Dirgantara menghela napas berat sambil mendudukan dirinya. Zahra menghampiri pria itu. “Pah, maaf ya atas sikap El. Dia mungkin sedang setres mengenai pekerjaannya jadi terbawa emosi. El baik kok sama aku. Soal nambah anak mungkin kami belum bisa. El juga sibuk dengan pekerjaannya jadi untuk sementara waktu kami menunda dulu untuk memberikan Zidan adik,” jelasnya. Semoga saja mertuanya mendengarkan perkataannya. “Duduk sini," pinta Dirgantara sambil menepuk-nepuk sofa. Zahra pun duduk di dekat mertuanya. "Dengar baik-baik ya, Zahra. Papah tau kamu perempuan yang baik. Papah suka dan sangat bangga memiliki menantu seperti kamu. Tapi Papah nggak suka jika punya menantu pembohong,” tegas Dirgantara. "Papah lebih suka kamu terus terang. Kamu nggak usah takut suami kamu marah. Kalau dia sa

