Sekarang giliranku menceritakan tentang apa yang aku rasakan semenjak kejadian menegangkan beberapa jam lalu. Melihat Bella sangat antusias dan begitu terbuka membicarakan tentang dirinya membuatku tak ragu lagi untuk membuka rahasiaku selapis demi selapis agar dia bisa menjadi wanita pertama dan satu-satunya yang mengerti aku apa adanya, aku yang tak sempurna dan memiliki ketakutan besar yang terus menghantuiku siang malam.
Sebenarnya aku udah ada di Itali semenjak hampir sebulan ini untuk membahas proyek baru dengan rekan bisnis yang juga baru dikenalkan padaku. Ini perjalanan bisnis dadakan di luar jadwal karena klienku kali ini bersikeras mengajak ketemu langsung mumpung aku lagi ada di Eropa katanya. Aku gak tahu gimana awalnya, tapi mulai ada beberapa selisih paham dan kami saling mempertahankan argumen masing-masing saat dia mengajakku berkeliling dengan high performance boats miliknya.
Sampai dia mulai main fisik dan gelagatnya menunjukkan kalau dia memang berencana melemparku dari atas perahunya. Jadi, saat aku benar-benar salah memperhitungkan langkahku, akhirnya aku malah beneran tercebur ke laut. Tepat sebelum aku terjatuh ke air, samar-samar aku mendengar nama seorang pria yang selalu dihubungkan dengan mendiang bunda. Seperti diperintah, otakku kembali memutar rangkaian kejadian mengerikan yang bikin Bunda meninggalkan kami hari itu. Selama ini aku merasa gagal sebagai anak lelaki yang lebih tua, tapi tak sanggup melindungi wanita yang paling aku sayang di dunia. Jadi, saat penyesalanku itu datang lagi, pada akhirnya aku memilih menyerah untuk berusaha berenang ke permukaan. Waktu itu aku berpikir, apakah ini akhirku? Akhir dari kisah seorang Evano Rafanial Cokroatmojo? Allah sama Bunda sesayang ini ya sama aku? Bunda udah kangen sama aku, kah? Rafa datang, Bund. Tunggu Rafa. Cincin kesayangan Bunda selalu Rafa bawa, sekarang Rafa kembalikan lagi ke Bunda. Itulah yang aku pikirkan saat air laut mulai memenuhi rongga pernapasanku.
Aku juga mulai lelah mencoba menggapai apa pun, tapi kosong. Tak ada yang bisa kugenggam, sama seperti yang selama ini terjadi. Tak ada tangan hangat yang terulur padaku sebab satu-satunya tangan hangat itu sudah pergi. Tak apa, aku tak khawatir. Karena sebentar lagi aku bisa menggenggam kembali satu-satunya tangan hangat yang pernah menggenggamku dengan erat. Tangan bidadari kesayanganku, Bunda.
Benar ‘kan, apa kubilang. Bunda datang sendiri dan menggenggam tanganku lagi. Cinta pertamaku yang abadi.
Saat aku yakin semuanya akan segera berakhir, aku mendengar suara seseorang yang terdengar asing di telingaku, “Hey, S-signor? Ayo bangun. Jangan menyerah, please. Kamu harus bertahan, kamu gak boleh pergi di hadapanku!” teriak suara seorang perempuan? Kenapa dia terdengar sangat sedih dan, marah atau takut?
Dengan susah payah kubuka mataku. Siapa dia? Tadi sepertinya aku lihat Bunda, kenapa sekarang jadi dia? Hangat, tangannya hangat. Tunggu, mulutku juga ikut hangat. Ah, ini bibir. Bibirnya juga hangat. Bibir?! D-dia, apa dia menciumku?!
Aku mulai terbatuk, berusaha mengeluarkan sisa air dari rongga pernapasanku. Setelah mulai sadar aku berusaha menungging agar saluran pernapasanku terbebas dari air dan benda laut apa pun yang tadi sempat tak sengaja tertelan. Saat aku sudah semakin sadar, kulihat wanita yang tadi menciumku sudah tergeletak?! Ups, tadi bukan ciuman, tapi napas bantuan, Raf! Batinku kembali menegur. Apa dia kehabisan cadangan oksigen karena menolongku? Aku jadi pembunuh secara tidak sengaja dong? Gawat, tapi dia masih napas. Berarti dia cuma pingsan, ‘kan?
