Bab 2. Ijin Menginap

1689 Words
Senyuman lebar melekat dibibir pria tampan. Walau kemejanya sudah nampak kusut, namun wajah tampannya tidak sekusut penampilannya. Tommy memandang mata Vita yang sedang menatapnya nyalang penuh kekesalan. Tamparan yang dirasakan di pipi Tommy masih sangat terasa pedih, kaget dan kesal dirasakannya, tapi justru membuat Tommy semakin gemas melihat wajah cemberut Vita. “Yah udah, pulang sana, Lain kali jangan jalan di tempat sepi begini. Bahaya buat perempuan secantik loe.” “Lah, trus loe juga salah satu yang harus gua jauhi, kenal juga kagak.” “Kalo gitu kita kenal-“ Belum sempat Tommy menyelesaikan ucapannya, Vita segera memotong. “Udah ah, gua mau pulang, dah mau gelap. Bye.” Vita meninggalkan pria tersebut tanpa tahu siapa namanya. Lebih baik kabur secepat mungkin menyembunyikan rasa malu. Merutuki dirinya sendiri sambil berjalan cepat menuju rumahnya. ‘Bego banget sih loe, Vit. Bisa-bisanya loe tidur di situasi genting. Untung aja kagak di bawa kabur.’ Gerutunya sambil memukul keningnya sendiri berulang-ulang. ‘Tapi, dia ganteng banget yah. Matanya, hidungnya, bibirnya, rasanya kepingin ugh! Kenapa pikiran gua jadi ancur mesium gini sih.’ Dari kejauhan, pria tersebut memandangi Vita yang berjalan cepat, terlihat kekesalan Vita dari gestur tuubuh Vita yang sesekali menghentakkan kaki. Sungguh gemas dalam pandangan pria tersebut. “Sampai jumpa besok, Vita.” Ucapnya perlahan terbawa angin sepi. Kemudian ia berbalik menuju kampus tempat Vita kuliah. Malam ini ia akan tidur sambil tersenyum sambil merasakan pedih tamparan di pipinya. Pria yang bernama William Tommy Sumitomo itu, mengeluarkan ponsel dari celananya dan menghubungi seseorang. Deringan ke dua, orang di seberang sana sudah mengangkatnya. “Halo, napa loe nelpon gua.” “Gua perlu nyewa bodyguard yang bisa nyamar dan mulai kerja besok dari pagi. Nanti kita ketemu di kantor, bakalan gua jelasin buat apa.” Rasanya berlebihan jika seorang pria berusaha melindungi seorang wanita yang dikenalnya. Walaupun di mata Vita, tawuran barusan adalah hal yang biasa terjadi di daerah itu, bagi Tommy justru tawuran tadi adalah sesuatu yang sengaja di rencanakan untuk mengancam hidup Vita. Tommy menghubungi salah satu sahabatnya, Revan yang mempunyai usaha penyewaan bodyguard. Tentu saja Revan merasa aneh saat Tommy memintanya hari ini juga. Setau Revan, Tommy sudah menyewa 2 orang, itupun hanya untuk menemaninya bertemu dengan rival bisnis yang dirasa berbahaya. “Buat siapa?” “Nanti aja pas di kantor gua jelasin kenapanya. Pokoknya loe cariin hari ini juga.” “Loe kira nyari bodyguard udah kayak bikin bakwan tinggal ke supermarket beli bahannya langsung di masak. Gua butuh penjelasan loe biar tahu karakter bodyguard yang nanti cocok sama kriteria loe.” Mendengar temannya menggerutu, Tommy terkekeh sendiri sambil berjalan di ujung gang memperhatikan Vita yang sudah keluar dari gang tersebut dan menyebrang jalan. “Yah udah, kita ketemu di PT.JTR.” “Ngapain ke sana, tuh kantor masih kosong, yang ada horror bawaannya. Loe ke kantor gua aja lah.” “Gua terlalu bersemangat sama kantor baru kita, Van. Oke gua ke sana sekarang.” Tommy mengakhiri percakapannya dengan Revan salah satu sahabatnya di Jakarta. Masih ada satu sahabat lagi yang sedang menempuh pendidikan lanjutannya di negeri Paman Sam, namanya Jonathan. “Selamanya kamu itu milik aku, Vita. Selamanya. See you soon.” *** Terkadang sebuah kesalahan terjadi tidak sepenuhnya terjadi karena sebuah kesengajaan. Itulah yang sedang berputar di benak Vita malam ini, melamun membayangkan kembali kejadian tadi sore. Membayangkan wajah tampan itu lagi, dan lebih parahnya wajah itu terasa begitu dekat dengan wajahnya. Ditambah pelukannya yang begitu nyaman di hati. Yah, nyaman sekali baginya. Tersadar akan lamunan yang bukan pada tempatnya, Vita menggelengkan kepalanya berulang-ulang untuk menyadarkan dirinya kalau lamunannya itu salah.. “Apaan sih. Kenapa jadi ngebayangin itu cowok. Gua jadi berasa lagi selingkuh di belakang Guna.” Gunawan Yakub, pemuda tampan berusia 26 tahun, seorang pengusaha pemilik restoran cepat saji terkenal di Jakarta. Status saat ini adalah pacar Vita selama 2 tahun belakangan. Kesibukan Guna membuat dirinya dan Vita hanya bertemu sebulan dua kali, syukur-syukur seminggu sekali, karena Guna sering pergi ke luar kota. Namun, Guna selalu menyempatkan diri menghubungi Vita baik hanya melalui pesan ataupun menelponnya. Seperti saat ini, dering ponsel Vita memecah lamunan terlarangnya. Dengan cepat Vita mengangkatnya, sebelum dering itu berhenti dan biasanya ia tidak bisa menghubungi Guna lagi. “Halo, Kak Guna.” Panggilan Vita kepada Guna. “Hai, Vit. Hari ini pulang kuliah jalan kaki lagi?” Vita mengangguk walaupun Guna tidak bisa melihat anggukkannya. “Hem, iyah.” Merasa suasana menyepi, Guna memanggil Vita kembali. “Vit, kamu baik-baik saja kan? Tumben diam di telpon. Lagi sibuk?” ‘Gua kasih tau dia ngak yah soal kejadian tadi sore.’ “Vit? Halo?” “Eh, iyah, Kak. Aku baik-baik saja kok. Cuma memang tadi ada tawuran gitu pas di gang.” “Hah! Terus kamu ngak di apa-apain kan?” Tanya Guna seakan dirinya mengkhawatirkan Vita, nyatanya Vita dapat merasakan suara datar Guna seakan menjadi sebuah ironi, namun Vita coba menepis rasa kecewa tersebut. “Kalau aku kenapa-napa, aku ngak mungkin angkat telpon Kak Guna lah, hehehe. Ada yang nolongin aku tadi kak, trus kita ngumpet di celah kecil gitu sampai suasana aman kita keluar.” “Siapa yang nolongin kamu?” Jantung Vita kembali berdebar, tidak mungkin ia bercerita ke Guna siapa yang menolongnya. Apalagi posisi mereka saat itu. Tiba-tiba wajah Vita merona membayangkan kembali kejadian tersebut. “Vit. Hei! Kok ngak jawab.” “Hah! Eh, iyah. Yang nolong aku warga di sana, Kak. Tadi pas ketakutan, aku jongkok sambil nutupin kepalaku. Tiba-tiba ada yang narik tangan aku berdiri dan bawa aku ke rumah warga di sana. Kalau ngak kayaknya aku udah jadi orang cincang deh. Serem banget lihat gerombolan orang-orang itu pada bawa senjata tajam semua terus kayak ngarahin senjatanya ke aku gitu, mungkin karena aku ada di tengah-tengah jalanan.” Terdengar dengusan nafas kasar di telinga Vita, entah itu dengusan karena merasa bersyukur Vita baik-baik saja atau dengusan kekesalan. “Syukurlah kamu baik-baik saja. Yah sudah, aku mau mandi dulu. Aku baru balik dari kantor dan telepon kamu.” “Iyah, Kak. Habis mandi langsung istirahat saja yah. Good night.” Tanpa balasan, Guna menutup sambungan teleponnya, membuat Vita mendengus tidak terkejut apalagi marah, karena dirinya sudah tahu kebiasaan Guna. Selama berpacaran, Vita jarang sekali mendengar kata-kata manis keluar dari mulut Guna. Tapi dirinya juga tidak berani mempermasalahkan soal ini, baginya mempunyai Guna sebagai pacar saja ia sudah bersyukur. Setidaknya ada sesuatu yang mengisi hidupnya selain perlakuan keluarga sendiri yang datar. Tidak lama kemudian, ponselnya kembali berdering. Ditatap ponselnya sambil berbaring, senyuman terbit di bibirnya, dengan cepat diangkat panggilan video call tersebut. Vita: “Yes, Girls.” Nadia: “Dih, seneng banget muka loe.” Vita hanya terkekeh mendengar sahabatnya yang sangat mengerti dirinya. Diana: “Biasalah, pasti habis ngobrol sama ayang beb Guna.” Vita: “Iyah, tadi dia telepon barusan.” Diana: “Enak yah yang pada punya pacar.” Nadia: “Makanya, Di. Cari pacar buruan, lulus kawin deh.” Diana: “Ehm, gua mau ngasih kabar, tapi kalian jangan kaget yah.” Nadia dan Vita bertanya bersamaan. “Apa?” Diana: “Sebenernya gua udah dijodohin. Namanya Steven. Jadi 2 tahun lagi kita nikah, dan kita udah kenalan dari bulan lalu.” “What!” Diana: “Udah deh. Biasa aja reaksinya loe pada, intinya pacar udah punya lah, langsung nikah habis itu.” Nadia: “Yah elah, kaget lah, Di. Satu sisi gua seneng loe udah punya pacar, di sisi lain gua merasa agak anaeh aja. Kenapa kalian pada mau dijodohin sih? Bukannya jatuh cinta sama cowok pilihan sendiri lebih seru yah?” Vita: “Yah, itu kan rejeki loe, Dia. Kalau gua sama Diana pasrah aja lah dicariin cowok sama ortu. Apalagi gua, mendingan punya pacar pilihan mereka daripada gua diusir dari rumah.” Terlihat Nadia mendengus sembari menggelengkan kepalanya. Diana: “Eh, Guys. Skripsi kalian gimana? Bentar lagi udah mau sidang kan? Punya gua udah tinggal bab penutup nih.” Nadia: “Sama, punya gua juga. Loe gimana, Vit? Dosen culun loe masih cari gara-gara?” Giliran Vita yang mendengus kasar setiap kali mengingat skripsinya yang belum rampung. Vita: “Gua masih di penyelesaian masalah nih. Kesel banget sama dosen culun satu tuh. Tiap kali gua ke ruangan dia, selalu aja nyangkut di sana sampai sore. Alasannya, dia ngak mau nunggu lagi dan udah mau dateline. Lah, dia sendiri yang bikin lama. Kadang yah, yang dikoreksi tuh sebenarnya ngak beda jauh juga. Cuma beda kata aja dia komplen.” Diana: “Mungkin dia mau disogok kali, Vit. Kadang ka nada tuh dosen kayak gitu. Padahal tugas kita udah bener, tapi dipersulit karena mereka mau kita ngasih sesajen.” Vita dan Nadia tertawa mendengar celetukan Diana yang selalu membawa suasana menjadi ceria. Vita: “Andai kalo bisa disogok tuh dosen, kayaknya gua milih jalur itu. Sayangnya dia itu dosen saklek bin ajaib plus nyebelin. Kenapa juga mesti Pak William mesti jadi dosen pembimbing gua. Waktu kelas dia aja udah nyebelin banget, kebayang kan pas skripsi nasib gua gimana.” Hanya saat mengobrol bersama sahabatnya, Vita merasakan perhatian tulus. Bahkan Vita lebih betah mengunjungi rumah Nadia, karena mama dan papa Nadia menyayangi dan memberikan perhatian melebihi kedua orangtuanya sendiri. Diana: “Vit, Dia. Gua cabut dulu yah. Dipanggil nih sama nyokap. Bye.” “Bye, Di.” Tinggalah Nadia dan Vita saja di layar ponsel. Biasanya ada Jeremy, satu lagi sahabat mereka satu-satunya laki-laki di kelompok. Sejak Jeremy mempunyai pacar, ia jarang mengobrol lagi, namun saat bertemu, keempatnya akan menjadi pusat perhatian karena canda tawa mereka yang terdengar di lorong kampus. “Vit, Kak Guna itu sebenernya sayang sama loe ngak sih?” “Kok loe bisa nanya begitu, Dia?” Nadia terdiam sejenak, kemudian mengutarakan apa yang ada dipikirannya. “Ehm, cara pacaran kalian yang menurut gua lebih kayak partner daripada pacar gitu. Biasanya kalau malam minggu atau hari libur pasti nyempatin diri buat ketemuan gitu. Maaf, gua ngak bermaksud nyamain Kak Guna sama Randy, Vit. Cuma kepingin tau aja karena gua sayang loe, Vit.. Loe bahagia ngak sama Kak Guna?” “Dia, gua boleh menginap di rumah loe hari Sabtu ini? Sampai Senin deh. Itu juga kalau loe ngak ada janjian pacaran sama Randy.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD