Bab 5. Dosen Nyebelin Bikin Adem

1669 Words
Sudah dua minggu ini, Vita tidak lagi menghubungi Guna dan yang membuat Vita bertambah yakin untuk melupakan Guna karena ia pun tidak pernah di cari oleh Guna walaupun hanya sekedar menghubungi melalui telepon. Menyadari bahwa selama ini selalu Vita yang menghubungi Guna dan menanyakan kabar tunangannya tersebut. Menyadari selama ini dirinya saja yang mementingkan hubungan ini hanya karena perhatian Guna di awal mereka bertemu, nyatanya setelah dua tahun pacaran dan bertunangan, sifat asli Guna terkuak oleh Vita sendiri. ‘Kalau dia ngak cinta sama gua, ngapain juga susah payah dia deketin gua selama ini. Huf, naas banget sih hidup gua. Punya orang tua cuek banget, paling Ronald doang yang perhatian sama gua, giliran punya pacar ternyata pasukan buaya darat juga. Jomblo emang paling best lah, hati gua aman ngak tercabik-cabik.’ Gerutu Vita dalam hatinya sendiri melamun, sampai-sampai ia lupa kalau dirinya sedang berada dalam kelas perkuliahan salah satu dosen musuh besarnya. “Aw!” Ujung penggaris kayu memukul kecil kepala dan memecah lamunan Vita. “Keluar kamu dari ruangan saya sekarang. Setelah kelas selesai kamu datang ke ruangan saya!” Ucap Pak William dengan mata meneror. “Maaf, Pak. Saya ngak sengaja melamun.” Bela Vita, membuat seisi kelas menertawakan kepolosannya. “Saya paling benci lihat mahasiswi ngak fokus. Bagaimana kamu bangun gedung kalau kerjaannya melamun, bisa-bisa hancur itu gedung sebelum jadi." Teguran Pak William membuat seluruh kelas tertawa kecil. "Keluar sekarang atau mau saya gendong kamu ke depan!” Emosi Vita yang sedang labil karena patah hati ditambah dosen menyebalkan, membuatnya lepas kendali. Ia memaki dosen dihadapannya ini, tentu saja bukan dalam bahasa Indonesia melainkan bahasa Jepang yang tidak mungkin di ketahui siapapun bahkan sang dosen.. “Urusai Koshi (Dasar dosen menyebalkan)!” Ketusnya pelan sembari mengambil tas dan tabungnya lalu keluar dari kelas tanpa melihat wajah dosen tersebut. ‘Argh! Napa sih tuh dosen nyebelin banget. Mau ngelamun kek, mau bangunan ambruk, urusan gua lah. Napa juga mesti dia yang repot. Pulang sore lagi kalau kayak gini. Mana gua laper lag, kalau gua makan dulu trus telat ke ruangan dia nanti makinan lagi ngocehnya.’ Sambil menggerutu kesal Vita melangkah ke kantin untuk mengganjal perutnya sebentar lalu menuju ruang dosen kiler menyebalkan dan duduk di ruang tunggu depan. Lima belas menit sudah Vita menunggu dosen culun menyebalkan yang selalu menghukumnya. Entah ada saja hukuman yang di terima Vita darinya, bisa dihitung dengan jari berapa kali Vita lolos dari hukumannya di kampus selama satu semester ini. Karena duduk dan menunduk, Vita tidak menyadari Pak William sudah berada di depan ruangannya. Ia terpekik saat mendengar suara dosen culun dengan poni panjang membelah di tengan itu memanggil. “Kamu masuk ruangan saya sekarang!” “Eh, Iyah, Pak.” Vita mengikuti dari belakang masuk masih dengan lamunannya sendiri. Beberapa hari ini Vita memang sering terlihat melamun. Melangkah terus sampai tidak sadar kepalanya menabrak sesuatu yang empuk berisi. “Aduh!” Dengan cepat Vita mendongak sambil memijit pelan keningnya. Tubuh Vita dan Pak William sangat dekat, bahkan wajah keduanya kini merona menahan rasa malu. Tatapan mata keduanya bertemu, Vita merasakan kehangatan saat melihat bola mata hazel milik dosen culun menyebalkan. ‘Andai dia ngak nyebelin dan ngak culun, mungkin gua bisa jatuh cinta sama tatapan mata dia.’ Menyadari dirinya sedang mengagumi sang dosen, cepat-cepat Vita mengibaskan kepalanya. ‘Apaan sih Vit. Jangan ngaco deh.’ “Kamu mau merayu supaya saya ngak jadi memberikan hukuman? Jangan harap!” Mendengar ucapan sang dosen, Vita menarik dirinya menjauh dari sang dosen dengan wajah cemberutnya. “Siapa juga yang ngerayu. Ada juga saya yang di rayu, Pak.” Mendengus sekilas. “Sekarang saya dihukum apa lagi sama Bapak? Tugas penutup skripsi kan udah saya selesaikan dan Pak William bilang sudah oke.” “Saya ngak bilang mau hukum kamu sama tugas skripsi kan. Kamu sudah berasumsi lebih dahulu. Satu hal lagi.” Pak William sedikit memajukan tubuhnya. “Anata wa sore o katta hitodesu. (Kamu yang nyebelin).” Demi apapun, ingin sekali Vita menghilang dari ruangan ini sekarang juga. “Ba-bapak bisa bahasa Jepang juga?” “Hai (Iya).” ‘Mampus deh hidup gua.’ Sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Vita merasa malu sekali, entah mungkin karena suasana hatinya sedang tidak baik. Kejadian ini membuatnya bukan hanya malu saja, tapi memecah semua kegundahan hati yang ia pendam sendiri belakangan ini akhirnya keluar juga. "Maaf, Pak. Saya lagi stres hari ini." Keluh Vita terdengar samar-samar. Vita menangis saat menutupi wajahnya. Hal ini disadari oleh Pak William yang melihat bahu Vita bergetar, didekatinya Vita lalu ditarik kedua bahu Vita kedalam dekapannya. “Saya tahu kamu banyak masalah, makanya hari ini saya suruh kamu ke ruangan ini supaya kamu bisa meluapkan emosi kamu tanpa diketahui orang lain.” Awalnya Vita terkejut dengan tindakan spontan dosen culun menyebalkan ini, namun dirinya saat ini memang sedang membutuhkan pelukan seperti ini. Apalagi Vita bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan dari dekapan Pak William. Masa bodo dengan rasa malu, akhirnya Vita meluapkan rasa sedihnya, mengeluarkan isak tangisnya perlahan sampai menjadi tangisan pilu dan membuat kemeja dosen culunnya basah. Setidaknya biarkan hari ini dirinya mengeluarkan sisi lemahnya sebagai seorang manusia. Biasanya Vita akan menangis sendirian di kamarnya sambil memeluk bantal guling agar isak tangisnya tak terdengar. Berada dalam pelukan seseorang yang mau membuka lebar kedua bahunya sebagai tempatnya menangis merupakan sebuah keajaiban dari Tuhan bagi Vita. Setelah puas menangis, Vita menarik dirinya, Pak William mengambil tissue dekat meja, menyodorkan ke Vita dan membimbingnya agar duduk di sofa. “Duduk di sini dulu sampai kamu merasa lebih baik. Jangan ke luar dari ruangan saya dalam keadaan seperti ini. Saya tidak mau ada gosip miring karena mahasiswi saya keluar dari ruangan saya dalam keadaan menangis.” Baru saja rasa kagum timbul di pikiran Vita, kini menguap sudah karena ucapan dosen menyebalkan yang memang tidak bisa dikagumi ini. “Iyah, Pak. Makasih mau sedikit mengerti. Jadi sebenarnya saya dihukum atau ngak, Pak? Biar saya kerjakan sekarang.” Pak William sedang mencari berkas membelakangi Vita saat ini, kemudian ia mendapatkan berkas tersebut, lalu memberikannya ke Vita. “Ini adalah resume dari setiap design yang saya minta dari kamu perbaiki. Kamu bisa lihat hasil karya mereka dan kamu pakai sebagai salinan penutup skripsi kamu.” ‘Ini bukan hukuman namanya, tapi bantuan. Yah Tuhan, terima kasih karena sudah melunakkan hati Pak William.’ Dalam doanya bersyukur. “Terima kasih, Pak.” “Kamu itu salah satu mahasiswi berprestasi di fakultas arsitek ini, nama kamu akan saya kirim ke salah satu perusahaan kontraktor terkenal sebagai referensi saya untuk mahasiswa berprestasi.” Wajah Vita terlihat berbinar bahagia, tidak percaya kalau dibalik sikap ketus dan angkuh sehingga mendapat julukan dosen kiler, ternyata ada sosok hangat, lembut dan baik hati. Sayangnya dosen dihadapannya ini sudah tidak pantas menjadi calon laki-laki idamannya, walaupun mampu membuat jantung Vita berdegup kencang tadi. Tetap saja usia Pak William lebih pantas menjadi papanya dari pada suaminya. Vita memeriksa dan mencatat referensi dari Pak William dengan laptopnya, dalam ruangannya sampai menjelang sore. Hitung-hitung sambil menenangkan diri dan menunggu mata sembabnya mengempis. Dalam hatinya bersorak, akhirnya tugas skripsinya rampung sudah. Vita menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas. Baru saja berdiri untuk berpamitan pada Pak William, ponsel Vita berdering. Keningnya berkerut saat melihat nama pada layar tersebut. Pak William memperhatikan pergerakan Vita dan dapat melihat keresahan di wajah mahasiswinya ini. “Kamu kenapa lagi? Itu telpon diangkat, jangan di biarin.” “Justru ini yang bikin saya tadi sampai basahin kemeja Bapak.” “Kalau tidak mau diangkat kamu reject saja. Berisik di telinga saya.” Ucapnya memerintah. ‘Nyebelinnya kambuh lagi.’ Gerutu Vita. “Iyah, Pak.” Kemudian menggeser tombol merah ke kiri unutk menolak panggilan dari Guna. Guna terus menghubungi Vita, sampai-sampai Vita merasa tidak enak hati. “Pak saya keluar dulu untuk terima telepon.” Pak William berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya. “Kasih saya ponsel kamu.” “Hah?” “Kalau kamu mau menyudahi hubungan sama orang itu, kasih saya ponsel kamu.” Seperti kerbau dicucuk hidungnya, Vita menurut dan memberikan ponselnya kepada Pak William seperti seseorang yang terkena hipnotis. “Halo.” “---“ “Saya siapa bukan urusan anda. Jangan ganggu Vita lagi atau kamu berurusan dengan saya nanti.” “---“ Kemudian di tutup setelah selesai bicara. Pak William menatap Vita. “Katanya dia nunggu kamu di depan kampus sekarang. Kamu mau menemui dia?” “Aduh, saya ngak mau, Pak.” Terdengar helaan nafas kasar sang dosen sambil bertolak pinggang. “Kalau kamu ngak keberatan, kamu pulang sama saya saja. Biar tidak terlihat sama pacar kamu itu. Harusnya sebagai wanita, kamu bisa memikirkan konsekwensi seperti ini kalau mutusin pacar. Begini akibatnya pilih pacar cuma lihat tampang.” Bola mata Vita membulat lebar mendengar nasehat yang lebih mirip gerutuan karena sudah merepotkan dirinya. Kesal mendengar ucapannya tadi. “Pak, saya bisa pulang sendiri. Nanti saya pikirkan sendiri caranya saja. Maaf kalau saya merepotkan Bapak tadi. Permisi, Pak.” Vita melangkah keluar dengan langkah cepat, mulutnya komat kamit mengumpat kesal. “Baru aja dibikin kagum sama tuh dosen, bentaran doang udah bikin darah gua naik lagi. Bisa struk beneran kelamaan sama dia.” Vita sudah melihat mobil Guna di depan kampus, lalu meneliti sekelilinya berharap Guna masih di dalam mobil menunggunya. ‘Gua mesti kabur dari sini, caranya gimana yah? Sebenernya gua harus bisa ngadepin Kak Guna sih, gimanapun gua mesti mengakhiri pertunangan ini.’ Vita menatap ponselnya saat merasakan getaran, sebuah pesan masuk dari Guna. “Kamu di mana? Kita harus bicara sekarang mengenai hubungan ini.” Dengan cepat Vita membalasnya. “Aku sudah pulang. Jangan ganggu aku dulu Kak.” Guna sudah mengetahui kehadiran Vita di kantornya dua hari lalu saat karyawan yang menunjukkan ruangannya bercerita pada sekretarisnya. Merasa perselingkuhannya sudah diketahui oleh Vita, ia berniat untuk membungkam dan mengancam Vita entah dengan cara apapun. Guna berpikir toh lebih baik seperti ini, jadi kedepannya ia bisa leluasa mengajak selingkuhannya atau wanita manapun ke rumah tanpa sembunyi-sembunyi lagi dari Vita. Tiba-tiba seseorang dari belakang menepuk bahu Vita dari belakang dan membuatnya terpekik. “Astaga!” Vita membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD