BAB 1: HARGA SEBUAH HARAPAN
Jakarta tidak pernah tidur, tetapi malam ini, bagi Aruna Wijaya, kota ini terasa seperti binatang buas yang siap menelannya bulat-bulat.
Hujan rintik-rintik membasahi kaca jendela bus kota yang kusam, buram oleh uap napas penumpang yang berjejalan. Aruna menyandarkan kepalanya yang berdenyut ke kaca yang dingin, memejamkan mata erat-erat. Di tangannya, selembar kertas tagihan rumah sakit remuk dalam genggamannya yang gemetar. Angka yang tertera di sana bukan lagi sekadar angka; itu adalah vonis mati bagi ayahnya, dan rantai tak kasat mata yang mencekik leher Aruna.
Satu miliar seratus juta rupiah.
Jumlah yang terdengar konyol bagi seorang gadis berusia dua puluh dua tahun yang bahkan belum menyelesaikan skripsinya. Dua bulan lalu, hidup Aruna adalah tentang warna-warna cat minyak, kanvas, dan mimpi menjadi seorang kurator seni. Ayahnya, Wijaya, adalah seorang kurator paruh waktu yang hangat, pria yang mengajarkannya melihat keindahan bahkan dalam coretan arang yang paling gelap. Mereka tidak kaya, tetapi mereka cukup.
Lalu, badai itu datang tanpa peringatan.
Kanker hati stadium lanjut. Kata-kata dokter itu menghancurkan dunia Aruna dalam hitungan detik. Biaya operasi, kemoterapi, rawat inap—semuanya menumpuk seperti longsoran salju yang tak tertahankan. Tabungan seumur hidup ayahnya luluh lantak dalam hitungan minggu. Rumah mungil mereka, satu-satunya warisan yang mereka miliki, sudah terjual dengan harga di bawah pasar, dan uangnya menguap begitu saja ke dalam mesin medis yang tak pernah puas.
Sekarang, Aruna berdiri di tepi jurang. Pagi ini, administrasi rumah sakit memberikannya ultimatum: lunasi setidaknya tiga puluh persen dari total tagihan dalam waktu dua puluh empat jam, atau ayahnya akan dipindahkan ke bangsal kelas tiga yang penuh sesak dan pengobatannya akan dihentikan sementara. Itu sama saja dengan membiarkan ayahnya mati perlahan.
Bus berhenti dengan sentakan kasar di halte dekat kawasan SCBD. Aruna melangkah turun, kakinya terasa seperti jeli. Hujan sudah reda, menyisakan udara malam yang lembap dan aroma aspal basah. Di hadapannya, deretan gedung pencakar langit berdiri angkuh, memamerkan kemewahan yang terasa begitu jauh dari jangkauannya. Di salah satu gedung itulah, di puncak menara tertinggi, bersemayam seorang pria yang namanya hanya didengar Aruna dalam bisikan ketakutan dan kekaguman.
Adrian vander Built. CEO Vander Built Group. Pria terkaya di negeri ini, dengan reputasi sedingin es dan kekejaman yang legendaris di dunia bisnis.
Aruna menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Dia tidak punya pilihan lain. Dia telah mencoba semua jalan: pinjaman bank (ditolak karena tidak ada kolateral), meminjam pada kerabat (semuanya menghindar), bahkan mencoba menjual ginjalnya secara ilegal (hampir tertipu). Ini adalah jalan terakhirnya, jalan yang sangat gila hingga dia sendiri hampir tidak percaya dia akan melakukannya.
Dia berjalan menuju lobby menara Vander Built. Kemewahan gedung itu mengintimidasi. Lantai marmer yang berkilau, lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit, dan resepsionis yang tampak seperti model majalah. Aruna, dengan jeans pudar dan jaket rajut yang sudah mulai berbulu, merasa seperti noda kotor di tengah semua keindahan ini.
"Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis dengan senyum sopan namun dingin, matanya menilai penampilan Aruna dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Saya... saya ingin bertemu dengan Bapak Adrian vander Built," kata Aruna, suaranya nyaris berbisik.
Senyum resepsionis itu membeku. "Apakah Anda sudah memiliki janji?"
"Belum. Tapi... ini masalah hidup dan mati. Ayah saya... saya kurator seni. Ayah saya mengenal Bapak Adrian," Aruna berbohong, suaranya gemetar. Dia tahu Adrian adalah kolektor seni, itu satu-satunya titik lemah yang bisa dia pikirkan.
Resepsionis itu tampak ragu, tapi nada putus asa di suara Aruna tampaknya sedikit meluluhkannya. "Mohon maaf, Nona. Prosedur standar kami adalah tamu harus memiliki janji. Bapak Adrian sangat sibuk."
"Tolong," Aruna memohon, air mata mulai menggenang di matanya. Dia meletakkan kartu nama ayahnya yang sudah usang di atas meja marmer. "Katakan padanya... Wijaya. Kurator Wijaya. Dia butuh bantuan. Hanya lima menit."
Resepsionis itu menghela napas, lalu mengangkat telepon. Dia berbicara sebentar dengan suara rendah, matanya sesekali melirik ke arah Aruna. Setelah menutup telepon, dia menatap Aruna dengan tatapan campuran antara simpati dan skeptis.
"Asisten Bapak Adrian, Bapak Raka, akan turun menemui Anda. Silakan tunggu di area lounge."
Aruna mengangguk, merasa sedikit lega meskipun ketakutannya belum hilang. Dia duduk di sofa kulit yang empuk, matanya menatap hampa ke arah lift yang terus bergerak naik turun. Setiap kali pintu lift terbuka, jantungnya berdegup kencang, berharap itu adalah seseorang yang bisa membantunya.
Sepuluh menit berlalu. Dua puluh menit. Tiga puluh menit. Aruna mulai merasa putus asa kembali. Apakah mereka hanya mempermainkannya?
Akhirnya, seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu yang rapi keluar dari salah satu lift VIP. Pria itu, Raka, berjalan langsung ke arah Aruna dengan ekspresi wajah yang datar dan profesional.
"Nona Aruna?" tanyanya, suaranya tenang dan terukur.
"Iya, saya," Aruna berdiri dengan cepat.
Raka menatapnya, matanya tajam dan menilai. "Saya Raka, asisten Bapak Adrian. Resepsionis mengatakan Anda ingin bertemu Bapak Adrian terkait masalah Ayah Anda, Wijaya?"
"Benar, Bapak Raka. Ayah saya sakit parah. Kami... kami butuh bantuan finansial," Aruna berterus terang, menyadari tidak ada gunanya berbasa-basi.
Raka tidak tampak terkejut. Dia justru mengeluarkan sebuah tablet dan mengetuk layarnya beberapa kali. "Saya sudah memeriksa data kurator Wijaya. Dia memang kurator paruh waktu yang cukup dikenal di kalangan terbatas. Namun, Bapak Adrian bukan lembaga amal."
"Saya tahu!" potong Aruna cepat, suaranya mendesak. "Saya tidak meminta sumbangan. Saya... saya siap melakukan apa saja. Apa saja untuk membayar kembali bantuan itu."
Raka menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa saja, Nona Aruna? Kata-kata itu memiliki konsekuensi yang sangat berat, terutama jika diucapkan di hadapan Bapak Adrian."
"Saya tahu harganya, Bapak Raka. Saya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan," Aruna berkata dengan keteguhan yang muncul dari kedalaman keputusasaannya.
Raka terdiam sejenak, tampak menimbang-nimbang sesuatu. Akhirnya, dia menghela napas tipis. "Bapak Adrian kebetulan sedang berada di penthouse-nya di lantai paling atas malam ini. Dia memiliki kebijakan yang sangat spesifik tentang pertemuan mendadak seperti ini."
"Apa itu?" tanya Aruna, harapannya sedikit membubung.
"Hanya lima menit. Dan dia hanya menerima satu tamu dalam satu waktu. Jika dia tidak menyukai apa yang dia dengar dalam lima menit pertama, Anda harus pergi tanpa argumen," Raka menjelaskan dengan nada peringatan yang jelas.
Aruna mengangguk tanpa ragu. "Saya setuju."
Raka membawanya menuju lift VIP yang berada di sudut lobby. Pintu lift terbuka, memperlihatkan interior yang dilapisi kayu gelap dan marmer hitam. Raka menempelkan kartu aksesnya, dan lift melesat naik dengan kecepatan tinggi. Aruna merasa perutnya mual, campuran antara kecepatan lift dan kegugupan yang luar biasa.
Lantai demi lantai terlewati, ditandai dengan angka digital yang terus bertambah di panel kontrol. Perasaan isolasi mulai merayap ke dalam hati Aruna. Dia semakin menjauh dari dunia nyata, dari orang-orang biasa di lobby, menuju dunia yang dihuni oleh satu orang yang memiliki kekuatan untuk menghancurkannya atau menyelamatkannya.
Ting. Pintu lift terbuka langsung ke area ruang tamu penthouse. Kemewahan di sini jauh melampaui apa yang dia lihat di lobby. Ruangan itu luas, dengan langit-langit setinggi dua lantai dan jendela-jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta yang berkilauan di malam hari. Interiornya didominasi warna gelap: hitam, abu-abu arang, dan biru tua, dengan aksen perak dan emas yang mahal. Perabotan minimalis tapi tampak sangat mahal.
"Silakan tunggu di sini," Raka membawanya ke area lounge yang luas, dengan sofa beludru biru tua yang mengundang. "Bapak Adrian akan menemui Anda sebentar lagi."
Aruna duduk, tapi dia terlalu gelisah untuk bersandar. Dia duduk tegak di ujung sofa, tangannya meremas ujung jaketnya. Matanya menjelajahi ruangan itu, mencari tanda-tanda kehadiran Adrian.
Sepi. Hening yang menindas. Suara AC yang mendesing pelan adalah satu-satunya suara yang terdengar. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Aruna mulai merasa dia telah jatuh ke dalam jebakan, bahwa ini semua adalah lelucon kejam.
Tiba-tiba, dia mendengar suara langkah kaki yang berat dan terukur dari arah tangga yang menuju ke lantai atas. Aruna menoleh, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Adrian vander Built muncul dari kegelapan tangga. Dia lebih tinggi dari yang dibayangkan Aruna dari foto-foto di media. Dia mengenakan kemeja sutra hitam dengan lengan yang digulung, memperlihatkan lengan atas yang berotot namun ramping. Celana panjang hitam yang disesuaikan menonjolkan kakinya yang panjang. Wajahnya... Wajahnya tampan, tapi dalam cara yang dingin dan mematikan. Matanya hitam pekat, tajam, dan tidak memiliki emosi sedikit pun. Bibirnya lurus, tidak pernah tersenyum.
Adrian berjalan lurus ke arahnya, tidak menyapanya, tidak menatapnya langsung pada awalnya. Dia berjalan menuju sebuah bar mini di sudut ruangan, menuangkan minuman ke dalam gelas kristal.
Aruna berdiri perlahan, merasa seperti mangsa di hadapan predator. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Apakah dia harus bicara duluan? Ataukah dia harus menunggu Adrian bicara?
Adrian akhirnya berbalik, gelas minumannya di tangan. Matanya tertuju langsung pada Aruna untuk pertama kalinya. Tatapan itu terasa seperti tusukan es, menembus langsung ke dalam jiwanya, menilai, menghakimi, dan menolaknya bahkan sebelum dia berbicara.
"Lima menit," kata Adrian, suaranya rendah, dalam, dan sedingin tatapannya. Tidak ada sapaan, tidak ada keramahan. Hanya sebuah pernyataan batas waktu.
Aruna menarik napas panjang, menguatkan dirinya. "Selamat malam, Bapak Adrian. Nama saya Aruna Wijaya. Saya... putri dari Kurator Wijaya."
Adrian tidak menunjukkan reaksi apa pun terhadap nama itu. Dia menyesap minumannya pelan, matanya tidak pernah beralih dari Aruna.
"Ayah saya... dia sakit parah. Kanker hati stadium lanjut," Aruna melanjutkan, suaranya sedikit gemetar namun dia berusaha membuatnya terdengar tegas. "Kami sudah tidak punya apa-apa lagi. Rumah sudah terjual, tabungan habis. Rumah sakit memberikan ultimatum: lunasi setidaknya tiga ratus tiga puluh juta rupiah dalam dua puluh empat jam, atau mereka akan menghentikan pengobatannya. Itu... itu sama saja dengan membiarkannya mati."
Aruna menatap Adrian dengan tatapan memohon, berharap ada sedikit belas kasihan di mata itu. Namun, Adrian tetap diam. Wajahnya seperti topeng batu, tidak terbaca.
"Bapak Adrian," Aruna melanjutkan, putus asa mulai menguasainya. "Saya kurator seni. Saya tahu Anda kolektor seni yang sangat berpengaruh. Ayah saya mengenal Anda, meskipun Anda mungkin tidak mengingatnya. Saya... saya siap bekerja untuk Anda. Melakukan apa saja. Menjadi asisten kurator Anda, mengurus koleksi Anda, apa saja! Saya akan membayar kembali setiap rupiah yang Anda pinjamkan."
Adrian akhirnya meletakkan gelas minumannya di atas meja kopi dengan denting kecil yang terdengar nyaring di ruangan yang sunyi. Dia melangkah perlahan ke arah Aruna, memperpendek jarak di antara mereka. Aruna merasa kehadirannya yang dominan mengintimidasi, membuatnya sulit bernapas.
Adrian berhenti tepat di depan Aruna, jarak mereka hanya sekitar tiga puluh sentimeter. Aruna bisa mencium aroma samar parfumnya yang mahal—campuran aroma kayu cendana dan sedikit musk yang maskulin. Matanya yang hitam pekat menatap Aruna dengan intensitas yang melumpuhkan.
"Tiga ratus tiga puluh juta," Adrian mengulangi angka itu, suaranya datar, tanpa emosi. "Sebuah jumlah yang sangat kecil bagi saya, Nona Aruna."
"Iya, Bapak Adrian. Itu sebabnya saya berani meminta bantuan Anda," kata Aruna, harapannya sedikit membubung.
"Kecil bagi saya," Adrian melanjutkan, suaranya sedikit lebih rendah, hampir seperti bisikan yang berbahaya. "Namun, bantuan semacam ini memiliki harga yang sangat spesifik bagi saya. Harga yang jauh lebih mahal dari sekadar angka."
Aruna menatapnya, bingung dan takut. "Apa... apa harganya?"
Adrian menatapnya sejenak, tatapannya beralih ke bibir Aruna, lalu kembali ke matanya. Dia mengangkat satu tangan, jari-jarinya yang panjang dan ramping sedikit menyentuh helaian rambut Aruna yang jatuh di bahunya. Sentuhan itu terasa dingin, namun Aruna merasakan getaran yang aneh menjalari tubuhnya.
"Saya memiliki koleksi seni yang sangat berharga di penthouse ini," Adrian berkata, suaranya semakin rendah. "Beberapa di antaranya sangat rahasia. Saya butuh seseorang untuk mengurusnya. Seseorang yang bisa menjaga rahasia. Seseorang yang tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan."
"Saya siap, Bapak Adrian. Saya siap melakukan itu," kata Aruna dengan cepat.
"Menjadi kurator malam," Adrian berkata, senyum tipis, sangat tipis dan dingin, akhirnya muncul di bibirnya. Senyum yang tidak memberikan kehangatan, melainkan janji tentang sesuatu yang gelap.
"Saya setuju," Aruna mengangguk, meskipun dia tidak mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud dengan "kurator malam".
Adrian melepaskan helaian rambut Aruna, jari-jarinya kembali ke samping tubuhnya. "Bapak Raka akan memberikan rinciannya besok pagi di rumah sakit. Ayah Anda akan tetap mendapatkan pengobatannya malam ini. Vander Built Group akan melunasi seluruh tagihan rumah sakit, bukan hanya tiga puluh persen."
Aruna merasa lututnya lemas. Leganya luar biasa, namun ketakutan baru mulai merayap ke dalam hatinya. Adrian telah menyetujuinya, tapi dia tahu dia baru saja membuat perjanjian dengan iblis.
"Terima kasih, Bapak Adrian. Terima kasih banyak," kata Aruna, air mata kelegaan akhirnya mengalir.
Adrian tidak menanggapi ucapan terima kasihnya. Dia kembali berbalik, berjalan menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan kota. "Anda bisa pergi sekarang, Nona Aruna. Waktu lima menit Anda sudah habis."
Aruna mengangguk, lalu berbalik dan berjalan menuju lift. Dia merasa kehadirannya di ruangan itu sudah tidak diinginkan lagi. Adrian kembali menjadi sosok dingin dan tak tersentuh yang berdiri di puncak dunianya.
Dia menekan tombol lift, pintu terbuka, dan dia melangkah masuk. Lift VIP itu membawanya kembali turun ke dunia nyata. Saat pintu lift terbuka di lobby, Aruna merasa seperti telah bangun dari mimpi buruk sekaligus mimpi indah. Ayahnya akan selamat, itu satu-satunya hal yang penting.
Esok paginya, Raka datang ke rumah sakit. Dia membawa setumpuk dokumen dan sebuah tas koper kecil yang berisi pakaian untuk Aruna.
"Bapak Adrian telah melunasi seluruh tagihan Rumah Sakit, Nona Aruna," kata Raka, memberikan dokumen pelunasan kepada Aruna. "Sekarang, kita perlu menyelesaikan rincian kontrak kerja Anda."
Aruna menatap dokumen-dokumen itu. Semuanya terasa tidak nyata. Wijaya, ayahnya, sedang tidur pulas di bangsal yang sekarang jauh lebih mewah dan nyaman.
"Ini kontrak kerja Anda sebagai Kurator Malam untuk Bapak Adrian," Raka meletakkan sebuah map tebal di hadapan Aruna.
Aruna membuka map itu, matanya menjelajahi baris demi baris kata-kata hukum yang rumit. Gaji yang ditawarkan sangat besar, jauh lebih besar dari yang bisa dia bayangkan. Namun, aturan-aturannya sangat aneh dan menuntut.
Aruna harus berada di penthouse Adrian setiap malam, dari jam 10 malam hingga 6 pagi. Dia tidak boleh meninggalkan penthouse tanpa izin. Dia harus mengurus koleksi seni Adrian, yang beberapa di antaranya berada di dalam ruangan terkunci di kamar pribadi Adrian. Dan yang paling aneh dari semuanya... dia tidak boleh menyalakan lampu di kamar pribadi Adrian. Tidak ada cahaya, tidak ada pembicaraan yang tidak perlu, dan tidak boleh melihat wajah Adrian saat dia berada di kamar itu.
"Ini... aturan-aturan ini sangat aneh," Aruna menatap Raka dengan tatapan bingung.
Raka menatapnya dengan tatapan datar. "Bapak Adrian memiliki kebijakan privasi yang sangat ketat, terutama di kamar pribadinya. Dia tidak suka diganggu. Tugas Anda adalah mengurus koleksi seni yang ada di sana, bukan untuk menjadi teman bicaranya."
"Tapi... bagaimana saya bisa mengurus koleksi seni di tempat gelap?" Aruna bertanya, logikanya memberontak.
"Bapak Adrian akan memberikan instruksi spesifik. Ada pencahayaan khusus yang bisa Anda gunakan untuk koleksi tertentu. Namun, pencahayaan itu harus sangat minim dan tidak boleh mengganggu Bapak Adrian," Raka menjelaskan dengan nada tidak sabar.
Aruna menelan ludah. Dia merasakan firasat buruk yang kuat. Aturan-aturan ini tidak hanya aneh, tapi juga menindas dan penuh rahasia. Namun, tatapannya beralih ke ayahnya yang sedang tidur pulas. Harga sebuah harapan sangat mahal, dan dia sudah setuju untuk membayarnya.
"Saya... saya mengerti," Aruna mengangguk pelan.
Dia mengambil pena dan menandatangani kontrak itu. Rantai tak kasat mata di lehernya sudah digantikan dengan kontrak tertulis.
Raka tersenyum tipis. "Selamat bergabung di Vander Built Group, Nona Aruna. Bapak Adrian akan menunggu Anda malam ini di penthouse pada jam 10 malam."
Aruna mengangguk, lalu berjalan menuju bangsal ayahnya. Dia duduk di samping ayahnya, menggenggam tangannya yang sudah mulai terasa sedikit hangat.
Malam itu, tepat jam 10 malam, Aruna berdiri di depan pintu penthouse lift VIP. Jantungnya berpacu liar. Dia telah melangkah kembali ke dalam sarang predator.
Raka membukakan pintu penthouse untuknya. "Bapak Adrian sedang menunggu Anda di kamar pribadinya. Silakan ikuti saya."
Raka membawanya melalui koridor yang panjang dan sunyi, menuju sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu gelap di ujung koridor. Raka membuka pintu itu, memperlihatkan sebuah ruangan yang luas dan gelap gulita. Tidak ada cahaya sama sekali, kecuali cahaya minim yang masuk dari jendela besar di salah satu sisi ruangan.
"Silakan masuk, Nona Aruna," kata Raka, suaranya berbisik. "Bapak Adrian ada di dalam."
Aruna menelan ludah, ketakutan mulai menguasainya. Dia melangkah perlahan ke dalam ruangan yang gelap gulita itu. Pintu di belakangnya tertutup dengan denting kecil, menguncinya di dalam kegelapan.
Suasana di dalam ruangan itu terasa dingin dan sunyi yang menindas. Aruna tidak bisa melihat apa-apa, kecuali bayangan-bayangan gelap yang tidak berbentuk. Dia merasakan kehadirannya yang dominan di dalam kegelapan, tapi dia tidak tahu di mana dia berada.
Dia berdiri diam di tengah ruangan, tidak berani bergerak. Dia merasakan getaran yang aneh menjalari tubuhnya, campuran antara ketakutan dan antisipasi yang menggelisahkan.
Tiba-tiba, dia mendengar suara napas yang berat dan terukur dari arah jendela. Suara itu begitu dekat, seakan berada tepat di samping telinganya.
"Selamat datang di kamar saya, Nona Aruna," kata Adrian vander Built, suaranya rendah, dalam, dan sedingin tatapannya di malam sebelumnya.
Aruna merasakan sentuhan dingin di bahunya. Sentuhan yang sama seperti di malam sebelumnya, namun sekarang terasa lebih intim dan berbahaya.
Dia tidak bisa melihat wajah Adrian di dalam kegelapan, tapi dia bisa merasakan kehadirannya yang dominan di sekelilingnya. Rahasia apa yang dia sembunyikan di balik pintu kamarnya yang gelap gulita ini? Apa yang menunggunya di "Kontrak Malam" ini?