evano membiarkan insting primitif menguasai dirinya, pun dengan Abella. Entah siapa yang memulainya lebih dulu, tapi kedua tangan mereka sekarang mulai berani menjamah tubuh pasangan halalnya dengan lebih berani. “Eumhh- Maas, wait, emmhh.” Bella menahan tangan Evano yang sudah mendarat di bagian paling membal miliknya. Akibat ulah jari panjang Evano, puncak si membal sudah mulai mengeras, seolah bangun dan bangkit karena sebuah gerakan yang menyapa, menggoda. Padahal keduanya belum mendapat sentuhan dari tangan panas suaminya secara langsung. “Heummh?” desahan tertahan dari Evano. Rem suaminya Bella ini sudah blong. Saat tangan kanannya ditahan sang istri, kini giliran tangan kirinya pun turut beraksi, semakin berani meremas gemas si kembar sintal milik Bella di bawah sana. Bella dibuat meriang panas dingin. Padahal masih ada kain yang melapisi kulit tubuh indahnya, tapi suhu tubuh Evano seakan membuat tubuhnya terus terlecut hasrat, sangat nakal nan menggoda. Dengan susah payah akhirnya dia bisa menyampaikan maksudnya di sela desahan bercampur erangan kenikmatan yang terus lolos dari celah bibir merah muda merekahnya, bagian pertama yang dibuat paling bengkak dan basah oleh sang suami, “Eungghh, doa- aahhh,” ucap Bella dengan suara parau frustasinya. Suara sensual itu seperti guyuran air dari sungai surga yang menyadarkan Evano seketika. Evano menempelkan keningnya ke kening sang istri, napas sepasang pengantin baru ini tersengal hebat karena kekurangan pasokan oksigen akibat dikuasai hasrat, “Maaf, Dek. Mas kebablasan,” ucap Evano menunduk, ia meletakkan dahinya di pundak Bella. Dia merasakan bahu kanan Bella bergerak kencang, telinganya mendengar kekehan geli milik istrinya. “Astaghfirullah Mas ini sukanya becanda aja sih. Jangan kebablasan dulu, Hubby. Gimana kalau ternyata langsung jadi dalam sekali uji, hayoo?” celetuk Bella asal. Sebenarnya, mana dia tahu bisa setokcer apa mereka berdua? Yang barusan saja bahkan bisa dibilang test drive off the road baginya.  "Waduh, bisa gawat dong, Sayang? Jangan sampai lupa doa dulu kalau gitu. Berarti mulai sekarang tiap Mas masuk ke kamar kita, Mas bakalan nutup pintu sambil langsung berdoa. Gitu aja deh, ya? Biar aman kalau sampai kebablasan lagi, Dek."  Bella kembali terbahak sampai perut dan pipinya terasa kram. Dia bahkan kesusahan bicara dan hanya bisa mengucapkan kata, “Mas” saja di sela tawanya yang tak kunjung reda.  'Tawa cantikmu bikin aku punya semangat hidup lagi, Abella Rasheika Cokroatmojo. Semoga hanya akan ada tawa bahagia mulai sekarang dalam hidupmu. Jika pun kau menangis, semoga itu adalah tangisan bahagia atau haru. Bukan tangis kesedihan, putus asa atau ratapan seperti yang seringkali Bunda coba sembunyikan dari kami, dariku,' harap Evano dalam hati. Bagai tersihir kala melihat istrinya tertawa begitu lepas. Bella sesekali meliriknya sambil mulai berusaha meredakan tawanya yang selalu berakhir sia-sia. "Gak akan bisa berhenti ketawa kalau gak Mas bantuin, sini." Evano menahan tengkuk istrinya, dia mengecup kening Bella sambil melafalkan doa agar di antara mereka berdua dan rezeki yang sedang mereka usahakan selalu berada dalam lindungan Allah dan dijauhkan dari segala gangguan buruk. Bella tersenyum, ia perlahan membuka mata cokelat cantik bercahayanya saat merasakan bibir suaminya berjarak dengan dahinya, “Aamiin,” ucapnya mengamini doa suaminya, doa mereka. "Tuh, berhasil 'kan? Apa Mas bilang," goda Evano sambil mengecup ujung hidung mancung milik Bella. Bella mengelus rahang tegas suaminya yang ditumbuhi cambang tipis. Bagi Bella, rahang berbulu tipis ini terlihat sangat seksi di matanya. Karena itu Bella tak sanggup berhenti menyentuh rahang tegas suaminya sejak mereka berada di kamar ini berdua saja, "Mas, ini jangan dicukur habis, ya? Aku suka lihat Mas punya cambang tipis gini." Bella tak sadar saat ia menggigit bibir bawahnya sambil mengamati rahang suaminya lekat-lekat. Wah, benar-benar kemajuan pesat karena istrinya mulai berani mengutarakan isi hatinya. Evano ingin mengetahui semua yang disukai dan tak disukai Bella. Sepertinya dia harus mulai memancing istrinya mulai sekarang, "Mas kelihatan manly, ya? Macho gitu?"  Seperti tersihir, Bella mengangguk tanpa ragu. Tak membuang waktu lagi, Evano menyelusupkan dagunya ke ceruk leher istri jelitanya. Menghirup dalam-dalam aroma manis istrinya, serupa candu yang harus dia reguk kala waktu tertentu. Membuat Bella terpekik geli hingga tanpa sadar ia meremas surai tebal auburn milik sang suami, "Aaaah, Mas! Eunghhhh- gelii, ampun."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD