Setelah melihat tatapan Lina ke belakang, Vita menyadari kalau ia sedang berdiri membelakangi pintu ruangan Pak William. Giliran Vita yang menelan ludahnya dengan berat, mengerti akan tatapan penuh ketakutan Lina sekarang. Ia memutar perlahan kemudian matanya terpejam sambil merutuki kebodohannya yang baru saja menjelekkan seseorang tepat di depan pintunya.
“Eh, Pak William baru keluar yah?” Berbasa-basi dengan seringai kecut memaksa tersenyum .
“Masuk kamu sekarang. Dan teman kamu bisa menunggu di depan kampus sesuai skenario yang sudah kamu buat.”
Glek
Lina berbisik ditelinga Vita. “Gua balik yah. Loe jaga baik-baik nyawa loe, Vit. Kalau udah selesai hubungin gua aja. Dahh.”
Lina berjalan cepat mengambil langkah kaki tercepatnya meninggalkan Vita bersama dosen killer.
Vita memutar tubuhnya menatap dosen berwajah culun namun ketusnya luar biasa. Memberikan seringai senyuman ramahnya kembali berharap dirinya akan aman hari ini dan tidak akan diberikan hukuman membuat makalah project lagi darinya.
Posisi Pak William sudah duduk di balik meja kerjanya membuka lembaran design tugas yang baru saja disarahkan di mejanya dan Vita masih berdiri dengan jantung deg-degan berharap tidak ada revisi lagi.
“Kamu mau berdiri di situ sambil saya memeriksa tugas kamu sampai selesai? Saya bukan dosen kejam yang akan menghukum makasiswanya seperti ini. Duduk kamu!”
“Iy-iyah, Pak.”
Vita memperhatikan wajah dosennya yang sedang memeriksa detail project buatannya. Menatap mata indah yang sedang serius memperhatikan ukuran dan tata letak gambar buatannya. Ada kekaguman tersendiri dalam hatinya melihat mata tersebut.
‘Penampilannya culun, tapi kalau di make over kayaknya nih orang ngak jelek-jelek amat deh. Mau gua ubah rasanya tuh penampilan, biar dia cepet dapet jodoh trus juteknya hilang.’
“Kamu jangan berharap saya akan tergoda dengan tatapan itu supaya tugas kamu ini lulus.”
“Hah. Ngak kok, Pak. Siapa juga yang godain Bapak. Umur saya ini jauh dari Bapak, layaknya orang tua sama anak, ngak kepikiran sama sekali ke situ, Pak.”
“Jadi kamu ngatain saya udah tua?”
‘Haiss, salah lagi kan omomngan gua. Ribet bener nih dosen, lah emang udah tuir juga kan.’ Gerutunya dalam hati.
“Ngak kok, Pak. Sumpah deh saya ngak mikir ke sana.”
“Saya tidak akan mentolerir keterlambatan kamu hari ini, kamu harus dihukum.”
“Tapi, tadi saya cuma terlambat 5 menit kan, Pak. Bapak juga baru masuk dan belum memulai perkuliahan kan.” Protesnya dengan wajah kesal menahan emosi.
“Kalau saya punya 20 murid kayak kamu, bisa-bisa struk saya. Kamu tetap dihukum, tambahkan di maket kamu ini ruang hijau di belakang rumah yang ramah lingkungan dan mengatur sirkulasi udara di tiap lantainya. Besok sebelum jam 10, tugas kamu sudah harus ada di meja saya.”
“Tapi, Pak.”
“Kamu mau lulus skripsi dengan cepat atau tidak!”
“Mau, Pak. Tapi..”
“Keluar dari ruangan saya sekarang juga!” Usir Pak William dengan tegas, membuat kekesalan Vita memuncak namun tidak berani protes.
Melangkah berat menuju pintu luar, Vita merutuki kekesalannya dalam hati. ‘Dasar dosen gila, nyebelin, ngeselin, perjaka tua.’ Dalam batinnya berteriak memaki.
Lina ternyata menepati janjinya menunggu Vita di tangga depan kampus. Melihat derap langkah Vita dan kekesalan di wajahnya, Lina sudah menduga kalau temannya ini mendapat hukuman lagi dari dosen pembimbingnya. Vita berdiri dari duduknya saat melihat Vita datang menghampirinya.
“Pak William ngasih hukuman apa, Vit?”
Vita menjatuhkan dirinya duduk di tangga tersebut, Lina ikut duduk menemani.
“Gua kesel banget, Lin. Masa iyah sih cuma gara-gara telat ngumpulin tugas skripsi bab terakhir dia ngasih gua tambahan design. Pingin banget gua design ulang tuh muka.” Serunya menggebu-gebu.
Kadang Lina sendiri tidak habis pikir mengapa hanya Vita saja yang selalu jadi sasaran empuk Pak William. Sedangkan mahasiswa lainnya hampir tidak pernah menghadap ke kantor dosen killer tersebut.
“Vit, jangan-jangan Pak William punya minat sama loe, makanya dia selalu nyuruh loe ke ruangannya.”
Dengan mata membola Vita menatap Lina sambil menelaah ucapan temannya. “Maksud loe, Pak William naksir sama gua gitu?” Dengan cepat ia mengendikkan bahunya.
“Ihh, ngak banget deh. Walaupun gua akui matanya Pak William itu cakep dibalik kacamata tebelnya, tetep aja sifatnya itu nyebelin banget. Dia bilang bisa kena struk kalau 20 mahasiswa kayak gua. Terbalik tuh dosen, yang ada gua struk muda ngadepin dia tiap hari. Kalau bukan demi sehelai kertas lulus males banget gua ladenin dia.”
Bukannya bersimpatik, Lina malah tertawa melihat gerutuan Vita panjang kali lebar.
“Vit, kalau udah lulus nanti, loe udah punya inceran perusahaan yang mau di tuju ngak?” Tanya Lina saat mereka berjalan bersama keluar kampus untuk pulang.
“Ada, malahan kayaknya gua udah diterima kerja kalau gua mau. Mereka yang email duluan ke gua, alasannya karena mereka tertarik lihat design di medsos gua.”
“Wah, enak banget tuh. Di perusahaan mana? Masukkin gua juga dong biar kita barengan.”
Vita terkekeh melihat rajukan temannya ini. “Iyah, kalau gua diterima nanti gua masukkin CV loe juga yah.”
Sepanjang jalan, Vita menyadari tatapan para laki-laki yang memandangnya kagum, namun ia tidak mengacuhkannya. Baginya hanya Guna kriteria laki-laki sempurna dalam hidupnya dan akan menjadi pendampingnya seumur hidup.
Vita berpisah jalan dengan Lina, karena ia berhenti di sebuah gedung di mana Guna bekerja. Hari ini ia ingin memberikan kejutan ke Guna sekaligus ingin melihat reaksi tunangannya itu saat melihatnya datang untuk pertama kalinya di kantor.
Saat Vita tiba, ia berdiri di depan resepsionis dan meminta untuk bertemu dengan Guna. Namun ditolak mentah-mentah karena penampilannya yang seperti anak SMA.
“Mbak, tolong bilang sama sekretarisnya Pak Guna, saya Alina Vita. Nanti Pak Gunawan pasti tau.”
Merasa kesal dengan paksaaan Vita, akhirnya resepsionis menghubungi sekretaris Guna. Namun sambunganya tidak diangkat dan tersambung ke line telepon. Resepsionis itu mengira sekretaris Pak Guna yang mengangkatnya.
“Mbak, ada seorang remaja bernama Vita ingin bertemu dengan Pak Guna. Apa mau diantar ke atas saja?”
“Suruh ke atas saja. Nanti saya beritahu Pak Guna.”
Merasa sudah mendapatkan persetujuan untuk menerima tamu, akhirnya resepsionis tersebut mengantar Vita menuju lift dan menekan tombol lantai tempat Guna bekerja.
Rasa senang melingkupi Vita karena ini pertama kalinya ia mengunjungi tunangannya ke kantor. Sesampainya di lantai yang di tuju, Vita menoleh ke kiri kanan mencari-cari seseorang yang bisa ditanyakan. Ia berjalan sambil menoleh ke bilik staf, sampai pada seorang wanita yang yang berada di kubikel tengah yang sedang berdiri. Vita segera menghampirinya.
“Permisi, Mbak. Ruangan Pak Guna di mana yah?”
“Maaf, kamu siapa yah?”
“Saya Alina Vita, Mbak.”
Melihat Vita yang seperti anak remaja, akhirnya wanita tersebut mengantarnya sampai di ruang paling pojok di lantai tersebut. Ruangan tersebut tertutup ukiran kayu penghalang sehingga tidak bisa terlihat dari depan.
“Ruangannya di sini. Biasanya di depan ada sekretaris Pak Guna, mungkin sedang ke toilet. Saya tinggal dulu. Permisi.”
Vita mengangguk sedikit membungkukkan tubuhnya. “Terima kasih, Kak.”
Setelah staf wanita itu pergi, Vita berbalik dan menghampiri pintu ruangan Guna. Tangannya terulur bersiap unutk mengetuk pintu, namun dirinya mendengar sesuatu sehingga mengurungkan niatnya.
Samar-samar Vita mendengar suara desahan perempuan dari dalam.
‘Apa gua salah denger yah? Tadi kayak suara perempuan di dalam? Apa Kak Guna lagi rapat sama sekretarisnya?’
Cepat-cepat Vita mengibaskan kepalanya sendiri untuk menghapus pikiran buruknya tersebut.
‘Kalau Kak Guna macam-macam di dalam, pasti kedengaran sampai ke depan dong. Buktinya staf lain biasa aja semua. Ah, gua doang yang negative thingking.’
Tangan Vita memegang gagang pintu dan menekannya ke bawah, pintu terbuka lalu Vita masuk.
Pandangan mata Vita tertuju ke depan. Perasaannya campur aduk saat ini melihat tontonan dalam ruangan ini. Ternyata pendengarannya tidak salah, desahan tadi memang suara wanita yang saat ini sedang duduk di atas pangkuan tunangannya.
Saking keduanya terbalut dalam hasrat, Guna dan sekretarisnya tidak menyadari Vita yang membuka pintu dan masuk ke dalam. Bahkan Vita malah menyembunyikan dirinya agar tidak terlihat oleh keduanya di balik bangku sofa saat si wanita mulai bicara.
“Kamu ngak takut ketahuan sama tunangan kamu yang masih kecil itu yah? Agh..”
“Ketahuan malah lebih bagus. Biar ngak usah pura-pura manis di depan dia.”
Degh, jantung Vita terasa kram, wajahnya pias mendengar perkataan Guna barusan mengenai dirinya. Menyadari selama ini ia bukanlah wanita yang berharga di mata Guna. Emosi menjalari pikiran Vita, ingin melabrak pasangan m***m dihadapannya ini segera. Namun usahanya terhenti kembali saat si wanita berteriak mendesah semakin kencang.
“Ah, terus, Pak. Aku mau keluar, teruss..”
“Tunggu aku sedikit lagi, kita keluar sama-sama.”
Keduanya berteriak dengan desahan sensual saat merasakan pelepasan nikmat penuh adrenalin karena mereka melakukannya di kantor dengan pintu tidak di kunci.
Vita berharap telinganya tuli dan matanya buta saat ini. Melihat Guna duduk dengan tangan memegang pinggang wanita tersebut, sedangkan wanita itu bergerak naik turun. Mereka melakukan perbuatan layaknya suami istri di dalam kantor menjelang pulang.
“Kita mandi yuk, Sayang.”
Sambil terkekeh sang wanita menyambut ajakannya. “Ada gunanya juga kamar mandi di ruangan kamu yah.”
“Sekali lagi di kamar mandi. Ayok.” Ucap Guna seraya memerintah.
Merasa jijik melihat pemandangan tersebut, dengan cepat Vita keluar dari ruangan Guna sebelum kehadirannya diketahui sepasang manusia yang sedang melanjutkan pergelutan mereka dalam ruangan itu.
Vita keluar dari kantor Guna dengan leluasanya karena memang sudah jam pulang para karyawan. Dengan langkah gontai ia menguatkan dirinya sendiri seraya berdoa dalam hati kepada sang pencipta.
‘Yah Bapa. Apa ini petunjuk yang sedang Kau berikan padaku bahwa Kak Guna bukanlah laki-laki terbaik untukku kelak. Di satu sisi aku kecewa, Tuhan. Tapi, di sisi lain aku bersyukur karena selama ini tidak menuruti keinginan Kak Guna.’
Vita berpikir kilas balik, bagaimana usaha Guna mengajaknya ke hotel dengan alasan untuk mengenal leih dekat.
‘Semua karena ada Engkau, Tuhan. Engkau yang selalu mengajariku akan pentingnya menjaga Taman Firdaus dan tidak menikmati buah terlarang, menjaga kesucianku sebagai seorang wanita dan memberikannya hanya kepada suamiku seorang nantinya. Terima kasih, Tuhan.’