5. Memang aku siapa?

1444 Words
Aku mengelap keringat yang bercucuran di wajah dengan bahu tangan. Sebenarnya ini tidak baik, karena kuman akan menempel di wajah pasti akan membuat wajah kotor. Terpaksa daripada wajahku jelek banget mengkilat-kilat, apalagi bedak yang aku pakai sudah luntur. Aku mengeluarkan kaca kecil duduk di pinggir lapangan. Benar saja, wajahku sudah berminyak mengkilat-kilat dan kusam. Sebaiknya nanti setelah habis pelajaran olahraga aku membersihkan wajah dan memakai bedak lagi. Aku harus tetap cantik dan menarik. Aku merasakan seseorang sedang menatapku tajam. Tidak jauh dariku Alvin sedang duduk sambil menyelonjorkan kakinya. Matanya menatap ke arah lapangan basket. Di sana ada anak kelasnya Rafael sedang olahraga basket. Kelas kami mendapat jam sama dengan kelasnya. Tadi kami olahraga voli, sehingga tidak rebutan lapangan dengan kelasnya Rafael. Ini kedua kalinya aku melihat Alvin tanpa kacamata, melihat dirinya lagi tenang begitu aku jadi teringat tugas dari klub jurnalistik untuk wawancara dengan Dilan. Bisakah aku ngobrol dengannya? Setiap bertatapan berhadapan saja rasanya kayak mau mati. Kalau aku bisa berhasil mendekati dirinya dan mengambil kesempatan bisa wawancara dengan Dilan, aku pasti akan terkenal dan dikenang sebagai jurnalis paling keren sepanjang sejarah. Ada upaya keras seperti jurnalis pada umumnya yang bekerja keras bertantangan dengan banyak hal demi mendapatkan informasi. Aku meneguk ludah ketika cowok itu menoleh. Sepertinya cowok itu peka karena sedang aku perhatikan. Kami bertatapan tidak begitu lama lalu dia buang muka lagi. Braaaakkkk!! Aku menoleh terkejut mendengar suara keras. Tepatnya ke arah bola basket yang menggelinding, tidak jauh dari bola itu ada seorang gadis berseragam olahraga terkapar di lapangan. "Loh? Itu bukannya Mita?" teriakku, lalu ingin menoleh ke arah Alvin karena satu-satunya orang yang aku bisa ajak bicara adalah dirinya, tapi pemuda itu sudah pergi lari menuju gerombolan Jojo, Dika, dan Rayn yang duduk di dekat gawang. Tatapanku kembali ke suatu titik yang membuat heboh sekitar. Mita dikerubungi oleh murid-murid dengan berseragam olahraga. Aku tidak bisa melihat dengan jelas kejadian Mita tadi gara-gara memandangin si Alvin sejak tadi. "Eh, eh, kenapa?" Aku menyatu dengan kumpulan cewek kelasku yang agak jauh dari posisiku tadi. Di lingkaran di mana tubuh Mita tergeletak, ada sosok yang akhirnya mau membopong gadis itu untuk diselamatkan. Jason. "Mita kena bola basket. Tadi dia jalan deket lapangan, centil banget, ‘kan? Iyuuuh. Terus si Jason ngelempar bola basket ngoper ke Yosi sampe melambung tinggi terus kena Mita dan untungnya tuh bola nabrak jaring. Kalo nggak, bisa lolos pecahin kaca kantor guru deh." Jelas si Wanda serius banget lebih peduli dengan kaca kantor guru daripada Mita. Aku mendengarnya serius, kecuali bagian Wanda nyebut Mita centil karena melewati dekat lapangan basket. Iya, kata Wanda untungnya di sekitar lapangan ada jaring-jaring besi yang digunakan untuk melindungi jika kejadian bola mantul sampe koridor bisa dicegah. "Parah, pasti pusing nanti," ungkapku mengelus d**a ikut berdebar. Membayangkan bagaimana kalau aku yang terkena bola. Dugh! Rafael datang untuk menyelamatkan dengan raut wajah panik. Rafael melarang orang-orang mengerubungiku, terutama cowok yang berniat membopongku ke UKS karena itu mencuri tugasnya. Rafael membisikkan kata-kata penyemangat supaya aku bertahan sampai di UKS nanti. Rafael menggendongku membawa ke UKS. Di sana dia merawat diriku sampai sadar. Begitu aku mendapatkan kembali kesadaranku, Rafael meminta maaf, karena lalai menjagaku. Dan, dia segera berjanji tidak akan membiarkan diriku terluka lagi. Dia berjanji akan memarahi orang yang sudah melemparkan bola untukku. Dia memelukku hangat dan menenangkan. Aku pun balas memeluknya. Dugh! Kepalaku terkena sesuatu yang keras. Rasa sakitnya tidak sebanding dengan jantungku yang mendadak jadi berdetak cepat dan keras, karena terkejut. Bagaimana kalau nanti jantungku terlalu terkejut? Aku mengelus bagian yang tadi terasa didorong oleh benda kasar. Saat sadar ada Rina dan Della yang menenteng bola voli. Aku mendengkus sebal lamunanku diganggu lagi. Bisa aku tebak tadi mereka mendorong kepalaku dengan bola voli. "Apaan? Gue nggak mau ya nembak si Rafael." Aku mulai protes melotot pada mereka. "Makan," ajak Rina menatapku lemah. “Lo kenapa sih?” "Iya, geer banget sih. Yuk, makan!" Della menunjukkan bola voli. "Ke ruang bola dulu naro ini. Apa nggak, lo ke kantin dulu sana, nanti kita nyusul. Awas ya lo malah ke mana-mana!" tudingnya sambil pasang wajah penuh ancaman. Aku mencibir pelan. "Oke, gue nyari meja sekalian nyari tisu. Kalian pesan apa biar sekalian," usulku menanyakan mereka mau makan apa biar mereka datang udah siap makan. Kurang baik apa coba aku? Oke jangan narsis deh, Dea! "Bakso," jawab Rina. "Sate, eh, mie ayam aja deh," jawab Della membuatku mencibir dasar sundel. Della melotot seakan ingin memakan diriku, cepat-cepat aku kabur ke kantin sambil merapikan kuciran rambut. Di koridor menuju kantin aku melihat F4 versi merakyat lokal. Alvin, Dika, Rayn, dan Jojo. Seperti biasa Dika dan Rayn tertawa heboh sampai suaranya terdengar ke mana-mana, Jojo sibuk mainin ponsel sambil senyum-senyum m***m (manis maksudnya), dan Alvin mengekori bagai ikut-ikut aja dengan raut wajah bosan. Aku paling malas kalau di kantin ketemu mereka, apalagi Rayn dan Dika. Pasti minta dijajanin. Aku pura-pura tidak melihat mereka dengan terus berjalan. Di pintu kantin pandanganku bersibobok ke meja yang berisi Rafael dan gengnya. Aku mendecih saat melihat Alisha. Cewek itu ngobrol akrab sekali dengan Rafael. Sesekali mereka melempar tawa kecil. Memang cewek seperti Alisha yang bisa membuat Rafael luluh. Mengingat betapa dinginnya Rafael saat menolak cewek-cewek. Namun, selalu bersikap manis pada Alisha. Aku semakin yakin yang disukai Rafael adalah gadis itu. Aku bergegas pergi menuju konter bakso untuk memesan makanan Della dan Rina. Aku memesan seporsi nasi kuning dan membawa botol air mineral menuju meja yang kosong. Mataku tak lepas memandangi objek paling menarik di tempat ini. Sudah tahu ini menyakitkan, tapi masih penasaran mulu. Aku mendesah membanting agak kasar botol air mineral ke meja, membuat beberapa pasang mata menoleh heran. Mataku melebar melihat Rafael berjalan sambil tersenyum tipis. Dia melakukannya padaku, sangat jelas dia tersenyum dan tujuan langkahnya adalah diriku. Matanya mengunci tepat di mataku. Aku menahan senyuman. Layaknya dalam drama aku merasakan suasana berubah jadi romantis dengan dedaunan berguguran dan angin menggoda menciptakan efek geli di perutku. Rafael duduk di depanku tersenyum manis. "Hai, boleh minta nomor lo? Nama lo Dea, kan, anak 11 IPS 3? Akhirnya ada kesempatan kenalan nih, setelah sekian lama cuma lihatin lo aja dari jauh," senyum Rafael. "Iya, boleh." Aku tersenyum dibuat semanis mungkin. Kami saling bertatapan dan tersenyum. Mimpi apa aku semalam Rafael minta nomorku? Yihaa! "Makasih ya, De," kata seseorang. Suaranya bukan milik Rafael meski sama-sama berat. Aku hapal sekali ini seperti suara ..., Aku tersadar. Di depanku Dika dan Rayn sudah hampir menyuapkan makanan milik Rina dan Della. Di sebelahku Jojo nyengir tidak jadi menyuapkan nasi kuning pesananku. Jojo meletakkkan sendok pelan-pelan di pinggir piring nasi kuningku dengan raut muka polos. Aku menggebrak meja. "Argh, kenapa kalian yang ada di sini?" teriakku heboh. Alvin yang diam saja nguyah permen karet mendelik sinis. Dia tidak ikutan menjajah makanan yang entah sejak kapan sudah dianter oleh Ibu Anika. Seingatku tadi Rafael yang datang, duduk, dan minta nomor ponsel. Aku mengacak rambut kasar. Inginnya menjambak sekalian. "Jangan dimakan, itu pesenan orang! Kalian ngapain di sini coba? Siapa yang ngizinin?" Aku merebut mangkuk bakso dan mie ayam, kemudian nasi kuningku yang sudah diambilin kerupuknya oleh Jojo. Aku membentuk proteksi dengan kedua lenganku pada makanan-makanan itu sambil pasang wajah gahar. "Lah, tadi lo udah kasih izin: iya boleh," ulang Rayn nyolot dengan suara seraknya. Husky voice namanya. Aku mengingat kembali. Apa tadi aku ngomong sama mereka bukan dengan Rafael? Aku mendesis menahan emosi. "Sambil liatin muka gue dan senyum-senyum manja," ungkap Dika menopang dagunya menggoda. "Iya, boleh." Cowok itu tersenyum centil seolah menirukan diriku. Wajahku kontan memanas. "Cie, jangan-jangan Dea sukanya sama Dika. Jo, lo jangan cemburu ya!" cetus Rayn ketawa menepuk tangannya. Jojo langsung menolaknya habis-habisan. "Ogah. Ngapain cemburu!?? Dea sama tukang gorengan atau tukang ayam warna-warni juga bodo amat." Ingin rasanya aku mencakar Jojo. Apa? Jadi, tadi kelakuanku begitu? Suara tawa dari Dika, Rayn, dan Jojo langsung terdengar. Aku menatap pintu kantin, mengapa Della dan Rina belum datang juga. Makanan mereka nyaris dijajah oleh tiga cowok berisik ini. Aku tidak sengaja melirik Alvin. Dia buang muka seakan berisiknya kantin mengusik telinga. Akhirnya Della dan Rina datang, mereka berdua mengusir empat cecunguk rese supaya tidak mengganggu waktu makannya. Della dan Rina menghela napas pasrah kala melihat pesanannya sudah diaduk. Aku meyakinkan mereka bahwa makanan masih aman, belum kena mulut cowok-cowok rese itu. Meski aku juga tidak yakin, soalnya aku tadi melamun. Sial, kenapa aku makin doyan ngelamun yang nggak-nggak tentang Rafael? Aku membuka beranda aplikasi LINE, nyaris menyemburkan nasi kuning dalam mulut saat melihat dari akun Rafael ada selfie dirinya dengan Alisha. Mereka berpose mesra dengan senyuman cemerlang. Sepertinya foto itu baru saja diambil. Hati ini panas dibakar api cemburu. Kenapa aku cemburu, memang aku siapa? TBC *** 3 Okt 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD