Bukannya menjawab pertanyaan Nadia, Vita malah meminta ijin menginap di rumah sahabatnya. Ada rasa rindu unutk menikmati masakan Cika, mama Nadia. Weekend bagi Vita adalah hari yang panjang dilalui, karena ia tidak punya kegiatan keluar rumah. Sedangkan keluarganya bersikap cuek. Ronald sang adik sering apel ke rumah pacarnya. Tinggalah Vita di rumah berdiam diri di kamar, hanya keluar untuk makan saja.
“Vit, weekend ini gua mau pergi sama bokap nyokap ke puncak. Kalau mau loe ikut aja, Mommy pasti seneng banget, apalagi gua. Ada sekutu buat ngerjain si Nicky.”
Terdengar suara pintu terbuka di kamar Nadia. Cika sang mama masuk dan melihat Nadia sedang berbicara dengan Vita. Sekalian saja Nadia meminta ijin. “Mom, weekend ini aku ajak Vita yah. Biar punya temen tidur di kamar.”
Cika duduk di sebelah Nadia dan menyapa Vita dengan senyuman khas nya.
“Kamu mau ikut kan, Vit? Kebetulan Tante mau baking kue di sana. Pas ada kamu yang hobinya sama, kamu yang putusin mau bikin apa trus kabarin Nadia, biar Tante beli barang-barangnya sebelum berangkat.”
Mata Vita memanas, andai saja mama Vita mempunyai pengertian dan rasa sayang separuhnya saja dari mama Nadia. Vita pasti akan merasa bahagia.
“Vit?”
“Iyah, Tan. Nanti Vita kabarin ke Nadia yah. Tante Cika, makasih banget yah udah ijinin Vita pergi bareng.” Ucapan Vita sudah terdengar serak tertahan agar tangisnya tidak pecah merasakan keharuan.
Pagi-pagi sekali, Vita sudah terbangun dan menyiapkan sejumlah pakaian untuk pergi menginap bersama Nadia. Rencananya sepulang kuliah, Vita akan ke rumah Nadia dan menginap. Sabtu subuh, mereka baru berangkat bersama mama dan papa Nadia.
Vita turun menuju meja makan dan melihat papa serta mama-nya sedang berbicara seru setengah bercanda. Melihat kehadiran Vita, Helen segera menyudahi candaannya bersama suami dan memasang mode serius.
“Ma, Pa. Vita hari ini mau ijin menginap di rumah Nadia sampai hari Senin.”
Haelen pura-pura membaca pesan di ponselnya dan hanya bergumam sambil mengangguk tanda menyetujui.
“Hem. Jaga diri kamu.” Ucap Helen datar.
Harianto memandang datar kepada Vita, hanya menatap papa-nya saja, Vita sudah menelan ludahnya susah payah berharap papa-nya tidak memberikan wejangan panjang lebar.
“Kamu sudah Papa anggap dewasa, Vita. Yang penting jelas kemana tujuan kamu. Uang jajan kamu cukup?”
“Masih ada kok, Pa. Di sana Tante Cika bikin kue. Jadi sekalian Vita belajar baking.”
“Yah sudah, sarapan trus berangkat kuliah.” Jawab Harianto kemudian membuka majalah bisnisnya untuk menyudahi pembicaraannya dengan Vita.
Pagi ini, Vita membuat janji bertemu Nadia di parkiran kampus, agar tas ranselnya dititip ke supir yang mengantar Nadia kuliah. Saat menunggu di area parkiran, pandangan Vita tertuju kepada sebuah mobil SUV mewah yang memakirkan mobilnya khusus di tempat dosen. Matanya membelalak saat mengetahui pria yang turun dari mobil tersebut.
“Dia kan, cowok yang waktu itu nolongin gua. Jadi beneran dia ngajar di kampus ini, gimana caranya? Kenapa gua ngak pernah lihat dia di area kampus arsitek. “
Yah, Vita melihat Tommy, pria yang sudah menolongnya dari bahaya dan membuatnya bermimpi yang iya-iya malam itu. Mimpi manis dan menyenangkan.
Merasa ada yang memperhatikannya, Tommy menoleh untuk mencari tahu. Dengan cepat Vita menunduk bersembunyi di balik mobil lain agar tidak terlihat.
“Mampus deh nasib gua, ternyata dia dosen beneran. Bisa berabe kalau dia lihat gua lagi ada di sini.”
Vita mengendap kembali dan mengintip apakah dosen tersebut sudah masuk ke dalam kampus atau belum. Helaan nafas panjang ia hembuskan kala pria tersebut sudah menghilang. Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahunya dari belakang membuat Vita terpekik dan berbalik.
“Loe ngikutin gua sampai nunggu di parkiran dosen cuma buat buktiin omongan gua kemarin?”
Meredakan rasa terkejutnya, dadanya masih kembang kempis karena terkejut. Vita mendelik dan memberikan tatapan tajam kepada Tommy.
“Loe kalau mau manggil orang tuh jangan kelewatan gini dong. Jantung gua untung original. Kalau bekas servisan bisa masuk surga nanti.”
Bukannya merasa bersalah, Tommy malah tertawa geli walaupun tidak sampai terdengar orang lain. Baginya sungguh menggemaskan melihat raut kekesalan di wajah Vita yang terlihat begitu lucu dan membuat hatinya bahagia.
“Ehm, jadi saya harus manggil Bapak yah di sini. Maaf kalau kemarin saya ngak percaya kalau Bapak itu dosen.”
“Ngakpapa. Jadi pake bahasa formal kalau di kampus yah. Kamu jurusan apa?”
“Saya jurusan arsitektur tingkat akhir, Pak. Sedang menyelesaikan skripsi.”
Tiba-tiba tercetus pemikiran yang ingin Vita luapkan kepada seseorang sejak dulu mengenai rasa sebalnya pada dosen pembimbingnya.
“Ehm, Pak. Kenal sama Pak William ngak? Dia dosen pembimbing skripsi saya.”
“Yah, saya kenal sama beliau. Ada apa?”
“Boleh saya meminta Bapak untuk memberi masukkan ke Pak William?”
Kening Tommy mengerut seakan ia sedang berpikir, padahal ia sudah tahu masukkan apa yang akan Vita sampaikan dan ini membuat permainannya semakin mengasikkan.
“Masukkan mengenai apa?”
“Begini, Pak. Dosen saya Pak William itu terlalu sempurna. Maunya selalu sesuai kemauan dia, sampai-sampai saya itu ngabisin waktu seharian di ruangan beliau, mending kalau koreksi kesalahannya parah, ternyata dia maunya setiap kata-kata di skripsi saya itu harus sesuai kemauan dia. Kan ngeselin, Pak.”
Mendengar keluhan Vita, Tommy mendesah menyeringai. “Oh jadi begitu. Kalau saran saya ada baiknya kamu turuti saja kemauan dosen kamu itu. Biar skripsi kamu cepat selesai. Bagaimanapun kami para dosen mengajar demi kebaikan mahasiswanya, bukan untuk diri sendiri. Suatu saat kamu akan mengerti tentang hal ini ketika kamu sudah bekerja.”
Setelah menasehati Vita, Tommy berlalu masuk ke dalam kampus meninggalkan Vita dengan mulut menganga.
“Kayaknya gua salah ngomong sama orang. Dia juga sama nyebelinnya sama Pak William.”
Akhirnya ita melangkah masuk menuju perpustakaan dengan tas tabung di bahunya karena masih ada yang harus ia selesaikan sebelum bertemu dosen culun menyebalkan sebelum jam makan siang nanti.
Saking fokusnya Vita dengan tugas akhirnya menggambar desain denah rumah sederhana juga secara 3 dimensi, ia sampai lupa waktu. Setelah selesai, Vita menatap jam ditangannya dan terkejut karena pelajaran dosen culun killer akan dimulai 5 menit lagi.
“Waduh. Mateng deh. Telat lagi.”
Dengan cepat Vita menggulung kertas desain nya dan memasukkannya kembali ke dalam tabung tas. Dengan cepat ia berlari menuju kelasnya. Naasnya, Vita lupa kalau kelas yang biasanya mereka tempati pindah ke ruang lain dan hal ini menambah keterlambatan Vita.
Setelah sampai di depan pintu, Vita menetralisir nafasnya sejenak dan mengetuk pintu., lalu terdengar suara dosen tersebut menyuruhnya masuk.
Perlahan-lahan, Vita membuka pintu kelas dan masuk ke dalam dengan wajah pias setengah khawatir yang ia sembunyikan dengan senyumannya.
“Maaf, Pak. Saya terlambat 5 menit.” Mengaku dengan suara pelan.
Pak William yang terkenal culun tersebut menatap tidak suka kepada Vita. Kalau saja tidak sedang berada di kelas ini, ingin sekali Vita tertawa melihat wajah dosennya ini. Tahi lalat besar di pipi juga yang bentuknya kecil di pinggir mulutnya. Memakai kacamata tebal. Rambutnya berbentuk bob menutupi kening dan telinganya. Apalagi penampilannya yang memakai celana cutbry jaman kuno dan kemeja lengan panjang yang dikancing sampai leher. Sungguh penampilan Pak William berbeda dari yang lainnya.
Dan ajaibnya, semua mahasiswa takut pada ketegasannya.
“Kamu tahu peraturan saya dalam kelas bukan? Mahasiswa yang tidak dibiasakan disiplin, mau jadi apa masa depan kamu.” Kata dosen culun dengan suaranya yang berat.
“Maaf, Pak. Saya sudah datang sejak tadi pagi, tadi saya ke perpustakaan untuk menyelesaikan tugas hari ini.” Kemudian Vita mengulurkan tabung tas desainnya. “Bapak mau lihat?”
“Tidak perlu. Tugas itu kamu serahkan nanti di ruangan saya.”
Lagi-lagi Vita harus pulang terlambat hari ini, karena setiap mahasiswa yang disuruh ke ruang dosen culun tersebut artinya harus bersiap ditambah lagi tugasnya.
“Sekarang kamu duduk, sebelum saya bertambah kesal dan mengusir kamu.”
“Terima kasih, Pak.” Jawab Vita sedikit lega dan duduk di sebelah temannya bernama Lina, keduanya hanya memainkan tatapan mata seakan sedang bertelepati tanpa suara.
Vita mengikuti kelas Pak William sang dosen culun sampai selesai. Sesudah memastikan dosen menyebalkan mereka sudah keluar dari ruangan, Lina memukul lengan Vita dengan gemas.
“Loe tuh ya. Udah tau dosen culun kita itu killer, masih ada berani telat.”
“Gua nyelesain tugas dari dia juga. Gimana ngak lama, loe semua cuma disuruh bikin yang 3D, lah gua mesti sama tampak atasnya. Nambah waktu lah.”
“Yah udah, sekarang kita makan dulu di kantin, habis itu loe langsung temui tuh dosen, semoga ngak sampai sore lagi.”
Setelah selesai makan siang, Lina menemani Vita sampai depan ruang Pak William. Yang aneh adalah, biasanya dalam satu ruangan terdapat beberapa kubikel meja kerja beberapa dosen. Sedangkan Pak William mempunyai ruangan yang ditempatinya sendiri, mungkin karena statusnya di sana bukan hanya dosen, tetapi wakil dekan.
“Lin, apa loe nemenin gua aja di dalam, nanti gua traktir makan siang besok deh. Mau yah?”
“Ngak ah, Vit. Bukan karena gua ngak setia kawan sama loe, tapi gua lebih ngak mau cari masalah aja di tahun terakhir kita di kampus ini. Loe tau sendiri kan gimana killernya Pak William.”
Vita masih berusaha merayu teman sebangkunya di kampus, karena sebenarnya Vita juga merasa risih berduaan dengan dosennya hampir di setiap perkuliahan. Bagaimanapun mereka berdua berbeda jenis, Vita tidak ingin sampai terjadi gosip miring.
“Please, Lin. Bantuin gua kali ini, loe nemenin aja di dalam, bilang aja pulangnya gua nebeng sama loe. Gua takut Pak William nanti punya maksud buruk sama gua gimana? Dia itu cowok, gua cewek. Ngak baik kan berduaan setiap hari dalam satu ruangan. Loe tega lihat gua sampai diapa-apain sama dosen culun nyebelin itu?” Ucap Vita panjang lebar.
Bukannya menjawab, Lina malah menelan saliva, matanya membulat menatap ke belakang Vita dengan raut ketakutan seperti melihat hantu. Vita melambaikan tangannya ke depan wajah Lina.
“Lin, kok loe kayak lagi lihat setann sih? Jangan bikin gua takut dong. Di dalem itu setannya lebih menakutkan buat gua.”