BLAAAAM!
"HEH! LO SIAPA? LO NGAPAIN SAMA ADEK GUE?!"
Aku mati di tempat melihat Aidan muncul dengan wajah marah memergoki kami yang sedang dalam posisi tidak wajar. Pokoknya salah Alvin yang godain aku! Aidan menarik tubuh Alvin dan menghadiahi sebuah tonjokan di wajah pemuda itu.
Aduh, itu muka apa samsak digebukin terus! Bugh!
Lagi Aidan meninju wajah Alvin.
Aku menyela. "Abang salah paham. Aku nggak—"
Bugh!
Aku bangun dari posisi yang sudah sedikit setengah tiduran. "Bang, cukup! Abang Aidan! Jangan! Itu mukanya masih kayak tomat, jangan ditambahin lagi! Baru banget aku kompres."
Aidan menarik kaus Alvin emosi. Aku memisahkan mereka berdua, gawat kalau Alvin malah balas menonjok Aidan dan keduanya ribut saling hajar. Keduanya cukup brutal tinggal siapa nanti yang akan menang dialah yang terkuat.
"Cukup, Abang salah paham," kataku berusaha menghentikan lagi.
Abangku melihat ke arahku raut wajahnya murka. "Mama nggak bolehin lo berduaan sama cowok di rumah!" seru Aidan mengempaskan tubuh Alvin. Alvin menatapku dan Aidan tidak terbaca. Aidan mengatur napasnya yang membara. "Eh, kalo Dea kenapa-napa gue cari lo. Siapa nama lo? Mana nomor lo, sini gue minta! Lo jangan macem-macem sama gue. Dea kenapa-napa itu bakalan jadi urusan gue!"
"Bang, lo sendiri juga suka bawa cewek. Waktu itu yang gue liat lo lebih parah sama—" Aku melirik Alvin yang matanya sedikit terbelalak. Mungkin dia lagi merutuki nasib terlibat dalam drama menjijikan ini.
Aidan membuang napas gusar. "Cukup gue aja, ya elo jangan," potong Aidan bikin aku mangkel.
Gemas karena saat bicara dipotong mulu. Aku menggeram. "Dia cuma temanku, abis dikompres lukanya tuh!" unjukku ke baskom di meja.
Aidan melihat ke arah meja. Cowok itu seperti tidak tertarik, dia kembali melototin Alvin. "Nama lo siapa? Anak mana? Kita perlu bicara. Karena ini menyangkut masa depan adik gue."
Alvin memutar bola matanya. Sejak tadi dia belum ada satu kata pun keluar. "Gue teman sekelas Dea. Percaya atau nggak, gue nggak ngapa-ngapain Dea. Bahkan ini pertama kalinya kita ngobrol lebih lama."
"Baru dekat udah mau ambil kesempatan? Tahu nih gue akal-akalan ama cowok begini, kemudian langsung ngilang belagak nggak kenal. Kurang ajar!" Aidan siap menonjok Alvin lagi. Alvin berjengit melirikku, aku juga merasa hari ini Aidan mendadak alim. "Lo nggak bisa kabur, bakal gue inget muka lo!"
Aku bergidik horor. Dengan ucapan Aidan yang begitu, perasaanku ke Alvin makin tidak enak. Ekspresi Alvin masih datar banget seolah abangku hanya orang gila yang meracau.
"Bang," selaku seraya menyelip biar dia melepas pegangan pada kerahnya Alvin. Aidan melotot ke arahku.
"Lo diem aja, ini urusan cowok. Minggir!" Suruhnya dengan pekikan. "Mending lo bikinin minum. Gue haus dan perlu ngomong empat mata sama dia!" Wajah Aidan mengendik pada Alvin dengan tatapan penuh menilai.
Aku memberi tatapan penuh maklum pada Alvin. Dia melirik ke arah lain menghindariku, reaksinya seperti mengutarakan ini-apaan-sih-nggak-jelas-banget. Aku pun tersadar Alvin juga belum diberi minum. Sambil melirik kanan-kiri memastikan tidak ada barang s*****a tajam, aku pergi meluncur ke dapur.
Aidan pasti balas dendam gara-gara aku ngaduin tentang sore itu ke Mama. Di dapur aku menahan diri agar tidak masukin obat tidur atau sianida ke gelasnya Aidan. Sumpah, ini semua di luar dugaanku. Saat sedang mengaduk sirop supaya menyatu dengan airnya, tangan kananku masih bisa merasakan debar keras dari d**a Alvin tadi.
***
"Lo kok mau-mau aja sama Dea?" Samar-samar aku mendengar suara Aidan menanyakan hal yang membuatku sebal.
Kupercepat langkah supaya bisa menghentikan kelakuan memalukan abangku. Di ruang keluarga Alvin sedang di sidang duduk di seberang Aidan. Dia melongo dilempar pertanyaan begitu.
"HEH! APAAN SIH, BANG? UDAH DEH!" seruku meletakkan gelas ke meja dengan kasar. Aku berdiri di sisi Aidan melotot kesal banget.
"DIEM! INI URUSAN COWOK!" Tegas Aidan memberi kode dengan tangannya supaya aku tutup mulut. Pandangan Aidan tertuju ke Alvin lagi yang sempat melirikku menyuarakan makasih-ini-drama-banget. "JAWAB!"
"Siapa yang mau sama Dea?" Suara Alvin yang rendah itu menyahut.
Aku melotot pada Alvin yang segera melengos cuek.
"Dea bisa lebih dari standar mukanya kok, kalo pake make up." Aidan manggut-manggut. Aku menghela napas duduk di sebelahnya dengan wajah cemberut. Malu, aku malu banget pengen nyeret Aidan ke tritikan talang air hujan depan rumah, lalu nyuruh dia berdiri di situ diikat dengan tali ajaib, biar dia kehujanan, masuk angin, dan nyebelinnya ngilang. "Lo di sekolah gimana? Populer? Sekolah lo yang suka tawuran itu, 'kan?" Raut wajah Aidan berubah sedikit curiga.
Sekolahku juga abang! Aidan sekolahnya di SMA Mardi Bakti. Jauh dari sini. Sengaja cowok itu maunya yang jauh-jauh biar menantang. Aku menatap Alvin menunggu jawabannya, habis wajahnya lempeng banget kayak malas ngomong setiap kata yang terucap kena pajak.
Belum sempat aku buka mulut mau jawab, Alvin nyela, "Biasa aja."
"Biasa aja? Adek gue masa lakunya sama cowok yang biasa-biasa aja!" celetuk Aidan tengil.
"Eh? Enggak ya!" pekikku protes. "Aku sama dia tuh nggak—"
Aidan tak menggubris ucapanku lebih memilih bicara sendiri. "Meski dia begini, gue pengennya dia sama cowok kuat yang bisa melindunginya juga," ujar Aidan makin bikin aku malu.
Begini? Emangnya aku kenapa?
"Bang," panggilku sebal.
"Masa anak biasa-biasa aja mukanya bonyok?" tanya Aidan telak. "Lo mau biarin Dea kenapa-napa kalo ada yang ganggu?"
"Bang, Alvin tukang tawuran. Jago gebukin orang," cetusku. Alvin mendesis. "Udah deh, ah."
Ekspresi Aidan langsung semringah. "Wow! Tukang tawuran? Bagus deh, jadi kalo Dea diganggu lo bisa nolongin." Aidan terkekeh, aku siap menelannya bulat-bulat. Aidan bangkit dari duduknya, menyambar tas dan jaket. Aku menghela napas lega drama ini sudah berakhir. "Cabut dulu, Bro. Lanjutin aja yang tadi sempat tertunda. Ahayde!" seru Aidan sambil tertawa menggoda, dia masih tertawa sambil melangkah pergi menuju tangga.
Aku menggertakkan geraham mengepalkan tangan di atas paha dengan mata memandangi punggung Aidan yang lenyap di tangga. Dia naik ke atas. Aku mengalihkan pandangan jadi ke Alvin lagi, pemuda itu tengah menyeruput minumnya santai. Namun, dengan tatapannya tetap awas tertuju padaku.
"Sori, Abang gue—"
"Nggak heran lo orangnya lebay," decaknya bernada nyindir.
Mataku kontan melebar tidak terima dikatain begitu. "Enak aja, enggak kok. Jangan diambil pusing. Jangan menilai sembarangan gitu dong, ah!" Aku mengambil gelas yang tadinya buat Aidan, aku haus juga. Aku menyambar remote TV ganti kanal siaran, berhenti di saluran yang menampilkan video musik dari Kahitna.
"Tonjokan abang lo bikin gue laper. Ada makanan nggak?" tanya Alvin seperti sedang berada di rumah neneknya.
"Gue juga sih, tapi—Mbak Nurul nggak ada, jadi nggak masak. Mama gue kerja balik jam 5an. Intinya nggak ada makanan di rumah ini."
"Payah." Alvin menyentuh sudut bibirnya lalu meringis. Aku memandanginya dengan perasaan bersalah.
"Sori, Abang gue nambahin, gue ke dapur dulu ya bikin sesuatu. Lo di sini jangan geratakan!" Ancamku kemudian bangkit dari posisi duduk. Di dapur aku berpikir untuk memasak apa. Pilihanku jatuh kepada Indomie. Biar si cowok dingin itu tidak ngomel dan menatapku sinis, karena bikin makanan terlalu lama.
Di tengah aktivitas memindahkan mie ke mangkuk aku mendengar lagu yang sudah aku hapal mengalun.
Ada yang tidak bisa aku pahami.
Meski sulit untuk kuterima.
Bahwa aku mencintaimu sepenuh jiwaku.
Jangan lari, berbaliklah aku di sini.
Aku yang tidak pernah ke mana-mana.
Selalu membayangi setiap hela napasku.
Tenang, aku di sini.
Tidak jauh darimu.
Aku menunggu kamu untuk berbalik.
Lelah kau berlari, datang menghampiriku saja.
Secepatnya aku lari menuju ruang TV, di layar besar itu menampilkan video klip musik Adara Emeren yang bernyanyi sambil berjalan sesekali melihat ke kamera. Aku menopang tangan di sandaran sofa senyum-senyum ceria melihat video klip perempuan itu.
"HUA! ITU KAKAK GUE, VIN!" teriakku tiba-tiba histeris. “KAKAK GUE! CANTIK BANGET!”
"Astaghfirullah!" seru Alvin mengangkat pandangannya dari ponsel. Cowok itu melirik ke layar TV lalu padaku. Aku senyum-senyum ceria. "LO SEHAT?"
"Lo pikir gue gila?" balasku.
"Lo nggak gila?" sahut Alvin lebih jengkelin. "Mana makanannya? Lama banget."
Aku membuang napas kasar, buru-buru balik ke dapur untuk membawa mie yang sudah seharusnya diberikan ke Alvin. Begitu balik ke tempat Alvin di layar TV video klip Adara sudah tidak ada. Aku mendorong mangkuk ke depan Alvin. Cowok itu langsung semangat menyimpan ponselnya. Dia mengernyitkan dahi melihat mie ala buatanku.
"Ngerebusnya bentar ya, masih rapet." Komentarnya.
"Durasi. Lagian gue nggak suka mie melar."
"Ya."
"Ngomong nggak kena pajak, Vin."
"Hm."
Aku mengaduk mie di meja, karena susah aku duduk di lantai. Dari sudut mata aku melirik Alvin yang lagi makan. Dia mendapati aku lirik-lirik. Aku nyengir gugup.
"Vin, kok gue kayak pernah liat lo."
"Di mana?" Tak kusangka dia menyahut.
"Di TV." Aku melihat dia mengangkat sebelah alisnya.
Alvin berdeham, setelah bisa mengendalikan dirinya dia menyahut, "Menurut lo?"
"Ih, beneran. Muka lo yang oriental itu ngingetin gue sama—" Aku memberi jeda biar tuh cowok makin penasaran. Alvin menatapku tajam tidak melanjutkan makannya. "Cowok Korea sih."
"Lo ngajak gue bercanda, hah?" tanyanya galak.
Aku tertawa geli cekikikan mengabaikan raut wajahnya yang berang banget. "Mungkin gue gila."
"Emang." Alvin menaruh mangkuknya di meja sudah kosong melompong. Aku menganga dia sudah menandaskan cepat sekali. "Jangan cerita ke siapa-siapa tentang hari ini."
Aku mengangkat kepala usai mendengar perintahnya merahasiakan kejadian hari ini. Aku setuju jika dia meminta untuk rahasia dia dikeroyok preman disimpan oleh kita berdua saja. Apa dia curiga aku akan ngadu ke wali kelas? Aku tahu mana yang seharusnya dan tidak untuk dilakukan. "Oh, iya kok, lo tenang aja."
"Hm," Alvin memiringkan kepalanya.
Aku menyendokkan kuah-kuah mie menutup kegugupan ini. Kenapa sih nggak bisa lihatinnya biasa aja, kayak diiris-iris begini tubuh gue.
"Makasih." Suara Alvin terdengar tercekat, seperti sudah lama tidak berbicara.
Aku melihat sinar yang beda di matanya. Untuk pertama kalinya aku merasa Alvin hangat.
TBC
***
17 Okt 2021