Saat aku melihat ke sekelilingku, aku baru sadar sudah berada di sebuah cabin cruiser model terbaru, “Pasti punya wanita ini. Pintu kabinnya terlalu jauh dan aku masih gak kuat bangun, apalagi kalau harus gendong dia masuk ke dalam. Aku masih pusing, dan jadi ngantuk banget sekarang,” gumamku sebelum aku kembali tak sadarkan diri.
“Hey, Signor. Apa kau bisa bangun? Kita harus segera masuk ke kabin sebelum angin laut membuat kita semakin kedingingan,” ucap suara lembut itu kembali menyapa indera pendengaranku. Memang sangat dingin sekali sejak tadi, sampai rasa dingin ini kembali membuatku tersadar setelah sempat pingsan untuk kedua kalinya. Aku mencoba bangun untuk mengikutinya masuk ke dalam kabin dengan langkah tertatih.
Dia menyuruhku untuk segera membasuh tubuhku dengan air hangat. Sepertinya aku memang membutuhkan air hangat agar rasa lengket ini menghilang dari tubuhku. Jadi, aku pun segera menuruti perkataannya. Dia tadi menyuruhku untuk seka saja menggunakan handuk kecil di rak handuk ini, tapi rasanya pasti akan lebih segar kalau aku mandi. Lagi pula sama saja, ‘kan? Seka atau mandi sama-sama terkena air juga. Barangkali demamku bisa cepat turun kalau aku mengguyur tubuhku dengan air hangat. Kulihat ada sebuah botol berbentuk unik di samping rak handuk. Ini shampo ya? Baunya unik banget, sepertinya ini buatan sendiri.
Saat aku selesai membersihkan diri dan keluar dari toilet dengan berbalut bathrobe, kulihat wanita penyelamatku sedang mengeringkan tangan sehabis mencuci peralatan makan. Dia tersenyum sambil membawakan semangkuk sup krim dan cokelat panas yang aromanya sudah menggoda indra penciumanku.
“Ah, aku lupa bertanya. Kau bisa memahami bahasa Inggris juga selain bahasa Italia, ‘kan? Dilihat dari wajahmu sepertinya kau bukan asli penduduk setempat,” tanyanya dengan wajah penasaran lengkap dengan sorot mata polos. Menggemaskan!
“Aku juga bisa bahasa lain selain yang kau sebutkan tadi, Miss. Apa kau tak melihat ciri tubuhku yang sangat Asia ini?” jawabku. Dia wanita yang ramah, apa dia tidak takut berada satu ruangan dengan pria asing? Pikirku.
Ekspresinya yang sedang berpikir keras tampak lebih menggemaskan, tubuhnya terlihat lebih mungil dari tubuhku, ‘Cewek ini mungil banget. Jadi pengen ngantongin biar dia gak hilang. Eh, apaan sih, Raf! Hentikan pikiran ngalor-ngidulmu sebelum kau kena tabok!’ lagi-lagi logikaku menegur pikiran konyolku.
“Asia Tenggara?” tebak wanita bermata cokelat terang ini sambil tersenyum simpul. Senyumnya semakin lebar saat tahu aku dari Indonesia. Dia ternyata fasih berbahasa Indonesia juga, padahal wajahnya tidak terlihat Asia sama sekali.
Dia menunjuk pakaian ganti dan makanan di dekatku. Dia beneran baik banget jadi orang. Kebaikannya bisa bikin salah paham apalagi dari tadi dia suka banget membagi senyuman manisnya. Bahkan permen aja kalah manis, dan bibirnya itu. Tadi juga terasa manis, aku pengen cicipin lagi, tapi takut digeplak sama wanita baik hati ini.
“Oh, kita belum kenalan, ‘kan? Panggil aja aku Bella,” katanya memperkenalkan diri.
“Ra-, Mm- Evan, Panggil aja Evano,” jawabku singkat. Jangan panggil aku Rafa, udah terlalu banyak orang yang manggil aku dengan nama Rafa dan mereka semua pergi meninggalkanku. Aku gak mau malaikat penyelamatku juga pergi gitu aja. Entah kenapa aku gak rela kalau kamu juga cuma mampir aja di hidupku. Apa aku mulai egois? Nggak, ‘kan? Batinku lagi sambil mengamatinya yang sudah menghilang di balik pintu toilet.
‘Sup buatannya sepertinya enak. Kelihatannya dari bahan segar, bukan instan. Sup krim sederhana, dia pintar masak rupanya. Pasti beruntung banget yang bakal dapetin hatinya sampai bisa jadi suaminya. Dapat istri paket plus-plus. Eh, kalimatku kok jadi ambigu banget?’ pikirku berusaha menjaga kewarasanku karena tanpa sadar sepertinya aku mulai terpikat sama pesonanya Bella.
Aku yakin sup ini pasti enak, tapi rasanya sangat aneh di mulutku, cokelat ini juga bikin aku makin mual. Aku tidur dulu deh, dia tadi nyuruh aku tidur di ranjang, ‘kan? Apa gak masalah? Kalau di sofa ini juga pasti kakiku nekuk banget sih. Ya udah turutin aja daripada diusir dari sini sama Bella. Hmm, Bella, Belle namanya secantik orang dan juga hatinya. Batinku sambil tersenyum konyol sendirian.
✧✧✧
Yang aku tahu, saat ini aku sedang berada di tempat yang hangat dan nyaman. Sejak kapan kasurku bisa senyaman ini? Rasanya aku masih ingin bermalas-malasan, tapi siapa sih yang teriak-teriak pagi-pagi gini? Wih, tumben gulingku hangat dan lembut. Aku jadi makin males bangun, pengen meluk guling ini aja selamanya.
Aroma ini, apa ini dari rambutku? Kok rambutku jadi panjang? Mataku mulai mengerjap, saat aku menoleh ke kiri ternyata sudah ada Bella yang menatapku dengan wajah tegang, “Morning, Belle. Tadi aku sepertinya lagi mimpi mendengar suara ribut,” sapaku tanpa sadar dengan wajah mengantuk.
Aku kembali menutup mataku, masih ngantuk banget dan aroma Bella bikin aku jadi males bangun. Eh, aroma Bella?! Pekik logikaku menyadarkan seketika.
Jedug!!
Brak!!
Bangkeeee, kepalaku pasti bocor nih?! Eh, siapa tuh yang lagi melototi aku? Nyeremin banget. Loh, bathrobe Bella kok kelihatan berantakan gini? Lah, kaosku juga hilang! Semalem aku gak macem-macem sama dia, ‘kan? Waduh! Bisa digorok sama Mbak Galak kalau sampai dia tahu aku udah hamilin anak gadis orang! Logikaku menjerit panik saat berusaha mengamati keadaan sekitar.
Bella kesulitan bicara saat dicecar pertanyaan dari keluarganya. Berarti beneran, ‘kan?! Aku pasti udah gerepe-gerepein Bella semaleman. Dia hamil gak, ya? Loh, tapi kok dia bisa loncat dari ranjang? Eh, iya! Kudu cepet tanggung jawab sebelum dilaknat Allah, naudzubillah. Bund, maafin kedodolan putramu ini, ya. Ampun, Bund. Ampuni hamba, Ya Allah.
Aku segera melesat ke atas menuju kokpit sambil memakai pakaian yang diberikan Bella. Oh, iya. Nama lengkap Bella! Tadi keluarganya manggil siapa? Arabella Valerian? Valerian kayaknya gak asing banget deh di telinga, tapi tadi perasaan bukan Arabella deh? Aku harus setting auto pilot dulu, baru balik cari Bella. Oh iya, sama cincin mantu kesayangan juga. Bisa gawat kalau cincin itu sampai ilang.
“Nama, Belle. Buruan, kita udah gak punya waktu lagi. Aku gak mau digorok sama kakekmu atau dua orang suruhannya pas kita udah sampai di Genoa sebentar lagi,” cecarku makin gelisah.
“Abella Rasheika Valerian binti almarhum Amadeo Valerian,” jawabnya dengan mata merah dan mulai berkaca-kaca. Almarhum? Jadi, calon istriku sama kayak aku juga? Kami hanya punya satu orang tua?
Kalau emang kamu adalah jodoh dari Allah yang direstui Bunda, aku siap membimbing kamu, Bel, tekadku dalam hati, “Bismillah, Abella Rasheika Valerian binti almarhum Bapak Amadeo Valerian, maukah kau menjadi satu-satunya wanita yang akan selalu menemaniku sampai Allah menyatukan kita kembali di surga-Nya, Insyaallah?”
Tangan Bella gemetar, cincin mantu kesayangan makin kelihatan cantik di jari lentiknya. Jangan nangis, Calon Istri. Aku paling gak bisa lihat wanita nangis di depanku karena aku memang punya kelemahan yang berhubungan dengan wanita.
—✧✧✧—
Aku Evano Rafanial Cokroatmojo. Putra kedua dari pasangan Janu Endrasuta Cokroatmojo dan Orchidia Lilian Cokroatmojo. Aku keturunan Jawa campur-campur. Bisa dibilang darahku emang Nusantara banget, Bhineka Tunggal Ika. Ayah keturunan Jawa - Persia - Belanda, ada setetes darah Tionghoanya juga. Kenapa setetes? Ya, karena keturunan Tionghoa dari Singkawang yang udah melebur dengan keturunan orang Manado campur Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tuh, leluhurku Nusantara banget, ‘kan? Kalau Bunda cantikku keturunan bule asli.
Wajahku emang ada bule-bulenya, tapi masih kalah bule dibandingkan satu-satunya wanita yang galaknya melebihi Bunda. Namanya Mbak Navya Clemira Cokroatmojo, dia dokter obgyn. Aku gak tahu, apa kalau bayi nangis pas ditolongin lahiran sama dia, itu karena emang udah dari sononya atau karena syok lihat wajah jutek Mbak Cle. Kalau adikku satu-satunya, namanya mirip sama aku dan emang kami kayak kembar tak identik. Euno Jarvish Cokroatmojo. Namanya lebih bule dari aku, ‘kan?
Sayangnya si Jarvish ini gak niat banget bantuin bisnis keluarga yang bergerak di bidang transportasi dan logistik. Dia cuma suka habisin waktu di anak cabang perusahaan otomotif dan teknologi punya kami sambil ngerepotin para karyawan aja karena suka ngerakit benda bermesin hasil idenya sendiri, tapi aku akui kalau adik bungsuku itu paling jago soal mobil-mobilan. Bahkan mobil kami sekeluarga pun hasil karya dia. Awal mula dia mulai kerajingan sama otomotif pas aku ekspansi bisnis. Jadi, kami sengaja jadiin dia sebagai direktur eksekutif bagian marketing sekalian buat memfasilitasi hobinya Jarvish. Lagi pula semua desain rancangan Jarvish terbukti selalu laku dipasaran, dan soal versi edisi khususnya pasti banyak kolektor yang rela antri biar bisa kebagian. Bahkan sebelum produk kami sempat diluncurkan ke pasaran.
Sebenernya ada satu rahasia lagi soal aku sama Jenna. Suaminya Jenna, si Profesor Budák Cinta Gila itu adalah rekan bisnis sekaligus investor utamaku. Dia juga tuh yang minta aku buat pindahin kantor utama perusahaan otomotif kami ke New York. Makanya aku sengaja berusaha menjalin kerjasa sama dengan perusahaan keluarga Jenna biar aku juga mudah menjalankan amanahnya karena selama ini Alister gak pernah ngizinin aku berbincang-bincang langsung sama istrinya.
Buatku gak masalah kalau aku harus bolak-balik Jakarta-New York. Toh, Aku juga kerja sampai gak tahu waktu biar Jarvish sama mbak Cle masih bisa inget pulang ke rumah.
Memang sejak kepergian Bunda, rasanya rumah seperti kehilangan nyawa. mbak Cle lebih suka nginep di asrama dekat rumah sakitnya, apalagi kalau jadwal dia nungguin lahiran lagi padat-padatnya. Aku sampai gak bisa bedain antara wajah mbak Cle atau jas snelinya, udah kusut banget dua-duanya. Makanya aku berdoa semoga kakak iparku nanti orangnya pengertian dan bisa ngemong mbak Cle. Malah lebih bagus lagi kalau bisa menaklukkan ke-jutek-an mbak Cle yang sudah mengakar dan mendarah daging.
Sementara Jarvish, dia lebih suka tinggal di Seattle. Lagian di sana dia punya bengkel pribadi. Dia lebih sayang sama mobil-mobilannya daripada nemenin Ayah. Emang sih, di antara semua anaknya ayah sama bunda cuma mbak Cle aja yang bisa ngobrol lama sama Ayah. Aku palingan ngobrolin soal bisnis atau perusahaan. Lagi pula dari dulu aku memang lebih deket sama Bunda. Jadi, rasanya aneh kalau harus ngomong blak-blakan sama Ayah tentang segala sesuatu. Mau curhat sama mbak Cle juga mendingan kasih dia waktu balas dendam buat tidur. Jadi, akulah yang harus nungguin dia tidur setiap mbak Cle pulang dan kami ketemu di rumah utama Cokroatmojo.
Meskipun galak, tapi mbak Cle aslinya manja banget. Apa-apa selalu nyari aku. Sampai aku jadi mikir apa bener mbak Cle pengen dimanjain para pria di keluarga kami atau dia sebenernya lagi memperalat aku aja? Soalnya kalau sama Jarvish malah dia yang manjain si Bungsu. Setiap apa maunya si Bungsu selalu diturutin. Kalau aku ada di rumah, dia gak pernah disuruh keluar beli camilan. Padahal di rumah ada aja sih yang mau dimintain tolong. Lagian mbak Cle orangnya royal. Setiap kali minta tolong buat beli makanan, uang lelahnya aja seratus ribu sendiri. Makanya anaknya para asisten rumah tangga di rumah pasti berebut kalau tahu mbak Cle pulang, mereka malah menawarkan diri buat bantuin mbak Cle sebelum diminta.
Sebenernya keadaan keluarga kami yang sekarang kelihatan harmonis karena sebelumnya sudah pernah diterpa badai besar sampai mengakibatkan kepergian Bunda.
“Soal itu, aku boleh ceritain pelan-pelan, ‘kan?” tanyaku pada Bella. Istriku tersenyum manis sambil mengangguk paham. Pengertian banget emang istriku ini. Jadi makin sayang. Eh, kok aku bisa jadi bucin kayak gini, sih? Mungkin bisa jadi disebut cibut? Bukannya budák cinta, tapi cinta buta.
“Aku masih penasaran soal hubunganmu sama Alister. Kalian udah kenal lama?” Bella bertanya dengan nada ragu.
“Bisa dibilang itu berawal dari ketidak sengajaan, sih, My Belle. Ceritanya panjang dan penuh kebetulan kalau buat orang awam, tapi kami berdua termasuk pria yang gak percaya sama kata kebetulan, seperti pernikahan kita ini. Semua pasti udah digariskan sama Allah. Makanya kamu gak perlu khawatir, My Belle. Gak mungkinlah aku ngembat saudara ipar sendiri. Bisa dijotos sama si suami posesif itu. Tadinya aku agak khawatir mau cerita soal ini karena takut kamu salah paham, tapi aku pengen mulai belajar terbuka sama istriku ini.” Aku kembali mengecup keningnya. Sambil tersenyum, sepasang netra cantik Bella memandangku dengan tatapan hangat dan senyum yang terus mengembang.
“Aku bakal selalu ada setiap kali kamu butuhin, insyaallah. Lagian aku pasti ikut ke mana pun kamu pergi, ‘kan? Meskipun aku masih tetap ngurusin bisnis keluarga nantinya?” ucapnya sambil menatapku dengan wajah polos menggemaskan.
Aku mengijinkannya, lagi pula aku bukan tipe pria yang akan mengurung istriku di rumah hanya karena mengkhawatirkan hal yang tidak-tidak. Tentunya selama istriku paham dengan kewajibannya dan tidak berada di luar rumah lebih lama dari aku.
Kalau dilihat lagi emang istriku ini gemesin banget, “Tahu, gak? Kamu kan mungil nih. Coba lihat, pas banget buat aku pelukin kayak gini. Aku semalem sempat mikir, seandainya aku bisa kantongin kamu biar bisa kubawa ke mana pun pasti bakalan seru banget hidupku. Eh, gak tahunya beneran kejadian. Sekarang kamu beneran bakal ikut ke mana pun aku pergi.” Bella terkejut, lalu cemberut.
“Jahat banget sih, iiih. Emang aku semungil itu? Ngeselin banget deh!” Bella terus memukulku dengan gemas campur sebal. Aku baru tahu wajah kesalnya juga bikin aku gak tahan buat nyicipin bibir yang lagi cemberut itu.
Ini aneh, kenapa aku terus aja ingin lebih dekat dengan istriku dalam hal fisik? Sebelumnya tak pernah begini, padahal kami belum lama saling kenal. Apa kondisiku sudah membaik? Aku gak mau menduga-duga, aku harus tes sejauh mana perkembangan kondisiku. Aku mencekal kedua pergelangan tangannya, “My Belle, aku boleh minta sesuatu?”
“Mau apa?! Awas aja kalau ngomongnya ngaco lagi!” sungutnya merajuk sambil mencebik.
“Aku gak tahu ini ngaco atau nggak, tapi aku boleh nyicipin yang manis ini lagi, gak?” ucapku sambil mengusap bibir merah muda milik Bella dengan ibu jariku.
Bella bergeming, sepertinya aku salah ngomong, “Kalau kamu gak kasih, aku gak akan maksa. Ke depannya pun akan gitu. Aku udah bersyukur banget kamu mau nyoba mendampingi dan memahami aku. Kita masih punya banyak waktu, lagian mulai sekarang kita bisa pacaran halal, ‘kan?” tanyaku meyakinkannya.
Bella tersenyum, lalu menutup kedua matanya. Dia menahan napas, membuatku ikut menahan napas juga. Saat bibir kami saling beradu, aroma manis ini seketika membuatku semakin yakin kalau bibirnya bakal jadi canduku. Bibir kami saling menyapa, kelihatan banget kalau kami sama-sama amatir. Tuh, ‘kan, rasanya bikin ketagihan beneran. Sampai tanpa sadar tanganku mulai nakal dan gatal ingin menjamah tubuh hangat Bella seperti semalam. Pagutan kami semakin lama menjadi tambah panas saat kami membiarkan naluri dasar kami mengambil alih. Bahkan kedua tanganku kembali menyelusup, mulai menyingkap rok pendek istriku. Aku semakin berani meraba permukaan kulit mulusnya, merasakan kehangatan tubuh Bella hingga membuatnya mulai mendesah kecil, dan membuatku ingin terus mendengar suara merdu nan seksi miliknya sekali lagi.
Kami mulai kehabisan pasokan oksigen, kulihat wajah Bella sudah merah merona dengan bibir basah yang tampak membengkak. Kusadari kedua tangan Bella masih meremas kencang rok pendeknya hingga kusut. Apa ini juga pengalaman pertama buatnya? Rasanya aku pengen bikin Bella gak cuma basah di bibir aja, tapi aku juga ragu apa kami bisa melakukannya malam ini juga? Secepat ini? Aku kembali menatapnya. Apa sebaiknya aku mulai jujur aja soal yang satu itu? Jantungku terus berdegup kencang ugal-ugalan, bahkan aku bisa merasakan tubuhku sudah basah oleh keringat, napasku juga belum sepenuhnya kembali normal.
“My Belle. Boleh aku ngaku soal satu hal lagi?” tanyaku lirih, masih tersengal tepat di depan bibirnya.
[Evano Rafanial Cokroatmojo — Sećanja: Memori] PoV end