Tommy Sumitomo, seorang pria tampan berusia 29 tahun yang terlihat sempurna di mata perempuan yang memandangnya. Terkenal dengan keramahannya karena sering memberikan senyuman dibandingkan dengan para sahabat lainnya yang dikenal dengan julukan tiga sekawan itu. Mereka adalah Jonathan dan Revan, sahabat sejak SMA, tetap menjalin komunikasi walaupun ketiganya berpisah unutk menempuh pendidikan masing-masing dan berlanjut membuat sebuah perusahaan dengan inisial nama mereka bertiga. Perusahaan yang tadinya dianggap enteng oleh para kolega bisnis lainnya, kini menjadi sebuah perusahaan yang dianggap bergengsi bila ketiganya mau menanamkan modal di perusahaan lain karena nilai saham akan naik dan semakin menambah keuntungan bagi perusahaan lain.
Tommy juga memegang perusahaan keluarga Sumitomo di bawah naungannya. Perusahaan yang sudah didirikan oleh kakek buyutnya dan terus berkembang turun temurun. Dirinya adalah generasi ke-5 di dalam silsilah Sumitomo yang bergerak di bidang kontaktor besar. Tommy adalah lulusan arsitek terbaik lalu riset untuk tesis S2 nya menjadi yang terbaik di universitas Harvard angkatannya. Instingnya dalam bisnis sangat luar biasa, ditambah dengan sikap ramahnya menambah nilai sempurna sebagai incaran para gadis untuk menjadikannya seorang suami idaman.
Yang tidak diketahui di kalangan umum adalah cara Tommy berbisnis. Dirinya akan menjadi kejam dan menakutkan bila ada yang mengganggu ketenangannya dalam bisnis maupun masalah pribadi. Tiga sekawan dikenal sebagai Mafia CEO, yang tidak diketahui bahwa otak dibalik semua kekejaman bisnis untuk melawan para musuh mereka, semuanya berasal dari akal cerdik sekaligus licik seorang Tommy. Semua yang menatap sisi lain Tommy akan merasa terintimidasi tidak terkecuali dengan Viona tunangan Tommy.
Keduanya dijodohkan 2 tahun lalu untuk menyatukan 2 perusahaan. Viona tentu saja merasa bahagia menjadi seorang gadis yang menang telak karena mengalahkan gadis di luar sana yang ingin menjadi pemilik hati seorang Tommy. Namun tidak dengan Tommy. Dirinya tidak pernah melihat Viona sebagai gadis yang dapat membuka hatinya, malahan ia jijik setiap kali melihat penampilan Viona yang menjual lekuk tubuhnya memancing sisi kejantanannya untuk keluar dan memangsa tubuh Viona. Sayangnya jebakan Viona tidak pernah berhasil membuat Tommy tergiur kepadanya.
Di ruang kerjanya, Tommy masih memikirkan seseorang sambil membayangkan peristiwa saat itu bersama seorang gadis yang ditolongnya. Meskipun Tommy tak memiliki foto gadis itu, namun otaknya seperti mempunyai printer yang mencetak jelas wajah gadis tersebut.
‘Cantik walaupun tanpa polesan. Sebuah lukisan yang sempurna.’ Gumamnya membatin.
Seseorang mengetuk pintu ruangan pribadinya.
“Masuk!”
Seorang pria melangkah masuk, namanya Beno asisten kepercayaan Tommy.
“Kamu sudah mendapatkan apa yang saya perintahkan?”
“Sudah, Pak Tommy. Perusahaan Tandri Corp memang sedang mengalami kesulitan, sahamnya turun. Gosip mengenai pernikahan putrinya memang benar untuk mencegah perusahaannya mengalami kebangkrutan karena dalam pernikahan ini perusahaan Pak Gunawan akan berinvestasi di Tandri Corp setelah pernikahan terjadi.”
“Kamu sudah selidiki berapa nilai perusahaan Tandri Corp? Dan kalau kita mau mengambil alih, strategi yang kita bahas kemarin apa sudah mulai kamu jalankan?”
“Sudah, pak. Tinggal menunggu keputusan Pak Tommy saja kapan mau mengeksekusinya.”
“Orang kita sudah kamu masukkan di sana bukan? Juga kerja sama kita sudah masuk di Tandri Corp juga?”
“Betul, Pak. Semua berjalan sesuai rencana. Umpan sudah di tebar semua.”
“Good. Jangan gegabah. Tunggu perintah saya baru kita bergerak.”
Beno mengangguk kemudian meninggalkan ruangan bosnya.
Di PT Sumitomo, Tommy memang menjabat sebagai seorang CEO. Namun ia lebih senang bekerja langsung di bidang keahliannya yaitu arsitektur. Para karyawan memang mengenalnya sebagai pewaris Sumitomo, namun mereka heran mengapa Tommy menjabat sebagai manajer kontraktor di perusahaan mereka.
Saat sedang meneliti dan menghitung skema bangunan proyek terbaru perusahaannya, ponselnya bergetar. Tommy mengambil ponselnya dan menyalakan layarnya. Senyuman terbit dari bibirnya, ia mendapatkan sebuah informasi yang diharapkannya.
Dengan cepat memasukkan informasi tersbut ke dalam memori penyimpanan dalam ponselnya, memberikan sebuah nama, kemudian menekan lambang telepon hijau di layar tersebut. Setelah dering ke lima, akhirnya panggilannya dijawab juga.
“Halo, siapa ini?”
“Kamu lupa siapa aku?”
Di seberang sana, Vita seperti mengenali suara di telinganya.
“Loe?”
“Cowok yang sudah di tampar kamu setelah menolong kamu dari marabahaya.”
“Darimana tau nomor gua?”
“Kenapa? Ngak boleh? Kamu masih berhutang sama aku.”
“Hutang apaan!”
Mendengar suara Vita yang sedang kesal, Tommy tertawa kecil membayangkan wajah merengut Vita di ujung sana.
“Hutang karena menyelamatkan kamu dan karena kamu sudah menamparku. Jadi hutang kamu dobel.”
“Kok gitu? Artinya loe ngak ikhlas dong nolong gua.”
“Sangat ikhlas. Bahkan aku akan terus melindungi kamu setiap kali kamu dalam bahaya. Pegang kata-kata ku.”
“Ish, cowok aneh!”
Tommy melirik berkas yang diberikan Beno kepadanya mengenai informasi Vita.
“Bahkan aku bisa melindungi kamu dari tunangan kamu yang kurang ajar itu.”
“Loe! Loe psikopat yah, sampe nyari tahu urusan gua.”
“Bukan, aku hanya terlanjur ikut campur dalam urusan pribadi kamu sejak kita bertemu.”
“Loh, kita ketemu di kejadian tawuran di daerah itu memang sudah biasa, jangan sok deket seolah-olah udah kenal gua lama deh.”
“Kamu ngak berpikir kalau tawuran kemarin sebenarnya memang sengaja mengincar diri kamu?”
“Hais, lebay ah. Udah deh, bahaya gua ngomong sama orang asing kelamaan.”
“Oke, kamu bayar hutang kamu. Kita bertemu di kafe yang aku kirim ke HP kamu, kalau kamu ngak muncul, aku yang akan samperin kamu langsung. Kalau nomor kamu saja mudah aku dapatkan apalagi alamat kamu, Nona Vita Tandri.”
Di sebrang sana mata Vita melebar saat mendengar Tommy mengetahui nama belakang keluarganya.
“Loe tau dar-“
Belum selesai Vita bertanya, Tommy sudah menutup sambungan telepon mereka.
“Ish, ini orang serem amat sih.” Gerutu Vita di dalam kamarnya.
Hari ini Vita memang sedang tidak ada jadwal kuliah, ia sedang mengerjakan tugas yang diberikan dosen pembimbingnya untuk dikumpulkan besok.
Setelah 1 jam, akhirnya gambar sketsa ruangan yang diminta sang dosen sudah selesai oleh Vita. Pikirannya melayang kembali pada pesan dari laki-laki yang pernah menolongnya. Bodohnya mereka sudah bertemu dua kali, tapi Vita masih belum mengetahui siapa namanya. Memeriksa profil nomor pria tersebut, hanya tertera nama Tommy di sana.
Di dalam ruangannya Tommy mendesahkan tawa bahagia. Pertama kalinya ia menghubungi Vita dan berhasil menggodanya. Membayangkan pertemuan mereka hari ini karena kelicikannya meminta upah atas perbuatan baiknya hari itu.
Ponsel Tommy bergetar kembali, terlihat nama sang mama di layar. Garis lengkung dibibirnya seketika mendatar kembali. Dengan malas ia mengangkatnya.
“Iyah, Mam.”
“Kata Viona kamu tidak angkat panggilan dari dia atau jawab pesannya.”
“Aku sibuk. Mama tahu kan sekarang aku sedang merintis perusahaanku sendiri. Kalau dia cuma minta aku temani belanja, mendingan sama Mama aja. Aku ngak sempat unutk hal semacam itu.”
“Oke, kalau memang alasan kamu sibuk, berarti nemanin kamu makan siang bisa kan. Hari ini Viona datang ke kantor katanya mau bawa bekal makan siang buat kamu, spesial dia masak sendiri.”
Terdengar suara tawa meledek Tommy.
“Kok kamu begitu tanggapannya. Dia susah payah loh buatin kamu makan siang.”
“Mama yakin Viona yang buat pakai tangannya sendiri? Kukunya kegores dikit aja udah kayak mau kiamat teriaknya.”
“Udah deh, Tom. Hargai niatnya Viona saja, biar kalian juga makin mengenal. Sudah 2 tahun pertunangan kalian, tapi ngak seharipun kamu punya niatan ngajak Viona liburan gitu ke mana.”
Benar saja, telepon di meja Tommy berbunyi, dari sekretaris memberitahu kalau Viona sudah datang. Tommy menyuruhnya masuk.
“Oke, Mam. Orangnya sudah datang tuh. Aku tutup dulu yah. Bye, Mam.”
Viona masuk ke dalam ruangan Tommy, melangkah melenggokkan tubuhnya untuk menarik perhatian Tommy.
“Hai, Sayang. Aku kemari bawain makan siang buat kamu nih.”
Tommy berdiri dari meja kerjanya dan berjalan menuju sofa tempatnya biasa menerima tamu ataupun memeriksa sketsa, memberikan senyuman palsu miliknya yang bodohnya tidak disadari Viona.
“Halo. Kamu yang masak?”
“Ehm, iyah. Aku yang masak sendiri. Tuh sampai kuku aku jadi jelek.” Sembari menunjukkan deretan jarinya yang sangat terlihat baru saja di rawat.
Tommy masih duduk memperhatikan kotak bekal yang hanya diletakkan Viona di meja tanpa berniat membuka dan menyediakannya kepada dirinya. Dalam hati menertawakan kelakuan wanita yang berstatus sebagai tunangannya ini.
“Kamu katanya mau ngajakin aku makan siang bukan?” Sindir Tommy ingin melihat kesadaran Viona.
“Sudah aku bawain kan? Tinggal kamu buka trus makan.”
Tommy menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Kamu pernah makan bersama papa dan mama di rumah sendiri? Sering lihat apa yang mama kamu lakukan kalau berada di meja makan? Atau jangan-jangan ternyata di keluarga kamu seorang istri tidak pernah melayani suaminya?”
Viona memajukan tubuhnya bereaksi, terlihat raut wajahnya menampilkan kekesalan karena ucapan pedas Tommy. Kemudian denga cepat mengembalikan netra wajahnya dengan senyuman.
“Oh iyah, maaf yah. Aku kira kamu besar di luar negri, jadi sukanya self service.” Lalu Viona membuka tas bekal dan berat hati mengeluarkan isinya.
“Kita orang Indonesia, selama apapun di negri orang tidak boleh melupakan budaya sendiri. Seharusnya orang berpendidikan seperti kamu itu paham tentang budaya, adat dan kebiasaan dalam keluarga. Bahkan dalam ajaran agama pun ada tertulis, ‘Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.’ Juga para suami agar mengasihi isterinya.”
Tommy dapat melihat raut wajah Viona sedang menahan kekesalannya karena diceramahi oleh dirinya.
“Iyah, Pak pendeta. Ini udah aku tata di meja semuanya. Ayo di makan.”
Tommy tertawa kembali, kali ini Viona dibuat tidak mengerti dengan sikapnya. “Kenapa lagi?”
“Ini semua udah kamu sajikan, terus aku makannya pakai tangan atau daun? Harusnya kamu bisa pikirkan itu semua waktu punya rencana bawain aku makan siang. Atau jangan-jangan kamu terpaksa saja biar terlihat kamu perhatian gitu.” Setelah melontarkan perkataan pedasnya, Tommy beranjak dan menghubungi bagian pantry untuk membawakan dua set piring dan sendok garpu.
Wajah Viona terlihat cemberut kesal, bukannya dihargai usahanya membawakan makan siang malahan selalu dicibir dan diprotes. Namun Viona sendiri membenarkan perkataan Tommy dalam hatinya.
“Ayo kita makan bareng. Kamu juga harus cicipin masakan kamu sendiri.”
“Aku ngak mau makan banyak. Kamu saja yang makan.” Sanggah Viona.
“Kalau kamu ngak mau temani aku makan, aku ngak mau makan kalau gitu.” Ancam Tommy.
Dengan berat hati Viona mengambil sendok dan mengambil nasi serta lauk yang dibuatnya sendiri dengan was-was.
Tommy membuka mulutnya mencicipi masakan Viona, begitu juga sebaliknya. Sedetik kemudian keduanya menyemburkan makanan dari mulut mereka.
“Masakan apaan ini!”