Bella terlarut kembali dengan ingatannya ke beberapa jam lalu saat dirinya masih berstatus lajang.
“Astaghfirullah, Abella Rasheika Valerian!! Apa yang sudah kau lakukan bersama pria yang belum kami kenal, Nak?!” pekik mama dengan suara khasnya.
Eh, kenapa Mama teriak sekenceng itu sih? Ada apa emangnya? Pria siapa? Duh, ini apa sih, berat banget? Eh, PRIA?! Astaghfirullah!! Saat aku melirik ke bawah, tiba-tiba tangan kekar yang memeluk erat tubuhku menyelusup ke balik bathrobe hijau zamrud yang sudah semakin tersingkap dari tubuhku. Astaghfirullah! Evano meluk aku kayak aku ini guling?! Mana bulu tangannya bikin aku geli, bulu kudukku udah meremang karena ulah tangannya. Mana sekarang dalemanku mulai ngintip-ngintip genit dari balik bathrobe kesayanganku ini.
“Morning, Belle. Tadi aku sepertinya lagi mimpi mendengar suara ribut?”
Suara serak baru bangun tidurnya kedengeran seksi banget sih? Mana napasnya ngegelitik banget di leherku. Eh, sadar dong, Bel! Ini gimana nasib coba? Dipeluk sama bukan mahram di depan para tetua?! Aduh, Evanooo! Kita bakal dicoret dari kartu keluarga kalau gini ceritanya!
“V-van. Kita kepergok majelis hakim,” ucapku sambil berusaha menepuk lengan Evano dengan tangan kananku yang sedikit terjepit. Dia mulai menggeliat kecil membuat tubuhku mulai terekspose. Tanganku refleks menarik quilt yang hampir tersingkap sepenuhnya dari tubuhku.
Kulihat Evano mengerjapkan kedua matanya, ia sepertinya sedang mengumpulkan kesadarannya. Dia melihat ke sekeliling, lalu tersenyum polos ke arahku. Iih, ekspresinya gemesin banget.
Tiba-tiba wajahnya berubah tegang. Sepertinya dia sadar habis meluk anak gadis orang sembarangan. Dia melonjak sampai kepalanya membentur dinding kabin, lalu mengintip ke arah ponsel di tangan kiriku. Evano Kaget melihat tiga orang yang menatapnya tajam seolah siap menelan kami hidup-hidup.
“Kalian berdua benar-benar keterlaluan. Hey, anak muda! Siapa namamu di akta kelahiran?” selidik Nonna mulai menyudutkan Evano.
“Evano Rafanial Cokroatmojo bin Janu Endrasuta Cokroatmojo, Nyo-nya?” jawab Evano sambil melirik waswas sekaligus menyesal ke arahku, dan kulihat ada tatapan bersalah juga.
“Panggil yang benar! Beliau adalah Nonna, yang sedang menelepon itu adalah Nonno, dan panggil aku Mama,” kata mama dengan tatapan tajam, tapi nada suaranya terdengar lembut.
“Abella Rasheika Valerian, Evano Rafanial Cokroatmojo cepat pulang sekarang! Nonno pastikan penghulu udah nunggu kalian berdua di rumah kita! Nonno kirim Alberto sama Alfredo. Kalian berangkat ke bandara sekarang juga!” titah Nonno dengan wajah datar, tapi sepertinya kok tadi Nonno sekilas kelihatan senyum sih?
Mendengar titah Nonno membuat kami berdua tanpa sadar bergerak cepat untuk memenuhi perintah khusus yang sudah terlontar tanpa bisa dibantah. Kulihat Evano bergegas naik setelah memakai baju dan menyambar celana panjang yang baru saja kuulurkan.
Astaga, dia langsung pergi gitu aja padahal aku baru mau ambil jaket buat dia. Saat aku berhasil menyusulnya ke kokpit dia langsung mencecarku dengan kedua mata yang masih fokus ke arah panel monitor. Hingga dia kembali turun ke kabin lalu tak lama ia kembali dengan napas tersengal dan segera berlutut di hadapanku.
“Bismillah, Abella Rasheika Valerian binti almarhum Bapak Amadeo Valerian, maukah kau menjadi satu-satunya wanita yang akan selalu menemaniku sampai Allah menyatukan kita kembali di surga-Nya, Insyaallah?”
Astaghfirullah. Jadi, gini ya rasanya dilamar? Denger dia nyebut nama lengkapku bahkan dengan sangat lengkap sampai mengingatkanku tentang Papa yang udah gak ada di sampingku lagi, bikin lututku makin lemes.
Papa, apa Papa yang ngirim Evano buat jagain aku? Apa ini yang Papa maksud pas Papa ngomong aneh-aneh sebelum kejadian adik-adikku kemaren? Kalau memang iya maka restui kami, Pa. Insyaallah Bella siap jadi istrinya Evano Rafanial Cokroatmojo.
Aku gak sanggup menjawab langsung dengan bibirku, rasanya masih gak percaya kalau sebentar lagi statusku berubah secepat ini. Tubuh tegap Evano menenggelamkanku dalam pelukannya. Dia sempat mengatakan jika dia juga hanya punya satu orang tua yang tersisa. Aku tahu rasanya pasti berat, apalagi dia kelihatan sayang banget sama Bundanya. Kalau dia aja sesayang itu sama Bundanya, dia pasti bakalan menyayangi keluargaku juga, ‘kan? Termasuk aku?
—✧✧✧—
Namaku Abella Rasheika Valerian, putri ketiga dari pasangan Amadeo Valerian dan Oryza Mays Amadeo Valerian. Papa adalah putra tunggal pemilik jaringan restoran bintang michelin Perfecto Club dan semenjak menikahi Mama bisnis keluarga kami bertambah dan berkembang pesat. Tidak hanya di industri makanan dan minuman saja, tapi juga industri pariwisata dengan bergabungnya The Magnífico View yang awalnya jaringan hotel bintang lima akhirnya sudah berkembang hingga ke segala lini yang berhubungan dengan dunia industri pariwisata.
Semenjak Adik bungsuku Nasima Khailina Valerian terlahir ke dunia, aku melihat Papa semakin berubah. Dari yang aku tahu semenjak kecil, Papa memang selalu mendidik kami dengan keras seperti seorang putra. Sampai Mama sering mengeluhkan sikap Papa, terlebih lagi saat Nasima benar-benar tumbuh menjadi gadis tomboy. Mama akhirnya berusaha memberikan Papa seorang putra melalui program kehamilan dan bayi tabung.
Hingga suatu hari Papa dan kakak pertamaku Amarilis Humira Valerian bertengkar hebat. Kak Mira memilih kabur dan memberitahuku kalau dia akan mengajak kekasihnya kawin lari karena sudah tak tahan dengan obsesi Papa, tapi aku terkejut saat beberapa hari kemudian Aa Wilfred Saba yang notabene kakak kandung dari Jenna Himeka Saba membawa pulang Kak Mira yang terlihat masih tidak terima karena rencana pemberontakannya gagal total.
Yang kuingat setelah kejadian itu, Kak Mira melanjutkan kuliahnya di negeri Paman Sam dan tidak lama kemudian ia menerima pinangan dari pria berkewarganegaraan New Zealand. Sedangkan kakak keduaku memilih tinggal bersama Nonni di Roma setelah kak Mira berangkat melanjutkan kuliahnya. Beberapa tahun kemudian saat aku sudah kuliah di Oxford, Kakak keduaku yang bernama Peony Zamina Valerian juga menikah dengan pria berkebangsaan Turki setelah mereka menjalin hubungan serius karena sering bertemu untuk mengurus bisnis keluarga kami The Magnífico View.
Tinggal tersisa aku dan Lina saja yang menjadi penghibur bagi Papa dan Mama. Panggilan kami di rumah memang mengikuti lidah orang tua Papa yang senang sekali melafalkan nama berbau arabian, meskipun Nonni terkadang terdengar kesusahan mengucapkan nama islami kami. Bahkan mereka sendiri sampai mencarikan nama cantik untuk kami, para cucunya. Sebenarnya Papa sekeluarga menjadi mualaf sebelum membawa Mama masuk ke keluarga Valerian. Karena itu juga keluarga besar kami masih setengah hati menerima keputusan mereka, apalagi setelah usaha perjodohan Papa dengan sebuah motif yang jelas menguntungkan pihak keluarga besarnya harus gagal total karena kehadiran Mama yang mandiri dan tegas, membuat para pamanku dan saudara nonni menjadi semakin menyudutkan Mama.
Awalnya tidak ada yang tahan dengan sikap dan obsesi Papa selama ini, bahkan Kak Mina yang paling pendiam pun pada akhirnya angkat bicara sampai menyalahkan Papa karena obsesinya sudah membuat Mama terpuruk setelah kehilangan calon adik quintuplets kami yang kelimanya berjenis kelamin laki-laki. Kak Mina mengatakan hal yang menyakitkan saat membela Mama dengan meneriakkan jika Mama bukanlah pabrik pembuat anak.
Sejak saat itu Papa mulai berubah. Suatu hari Papa sengaja mengunjungiku yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke London. Hari itu masih terasa seperti mimpi bagiku sebab untuk pertama kalinya Papa banyak melakukan kontak mata denganku selama beliau menceritakan banyak hal. Papa mengatakan padaku jika Papa sangat menyesal dan merasa sangat bersalah setiap kali melihat dan teringat tentang keadaan Mama yang sempat terguncang akibat obsesinya, tapi saat itu Papa seperti tidak punya jalan lain karena takut jika kami semua suatu hari akan lebih memilih mengikuti suami kami dan meninggalkan bisnis keluarga. Papa takut jika bisnis ini diperebutkan saudara-saudara sepupunya dan pada akhirnya membuat keempat anak gadisnya harus tersingkir karena tak ada saudara lelaki yang bisa melindungi kami. Papa bukannya takut kehilangan hak waris peninggalan leluhurnya, Papa hanya tidak ingin kami disepelekan oleh keluarga suami kami saat kami tidak punya pendukung karena pasti sepupu kami akan lebih mengurusi keluarga mereka, juga memikirkan bagaimana cara mendapatkan hak waris kami dengan perlahan atau pun paksaan dan menganggap keturunan Alano dan Mireia Valerian hanya sebagai pelengkap saja.
Saat mendengar Papa bercerita dengan wajah merah karena menangis dengan rasa penyesalan, seketika itu juga rasa kecewaku selama ini menguap. Aku menjadi pelindung Papa satu-satunya dalam keluarga saat ketiga saudariku masih setengah hati memaafkan kesalahan Papa. Hingga akulah yang melanjutkan tugas kak Mina untuk menemani Nonni dan sekarang juga termasuk Mama setelah Papa baru saja meninggalkan kami semua. Tidak ada yang tahu tentang kebenaran cerita Papa dengan seluruh detailnya selain pria yang bernama Evano Rafanial Cokroatmojo. Pria yang sekarang sudah resmi menjadi suamiku semenjak beberapa jam yang lalu, sebab aku tak ingin keluargaku semakin merasa bersalah saat mereka sedang merayakan hari bahagia kami seperti sekarang.
Pernikahan kami berlangsung kilat, bahkan keluarga inti dari suamiku harus rela menyaksikan prosesi ijab kabul melalui siaran ulang live streaming karena mereka masih dalam perjalanan ke kediaman Nonni. Kakak iparku, mbak Navya atau juga biasa dipanggil mbak Cle bilang jika itu bukan masalah karena memang dalam adat Jawa mempelai pria harus berani berangkat sendiri untuk meminta calon istrinya secara langsung pada pihak calon mertuanya, sebagai tanda bahwa dia bisa dipercaya dan sudah mantap untuk mengambil alih tugas kedua orang tua dari calon istrinya. Rasanya seperti mimpi saat Allah memudahkan jalan kami hingga sekarang aku bisa memakai nama keluarga Cokroatmojo di belakang namaku yang memang sudah panjang sejak lahir.
Evano memeluk tubuhku dari belakang saat mendengar cerita tentang keluargaku, dia terus mengecupi pelipis dan kepalaku sampai aku selesai menceritakan tentang diriku termasuk kesibukanku di London sebelum aku mengajak Mama pindah ke kediaman Nonni setelah kepergian Papa yang terasa seperti mimpi.
Evano berkata lirih tepat di telingaku, “My Belle. Aku juga mau cerita sama kamu soal diriku. Kuharap kamu gak berubah pikiran setelah mendengar ceritaku, tapi sebelumnya ayo kita masuk dulu. Nanti anginnya bisa bikin kita pingsan lagi,” ucap Evano, lalu langsung membopongku masuk ke dalam kamar. Memang sih sejak tadi anginnya berembus sedikit kencang, aku bahkan harus menahan midi dressku agar tidak terus tersingkap.
Dia kembali menghampiriku setelah menutup rapat pintu balkon agar suara tawa kerabat kami yang sedang bercengkrama tidak terdengar atau malah suara kami berdua yang tak sampai mereka dengar. Entah suara apa pun yang berasal dari kamar pengantin kami.
Evano kembali memelukku setelah ia bersandar di kepala ranjang. Dia kembali mencium keningku, lalu menatapku dalam dengan tatapan hangat yang selalu membuatku merasa nyaman.
“Kamu mau cerita apa, Van? Aku gak maksa kamu buat ceritain soal dirimu sekarang juga, kok. Kamu baru aja baikan setelah minum obat dan kita masih harus periksain keadaan kamu lebih lanjut setelah kamu cukup istirahat. Seenggaknya pas tadi aku lihat Nonno antusias banget nyeritain kalau keluarga besannya ternyata rekan bisnis keluarga kami, aku juga ikutan seneng dengernya. Gak cuma seneng, tapi lega juga. Pantesan tadi aku sempet lihat ekspresi Nonni sama Mama kayak yang lega banget, ternyata calon menantunya bukan orang asing sepenuhnya. Aku baru sadar ternyata keluarga kita udah saling kenal lumayan lama, ya? Aku emang hanya fokus sama Perfecto, sedangkan Kak Mina yang ngurusin Magnífico. Aku gak sadar kalau keluarga kita juga ada kerjasama soalnya ‘kan emang kolega kami banyak banget tuh. Lagian aku malas ngurusin hal-hal yang bikin aku ketemu sama banyak pria.”
Sorot mata Evano tiba-tiba berubah saat ia mendengar kalimatku barusan, ia lalu menarik tangan kananku dan meletakkan di depan dádanya, “My Belle, pas kamu ngomong soal banyaknya pria yang kamu temui saat ngurusin bisnis keluargamu. Entah kenapa di sini tiba-tiba rasanya sesak, tapi aku bersyukur kamu memilih fokus sama Perfecto. Kamu harus tahu kalau aku sebenernya cemburuan. Aku gak rela kecantikan istriku dinikmati sama mata pria lain,” ucapnya dengan nada serius yang gak sinkron sama wajah dan tatapannya yang kelihatan polos. Entah kenapa kalimatnya malah terdengar seperti rayuan di telingaku dan membuatku tersenyum geli.
“Iih, kamu apaan sih, Van. Bisa-bisanya ngomongin soal ini pakai ekspresi polos gini? Ekspresimu biasa aja, dong. Aku kan jadi inget wajah bangun tidurmu tadi pagi, persis kayak gini,” celetukku tanpa sadar.
“Emang kenapa sama ekspresi bangun tidurku? Kamu lihat ada jejak peta apa emangnya?” Pertanyaan Evano bikin aku tertawa semakin geli. Bisa-bisanya dia selalu ngomong dengan ekspresi polos kayak anak kucing gini. Duh, bikin aku gemes dan gak tahan buat terus-terusan godain dia.
“Kalau kamu gemesin kayak gini terus, aku bisa sakit perut gara-gara kebanyakan ketawa, Van,” kataku sambil mengusap air mata karena terlalu banyak tertawa.
“Gak apa, lihat bidadari lagi ketawa tuh salah satu rezeki dari Allah. Aku emang berencana bikin kamu selalu ketawa kayak gini selama hidup denganku. Jujur aku khawatir dengan tanggung jawab baruku. Bukannya aku belum bisa ikhlas menerima keadaan kita, tapi aku emang dari dulu agak takut sama yang namanya perempuan,” akunya dengan raut wajah dan nada suara khawatir.
“Kok bisa sih? Emangnya kolegamu gak ada yang perempuan?” tanyaku penasaran, apalagi kulihat Evano sedikit ragu-ragu untuk mulai bercerita.
“Mmm- ada sih, tapi gak banyak. Salah satunya yang tadi kamu sebutin, istrinya Pak Abimara sekaligus CEO-nya Murakami Saba itu,”
“Loh, jadi kalian rekan bisnis juga?”
“Ya, bisa dibilang begitu. Udah lama aku berencana bekerja sama dengan kedua perusahaan itu, dan ternyata malah sekarang kedua perusahaan besar itu benar-benar berada di bawah satu bendera yang sama, ‘kan? Kebetulan banget toh jadinya. Makanya aku sengaja meluangkan waktu buat bahas langsung kontrak kerja sama yang udah dari lama aku incar setelah dapat tanggapan positif dari Bu Abimara. Mmm- ngomong-ngomong kamu gak dengar rumor yang baru aja beredar soal kami?”
“Soal kalian? Rumor yang mana, Van? Tapi ngomong-ngomong jangan terlalu formal manggil si Jenno. Kalau tahu Kakak Iparnya manggil dia Bu, pasti dia bakal mencak-mencak dan mulai merajuk. Aku jadi gak sabar pengen lihat reaksi mereka saat tahu aku mendadak udah ganti status di KTP. Terus gimana soal rumornya?” tanyaku lagi, aku mulai penasaran dengan kabar yang baru kudengar.
“Jadi, soal rumor itu. Ada yang menyebarkan foto makan malam kami pas lagi bahas kontrak, tapi beneran, sumpah aku gak ada motif tersembunyi sama Jenna. Yang ada di otakku cuma gimana caranya proyek kerja sama kami bisa terjalin dan aku bisa menjalankan amanahnya Alister yang dia sampein ke aku sebelum dia balik ke tempat asalnya sementara. Semuanya hampir kacau pas besok paginya ada rumor yang bilang kami dekat karena Jenna lagi jauhan sama suaminya, dan kami mau ambil kesempatan dengan dalih kerja sama biar bisa mengembangkan bisnis kami melalui yang katanya rencana pernikahan kedua Jenna karena jati diri suaminya gak pernah benar-benar terekspose secara jelas di depan publik sampai sekarang. Sejauh ini, cuma nama dia aja yang selalu jadi bahan perbincangan dan semua orang jelas tahu aku CEO Trans Tech Inc. Sementara di foto itu kami kelihatan sangat akrab. Jadi, ya gitu deh, Belle,” ungkap Evano panjang lebar.
“Astaghfirullah! Itu gak bener, ‘kan? Masa kamu punya rencana jahat kayak gitu?”
“Astaghfirullah, My Belle. Tadi aku udah bilang kalau itu cuma rumor, ‘kan? Lagian aku udah bersumpah di depan Bunda sama Mbak Clemira kalau aku cuma mau nikah sekali seumur hidup. Aku beneran gak bisa bayangin jadi orang ketiga atau rebut-rebut hak milik orang lain. Kenapa aku harus iri sama milik orang, kalau sekarang Allah kasih aku istri seperti kamu? Rasanya semua doa Bunda, Mbak Cle, termasuk doaku selama ini udah terkabul lewat kamu.” Tangan Evano gak berhenti mengelus pipiku. Aku yakin sekarang pasti wajahku udah merona soalnya sekujur tubuhku udah berasa makin panas aja karena ulah Evano yang dari tadi kasih sentuhan-sentuhan kecil di saat yang tepat.
Pas dia jelasin soal rumor itu, aku bisa lihat Evano jujur. Kelihatan banget kalau dia ngomong dari hati. Aku jadi penasaran sama sesuatu yang mau dia ceritain dari tadi, “Iya, aku percaya. Jadi, mau cerita soal apa lagi, mm, S-suamiku?” tanyaku dengan nada gugup. Ya Allaaah, rasanya malu banget manggil Evano pakai sebutan suamiku, tapi aku harus mulai membiasakan diri biar hubungan kami gak kaku lagi, ‘kan?
Kulihat Evano sempat kaget, tapi langsung tersenyum lebar saat aku memanggilnya dengan sebutan suamiku. Rasanya emang pas di lidah sih, dan bikin nagih. Al dente banget deh. Aku mulai fokus mendengarnya bercerita karena kami sepakat untuk saling terbuka agar lebih cepat mengenal karakter masing-masing.
[Abella Rasheika Valerian — Sećanja: Memori] PoV end