20. Ada tawuran

1650 Words
Sekarang aku tidak terlalu percaya hanya dengan satu kejadian saja sikap seseorang terhadap kita jadi berbeda. Itulah yang aku rasakan terhadap Rafael maupun Alvin. Keduanya memiliki kesamaan. Bertingkah seperti tidak terjadi sesuatu. Seolah-olah yang terjadi di antara kita tidak penting. Besoknya mereka kembali menjadi orang asing. Apa aku ini memang tidak layak dihargai? Momen yang pernah kita lalui bersama seolah tidak penting amat dan mudah dilupakan. Ah, sedihnya! Pagi-pagi saat berjalan menuju gerbang, aku berpapasan dengan Rafael yang juga baru sampai. Aku tersenyum, dia mengabaikanku. Hatiku sakit, nyeri, dan kesal. Aku kira hal-hal yang sudah kita lalui bisa mengubah status di antara kami. Nyatanya aku tetap menjadi orang asing yang tidak penting-penting amat. Di kelas, Alvin kembali seperti biasa. Jutek dan dingin. Padahal aku sudah siap memperlakukan cowok itu layaknya teman dekatku yang lain. Yang bisa aku hina-hina dan ledekin. Nyatanya Alvin masih tersegel rapat tak tersentuh. Tapi ada yang beda darinya hari ini, dia tidak menggunakan kacamata itu dan agak cool. Saat dia masuk ke kelas, Rina dan Della langsung melongo kemudian nyenggolin aku sambil bisik-bisik. "Itu Alvin kok beda ya?" "Kalo nggak pake kacamata, lumayan loh." Aku mendengkus. Kemarin aku melihat cowok itu terlepas dari atribut-atribut cupunya dan aku tidak kuat menahan napas. Jangan sampai Alvin kayak begitu lagi. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang di luar kendaliku, seperti aku jadi penasaran mengapa Alvin kayak punya banyak kepribadian. Kalau penasaran nanti terlalu sering memperhatikan, sering lihatin dia nanti bisa-bisa naksir dan jatuh cinta. Aku tidak mau menambah repot hidup ini dengan menyukainya. *** "Dea, tolong bantu jilid spiral bundel kertas ini ya di tukang fotokopi dekat sekolah. Bilang saja disuruh sama Bu Ainun, nanti Ibu sms Bu Heni yang lagi jaga piket biar izinin kamu keluar." Setengah jam sebelum pelajaran berakhir aku pergi keluar sekolah mengemban tugas dari Bu Ainun. Dan di sinilah aku duduk di kursi panjang depan tukang fotokopi mengipas-ngipas leher dengan tangan. Tukang fotokopi yang tidak terlalu jauh dari sekolahku saat ini sedang ramai sekali, jadinya lebih lama dari yang aku duga. Sudah setengah jam aku belum mendapat giliran. Aku melirik jam tangan, bel pasti sudah berbunyi waktunya pulang. Tidak lama aku dipanggil oleh abangnya kalau bundel kertas milik Bu Ainun sudah jadi. Dalam perjalanan kembali ke sekolah, mendadak terdengar suara ramai-ramai dari arah belakang. Perasaanku mulai tidak enak, karena sekarang aku berada dalam zona berbahaya. Jalan Pattimura. Aku melihat ke belakang dan membekap mulut tak percaya. Di belakang banyak gerombolan berseragam putih-hitam (seragam khas SMA Persada) menuju ke sini. Kanan-kiri sekitarku mulai ramai para warga menyumpah serapah kesal. Aku tidak ada pilihan lain selain bersembunyi di balik papan yang menampilkan harga-harga pulsa. Aku menunduk melihat gerombolan itu lewat di depanku. Gawat kalau mereka melihat ada anak Merbu di sini. Bisa jadi aku akan dijadikan tawanan yang akan membuat Mercu Buana menyerah. Dan, bakal diomelin sama Dilan. Aku berdoa memeluk bundel milik Bu Ainun dan menahan degub jantung yang tak terkira saat mendengar suara pukul demi pukulan dan teriakan kasar terdengar berada dekat sekali. Aku menggigit bibir ketakutan. Berharap semuanya akan cepat berakhir dan aku selamat. Mulutku tiba-tiba dibekap oleh seseorang. Siapa ini? Aku melirik ke arahnya takut kalau orang itu adalah anak Persada. Sudah tidak ada nyali untuk berteriak atau memberontak, area depanku masih kacau luar biasa. Sepasang mata kecil, tajam, dan dingin menyambutku. Alvin menundukkan kepalanya sehingga posisi kami jadi dekat sekali. Hanya berjarak beberapa senti, sehingga aku bisa mencium aroma minyak wangi maskulinnya. "Hmph," aku mengerang. "Sssst. Diem! Lo mau kita ketahuan dan diserang?" Aku menggeleng. "Hmph." "s**l! Lo kenapa bisa di sini sih?" tanya Alvin bisik-bisik. Aku menunjukkan plastik bundel. Bukankah dia tadi berada di kelas saat aku diperintahkan oleh Bu Ainun? Alvin mendecak sebal. Dia melepaskan tangannya mengintip ke jalanan depan, kemudian dia buru-buru menunduk lagi. Ini situasi yang sangat genting aku bersama pentolan sekolahan dan di depan sedang ada pertempuran. Nyawaku berada dalam situasi gawat. "Masuk ke sekolah sana!" seru Alvin tertahan. "Gimana bisa?" Aku menelan saliva. "Lo kok bisa di sini tanpa luka? Lo mau nyerang mereka dari belakang?" Alvin tersenyum miring. "Gue gitu loh, tapi rencana gagal, karena lo di sini." Kok serem ya? "Kenapa gue? Lakuin aja rencana lo sana buat mancing mereka balik ke Persada. Nanti gue kabur pas kalian udah lewat." Aku mengusulkan. Uh, aku berasa ini akan keren banget kayak di film action atau cerita thriller yang pernah aku baca. Tanpa aku sadari, ini bahaya banget untukku. Bayangan berita di TV mengenai tewasnya salah seorang murid dalam tawuran membuat bulu kudukku berdiri. Tapi setahuku tawuran di Jalan Pattimura masih kelas cere, tanpa s*****a tajam. Cuma mengandalkan batu, botol dan tonjokan. Tetap saja itu seram. Ekspresi Alvin berubah sengit. "Emang gue gila biarin cewek anak sekolah sendirian?" desis Alvin. "Gue anterin lewat belakang, tar lo masuk manjat—" "Nggak mau, gue lebih milih di sini sampe tawuran selesai," sergahku. Itu ide yang buruk sekali jika aku disuruh lewat tembok belakang. Taruhan Alvin tadi lewat sana juga dan muncul di jalan tikus sebelah kios tukang pulsa ini, makanya dia bisa melihatku yang jongkok pasrah bermodalkan papan tukang pulsa. Aku t***l sekali bersembunyi ke tempat remeh begini, seharusnya aku masuk saja ke dalam g**g itu dan ngumpet di belakang sekolah sebentar. Tapi itu membahayakan juga sih, bagaimana kalau tawurannya berpencar sampai ke sana? Serba salah, semua yang ingin aku lakukan membahayakan. Alvin menatapku dengan alis sebelah terangkat. "Nggak ada pilihan." Santai namun efeknya seram. Dia menarik tubuhku supaya berdiri, ada suara gemuruh langkah kaki menuju ke arah sini. Pasti gerombolan Persada segera balik. Aku menggigit bibir dengan tubuh bergemetar. Aku hendak jongkok lagi takut diriku ketahuan oleh mereka. Alvin ikutan kembali berjongkok. "Kenapa?" "Mereka balik. Ini kesempatan biarin mereka balik. Baru nanti gue ke sekolah." Aku amat yakin. "Lo kira gampang? Pentolannya masih di depan sekolah sampe gue atau Dilan keluar. Karena gue di sini, Dilan nggak bakal keluar. Udah pasti masih ada tuh para cecunguk di dekat sekolah kita! Lo mau di sini nganter nyawa sendirian, lewat belakang atau gue bantuin masuk lewat depan?" Aku memandanginya gelisah. "Apa kata lo deh. Terus sekarang gimana?" Suara langkah kaki ramai-ramai lewat depan kami. Aku memejamkan mata takut tiba-tiba ada yang memergoki kami, apalagi ada sosok yang lagi dicari mereka di sini. Alvin menatapku dari samping sesaat. Bulu kudukku berdiri baru menyadari matanya itu lebih menyeramkan kalau lagi serius begini. Selagi dia membantu tubuhku supaya berdiri, lengannya merangkul melewati punggungku, dan tangannya merapatkan diriku pada tubuhnya. Kenapa ..., Belum sempat aku berpikir dia menarikku keluar dari zona aman ini. "Bentar!" Dia berhenti mengeluarkan sesuatu di lehernya. "Itu apa?" "Apa aja kek." Alvin mengkoveri diriku melewati sisa-sisa anak Persada yang masih lempar-lemparin batu ke gerombolan murid MB. Aku melihat gerbang sekolah tidak jauh lagi. bagai pintu masa depan aku sangat menaruh harapan bisa cepat sampai sana. Pletak! Aku meringis terkena lemparan kerikil di bahu. Tidak tahu mengapa Alvin semakin menyembunyikan diriku ini ke dalam dekapannya. Dia menggerutu menyumpah serapah kalimat kasar. Pegangan Alvin mengendur dan akhirnya lepas. Aku melihat cowok itu ditarik paksa oleh gerombolan cowok Persada. "Lo kira bisa kabur?" pekik si cowok cepak. "Siapa yang mau kabur?" balas Alvin. "Ayo, sini!" Cowok itu tidak langsung menonjok Alvin. Aku berasumsi cowok itu adalah bawahan pentolan yang seharusnya berhadapan dengan Alvin. Tatapan cowok cepak itu tertuju padaku. Aku memekik saat sadar masih berada di zona yang tidak aman. Kugigiti bibir sambil mencengkeram erat plastik fotokopian. "Buruan lari, b**o! Jangan ngelamun!" bentak Alvin kasar. Aku sempat linglung dan melihat gerbang tidak jauh lagi aku buru-buru lari sambil melindungi kepala. Padahal yang di situ sudah tidak terlalu banyak hujan batunya. Aku tidak tahu lagi setelah itu Alvin bagaimana, namun aku percaya dia akan bisa menanganinya. *** "Pak, bukain pintunya dong! Ayo, cepet-cepet!" Aku menggoyangkan kasar gerbang sekolah yang dijaga oleh Pak Imam. Satpam itu menatapku dan jalanan ragu-ragu. Setelah sadar dia membuka kunci gerbang. Aku menyelinap masuk. Aku tersentak kaget saat tubuhku menubruk gerbang karena disenggol sosok bertubuh besar yang mengambil kesempatan terbukanya pintu tersebut. sosok itu adalah Dilan. "Astaga! Dilan jadi keluar!" gerutu Pak Imam menatap Dilan yang sedang berjalan cepat ke tempat yang di mana masih terjadi baku hantam. Aku berjalan dengan tubuh bergetar. Kakiku lemas sekali. Aku berjalan tertatih-tatih memikirkan bagaimana nasib Alvin di luar sana. Kenapa aku jadi mikirin dia? Bayangan saat Alvin menarik suatu benda di lehernya tiba-tiba terpikirkan olehku. Rasanya familier.... "Dea!" "Astaga, Dea!" "Woi!" "Walah, dalah!" "Lo baik-baik aja, ‘kan?" Aku melihat bayangan Rina dan Della berjalan paling depan keluar dari lorong lobby sekolah, di belakang mereka ada tiga sosok jangkung yang ikut mengawal. Tubuhku melemas dan memeluk Della. Rina mengambil plastik bundel tadi menatapku cemas. "Bawa ke UKS." Jojo mengusir orang-orang yang melihat ke arah sini. "Apa lihat-lihat? Pergi sana!" "Kalo kalian nggak kuat, sini gue aja yang gendong." Tawar Dika yang tubuhnya paling bongsor. Cowok itu serius sekali, ekspresi cemasnya sangat terlihat. "Modus aja si orgil." Rayn mencibir. Rina dan Della memberi tatapan tajam ke Rayn. Suasana jadi buyar karena celetukan cowok berpipi tembem itu. "Kasar k*****t! Gue baik gini salah juga," sahut Dika misuh-misuh. "Rayn, language, please! Pokoknya kalo ngomong kasar jajanin kita. Nggak mau tahu." Jojo bersuara. Dan, sepertinya setiap orang memiliki phobia kata-kata jajanin kita, karena habis itu Rayn berhenti menyahut. Aku berusaha mengabaikan tiga cowok yang bergosip di belakang. "Lo tadi bisa ke sini gimana ceritanya, De?" tanya Rina. Aku menoleh padanya. "Panjang. Nanti ya, gue mau duduk dulu sumpah lemes semua nih." "Tawuran emang cepet banget nyerangnya. Lagian lo fotokopi di sana di dalem Jalan Pattimura, kenapa nggak yang di depan jalan besar?" Della memandangiku prihatin. Aku mengangkat kedua bahu. "Gue kira di tempat tadi paling dekat. Taunya malah kejebak gini. Untung ada Alvin." Aku keceplosan salah tingkah menghindari Rina dan Della yang wajahnya berubah menjadi kepo berat melongo. "Alvin, gimana, gimana?" "Dia bantuin lo?" Aku tak mau menjawab cepat-cepat. Biar misterius. TBC *** 18 Okt 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD