"Woi, jangan sok cantik lo!"
Aku merapatkan diri ke dinding sambil memeluk baju olahraga. Aku mengenal suara itu, suara Alisha. Aku mengintip sedikit dari balik dinding, di samping ruang ganti baju perempuan ada Alisha sedang berdiri berhadapan dengan Gisela.
"Lo pikir lo oke berani nembak Rafael? Ambisius banget berinisiatif sendiri nembak duluan karena nggak berhasil deketin ya? HAHAHA. Dia memang cuma punya gue seorang!" seru Alisha, inilah aslinya dia. Bar-bar dan tak segan main labrak. Cewek-cewek memang begitu kalau sedang terancam.
Aku mengangguk pelan. Oh, jadi ini tentang Rafael.
"Maaf, Kak. Kita nih sama posisinya kok, wahai Kak Alisha. Kita sama-sama suka Kak Rafael. Apa salah saya usaha biar bisa dapet status dari dia? Kita bersaing aja secara sehat, Kak. Di chat dia selalu bilang masih jomblo kok. Satu sekolah juga tahu Rafael nggak punya ikatan sama siapapun."
"s****n!" gerutu Alisha kasar mengibaskan rambutnya yang panjang bergelombang. "Meski dia nggak ada status sama gue, dia suka sama gue dan sayang juga pastinya. Jelas gue yang dapet posisi penting di hatinya. Lo cuma apa, pengagumnya doang! Udah ditolak, ‘kan? Makanya jangan sok cantik!" Alisha mendorong jidat Gisela.
Aku menahan tawa mendengar suara mak lampir ala Alisha dan isakan sedih dari Gisela.
Dua-duanya apaan deh, jelas-jelas Rafael nunggu takdir mempertemukan kita.
"Lah, Kakak nggak malu ke sana-kemari bareng, banyak selfie berdua, dan gosip pacaran santer tapi status nggak ada? Kakak kena PHP itu mah! Ngaku aja kalo," ucap Gisela di tengah isakannya. "Kakak juga nyesek kan kena PHP! Kasian deh Kakaknya!" Suara sinis dan tawa aneh Gisela lucu banget.
Perutku sakit karena menahan tawa dan deg-degan begini secara bersamaan. Padahal aku harus cepat kembali ke kelas untuk pelajaran selanjutnya.
Alisha melotot marah, wajahnya yang mulus dan cantik berubah jadi mirip Mak Lampir. Alisha menjambak rambut Gisela. "Dasar adek kelas cabe-cabean! Rafael tuh punya gue. Meski nggak berstatus, jelas sayangnya dia utuh buat gue. Memang status itu penting apa? Yang penting itu sayang."
Keduanya pun terlibat jambak-jambakan. Seru banget melihatnya, aku menahan tawa kalau ketahuan gawat. Tapi aku sadar. Aku harus cepat-cepat lapor guru BK ada tindakan pembulian di sini. Mampus tuh Alisha!
***
"De, disuruh nyari peta ke gudang buat pelajaran Geografi abis ini."
Aku yang lagi asyik membaca novel seri terbaru karangan Dee Lestari mendongakkan kepala ke arah Jojo yang sudah berdiri. Aku menghela napas. Namun, ini sudah tugas kami mempersiapkan kelas untuk pelajaran berikutnya. Sebentar lagi bel masuk istirahat kedua akan berbunyi, lebih baik kami segera ke gudang mengambil peta.
Dalam perjalanan menuju gudang perlengkapan yang letaknya di lantai bawah, aku melihat dari sudut mata ada Alisha, gengnya, dan Gisela tengah keluar dari ruangan BK dengan tampang kusut. Aku menahan tawa kecil. Tadi setelah mengadu ada yang membuli di dekat ruangan ganti, Bu Imel segera menuju lokasi. Ternyata mereka diinterogasi di ruang BK sampai istirahat. Air muka Alisha masih kesal, seperti sedang ngemut kamper. Mirip Mak Lampir, karena mukanya yang tirus kempot itu. Aku tertawa dalam hati. Alisha terlihat marah-marah sambil nunjuk muka Gisela, setelahnya kabur bersama teman-temannya.
"Buset. Alisha lagi marah aja cantik ya," cetus Jojo di sampingku berdecak.
"Idih, mirip Mak Lampir. Lo nggak tau aja aslinya dia gimana! Lo udah punya gebetan masih centil aja sih," sahutku.
Kalau yang berhubungan dengan Alisha siapapun kena semprot. Jangan ngira aku cemburu loh ya!
"Nggak apa-apa kali, gebetan gue anak sekolah lain ini." Senyumnya tipis. Aku mendengus sebal.
Jojo memang memiliki gebetan, yang belum resmi dijadikan pacar olehnya itu anak sekolah lain. Kalau sudah jadian wajib minta traktir. Selain Jojo yang sudah punya gebetan adalah Dika, dia gebet cewek tetangganya yang suka cover lagu suaranya bagus banget. Dika suka pamerin video gebetannya. Dan, Rayn yang punya pacar, tapi ganti mulu setiap bulan. Aku jarang kepoin lagi, habisnya tiap nanya 'masih jalan sama si Rachel?' dia pasti jawab 'Rachel siapa? Cewek gue namanya Intan.' Saat aku tanya 'Intan nggak dikenalin ke kita?', dia akan menjawab 'Intan siapa? Cewek gue Nola'. Gitu aja terus.
"Kalo kenal udah gue aduin loh!"
"Untungnya belum gue kenalin," jawabnya lega.
"s**l! Lo mau ada main ya? Gue cari sosmednya mampus loh!"
"Eh, enggak! Jangan cari tahu main belakang gitu dong! Gitu aja sensi. Nggak kok, ya nanti kalo udah jadian gue kenalin. Dia suka kepoin lo tau, gue bilang aja jangan khawatir masih cantikan kamu kok." Jojo memang sangat ahli dalam menindasku.
Aku mulai mengangkat ujung kemeja seragamku bagian lengan sambil menatap kesal. Jojo sedang menautkan alis lalu menahan tawanya. "IH! Jo, lo tuh minta dipenyet sumpah. Temen macam apa lo ini?" Aku memukuli lengannya, kesal karena dikatain.
Jojo mengaduh kemudian menjauh takut digebukin. Jojo melambaikan tangan tersenyum membuatku menoleh ke arah sosok yang disapanya.
"Hai, Alvin!"
Ada cowok itu lewat dengan gayanya dan tampangnya yang biasa, masih datar. Alvin berjalan dari arah depan kami. Alvin hanya merespons dengan anggukan samar, tentunya ke arah Jojo. Dia sama sekali tidak mengacuhkanku.
"Gue masih suka takut-takut sama Alvin deh," ungkapku bisik-bisik.
"Kadang baik kok, royal suka jajanin kita. Asal tahu aja ya, dia cuma suka nempel sama orang-orang yang dianggap asyik doang. Makanya temennya bisa diitung. Anak kelas aja dia cuma kenal sama Dika dan Rayn."
"Benalu dong? Butuh kalo ada maunya doang." Aku melirik sosok itu siapa tahu Alvin berbalik langsung ngajak ribut padaku.
"Bukan gitu, bege, susah ngomong ama orang susah," ujar Jojo menoyor kepalaku gemas. "Dia kalo misah ya misah, kalo gabung sama kita juga seadanya. Tapi biarin aja dah, lumayan buat nakut-nakutin anak lain. Kita kan jadi kayak pentolan IPS." Jojo tertawa membuat matanya menyipit.
"Semprul!" seruku geleng-geleng kepala heran.
Aku sepertinya memahami apa yang Alvin rasakan, kadang kita butuh waktu sendiri dan ada kalanya harus berteman. Bagaimana pun introvert tetap menjalin pertemanan. Yang penting adalah kualitas, bukan kuantitas. Satu yang tulus lebih baik daripada banyak tapi palsu semua.
"Buruan kek jalannya lama banget, dasar kuntet! Kakinya pendek."
"Ih, sabar dong! Kaki gue setiap melangkah cuma bisa berjarak dua ubin."
***Pikiranku kacau. Aku sudah memikirkan ini sebaik-baiknya. Mendapat dorongan dari Rina dan Della, bahkan Jojo untuk menyatakan perasaanku yang terpendam sejak kelas 10 pada Rafael. Aku memiliki keyakinan bahwa cowok populer kayak Rafael itu pacarnya pasti cewek yang biasa-biasa kayak aku gini. Coba lihat saja di novel remaja kebanyakan ceritanya tentang bad boy dengan cewek yang biasa-biasa saja. Cowok populer dengan nerd atau gadis yang sok tidak suka tapi ternyata lama kelamaan suka juga.
Haters to Lovers. Bad Boy and Nerd. Bad Boy and Good Girl. Itu sudah banyak banget kan ceritanya? Maka dari itu aku memiliki keyakinan bahwa Rafael akan cocok bersamaku. Kami bisa saling melengkapi. Kami akan memiliki ending yang bahagia. Menurut novel yang aku baca juga banyak cewek nembak cowok dan diterima. Tanpa syarat pula. Karena diam-diam si cowok populer naksir cewek tak kasat mata itu. Apalagi yang pake syarat juga gemesin banget. Kalo lo nggak mau jadi pacar gue, lo bakal jomblo.
Enak banget tidak sih cewek-cewek dalam novel? Aku harus secepatnya nembak Rafael. Membuktikan pada Rina dan Della bahwa aku yang akan memenangkan hati Rafael.
Pagi-pagi aku sudah sampai di sekolah mempersiapkan diri, sudah berkaca, mengucir rambut dan wangi. Aku menyemprotkan banyak parfum supaya saat berdiri di depan Rafael, cowok itu langsung jatuh cinta dan menerimaku. Hiyaaak! Kayak iklan minyak wangi.
Aku melihat Rafael berjalan bercanda riang sama teman-temannya. Aku menekan degub jantung dengan tangan. Aduh, pelan-pelan aku menarik napas. Aku menghampiri Rafael, seperti layaknya ada mesin waktu yang dihentikan semua jadi terfokus pada kami. Aku tersenyum manis. Pagi ini Rafael ganteng banget, dari dekat aku mau pingsan rasanya. Cowok itu menatapku dengan memiringkan sedikit wajahnya.
"Hai, Rafael."
"Hai, Dea."
Omo!
Dia tahu namaku.
Ya Tuhan!
Aku langsung melotot dengan kaki lemas, semuanya lemas dan perutku seperti digelitiki. "Bisa ngobrol sebentar?" Ajakku.
Rafael mengangguk senyum lebar. "Lama juga nggak apa-apa."
"Rafael, hmmm, gue sebenarnya udah lama suka sama lo. Nggak cuma sekadar suka, gue sayang sama lo. Hm, lo belum punya pacar 'kan? Gue liat kemarin lo nolak cewek jadi--"
Aku menatap wajahnya serius. Aku menggigit bagian dalam mulutku menutupi rasa gugup.
"Oh ya? Gue kira lo nggak tertarik sama gue. Gue jomblo sih." Rafael mengusap tengkuk dan mengacak rambutnya malu-malu. Jason dan Yosi sahabat dekat Rafael saling menggoda dengan senggol-senggolan lengan dan ketawa. "Kenapa memangnya lo mau jadi pacar gue?"
Aku menganga. Niatnya mau nembak malah aku yang ditembak duluan? Astaga! Aku menutup mulut syok berat. Di pinggir lapangan ada Alisha menatap sinis dan cemburu.
"Rafael, lo serius? Bahkan gue ...,"
"Gue kira lo nggak suka sama gue, karena jarang lihat lo nongol di sosmed gue. Nggak kayak cewek lain yang stalking mulu dan ngirim pesan. Lo menarik, imut, dan manis. Lucu banget deh, bikin gue sayang," kata Rafael menarik tanganku lalu menggenggam dan tatapan mata lurus padaku. Aku balas menatap manik hitamnya dengan perasaan berdebar. "Jangan jauh-jauh dari gue. Gue senang banget akhirnya ada kesempatan kenal sama lo, Dea. Selama ini gue cuma perhatiin lo dari jauh. Yuk, kita pacaran. Biar tuh cewek-cewek lain nggak ngejar gue lagi."
"MAU. GUE MAU BANGET!" Aku menjawab semangat. Perasaan bahagiaku meluap-luap, karena sekarang akan menjadi pacar Rafael. Cowok jangkung itu memelukku erat. Terdengar sorakan cie-cie dari seluruh penjuru sekolah. Aku balas memeluk Rafael erat.
"Aku sayang kamu, Rafael."
"Aku juga sayang kamu, Dea."
Rafael mulai sekarang jadi pacarku. Asyik.
Braaaaakkkkk ....
"AH SAKIT!" Aku bangun dari tidur merasakan badan sakit semua. Saat sadar aku sudah berada di bawah dengan selimut setengah masih berada di kasur aku mengeluh panjang. "Elaaah, mimpi doang!"
TBC
***
4 Okt 2021