Kejadian sore itu menjadi hari di mana jantung Vita merasakan debaran yang luar biasa untuk pertama kalinya. Terasa ironi karena hal tersebut dirasakan Vita pada saat yang tidak tepat juga tidak romantis sama sekali.
Vita berjalan menyusuri gang yang tidak terlalu sempit itu setiap pulang kuliah, ia sengaja turun di sana kemudian menghabiskan waktu berjalan kaki untuk memperlambat langkah kakinya agar sampai ke rumah lebih lambat. Gang ini jalan pintas menuju rumahnya, hanya saja tidak bisa melalui mobil. Mengisi derap langkah kakinya dengan lamunan dan pemikiran yang selama ini selalu menghantuinya. Walaupun mama Vita selalu mengatakan kalau jalanan itu rawan tawuran, tapi tidak pernah digubris oleh Vita dan keluarganya bahkan tidak berusaha lebih lagi untuk mencegah kekonyolannya ini..
Yah, Vita merasa dirinya tidak diinginkan dalam keluarganya sendiri. Awalnya ia merasa kalau dirinya adalah anak pertama, dan orangtuanya mendidik dirinya agar menjadi mandiri. Namun seiring berjalan waktu sampai sekarang, Vita menyadari kehadirannya seperti tidak dianggap. Kalau dibilang tidak sayang, tapi Vita selalu merasa dilindungi walaupun tidak secara langsung. Kalau dibilang sayang, tapi dirinya tidak merasa diperhatikan dengan kasih sayang tulus.
Dirinya selalu iri melihat teman-teman sebayanya dulu, ketika pulang sekolah ada mama yang menjemput dan memberikan belaian sayang kepada mereka. Sedangkan Vita selalu pulang ditemani supir suruhan papa-nya. Pernah Vita ngambek dan protes tidak mau berangkat sekolah selama seminggu, bukannya berusaha membujuk dirinya. Mama dan Papa Vita malah mendiamkannya sampai ia merasa jengah sendiri berada di rumah dan akhirnya mengalah karena kesepian.
Rasa iri paling utama bagi Vita adalah ketika ia melihat adiknya, Ronald dengan mudahnya bermanja ria di pelukan sang mama, sering kali sang papa menegur Ronald karena kelakuan nakalnya seperti pulang tengah malam. Ingin sekali Vita merasakan rasanya ditegur sang papa, namun semua itu tidak pernah terjadi. Pernah Vita protes tentang sikap acuh tak acuh mereka, tapi mereka hanya beralasan sudah percaya dengan Vita sepenuhnya, maka dari itu mereka tidak merasa khawatir.
Teringat kembali sebuah peristiwa yang membuatnya trauma setiap kali dirinya diajak keluar rumah.
“Mama, Vita ngak mau pelgi dali lumah. Vita sayang sama Mama Papa, sayang dedek Lonal juga.”
“Kamu selalu buat Mama sama Papa berantem terus. Lama-lama hidup Mama Papa bisa berantakan gara-gara kamu.”
“Kata olang, panti asuhan tempat ngak ada mama papanya. Vita kan punya Mama sama Papa.”
Vita kecil terus menangis sambil memeluk boneka menyerupai bantal guling dengan kepala beruang, berharap ada peri baik hati yang merubah hati mama-nya dan tidak membawanya ke panti asuhan. Vita turun dari ranjang di kamar kecilnya, menghampiri Helen sang mama dan memeluk salah satu kakinya, mendongak dengan tatapan memohon.
“Mama, Vita janji ngak bandel, nulut sama Mama. Jangan suluh Vita pelgi yah, Ma.”
Bahu Helen bergetar, tangisnya pecah karena iapun tidak tega melihat ratapan Vita memohon seperti ini. Apakah ia seorang ibu yang tidak punya hati nurani hingga tega membuang putrinya sendiri. Helen berlutut dan memeluk Vita, keduanya terisak.
“Maafin mama, Vita. Maafin mama.”
“Maafin Vita juga, Mama. Vita janji ngak akan nakal.”
Lamunan Vita hancur takkala seseorang menabrak tubuhnya dan berlari. Bola mata Vita terbelalak dengan wajah pucat saat melihat gerombolan orang-orang di ujung gang sambil membawa aneka ragam senjata tajam sedang berlari ke arahnya.
‘Astaga apa-apaan nih. Gua mesti kabur juga dong, daripada kena tebas. Mama, tolong Vita.’ Gumam dalam hati Vita, kemudian ia berbalik badan dan berlari sekuat tenaganya mencari titik aman.
Baru beberapa langkah ia berlari, di ujung gang tersebut juga terdapat gerombolan lain yang sama-sama membawa beraneka ragam senjata tajam. Semakin panik wajah Vita ditengah sitausi mencekam seperti ini. Rasanya ia menyesal tidak mendengarkan ucapan mama-nya. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Dirinya sudah berada ditengah situasi mencekam.
‘Tuhan tolong. Aku takut.’ Dalam hatinya berdoa.
Pasrah dengan keadaan, Vita berdiri sedikit menepi, kakinya gemetaran terasa lemas di lutut, secara naluri ia jongkok sambil menutupi kepalanya berharap dirinya berubah menjadi tempurung agar tidak terlihat oleh para gerombolan ini. Berharap malaikat datang dan menyembunyikan dirinya agar tak terlihat bahkan menghilang.
Tiba-tiba sebuah tangan menariknya berdiri. Vita tersentak, membuatnya semakin menjadi, air matanya mengalir tanpa ijin. Mencoba menarik tangannya dari genggaman entah siapa itu, tapi nihil karena genggaman tangan itu begitu kuat merengkuh seluruh tangannya. Bahkan Vita tidak berani menatap orang yang menarik tangannya, wajahnya masih tertunduk dengan tangisan memohon.
“Lepasin! Tolong jangan sakiti saya! Saya cuma mau pulang ke rumah.”
Laki-laki itu berbalik dengan cepat dan menatap tajam Vita, keduanya saling bertatap dalam ketegangan di tengah pertikaian dua kelompok. Seakan doa Vita dijawab tuhan dengan cepat, bagaikan melihat malaikat berbalut wajah tampan.
“Gua bukan orang jahat. Ikut gua sekarang kalau loe masih sayang sama nyawa loe sendiri. Buruan!!”
Belum sempat Vita mengajukan protes, laki-laki tampan tersebut sudah menarik kasar tangan Vita dan berlari kencang.
“Tunggu, saya mau di bawa kemana?”
Pria tersebut terus berlari memandu Vita sampai di sebuah celah kecil yang terhimpit diantara 2 rumah. Laki-laki itu berhenti dan memeluk Vita tepat di depannya. Perlakuan laki-laki itu tentu saja membuat Vita yang seorang gadis menjadi tidak nyaman. Mereka baru bertemu, Vita tidak tahu pria seperti apa dia ini, dan apa niatnya.
“Sshh, jangan bersuara. Tepat ini ngak akan terlihat sama mereka yang lewat asal kamu diam.”
Kemudian laki-laki itu menoleh mengintip ke jalanan tempat gerombolan itu bertemu dan terjadilah pertikaian antar 2 geng. Suara dentingan senjata tajam saling beradu membuat Vita merasa ketakutan sekaligus juga lega karena ia sudah diselamatkan.
Dalam dekapan laki-laki tersebut, Nadia hanya bisa mendongak dan menatap wajahnya untuk mencari tahu siapa dia. Alisnya tegas, matanya tajam sekaligus manis karena bulu mata lentiknya. Hidung mancung dan bibir proporsional, dengan bulu-bulu halus yang tumbuh di peilpis sampai dagu menambah nilai ekstra ketampanannya. Fokus Vita menatap dimulai dari mata dan mendarat di bibir sexi basah yang terlihat begitu menggoda.
‘Siapa dia? Kenapa dia nolong gua? Trus, kenapa jantung gua deg-degan gini, jantung dia juga. Mungkin kita habis lari kali. Tapi, kenapa bibirnya kayak ngundang gua buat… Argh! Gelo! Lagi mencekam gini, sempet-sempetnya loe mikir yang iya-iya, Vit.’
Vita cepat-cepat menunduk ketika laki-laki dihadapannya menoleh untuk mencari tahu keadaannya. Vita dapat merasakan tangannya semakin kuat mengeratkan pelukan di punggungnya. Jangan ditanyakan lagi bagaimana warna di wajah Vita saat ini.
“Jangan takut, gua akan selalu lindungin loe dari bahaya.”
Pikiran Vita seperti berhenti dan kaku seketika mendengar ucapan berbisik laki-laki itu. Memberanikan diri mengangkat wajahnya kembali dan melihat netra hitam dihadapannya. Ada kehangatan sekaligus debaran menggelikan dalam hati Vita melihat tatapan mata tajam tersebut. Kemudian laki-laki tersebut menyandarkan kepala Vita di bahunya dan Vita menurut tanpa berani protes.
Katakanlah dirinya memang haus akan belaian, dan perhatian dadakan ini seperti kebahagiaan yang sedang menghujani perasaannya, sampai-sampai Vita melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria tersebut. Untuk pertama kali Vita merasakan perutnya terasa geli seperti ada sesuatu yang mengelitik di sana dan menimbulkan sensasi kebahagiaan dalam hatinya. Bahkan Vita dapat merasakan debaran jantungnya semakin terasa, bahkan ia juga merasakan hal yang sama pada pria tersebut.
‘Hangat dan nyaman, hem. Lebih nyaman dari bahunya Guna. Apa ini yang orang bilang butterfly in my stomach?’
Menikmati momen ini dengan memejamkan matanya sejenak dengan bibir tersenyum. Seolah aura tubuhnya menemukan aura pasangan yang cocok.
Entah sudah berapa lama, mereka berdiri dengan posisi yang sama. Mata Vita terbuka lebar dan menyadari keadaan sudah sunyi.
“Sudah tidurnya?” Tanya pria tersebut sambil tersenyum, kemudian ia menoleh kembali untuk memastikan keadaan sudah aman.
“Mereka sudah bubar. Keluar sekarang.” Ajaknya dengan suara datar dan menarik tangan Vita keluar dari celah sempit tersebut.
“Ka-“
Plak.
Baru saja pria tersebut berniat untuk menanyakan keadaan Vita, pipinya sudah keburu terkena ciuman telapak tangan Vita yang wajahnya merona saat ini, telebih lagi jantungnya masih berdegup kencang karena kedekatan mereka barusan. Pria tersebut menatap tajam ke Vita, bukan karena marah, lebih kepada kecewa karena tamparan yang diberikan padanya.
“Ini hadiah karena loe udah kurang ajar pelak-pelok gua tadi.”
“Tapi gua juga udah nolongin loe dari bahaya.” Jawabnya dengan nada sedater mungkin.
“Oke. Gua berterima kasih karena loe nolongin gua dari bahaya, tapi bukan berarti loe bisa seenaknya megang-megang gua kayak tadi.”
“Loe bisa lihat sendiri tempat tadi sempit kan, ngak sengaja melok juga karena memang harus nyembunyiin diri. Lagian, tadi juga loe bales melok pinggang gua kan, pake numpang tidur lagi di sini.” Ledek pria tersebut sambil menepuk bahunya.
“Argh! Udah deh. Makasih udah nolongin gua. Semoga kita ngak ketemuan lagi. Bye.”
Baru saja Vita berbalik, tangannya ditarik hingga tubuh Vita berbalik kembali. “Tunggu.”
“Apa lagi sih? Kan gua udah bilang terima kasih. Soal tamparan tadi, jangan bilang loe mau balas dendam. Kalau loe laki-laki sejati, harusnya loe sadar diri dan ngerti kenapa gua marah! Dan gua ngak tertarik sama loe karena gua udah punya pacar! Kalau dia tahu apa yang loe lakukan ke gua, dia bakalan ngamuk sama loe. Satu hal lagi, kok loe bisa muncul tiba-tiba. Perasaan gua jalan ngak ada orang yang ngikutin.”
‘Aku tahu, Vita.’ Dalam hati pria tersebut.
“Kebetulan gua ada di sekitaran sini. Tadi habis dari kampus arsitek ngak jauh dari sini?”
Mata Vita membola. “Loe mahasiswa juga? Tapi tampang loe kayak bukan mahasiswa? Jangan-jangan loe mahasiswa abadi yah di sana.”
“Aku mengajar di sana.”
Mendengar jawaban pria tersebut, Vita mengerutkan keningnya. Pasalanya ia sangat mengenali dosen di fakultas arsitektur tempatnya kuliah, dan ia tidak pernah melihat wajah pria ini sekalipun.
“Kok gua ngak tahu yah. Apa jangan-jangan loe anak dari dosen nyebelin itu? Soalnya mata loe mirip sama dia.”
Pria tersebut tersenyum mendesah merasa geli sendiri dengan kecurigaan Vita yang hampir benar.