“Dulu aku hanya ingin mencicipi hidupmu, Dina… tapi sekarang, aku ingin menghancurkannya.”
Bi sumi berlari kecil ke teras depan di susul langkah Dina yang berjalan pelan karena lukanya yang belum sembuh. "Maaf Neng bibi tadi kebelet pipis jdi bibi geletakin di sini. Kan ga mungkin aku bawa ke toilet. " kata bi Sumi sedikit drama depan tetangga. Tangan gemetar Dina menyambut kedatangan bayi tersebut.Ini bukan mimpi, ini nyata. Antara sadar dan tak sadar rasa haru bercampur bahagia. "Terimakasih ya Allh, engkau kabulkan semua do'aku. " Rintih Dina dalam hati.
"Ayo neng kita masuk kasihan udah menggigil begini. " Tanpa fikir panjang bayi yang di kira kiriman Tuhan itu mereka membawa nya masuk setelah para tetangga pergi berlalu.
"Bi apakah bayi ini miliku bi? " Dina mulai ketakutan akan kehilangan anaknya lagi. Begitu melihatnya ia merasakan ikatan batin yang mendalam.Padahal ia sendiri tidak tahu dari mana asalnya bayi tersebut.
"Neng Dina bibi sarankan tepati janji neng . Bahwa akan menyayangi bayi tersebut tak perlu siapa dan dari mana bayi tersebut.Sekarang bibi mandikan air hangat dan kita harus membedongnya. "
"Iya bi perlengkapan bayi sudah di siapkan semuanya. " Jawab Dina getir, ia masih tidak percaya menghadapi kenyataan kali ini. Jika kemaren di tidak siap menghadapi takdir mengambil nyawanya. Justru sekarang sebaliknya.
"Kejutan!!!! " Tiba-tiba Reza datang tanpa sepengetahuan Dina. Ia tiba-tiba muncul di balik pintu.
"Neng ini bayinya,,,,lo ko ada tuan Reza?" Bi sumi bengong nyaris tak percaya.
"Sengaja tidak memberi tahu dulu, sini bi aku gendong".Dina hanya diam diam sangat karena saat ini ia sedang berbohong pada suaminya. Ia takut jika suatu hari nanti Reza tahu kebenaran ini dan akan meninggalkan nya.
" Din,,, ko mirip aku banget, kamu sadar ga? Kita kasih nama siapa ya,,,
"Reza begitu menyayanginya ia tidak sadar kalau itu bukan anaknya. Aku mohon jangan kau ambil kebahagiaan kami Tuhan" Dina selalu merintih dan berdoa.
Pov Dini
Di tempat lain,,
3 hari yang lalu di sebuah rumah sakit dengan muka yang sama tengah berjuang mempertaruhkan nyawanya.keringat dingin Dina bercucuran ia sendiri tanpa di temani suami bahkan keluarga. Hanya ada lila yang menemani Dini saat itu.Dia berada di pojokan sambil memegang ponselnya.
Dini menatap langit-langit sambil meringis.
“Dia harus sehat. Dia yang akan mengangkat derajatku. Dia akan merebut hidup yang seharusnya milikku.”
Tangis bayi pecah. Laki-laki. Sehat. Tampan. Dini menangis—bukan karena bahagia, tapi karena rencana dalam kepalanya mulai sempurna.
---
Beberapa kamar dari ruangnya, Dina terbaring tak sadar, baru saja kehilangan bayinya. Perawat yang ditugaskan oleh Dini—seorang wanita paruh baya bernama Suster Lila—datang menyusup ke ruangan dengan membawa bayi tak bernyawa yang belum ditebus keluarganya dari lantai bawah.
> “Ini sesuai perjanjian. Kau yang minta bayi mati, kan?”
Dini hanya mengangguk sambil meletakkan uang tunai dalam amplop.
> “Pastikan keluarganya tidak tahu. Dan jangan pernah sebutkan nama asliku ke siapa pun.”
Dengan bantuan Lila, Dini membawa dua bayi keluar dari rumah sakit—bayinya sendiri, dan bayi Dina.
Ia menandai bayinya dengan pita merah di pergelangan tangan. Sementara bayi Dina dibungkus selimut biasa.
> “Aku akan kirim bayiku ke rumah Dina. Aku nggak akan menyentuhnya. Tapi bayi satu lagi... biar dia rasakan hidup yang tak pernah Dina rasakan.”
Namun, dalam perjalanan bayi Dini di tandai pita merah namun Dini tak sadar kalau pitanya terjatuh.
"Lila nanti kamu simpan bayiku di teras rumah Dina ya".
" Yang mana? "Tanya Lila keheranan.
" Ya ampun dasar Lola pantesan namanya Lila. pokonya yang ga ada pita merah nya. "Kata Dini sambil memperhatikan alur jalan. Ia tidak memperhatikan bayi mana yang di ambil Lila.
" Ya ela bayi sendiri saja tidak kenal dasar aneh".Lila mengumpat untung tak kedengaran Dini.
"Udah kamu turun di sini, trus kamu simpan bayi itu di teras. Mumpung pagi ga ada orang. " Bisik Dini pelan di telinga Lila.
Dini membawa 1 bayi lagi ke rumah nya yang kemudian diperlakukan dengan kasar dan dingin.
"Nangis mulu si diem tahu!!!"Setiap harinya Dini berlaku kasar ia sengaja melakukannya. Agar anak bayi itu depresi.Tangis bayi semakin kencang membuat para tetangga keheranan. Mereka berkerumun keluar untuk memastikan ada kejadian apa sebenarnya.
" Bu bayi siapa itu? Nangisnya kenceng banget apa ibu bayi tidak ada di rumah? " Tanya bu rt pada warga.
"Emang sering kaya gitu bu, biasa ya namanya juga orang setres. "
"Kayanya hamil di luar nikah ,anakny selalu jadi bahan pelampiasan nangisnya sampai kejer kaya gitu. " Kata salah satu warga yang lain.
"Oh gitu coba saya cek ke rumahnya. "
"Hati-hati bu Rt agak ga waras orangnya".
" Iya,, , "
Sebagai kepala rukun tangga bu Harti merasa bertanggung jawab pada warganya. Ia sangat berhati-hati mengingat dengan apa yang di katakan oleh warga-warga.
"Permisi bu dini,, , boleh saya masuk? "
"Maaf saya ga ada urusan sama si tuh!! "
"Maaf saya rt di sini hanya ingin mengecek keadaan ibu. "
Dengan hati-hati ia merayu Dini agar mau membukakan pintu. Karena ia tidak tega melihat kejadian seperti itu. Bayi yang di telantarkan begitu saja.
"Masuk tapi jangan lama-lama ya! " Pada akhirnya dini membukakan pintu dan bu rt pun bernafas lega.
"Bu dini kenapa bayinya tidak di s**u in? Kasihan udah 3 hari ini kedengarannya nangis terus."
"Mau bagaimana lagi ASI saya seret, bli sufor duit dari mn lagi. "
"Ya udah gini saja bu Dini, bagaimana saya bantu faqat anak ibu. Untuk sementara bu Dini istirahat saja di sini ?"
"Silahkan mu di bawa juga bikin susah saja ni bayi"
Jawabnyaa santai sambil melipat tangan di dada.Lalu bu rt pun pergi membawa bayi tersebut yang menggigil juga kedinginan.
Di kamar gelapnya, Dini mendapatkan kabar di mensos ia melihat Reza daan Dina yang begitu bahagia bersama baayinya. Ia sedang mengadakan Tasyakur atas kelahiran bayinya.
"Dia yang harusnya jadi anakku... Hidup di rumah mewah, penuh kasih sayang. Tapi kau curi dia, Dina. Kau curi semuanya.”
“Aku akan ambil semuanya kembali... Bahkan jika harus dengan darah dan air mata.
" Muka kita sama tapi kenapa takdir kita berbeda. Jika kau seorang pewaris maka aku pun juga sama. Kenapa tidak aku saja yang ikut dengan ayah. Malah Dina yang bahagia dan kaya raya. "
Dini melihat Dina dari kejauhan, bahkan dari ponselnya di beberapa mensos. Tentang hidupnya yang begitu indah.Membuat hatinya di penuhi iri dan dengki.
***
"Sayang menurutmu siapa nama yang cocok untuk anak kita? " Tanya Reza karena iaa begitu bingung memberi nama.
"Aku sudah menyiapkan nama sejak dulu.Anaku
kau kuberi nama Arga Pradipta,” bisik Dina di malam itu.
“Semoga hidupmu seteguh gunung… dan cahayamu tak pernah padam.”
" Bagus Dina, lebih lengkapnya lagi Arga pradipta Abiyan. "Tambah Reza sambil memeluk bayinya sampai ia pun tertidur.
Dina pun mengganti popoknya tanpa sengaja ia melihat tanda hitam di kakinya.
" Tanda ini?? Sama persis dengan tanda di kaki anaku waktu usg.