"Rahimku telah diangkat... tapi suara bayi itu membuatku percaya, Tuhan memberiku kesempatan kedua—meski lewat jalan yang tak kusangka.”
Pemakaman berlangsung hanya oleh mereka berdua. Setelah bayi itu di mandikan dan di urus pihak rumah sakit Dina membawa nya pulang dengan memasukkan bayi tersebut ke dalam tas.
"Bi orang lain senang ketika melahirkan, rasa sakitnya bisa terobati karena bisa melihat sang anak. Kenapa dengan diriku bi,,,,,? dosa apa selama ini yang aku lakukan sama Tuhan? "
"Bibi tahu betul neng, sejak kecil neng orang baik hingga saat ini. Bibi rasa juga tidak adil jika semua yang terjadi ini menimpa neng Dina. Neng Dina dengarkan Bibi, kalau Allah Tuhan kita teramat sayang pada hambanya yang sabar dan tawakal serta bertaqwa. " Jawa bi sumi menghibur, memang dia tahu bahwa sejak kecil dia tidak pernah merasakan kasih sayang ibunya. Hanya bi sumi yang mengasuh dan merawatnya.
Air mata Dina mengalir rasa sakit nya nyaris sempurna. Fisiknya juga batinnya ia belum benar-benar siap menghadapi keadaan hidup pahit. Di dalam duka ia mencoba berfikir keras bagaimana cara mengadopsi anak secepat mungkin.
"Ayo neng kita pulang, nanti tetangga pada keburu pulang kerja. Bibi bingung harus menjawab apa".
" Bibi harus janji ini rahasia kita, dan jika ada tetangga yang bertanya bilang saja bi anaku di rawat dan belum bisaa di bawa pulang. "
"Baik neng, Bibi akan laksanakan sesuai perintah. "
Dina masih ingat betul meskipun ingatannya belum pulih total ia mendengar suara tangis bayi. Yang kemudian lenyap dan sepi."Jika benar apa yang di katakan suster di rumah sakit kalau bayiku meninggal, aku masih sempat mendengar tangisnya. Ini pasti ada yang tidak beres. Aku harus selidiki masalah ini."
Guman Dina dalam hati yang masih prustasi. Semua di luar kendali fikirannya yang harusnya kini Dina bahagia dengan keluarga lengkapnya. Sayatan luka bekas Sc masih terasa perih dan ngilu. Di tambah lagi kejadian pilu yang membuat Dina benar-benar terpukul. Tadinya ia ingin menjadi seorang ibu yang baik dan membahagiakan anaknya. Karena ia tak pernah mendapat kasih sayang dari sang ibu. Waktu itu ia tahu persis Ibunya pergi membawa adiknya. Sedangkan Dina di tinggalkan bersama sang ayah.
Berulang kali Dina mencoba mencari ibunya diam-diam. Tanpa sepengetahuan Ayahnya,ia pura-pura les atau mengerjakan skripsi bersama teman-temannya. Namun hasilnya nihil ibunya pergi tanpa jejak. Padahal ia sangat merindukan adiknya juga.
Tanpa terasa mobil taxi on line nya telah masuk ke pekarangan rumahnya. Bi Sumi turun untuk membuka kan gerbang karena kebetulan di rumah tak ada siapa pun. Termasuk mang Gani si tukang kebun.Baru juga bi Sumi membuka gerbang ada tetangga lewat yang selalu kepo urusan orang.
"Bi kemana aja? setiap hari saya lewat ko sepi. Atau jangan-jangan Bu Dina udah lahiran ya. " Tanya mereka celingukan sambil melihat- lihat ke dalam mobil.
"Iya alhamdulillah semua berjalan lancar hanya saja bayi neng Dina belum bisa di bawa pulang. Ia harus di rawat karena air ketuban yang terhirup".Jelas bi Sumi asal menjawab, karena pasti mereka akan mempertanyakan perihal bayi itu.
" Yang sabar bu Dina Mudah-mudahan bayinya cepat sehat dan di bawa pulang. "Entah mereka prihatin atau hanya pura-pura. Dina hanya tersenyum di balik kesedihannya. Mereka pun berlalu saat mobil mulai memasuki pekarangan rumah yang begitu luas. Hancur sudah hati Dina bayangan anak kecil yang baru berjalan hingga berlari berputar di otaknya.
Bahkan ia membayangkan Reza menggendong dan berlarian beserta anaknya. Lagi-lagi sungai kecil mengalir di Dina." Ayo bibi bantu neng, bibi ga mau hal kecil menimpamu lagi".
"Baik bi terimakasih,,, "jawabnya pelan.
" Jika neng butuh bantuan bibi, panggil saja jangan melakukan apa pun sendirian. Saya takut ayah non marah juga tuan Reza.
"Bi bisa tolong ambilkan pump asi, ada di nakas kamar bayi".Pinta Dina dengan tatapan kosong, ia masih terpukul atas kehilangan bayinya.
" Neng , sabar neng bibi akan coba menelpon beberapa yayasan barangkali ada bayi yang di titipkan di panti".Kata bi Sumi sambil melinangkan air mata juga. Sebenarnya ia juga ikut sedih atas kejadian majikannya.Tapi ia sembunyikan karena takut menambah kesedihan pada tuannya.
"Aku hanya ingin menyimpan asi di frezer bi. Siapa tahu butuh untuk,, , "
Tak lama kemudian panggilan Reza masuk. Dina menghapus air matanya, ia berusaha memperlihatkan mimik muka bahahiannya.
"Honey,, , sepertinya kamu di rumah. Bagaimana keadaan mu? " Sapa Rezaa yang begitu bahagia menjumpai istrinya hanya lewat ponsel.
"Baik ,, maafkan aku tidak memberi tahu mu kalau anak kita sudah lahir. ketika aku tergelincir di teras air ketuban pecah duluan hingga aku terpaksa harus sc mudur dari tanggal perkiraan lahiran." Belum selesai ia bicara ia tak kuat menahan tangisnya ia pun memberikan ponsel pada bi Sumi.
"Maaf den,,, bibi udah ceroboh.Bibi sebelumnya sudah bersihkan lantai. Tapi entah kenapa tiba-tiba ada cairan di lantai. Padahal kondisinya tidak hujan. " Kata bi Sumi terbata- bata.
" Tidak masalah bi, lagian keamanan di rumah kurang terjaga tidak ada CCTV juga security. Nanti saya pesankan CCTV sore ini juga dan security yang mungkin datang besok pagi. "Jawab Reza yang begitu baik, laki-laki idaman semua wanita. Baik dan ganteng juga ramah. Ia tidak mempersulit keadaan apa pun masalahnya ia selalu bilang tidak ada masalah. karena baginya memarahi seseorang karena salah bukanlah penyelesaian yang baik.
" Baik Den,, , terimakasih. Istri den Reza masih bersedih karena anaknya belum bisa di bawa pulang. "Kata bi Sumi lagi.
" Bilang pada istri saya semua pasti baik-baik saja. "Kata pria blasteran indo Belanda itu.
Bi Sumi hanya mangut dan kemudian menutup telponnya.
" Neng sudah jangan terus bersedih serahkan semua pada yang maha kuasa. "kata bi Sumi sambil mengelus punggung Dina.
" Kita tidak tahu rencana indah dari Allah SWT, neng. Apa neng masih ingat! Kejadian nabi Musa yang di hanyut kan di sungai kemudian dia di pertemukan kembali dan ibunya pun bisa memberikan asinya. "
"Mudah-mudahan juga anaku masih hidup ya bi, seandainya saja ada orang jahat yang ingin mencelakainya Mudah-mudahan Allah selamatkan ya bi".Kata Dina yang mulai lupa dengan traagedinya.
" Nah gitu neng , tetap semangat hidup neng. Ya udah di lanjut pompai asinya. Neng jangan sedih terus agar asinya tetap keluar.Kalau setres nanti asinya seret. Bibi mau bukain pintu sepertinya ada tamu neng."
"Mungkin tukang pasang cctvnya sudah datang bi. Ayo bibi jumpai mereka kasih dia sesuguh dan kalau mereka bertanya di berapa titik. Bilang saja di semua titik yang di perlukan." Ucap Dina yang sedikit reda dari tangisnya.Karena ia membayangkan betapa bahagia suaminya akan datang juga ia seolah akan menjemput putranya kembali.
"Baik, bibi pamit dulu".Bi Sumi pun pamit dan menjemput kedatangan tamu. Ia menjelaskan seperti yang di katakan Dina. Mereka pun memasang CCTV di berbagai titik. Setelah mereka pulang bi Sumi memberi uang tips pada pemasang CCTV. Meskipun biaya pemasangan dan yang lainnya telah di bayar oleh Reza sepenuhnya.
3 hari berlalu sejak dari kepulaangan Dina dari rumah sakit. Dina masih pada rutinitasnya memompa asinya dan menyetok nya di kulkas.Di pagi hari saat embun pagi mulai menetes Dina berjalan keluar ingin menghirup udara Segar. Tiba-tiba pendengarannya merasa sedikit terganggu. Dina mendengar suara tangisan bayi. Tapi tidak di hiraukan karena ia mengira halusinasi nya yang terlalu terobsesi pada seorang anak.
" Bi,,,, tolong kesini. "Teriak Dina yang mendengar tangisan bayi begitu kencang. Ia ingin mendengar pendapat bi sumi bahwa dirinya saat ini tidak gila.
" Ada apa non? "Kata bi sumi datang tegopoh- gopoh sambil menenteng sapu dan lap serbet di pundaknya.
" Bi apakah otaku sudah tidak waras, bibi bisa mendengarkan sesuatu? "Tanya Dina yang masih belum beranjak dari duduknya. Ia ingin memastikan kebenarannya.
" Iya non, , itu tangisan bayi. Tapi dimana dan bayi siapa? "Bi sumi menjawab spontan ia kebingungan mencari sumber suara. Di rumah yang cukup besar ini tidak mudah mencarinya. Ia berlari ke samping teras rumah tapi suaranya terdengar dari belakang rumah. Karena suaranya memantul ke setiap sudut ruangan.Bi sumi sampai kebingungan mencari ke sana kemari hingga teriakan tetangga menyadarinya arah sumber suara.
" Bu Dina!!! Kasian bayinya ko d geletakin di lantai kaya gitu!!!
"Bayi??? " jawab mereka kompak!