bab :4 cermin takdir yang retak

1199 Words
“Takdir menempatkan kami di dua sisi cermin. Satu bersinar dalam pelukan cinta, satu lagi retak dalam sunyi yang tak bertepi.” --- Pagi itu matahari bersinar lembut di halaman rumah Dina. Burung-burung kecil hinggap di pagar kayu yang mulai kusam, tapi di balik semua kesederhanaan itu, kebahagiaan tumbuh seperti tanaman yang dirawat dengan hati. Arga berlari kecil sambil membawa boneka kesayangannya, hadiah dari sang kakek. Wajahnya bersinar penuh tawa. Dina yang tengah menyapu halaman tersenyum sambil membuka tangannya. "Arga, sini peluk Ibu!" Anak itu berlari dan langsung memeluk erat pinggangnya. "Ibu cantik..." katanya manja, lalu mencium pipi Dina. Dina tertawa lirih, namun di balik senyumnya tersimpan gundah yang tak bisa ia hilangkan. Entah mengapa, tiap kali menatap mata Arga, ia merasa seperti sedang menatap cermin masa lalu—seolah anak itu benar-benar darah dagingnya. Ayah Dina duduk di kursi belakang rumahnya, menyaksikan mereka dalam diam. "Dia sangat mirip kamu waktu kecil," katanya perlahan, "Tapi garis rahangnya mirip Reza." Dina hanya mengangguk kecil. "Ayah nggak pernah tanya soal bayi ini. Tapi hari itu... waktu kamu pulang dari rumah sakit dengan wajah kosong dan tiba-tiba bawa bayi dari halaman... Ayah tahu, pasti ada cerita besar yang kamu sembunyikan." Dina menatap ayahnya. Ada air bening di pelupuknya. "Aku pun nggak tahu, Yah. Aku cuma tahu... waktu pertama kali aku gendong dia, hatiku bilang: ini anakku." Ayahnya tersenyum. "Kadang, hati memang tahu lebih dulu daripada akal. Rawat dia, Nak. Dengan cinta yang tidak pernah menuntut asal-usul." Dina menunduk. Mengangguk pelan. --- Di tempat lain — rumah kecil Bu RT Rafael, anak dua tahun yang selalu diam dan sulit bicara, sedang duduk di tikar lusuh sambil menggambar di kertas bekas. Bu RT duduk di dekatnya, membawakan segelas s**u. "Rafael gambar apa, Nak?" "Gambar... Ibu..." katanya lirih. Wajah Bu RT mengeras sejenak. Lalu Rafael menunjuk dua wajah di gambarnya. Yang satu terlihat senyum, yang satu lagi penuh garis hitam acak. "Yang ini... Bu RT," katanya pelan. "Yang ini... Ibu dulu. Tapi... Ibu galak." Bu RT menelan ludah. Dulu, Dini sering meninggalkan anak ini menangis kelaparan. Beberapa kali Bu RT menyaksikan Rafael tertidur di depan pintu rumah, menggigil dan memeluk dirinya sendiri. "Sana kamu pergi!!! tidur di luar ga usah pake bantal selimut apa lagi pake tikar. " Kata dini waktu itu. "Ampun ibu, Rafa ga mau tidur di luar. Rafa takut anjing galak bu. " Kadang Dini menamparnya hanya karena menumpahkan air.Jerit dan tangis sering membuat kegundahan warga setempat. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa.Mereka takut pada Dini. Dan ketika suatu hari,,,,, "Ampun ibu Rafa hanya mau jajan permen, itu pun uang pemberian Bu rt". Rafa sering di kasih makan dan jajan dari orang lain tapi kalau ketauan Dini akan marh juga menyiksanya. " Tak peduli kamu di kasih sama siapa pun, aku ga mau kamu hidup kamu harus mati. "Kata Dini smbil menggusur Rafa kecil ke kamar mandi.Ia menjambak rambut Rafa dan menenggelamkannya ke dalam bak kamar mandi. Saat Rafa menjerit histeris dan minta tolong semua warga berkumpul. Mereka saling berbisik,, " Kasian bener nasib nya Rafa,masa ada ibu yang sekejam itu ya. "Bisi warga-warga yang tengah berkerumun.Tiba-tiba bu rt pun datang di temani pak rt juga.Setelah mendengar keributan dan suara nyaaring yang tak asing di telinga bu Rt. " Minggir,, ".Pak rt mulai emosi melihat kelakuan Dini. " Dini ayo keluar!!! jika kamu benar-benar terus menyiksa akan ku laporkan kamu polisi atas penyiksaan anak. " Mendengar teriakan pak rt dini sedikit ketakutan dan akhirnya menendang anak tersebut keluar rumah. "Ambil anak sialan ini! Kalian tidak tahu kalau anak sialan ini anak orang lain yang ku tukar.Asal kalian tahu yah,, , anaku sedang hidup indah di rumah orang kaya. " Kita Dini sambil tertawa puas. "Apa mungkin ya,, ? " "Orang tidak waras gitu di anggap! " Kata warga-warga saling berbisik. Bu rt merangkul tubuh kecil Rafa yang tengah menggigil kedinginan.Seperti tikus yang nyemplung ke got. wajahnya memar badannya basah kuyup. "Dengar Bu Dini! Kamu benar-benar keterlaluan terhadap anak kecil. Jika kamu tidak ingin merawatnya kenapa kamu tidak kasih orang saja. " "Bukan urusanmu Rt! " Jawaban Dini sesimple itu. "Jelas urusanku, aku tak ingin ada warga yang beradab seperti mu! Sekarang pergi dari sini dan mulai sekarang Rafa bukan anak kamu lagi. " Dan ketika akhirnya anak itu diambil alih oleh Bu RT, Dini tak pernah benar-benar mencarinya. Hanya sesekali datang sambil berkata, “Itu anak sialan, rawat saja kalau kamu mau.” Kata Dini yang entah pergi ke mana saat ini. "Rafa mau apa sayang? yu jajan sekarang jangan panggil bu rt lagi. Tapi panggil MAMAH,, , " Kini Rafael mulai bisa bicara. Tapi tiap kali mendengar kata “Ibu”, ia refleks menyusut ke pojok ruangan. Bu RT memeluknya erat. “Di sini kamu aman, Nak. Di sini kamu boleh gambar apa saja. Nangis pun nggak apa-apa.” "Rafa mau ice cream bo, , boleh?" Kata Rafa yang masih ketakutan dan trauma. "Sini mamah gendong mau beli apa".Kata bu rt yang sesekali menangis melihat kejadian yang pernah menimpanya. " Kalau tahu akan seperti itu dari dulu aku rawat Rafa, bahkan namanya pun aku yang memberinya. "_ --- Kembali ke Dina dan Arga Malam itu, Reza pulang lebih awal dari biasanya. Ia membawa bungkusan dari restoran dan boneka beruang kecil. “Argaaa!” serunya. Anak itu menyambut dengan senang, lalu menari-nari kecil. Dina berdiri di ambang pintu, tersenyum melihat keduanya. Reza menghampirinya dan menggenggam tangannya. “Aku dapat kabar baik hari ini,” katanya. “Apa itu?” “Kita dapat kontrak ke Jerman. Aku mau bawa kalian semua ikut. Tapi…” Dina menoleh, curiga. “Tapi?” “Ada prosedur. Semua anggota keluarga harus tes DNA, termasuk Arga. Karena keterangan harus jelas kalau dia yang di bawa anak kandung harus benar identitas nya. Begitupun jika anak adopsi" Waktu seakan berhenti. Langit malam menjadi beku. d**a Dina terasa sesak. Reza tak menyadari perubahan ekspresi istrinya. “Aku sih yakin, pasti cocok,” katanya yakin. “Arga mirip banget sama kamu dan aku. Tapi ya, standar imigrasi. Jadi harus dilakukan.” Dina memaksa tersenyum. “Ya… tentu.” Tapi saat Reza masuk ke kamar mandi, Dina mengusap d**a dan mendekap Arga erat. “Kalau hasilnya tidak cocok… apa yang harus Ibu lakukan, Nak?” Arga yang belum mengerti apa-apa hanya menempelkan pipinya ke d**a ibunya. "Arga mamih mau tanya apakah Arga sayang papi dan Mamih? " "Arga cayang mamih, Aga ga bakalan lupa sama mamih. " "Terimakasih Arga,, , , Terimakasih nak. " Kata Dina berulang menciumnya sambil menitikan air mata. --- Di tempat lain, Rafael kembali menggambar wajah Bu RT. Tapi kali ini, ia menambahkan satu gambar kecil di pojok kertas. “Ini Rafael kecil,” katanya. “Kenapa kamu sendirian di gambar itu?” “Karena... Ibu nggak mau peluk Rafael.” Bu RT menutup mulutnya, menahan tangis. "Apakah mama akan seperti ibu, menyiksa Rafa. Memukul, menyiram bahkan Rafa hampir di bunuh. " Bu Rt tak sanggup berkata apa pun selain linangan air mata juga memeluk erat tubuh kecil Rafa yang kini sudah berusia 2 tahun. Dan jauh di seberang kota, Dini berdiri di depan rumah besar tempat Dina tinggal. > “Dulu kalian merebut semuanya dariku... Tapi tunggu saja. Aku akan mengambil semuanya kembali, dimulai dari anak itu".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD