Bab 9. Sikap Asli Guna

1670 Words
Ponsel Vita bergetar, tertera nama Kak Guna di layar. Dirinya masih malas meladeni tunangannya tersebut, balasan terakhir yang Vita jawab adalah bahwa ia memutuskan pertunangannya dengan Guna. Tentu saja hal ini membuat Guna murka, merasa harga dirinya dilukai karena Vita lebih dulu memutuskan pertunangan mereka. Tommy yang mengantar Vita pulang setelah membagikan makanan kepada anak-anak jalanan, menoleh dan melihat dengusan kasar Vita. “Kalau mau menyelesaikan sesuatu itu jangan di tunda. Semakin kamu menghindar akan semakin lama selesai masalah kamu.” “Masalahnya aku itu selalu kalah kalau berdebat sama Kak Guna. Aku ngak pinter berdebat sama orang lain.” Pengakuan Vita begitu ironi di telinga Tommy, ia tertawa kecil menanggapinya. “Tapi debat sama aku pinter banget yah.” “Itu karena kamu nyebelin.” Vita meminta Tommy mengantarnya tidak sampai depan rumah karena tidak ingin menambah masalah dengan kedua orangtuanya. Tommy yang awalnya tidak suka dengan ide Vita, akhirnya mengalah dan menuruti kemauan Vita. “Makasih yah, sudah mau ketemu sama aku.” Ungkap Tommy sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipit di pipi kirinya. “Sama-sama. Artinya aku ngak punya hutang sama kamu lagi yah.” “Masih ada satu kali lagi. Nanti aku pikirin kapan kamu bayarnya.” “Dasar lintah darat.” Tommy terkekeh geli melihat wajah protes Vita. Sesampainya di rumah, kedua orang tua Vita sedang duduk di ruang tamu ditemani Ronald. Tentu saja Vita sangat tahu gelagat kedua orangtuanya kalau sampai menunggunya pulang seperti ini. “Kamu dari mana saja? Jam segini baru pulang.” Vita menatap jam tangan dipergelangannya. “Baru jam 9 malam, Mam. Masih normal bukan buat seusia aku.” “Kamu ini kenapa sih! Tadi Guna datang kemari nungguin kamu. Dia sudah menjelaskan kalau yang kamu lihat itu cuma salah paham. Kamu tidak mau mendengarkan penjelasan Guna tapi main mutusin pertunangan saja. Jangan bikin malu keluarga kita, Vita!” Gerutu Helen memarahi putrinya. “Mah, Kak Vita baru pulang, jangan dimarahin gitu. Aku juga ngak suka sama sikap Kak Guna tadi. Ngak gentle jadi cowok. Harusnya ini masalah hubungan mereka berdua, ngak perlu pakai ngadu kemari dan jelek-jelekkin tunangannya sendiri di depan orang tuanya. Kalau sikap dia begitu kasihan Kak Vita nanti ngak ada yang melindungi dia.” Protes Ronald. “Diam kamu, Ronald! Jangan ikut campur.” “Aku pasti ikut campur kalau kakak aku disakiti. Kenapa Mama lebih percaya sama Kak Guna dibanding Kak Vita yang anak Mama sendiri.” Harianto masih duduk diam mendengarkan perdebatan istri dan putranya. Dalam hatinya ia pun setuju dengan pendapat Ronald, namun di sisi lain dirinya mengerti dengan sikap egois sang istri. Tidak ingin memperpanjang perdebatan di hadapannya, dengan cepat Vita memotong. “Nanti aku hubungi Kak Guna untuk membahas masalah pertunangan kita. Intinya aku ngak mau jadi istri Kak Guna. Papa pasti sudah cerita ke Mama alasan aku, dan aku harap Mama mendukung aku yang adalah anak Mama sendiri.” “kamu!” Mata Vita menatap lurus memandang bola mata sang mama. “Aku anak Mama kan? Atau jangan-jangan aku cuma anak pungut makanya Mama tega lebih membela Kak Guna yang jelas-jelas seorang laki-laki brengsek.” “Vita!” Teriak Helen geram. Vita berjalan masuk tidak menghiraukan lagi teriakan Helen padanya. Sampai di dalam kamar, Vita duduk tersungkur di atas lantai, di balik pintu kamarnya sambil mengusap air mata yang sudah membasahi kedua pipinya. Ketukan pintu terdengar, kemudian terdengar suara adiknya memanggil. “Kak?” Vita tahu hanya Ronald yang selalu mengkhawatirkan dirinya setiap kali pertengkaran terjadi seperti ini. Hanya saja rasa tidak percaya diri Vita pada keluarganya membuatnya menjaga jarak kepada Ronald. “Aku ngakpapa kok, Nal.” “Kalau Mama sama Papa ngak dukung Kakak, masih ada aku di sini yang akan selalu berada di pihak Kak Vita.” Vita mengusap air matanya, merasa haru setidaknya masih ada seorang adik dalam rumah ini yang mengasihinya dengan tulus. “Iyah, Nal. Gua tahu kok. Thanks yah. Gua mau mandi trus langsung tidur.” Setelah mandi, Vita merebahkan dirinya di atas kasur sambil memeriksa pesan yang masuk di ponselnya. Kak Guna: “Besok kamu datang ke kantorku. Kita harus bicara. Aku tidak suka cara kamu menghindar seperti ini.” “Oke. Besok kita ketemu tapi di depan kampus saja, aku selesai jam 3 besok buat ngumpulin hard copy skripsi.” Lalu melihat isi chat di grup yang beranggotakan dirinya, Diana, Nadia, Luna dan Jeremy. Diana: “Vit, besok kata Dia kita nginep di rumahnya jadi kita berangkat bareng. Luna berangkat sendiri katanya.” Vita: “Oke, Di. Gua udah packing, ngak sabaran kita liburan. Butek gua sama urusan Kak Guna.” Jeremy: “Dituntasin lah, Vit. Biar cepet beres.” Nadia: “Mau ditemenin ngak, Vit?” Vita: “Ngak usah lah, gua masih bisa ngadepin dia sendiri kok. Thanks anyway, cuma kalian yang merhatiin gua selama ini. Bonyok gua malah balik marahin gua, aneh banget deh kelakuan mereka tuh.” Jeremy: Lambang hati. Diana: Lambang cium. Nadia: Stiker memeluk. Luna: Lambang semangat. Vita tersenyum senang mendapatkan perhatian dari sahabatnya, tidak sabar untuk menikmati liburan dengan mereka lusa. Ponsel Vita bergetar, ia sengaja merubah menjadi mode getar setiap malam. Tertera di layar dengan kontak nama cowok aneh. “Halo.” “Aku sudah sampai di rumah dengan selamat yah.” Dahi Vita mengerut. “Siapa juga yang nanyain?” Tiba-tiba Vita teringat dengan rencana pertemuannya besok dengan Guna. Sebenarnya ia ingin memberitahu Tommy namun diurungkannya. “Besok aku ada tugas ke luar kota. Jadi jangan marah kalau pesan kamu ngak aku balas.” Isi pesan Tommy membuat Vita tertawa geli merasa tingkat percaya diri laki-laki ini begitu tinggi, namun Vita merasa kehadirannya dibutuhkan oleh seseorang dengan sikap Tommy. “Bodo amat. Aku juga lusa berangkat liburan ke Jepang sama teman-teman. Ngak ada waktu mikirin yang ngak penting.” “Oh, berarti aku ikut dalam pikiran kamu yah meskipun ngak penting. Bahagianya.. Selamat berlibur yah.” Diikuti dengan lambang tawa menyeringai. *** Sesuai permintaan Vita, Guna menunggunya di area parkiran terbuka kampus. Terdapat taman dengan beberapa tempat duduk yang berjauhan tidak jauh dari area parkiran. Vita sudah duduk berdampingan dengan Guna, sengaja memberi jarak duduknya. “Kamu ke kantor kenapa ngak bilang dulu sama aku?” “Kenapa? Supaya kelakuan kamu ngak ketahuan sama aku?” “Yang kamu dengar itu bohong, Vit.” “Oh, jadi kegiatan panas yang remas-remas di atas meja kantor itu bohongan, trus yang katanya mau lanjut di kamar mandi juga bohongan?” Wajah Guna terkejut ternyata Vita masuk ke dalam ruangannya dan mendengarkan semua kegiatan panasnya bersama sekretaris pribadinya hari itu. Guna pikir Vita hanya datang dan mendengar dari pintu saja. “Kalau saja kamu bersedia melakukan hal itu sama aku, tentu saja aku ngak akan cari pelampiasan di luar, Vit.” Bela Guna masih tidak mengakui kesalahannya. “Kamu sendiri juga selingkuh dibelakang aku. Jadi jangan pura-pura jadi korban.” “Siapa yang selingkuh!” “Siapa laki-laki yang jawab panggilan telepon aku pakai ngancam jangan ganggu kamu. Pasti pacar baru di kampus kamu kan.” Vita teringat kembali kejadian dirinya menangis di ruangan Pak William dan dosen menyebalkan itu yang menjawab panggilan tersebut. “Dia bukan selingkuhan. Tapi lebih baik daripada kamu yang ngak pernah ada buat aku selama ini.” Guna mendengus menyeringai, tatapannya pada Vita sungguh membuat Vita tidak nyaman. “Jangan sok polos kamu. Aku yakin kamu sudah berpengalaman melayani laki-laki di kampus bukan, terutama sama dosen kamu itu bukan? Pastinya kamu memberikan sesuatu yang membuat dosen kamu dengan mudahnya menyetujui skripsi kamu, apalagi imbalannya kalau bukan tubuh kamu ini.” PLAK Tamparan keras mengenai pipi Guna, air mata Vita mengalir bukan karena sedih tapi marah mendengarkan ucapan Guna yang terlalu merendahkan dirinya. “Kamu berani nampar aku? Bahkan aku bisa membeli 10 gadis seperti kamu untuk bertekuk lutut meminta untuk aku nikahi.” “Tapi bukan aku perempuan itu, aku perempuan baik-baik yang menjaga kesucian hanya untuk suamiku nanti. Dan tamparan itu memang pantas buat kamu. Kita putus sampai di sini, jangan ganggu aku lagi.” Vita berdiri berniat menyudahi percakapan yang membuat darahnya mendidih. Guna ikut berdiri merasa belum puas meluapkan emosinya pada Vita. “Buktikan kalau kamu perempuan baik-baik. Cium aku sekarang. Hitung-hitung sebagai latihan pemanasan awal sebagai calon istriku. Soal yang terjadi di kantor anggap saja aku sedang mengajari kamu bagaimana menyenangkan diriku sebagai suami kamu nanti.” “Kamu laki-laki gila!” Guna mendekap kencang pergelangan tangan Vita sampai gadis itu meringis menahan sakit. “Aku memang gila karena sudah menahan kesabaranku membiarkan kamu bersikap semaunya selama jadi tunanganku. Hari ini jangan panggil aku Gunawan kalau kamu tidak berhasil aku taklukkan.” Tangan Guna memegang pinggang Vita, mendekatkan tubuh Vita padanya. Kepalanya mendekati Vita berniat mencium bibir Vita. Dengan cepat Vita memundurkan kepalanya menghindari serangan Guna, berharap. “Lepas! Tolong!” Seringai tawa guna semakin menjijikan bagi Vita. “Salah kamu janjian di kampus sore gini. Sepi dan rasanya nidurin kamu di sini juga aman, Sayang.” Air mata Vita mengalir, jantungnya berdegub penuh ketakutan saat ini. Kilatan mata Guna mengabut menatap tubuhnya seperti sebuah mangsa. Susah payah Vita memberontak melepaskan diri dari dekapan Guna. “Lepasin aku!” “Diam! Kamu harus diajari bagaimana caranya menghormati calon suami kamu!” Kemudian Guna menyeret Vita agar ikut ke dalam mobil. ‘Yah Tuhan, aku takut. Tolong aku, Bapa’ Vita berusaha memberontak dan memberatkan langkahnya menyulitkan Guna. Namun bagaimanapun kerasnya usaha Vita, tenaga Guna jauh lebih besar hingga Vita terseret mendekati mobil. “Aku ngak mau ikut. Lepasin!!” Tubuh Vita didorong dengan kasar oleh Guna hingga mengenai mobil. Kedua tangannya tidak dapat bergerak terikat oleh dekapan kedua tangan Guna. “Jadi kamu maunya aku ngajarin kamu di sini, Hah! Oke kalau gitu, kalau itu mau kamu. Pengalaman pertama di dalam mobil juga bagus kok. Hahahaha.” Tawa Guna benar-benar menjijikkan sekali. Kali ini sasaran Guna bukan lagi bibir Vita, namun bibirnya sudah menempel di leher Vita. Dalam keputusasaannya, Vita terus berdoa walaupun merasa nasibnya malam ini harus menyerah di tangan Guna. Tiba-tiba tubuh Guna ditarik kasar dan pipinya merasakan sebuah pukulan kencang sampai dirinya tersungkur ke tanah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD