El mengepal tangannya lalu menonjok dinding. “Sayang, kamu kenapa?” tanya Ara sambil menghampiri kekasihnya. Dia sangat kaget melihat kekasihnya yang tiba-tiba memukul tembok. Padahal pria itu tadi asik-asik saja main game. Ara memeriksa punggung tangan El. “Ya ampun Sayang, tangan kamu berdarah.” El melenggang pergi ke kamar tanpa memerdulikan kekasihnya. “Sayang!” Ara menyusul pria itu. El mengganti pakaiannya lalu mengambil kunci mobil yang dia simpan di laci. “Sayang, kamu mau kemana?” El menatap wanita yang bertanya itu. Namun, dia tidak menghiraukannya. Dia beranjak meninggalkan apartemen. “Sayang!” “Sayang!” Ara meneriaki pria itu yang baru saja keluar apartemen. “Sayang! Kamu mau kemana?!” Dia menghela napas, El mengabaikannya. Dia menutup pintu sambil menghela napas sedi

