7. Cinta ditolak

2037 Words
  "Gue suka sama lo, Rafael." Kata-kata itu meluncur dengan amat mulus dari bibirku. Tak ada nada ragu dan sangat lancar sampai aku bisa penuh rasa percaya diri seperti begini. Aku mendongak menatap manik legam milik Rafael. "Sori, lo siapa?" Suara itulah yang akhirnya menjawab perkataanku. Aku menganga di tempat. Benar-benar berbanding terbalik dengan kejadian dalam mimpiku. Aku mengerjapkan mata mendengar suara Rafael yang masih diam berdiri di depanku sekarang. Tadi saat melihat Rafael masuk dan mau melewati lapangan, aku segera mencegatnya. Feeling-ku bagus sekali gara-gara mimpi itu, aku memiliki keyakinan bahwa Rafael akan menerima cintaku. Tapi, sekarang aku mendengar jawabannya yang membuatku terperangah sekaligus heran. Mengapa beda dengan mimpiku yang Rafael akan menyambutku ramah. Sekarang suasana sangat awkward. Tanpa menoleh ke kanan-kiri, aku tahu sekarang kami jadi pusat perhatian puluhan pasang mata. Lo siapa? It's really hurting me. "Gue ... Dea." Aku menjawab dengan polos. "Oh." Rafael menatapku datar, tangannya yang satu dimasukkan ke dalam saku. Pose yang sangat pas seperti cowok dalam komik serial cantik saat menolak penembakan cewek. Di sekitar mulai semakin banyak penonton dengan raut wajah penasaran. Suara-suara saling bersautan memasuki telingaku. "Gile, Rafael laku bener!" "Pasti bakal ada cewek histeris lagi karena ditolak." "Gaya banget buset nolakin cewek mulu." "Abis ini ada yang nangis lagi." "Cewek zaman sekarang! Uh, nekat banget!" "Gila!" "Kapan gue ditembak banyak cewek kayak doi?" "Gue mah apa atuh cuma bungkus gorengan." Di salah satu sisi lapangan tidak jauh dariku ada beberapa teman sekelasku. "Buset, Dea!" seru Dika, cowok jangkung itu melotot. Raut wajahnya seperti ingin menarikku menjauh dari Rafael. "Itu temen lo, anjir!" Kali ini Rayn yang heboh bersuara seraya menepuk-nepuk lengan Jojo lalu menopang lengannya di pundak Jojo. "Bege, itu Dea!" "Iya tahu, gue lihat kok. Mata gue masih sehat nih. Itu temen lo juga, k*****t," sahut Jojo gemas. Sedikit risih, dia menarik bahunya yang sudah jadi topangan lengan Rayn. "Eh, astaga! Kok tiba-tiba begini? Katanya dia nggak mau ada acara nembak-nembak Rafael," Della mengomentari dengan raut cemas. "Ternyata Dea suka juga tergoda sama cewek-cewek lain mau ikutan nembak. Gimana dong, suasananya kejepit," cetus Rina angguk-angguk pelan. "Aduh, Rafael menang banyak. Gila." Jojo berkomentar lagi. Aku kembali fokus pada Rafael yang masih berdiri memandangiku tajam. Aku mengkeret di tempat, tatapan matanya yang dashyat dan bikin cewek lemah masih menatapku penuh intimidasi. Ternyata Rafael seram juga dari dekat begini. Tidak bohong Rafael memiliki aura layaknya vampir. Mama, tolong! "Rafael, jadi pacar gue ya—“ "Sori, gue nggak kenal lo. Dan, juga lo bukan tipe gue," ucap Rafael dengan suara beratnya. Kenapa dia menambahkan embel-embel yang beda saat berhadapan denganku dan Gisela. Itu menunjukkan bahwa aku tidak dikenal olehnya. Aku tak kasat mata. Rasa-rasanya aku mau menangis di tempat. "Gue kurang apa sih?" Aku menggunakan gaya cewek-cewek yang biasa ditolak oleh Rafael. Tapi seharusnya aku benar-benar sadar dan menyesal berkata demikian usai mendengar jawaban Rafael setelahnya. "Banyak." Rafael mengangguk kecil. "Banyak?" ulangku tanpa sadar. Oh, hatiku sakit sekali seperti dicabik-cabik. Titik demi titik air dari mataku turun membasahi pipi. Aku berbalik badan meninggalkan Rafael, adegan ini sangat familier dan tujuanku saat ini pergi ke kelas. Di belakang ada suara Rina dan Della mengejarku menaiki tangga sambil meneriakkan namaku. Sakit hati banget mengetahui bahwa cowok yang aku suka tidak tahu bahwa aku ini ada. Padahal aku kira mimpi itu sebagai pertanda bahwa aku akan bisa menjadi pacar Rafael. Hiks, hiks .... ***"Ya Allah, Dea! Lo malu-maluin IPS aja—“ Aku melihat di pintu ada Della, Rina, Jojo, Dika, dan Rayn masuk kelas menatapku simpati. Aku buang muka kemudian menelungkupkan wajahku di sela-sela lubang lengan tangan. Suara tadi adalah milik Rayn. Aku hapal suaranya yang serak. Aku menangis tersedu-sedu tidak peduli bentar lagi akan ada bel masuk. Masih pagi hariku sudah berantakan. Aku mengusap mata yang tidak hentinya mengeluarkan air. "Cup, cup. Lo parah banget tahu nggak? Mau nembak nggak bilang-bilang dulu!" cetus Della menepuk pelan kepalaku. "Tahu gitu kita dateng lebih awal buat nyemangatin lo." Tangisanku makin keras, aku memang gegabah sudah sangat percaya diri menembak Rafael di tengah lapangan tanpa mengatur siasat dulu dengan teman-temanku. Harusnya aku tidak seagresif itu. Andai, bisa ada strategi dan dibantu oleh teman-temanku pasti tidak akan memalukan seperti tadi. "De, lo gila banget. Gue kira lo beneran nggak mau, tahunya nekat sendirian. Sori ya, itu kan gue nggak sengaja ngusilin lo," ucap Jojo dari sebelahku dengan suara tidak enak. "Gue cuma bercanda, ternyata lo serius. Jangan nangis kek. Gue nggak tega lihatnya. Mau permen? Gulali? Cokelat? Beng-beng?" Jojo sibuk ngoceh menawari makanan. "De, lo kok nangis sih? Emang lo beneran suka? Kalo nggak suka, ya jangan nangis," ujar Rina membuatku menoleh ke sisi kanan. Di sana sudah dipenuhi Della, Rina, Dika, dan Rayn. Mereka kompak memasang ekspresi cemas yang sama rata. Cemas campur kasihan tepatnya. "Kalo lo bilang rencana ini sama gue tadi malem, gue bakal siapin pengiring acara tadi loh. Gue bakal nyanyi sambil bawa gitar. Hari ini ku akan menyatakan cinta. Nyatakan cinta hoo hoo." Dika melipat tangannya bernyanyi-nyanyi lagunya Vierra lalu diam saat mendapat pelototan tajam dariku, dia kemudian menatapku dengan ekspresi prihatin. Aku mengatur napas yang tersenggal-senggal sampai sulit bicara. Tapi, barang kali ide Dika sangat jenius dan Rafael bisa mempertimbangkan menerimaku kalau penembakan tadi diiringi sebuah lagu yang indah. "Hiks ... hiks ...," "Gue syok ternyata Dea yang hobi baca novel suka sama cowok juga." Rayn mengelus dagunya berpikir. "Jangan nangis lagi. Gue sedih lihat orang yang ditolak cintanya. Soalnya gue nggak pernah ditolak." Rayn berkelakar langsung disenggol kasar oleh ujung sikut milik Dika. Della juga melototin Rayn. Rayn pasang wajah tidak berdosa, sok polos banget. "Nih, tisu." Rina mengeluarkan tisu kecil, tapi dia harus kecewa karena isinya tinggal satu. "Yah, habis lagi." "Hiks, gue ... gue ... nyesek banget." Aku mengungkapkannya dengan terbata-bata tak jelas. "Gue sakit hati denger langsung penolakan tadi." "Lo tadi nembak Rafael, karena suka beneran?" tanya Jojo dengan raut tak percaya. Aku mengangguk, dia langsung melongo mulutnya terbuka. "Muke gile! Apa yang mendorong lo nekat kayak tadi, Dea?" Suara pekikannya menggelegar sampai mengusik isi kelas menjadi menoleh memperhatikan gerombolan kami. Aku menatap wajah mereka satu per satu dengan mata sudah perih karena air mata yang keluar sudah banyak. "Gue tuh mimpi jadi pacarnya Rafael. Makanya berani nembak dia. Hiks, gue nyesek sama responsnya yang berbalik. Malu juga nanti dong kalo ketemu di jalan. Hati gue sakit beneran ini, Guys." Mereka semua kompak menunjukkan ekspresi kaget. "Sumpah?" "Demi?" "Gila!" "s***s!" "Aduh, Dea. Ckck!" "Anjir!" "Tisu? Mana tisu?" Aku mengusap air mata yang tersisa. Perasaanku makin memburuk dengar suara bel masuk. Terpaksa dihentikan dulu nangisnya, meski masih ingin meluapkan. "Nggak ada tisu lagi!" seru Della menepuk bahuku. "Kita turut berduka atas hati lo, semangat Dea! Udah lo jangan nangis lagi, udah banyak kok yang ditolak sama Rafael." Dia memandangku simpati kemudian pergi ke mejanya. Penghiburan yang menyebalkan. Iya, aku juga tahu betul kenyataan itu. Tak perlu ada yang patut membuat sakit hati, kemungkinannya jika akhirnya Rafael memiliki pacar. Rina juga duduk di tempatnya. Dika dan Rayn geleng-geleng kepala sambil menahan ketawa. Kalau mereka benar-benar kelepasan akan aku gebukin. Bisa-bisanya tidak berempati sama sekali pada hatiku yang hancur. "Masih banyak cowok lain, De," kata Jojo menghela napas. Aku ingin mengelak ucapannya, yang aku mau hanya Rafael. Jojo berteriak manggil nama Alvin yang baru datang masih memakai hoodie putih. Aku dan Alvin bertukar pandangan sesaat, kemudian dia pura-pura tidak melihatku lagi. "Alvin, lo ada tisu nggak?" Alvin memberi tatapan aneh. Salah Jojo kah yang bertanya tisu ke Alvin? Jelas salah. Alvin berjalan menuju meja kami tenang tapi pasti. Aku kira dia akan memberiku sapu tangan atau apa gitu ala cowok romantis. Aku membuka mulut sedikit dan mngerutkan kening. Alvin memandangiku dengan mata sipit di balik kacamata bulat itu. "Dia butuhnya kaca, bukan tisu," lirih Alvin. Kepala dan matanya mengendik ke arah kaca yang berada di jendela kelas. "Maksud? Kaca buat apa?" Aku tergagap mencerna ucapannya yang aneh. Apa mukaku sangat bengap habis nangis begini? Bedakku luntur jadi kelihatan kumal, dekil, dan mataku bengkak? Aduh, pasti sudah merah semua. Gawat. Aku jelek sekali pasti saat ini? Apa aku perlu ke toilet untuk memakai bedak lagi? "Ya, kaca gunanya buat apa?" tanya Alvin balik tanpa ekspresi. "Buat ngaca?" cicitku masih tak mengerti maksud obrolan cowok datar yang aneh bin culun. "Ya. Ngaca dulu kalo mau nembak orang." Alvin dengan santai tanpa beban menyelorohkan kalimat itu. Tentu saja aku makin menangis sejadi-jadinya. Tega banget sih nih cowok tampa emosi. Minta dibejek!!! "HUEEEEEE! HUHUHU!" "HEH, ALVIN!" seru Jojo yang dari tadi diam saja sejak Alvin muncul di antara kami. Alvin cuek saja berjalan lewat belakang untuk mencapai kursinya yang terletak di pojokan kelas. Dika dan Rayn tertawa terpingkal-pingkal. Di arah belakangku ada tawa kecil dari Rina dan Della juga terdengar, meski ditahan mereka tidak bisa menyembunyikannya. Jojo menggelengkan kepalanya terlihat frustrasi. "Mungkin Alvin bener, De." Cowok itu berbisik pelan. "JOJO!!" Untuk sementara aku fokus belajar dalam kegiatan pembelajaran dulu, daripada kena omelan guru Matematika. ***"Hai, De, apa kabarnya? Hatinya udah baikan belom?" Suara serak itu terdengar sok manis. Aku hanya melirik sedikit sudah tahu Rayn yang menyapaku. Baru saja Rayn datang bersama Dika. Semoga saja kedatangan mereka tidak menambah suasana hatiku yang lagi buruk banget. Tidak ada Alvin. Untungnya. Kalau melihat muka dia rasanya kesal mulu teringat ucapannya tadi pagi. Aku sedang duduk ditemani Rina dan Della di gazebo yang tidak jauh dari bangunan kelas. Namun, aku diam saja sejak tadi sibuk menata hati yang acak-acakan lantaran diporak-pondakan oleh sosok bernama Rafael. Rina dan Della menemaniku tanpa banyak komentar. Perasaanku kosong sekarang. Mata sudah sakit dan hati nyeri banget setiap mengingat ucapan Rafael. Aku sebenarnya mau pulang, lebih enakan istirahat dan tidur, aku payah banget ya namanya juga galau disakiti oleh cinta pertama. Iya, Rafael adalah cowok pertama yang aku sukai saat masa-masa remaja begini. Saat SD-SMP aku tidak pernah tertarik dengan makhluk cowok. Makanya sekarang aku belum tahu bagaimana cara melupakan kejadian memalukan dan menyakitkan itu. "Jangan sedih dong, hati Abang yang jadi sakit liat Neng Dea rapuh dan sendu begini," imbuh Dika. "Hush, bacot lo ah pada! Sana pergi, tar Dea nangis lagi! Bukannya nenangin beliin apa kek yang enak-enak. Cokelat, roti, s**u atau apa kek. Pokoknya biar Dea senang dan senyum lagi. Lihat sekarang, dia kayak zombie siap nyaplok lo kayak di film Train to Busan," ujar Della sarkas. "s***s kan zombienya, gue aja sampe takut lihat kereta." "Lebay banget sampe takut lihat kereta," cetus Rayn masih memandangiku simpati. Aku menunduk saja galau melihat sepatuku yang mulai kotor. Dika mendecak. "Halah, lo itu yang laper. Dea diem aja tuh." "Kalo mau kepo sana pergi, kedatangan kalian ganggu merusak pemandangan doang dan polusi telinga. Suara kalian tuh bikin kuping gue sakit. Berisik banget. Bukannya hibur kek, apa kek," tandas Rina menghela napas mengibaskan tangan gerakan mengusir tukang kredit keliling. "Tahu nih, kalian ini payah. Sobat kita kena ujian hati cuma dilihatin. Kalo sodara cewek kalian yang ditolak kayak Dea gimana??" Della menoleh padaku. Aku mengabaikan tatapannya. Apa dia juga tidak sadar mengungkap masalah getir kejadian tadi pagi? "Terus mau gue apain? Gue nyanyiin ya pake gitar biar lo senang lagi." Usul Dika menunjukkan senyum sejuta dollarnya. Rina dan Della saling berpandangan dengan sorot geli. Rayn mendesis. "Mohon sabar, Dea. Ini ujian. Lo pasti bisa bangkit lagi," katanya mengepalkan kedua tangan membuat gerakan siap berjuang. Aku lama-lama kesal mendengar mereka yang ngomong terus-terusan. Kadang aku tidak suka sama orang yang berisik. "Hhh, jangan nyanyiin gue. Cukup hati gue yang sakit, kuping gue jangan," kataku membuat Dika menghapus senyumannya langsung pasang ekspresi sedih. "Jojo mana? Mending kalian balik nemenin bos!" "Jahat sumpah!" dengus Dika kesal. “Suara gue memangnya jelek sampe kuping lo sakit?” "Tahu tuh, huuu! Yuk, Dik, kita cabut aja. Oh ya, Jojo kerepotan tuh ngambil dan balikin buku ke perpus sendirian," ucap Rayn sebelum meninggalkan kami. Dia dan Dika cabut, aku memandangi punggung mereka. Oke, gara-gara galau. Aku lupa Jojo akan membutuhkanku untuk mengurus kelas. Biarin deh sekali-kali aku nyusahin tuh anak. "Jadi lo mau gimana?" Pertanyaan itu meluncur dari Rina menyentuh bahuku, ekspresinya sedih banget seperti ikut merasakan apa yang kurasa. Padahal kami sama-sama suka Rafael loh. TBC *** 5 Okt 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD