Nadia, Diana, Luna dan Jeremy tertawa puas melihat wajah pucat Vita karena usaha mereka berhasil.
“Kalian mau bikin jantung gua lepas apa yah? Kaget banget tau.”
Diana merangkul Vita dengan senyum lesung pipitnya. “Kita sengaja janjian di sini, biar bisa pergi barengan loe, Vit. Mumpung si Nadia lagi ngak dijemput sama pacarnya tuh.”
Jeremy merasa penasaran dengan gelagat sahabatnya mendongakkan kepalanya mencari tahu Vita bersembunyi dari siapa. Keningnya mengerut saat mengetahui siapa yang ada di depan kampus.
“Vit, di depan itu kan tuna- mpp..” Dengan cepat Vita membekak mulut Jeremy sebelum terdengar oleh Guna.
“Shh, gua memang lagi ngak mau ketemu sama dia. Ayo buruan cabut deh, biar ngak ketahuan. Nanti gua ceritain semuanya.”
Dengan wajah merengut dan mulut masih dibekap, Jeremy menggerutu tak jelas sambil menunjukkan tangan Vita yang masih membekapnya.
“Oh, sori, Jer. Habis suara loe kenceng banget tadi, gua takut ketahuan sama Kak Guna. Pokoknya loe semua mesti bantuin gua menghindar dari dia.”
Walaupun masih belum mengerti maksud Vita, tapi para sahabatnya ini setia kawan dan mengikuti kemauan Vita.
Mereka pergi ke sebuah kafe kecil. Vita menceritakan apa yang sudah ia lihat di kantor Guna, dan reaksi teman-temannya begitu geram mengetahui betapa bejatnya perbuatan seorang pebisnis sekaya Guna.
“Untung loe masih belum jadi bini dia, Vit. Ngak kebayang nasib loe kalau dah nikah. Bisa makan hati plus kurus kering punya laki kayak gitu.” Ujar Jeremy dengan geram.
Diana ikutan menyeletuk. “Kalau gua jadi loe, Vit, udah gua labrak langsung sambil teriak-teriak di kantor dia biarin semua orang tahu separah apa bos mereka itu.”
Nadia hanya terdiam dengan wajah prihatin melihat nasib sahabat kecilnya ini. Memegang punggung tangan Vita sambil memberikan tatapan hangat untuk menenangkan hati Vita. “Kita di sini aka nada selalu buat dukung loe, Vit. Jadi sekarang loe mau gimana soal pertunangan loe sama Kak Guna. Rencananya habis lulus mau nikah kan?”
Vita benar-benar malas untuk membahas masalah yang saat ini menderanya, namun kalau tidak berbagi dengan sahabatnya kepada siapalagi ia akan mencari jalan keluar. Kedua orangtuanya pasti hanya akan memberikan pendapat yang mementingkan diri mereka sendiri dibandingkan perasaannya. Menghela nafas panjang, Vita mengeluarkan pikirannya.
“Kayaknya gua mau langsung kerja deh habis lulus. Tugas akhir kayaknya udah dapat lampu hijau dari Pak William. Jadi tinggal sidang akhir aja. Gua kepingin tinggal sendiri juga.”
“Yah udah, seperti kata Nadia. Apapun keputusan loe kita semua dukung yang penting loe bahagia, Vit.” Seru Diana mengakhiri percakapan mengenai hubungan Vita dan tunangannya. Setelah itu Diana mengubah raut wajah sendunya menjadi ceria. “Sekarang kita bahas rencana liburan kita ke Jepang aja. Ngomong-ngomong Luna ngak kelihatan sih, belakangan ini dia sering banget ngilang dari radar kita.”
“Dia, loe gimana caranya dapat ijin bisa ke jepang ada Randy? Setahu gua bokap nyokap loe itu kan protektif banget soal Randy.” Celetuk Jeremy.
Giliran Vita terkekeh menanggapi pertanyaan Jeremy. “Gua yang jadi satpamnya si Nadia, pokoknya Nadia tidur sekamar sama gua. Nah gua yang dikasih tanggung jawab jagain bayi besar yang cantik ini.” Goda Vita sambil melirik usil pada Nadia.
Setelah beberapa jam menghabiskan waktu, Vita dan para sahabatnya pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, Vita melihat kedua orangtuanya duduk di ruang tamu seperti sedang menunggu kedatangan dirinya.
Helen menyikut pinggang suaminya, memberitahu kalau putrid mereka sudah pulang. Harianto yang sedang membaca tabletnya langsung merespon saat merasakan sakit di pinggangnya.
“Duduk, Vita.” Perintah Harianto.
Vita yang sepertinya tahu apa yang akan dibicarakan, memasrahkan diri duduk di hadapan kedua orangtuanya. Bagaimanapun masalah ini harus ia hadapi cepat atau lambat.
“Tumben, Papa sama Mama nungguin aku pulang.”
Vita dapat merasakan tatapan tajam Helen kepada dirinya, keningnya berkerut merasa tidak nyaman dengan tatapan mama-nya ini.
“Tadi Guna telepon mama kamu. Katanya kamu sengaja menghindar dari dia belakangan ini. Ada apa hem?” Tutur Harianto.
Vita mendesah panjang dan menoleh ke Helen. “Kak Guna cerita apa saja memangnya sama Mama?”
“Dia bilang kamu mendadak seperti orang asing. Ngak mau angkat telepon dari dia, dan tadi katanya kamu kabur dari pintu lain waktu dia jemput kamu. Apa kamu selingkuh dan berniat memutuskan pertunangan sama Guna?”
Sakit rasanya mendengar tuduhan langsung dari mulut seorang ibu yang ia hormati. Bukannya bertanya apa alasan dirinya menghindar seperti itu, malahan menghakiminya dan lebih membela Guna.
“Jadi Mama mikir aku selingkuh terus menghindari Kak Guna, gitu?”
“Yah terus apa lagi alasannya?”
Malas sekali rasanya menanggapi ucapan sang mama kalau dirinya sudah lebih dahulu di cap sebagai gadis yang tidak baik. Vita beranjak dari duduknya dengan wajah datar untuk menunjukkan rasa kecewanya.
“Kalau begitu aku ngak perlu jelasin apa-apa lagi sama Mama Papa. Vita masuk ke kamar mau beberes buat ke Jepang. Kalau Papa takut Vita selingkuh, Papa tinggal suruh orang buat ngikutin Vita saja.”
“Vita!!” Teriak Helen geram.
“Biarkan saja, Mam.”
Kegeraman Helen berpindah pada suaminya. “Kamu gimana sih! Mau negur anak tapi pas anaknya pulang malah diam saja.”
Harianto menatap tajam sang istri. “Kalau aku jadi Vita, mungkin aku bakal melakukan hal yang sama setelah mendengar ucapan kamu barusan. Belum dengar jelas dari mulut anaknya, tapi sudah nuduh duluan.”
Harianto ikut beranjak dan meninggalkan istrinya dengan kesal. Walaupun ia kesal dengan aduan Guna, setidaknya dirinya juga ingin mendengar alasan dari sisi putrinya. Bagaimanapun Guna masih orang asing dalam keluarganya.
Ketukan pintu terdengar di depan kamar Vita. Dengan berat hati Vita melangkah dan membuka pintu kamarnya. Dirinya tahu pasti sang papa yang datang menghampiri setiap kali ia kesal dengan mama-nya.
“Masuk, Pa.”
Harianto melangkah masuk dan memperhatikan Vita yang sedang membongkar isi lemarinya dan memindahkannya ke koper.
“Oke. Papa mau mendengar dari mulut kamu sendiri. Apa alasan di balik kamu menghindari Guna?”
Vita yang sudah tahu kalau dirinya tetap akan dicecar pertanyaan yang sama, akhirnya menghentikan kegiatannya dan duduk di samping sang papa.
“Kalau Vita cerita, apa Papa masih akan memaksa Vita nikah sama Kak Guna? Apa Papa mau mementingkan kebahagiaan Vita?”
Kening Harianto mengerut kembali. “Memang apa yang sudah dilakukan Guna sama kamu?”
Vita menunduk, sorot matanya menyendu. “Aku ke kantor Kak Guna, niatnya buat kasih kejutan ke dia. Ternyata malah aku yang dikasih kejutan.”
“Maksud kamu? Bicara yang jelas, Vita.”
“Aku lihat sendiri Kak Guna sedang melakukan hubungan terlarang sama sekretarisnya, Pah. Terus, aku dengar Kak Guna bicara sama sekretarisnya kalau dia ngak takut hubungannya ketahuan sama Vita. Papa bayangin gimana kalau Vita jadi nikah sama dia. Masa depan Vita pasti hancur, Pah.”
Tangan Harianto mengepal kencang menahan emosi tidak terima dengan perbuatan Guna, hanya saja dirinya berada di posisi tidak kuat karena perusahaannya saat ini sangat mengharapkan bantuan keluarga Guna.
“Maafin Papa ngak bisa membela kamu, Vita. Kalau memang kamu mau memutuskan pertunangan ini, Papa ngak akan halangin kamu.”
Perkataan sang papa membuat Vita bernafas lega, setidaknya masih ada seorang ayah yang membela dirinya.
“Tapi, Papa ngak jamin kalau Guna mau menerima keputusan kamu, dan pastinya perusahaan Papa akan terancam bangkrut, Vit.”
Baru saja Vita tersenyum lega merasa dirinya berharga di mata sang papa, ternyata hanya sebuah kiasan untuk menutupi rasa takutnya kehilangan perusahaan.
“Kita bisa usaha dari nol lagi, Pah. Vita janji bakalan bantu keuangan keluarga kita kalau sampai Kak Guna macam-macam.”
Helen yang sedari tadi menguping di balik pintu, langsung melabrak kehadapan suami dan putrinya. “Enak saja kamu kalau bicara ngak pakai otak. Mau bantu ekonomi keluarga? Kamu itu jangan berkhayal jadi anak perempuan. Kerja saja belum udah sok-sokan mau menopang ekonomi keluarga. Apa bisa kamu menyanggupi pengeluaran sebulan di keluarga ini!”
“Mah, cukup. Jangan emosi.” Protes Harianto pada istrinya.
“Gimana ngak emosi sih, egois banget anak kamu itu kalau bicara. Ngorbanin seluruh keluarga demi kepentingan dia sendiri.”
Cukup sudah kesabaran Vita menghadapi sikap sang ibu. “Mah! Kak Guna itu berhubungan sama sekretarisnya. Trus, aku harus bisa nerima dia jadi suami? Mama tega lihat aku direndahkan? Aku ini anak Mama bukan sih!”
“Kamu bu-“
“Mah!” Bentak Harianto dengan kencang membuat Helen bungkam hampir saja keceplosan karena emosi.
“Kita keluar dari sini, biarkan Vita sendiri dulu.” Ucap Harianto sambil menarik paksa tangan istrinya keluar dari kamar.
Vita yang masih berdiri terpaku, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi barusan.
‘Apa maksud mama kalau aku memang bukan anaknya? Tadi mama mau bilang apa sih’”
Air mata Vita mengalir menebak apa maksud dari ucapan sang mama yang segera dihentikan papa-nya dengan bentakan tadi. Perasaan tidak nyaman bergejolak dalam hatinya menyangkali kalau pikirannya salah.
Harianto dan Helen di mata Vita merupakan pasangan yang romantis. Sayangnya keromantisan keduanya langsung berubah setiap kali kehadiran Vita diantara mereka. Terutama Helen, Vita sering kali merasa kalau Helen bukan ibu kandungnya karena selalu memarahinya. Terutama setiap kali Helen bertengkar dengan Harianto karena papa Vita ini sedang membelanya. Vita selalu menerima makian, tidak jarang dirinya dihukum tidak boleh makan siang sampai Harianto pulang ke rumah waktu Vita kecil dulu.
Dalam kesedihannya, Vita membuka sebuah aplikasi kitab suci. Jarinya menunjuk asal sebuah ayat alkitab dan ia membacanya.
Saudara-saudara yang terkasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembicara dan bersuka cita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. 1 Petrus 4:12-13.
Vita memejamkan kedua matanya melantunkan isi hatinya hanya kepada sang pencipta. ‘Tuhan, aku tidak tahu rencana apa yang sedang Engkau persiapkan untukku. Namun, aku percaya segala sesuatu yangd atang dari Engkau pasti terbaik untukku. Beri aku kekuatan untuk menghadapi ujian demi ujian ini. Terima kasih Bapa, Engkau tak pernah meninggalkanku. Amin.’