Hanya butuh waktu 10 menit, Aiko dan Leo sudah sampai di pantai pasir putih. Bahkan pantai yang terlihat lebih private ini diberi tahu letaknya oleh Aiko. “Kok kamu bisa tahu tempat ini, Ai?” “Ehm, dulu pernah di ajak sama sepupu aku.” “Siapa sepupu kamu itu? Sepertinya aku pernah mendengar namanya. Pasti dia konglomerat yah, bisa punya rumah di daerah dewa kayak gini.” Andai saja Leo tahu kalau tadi Aiko menyebut nama papa-nya saat memasuki kawasan rumah dipinggir pantai kepunyaan Hiro. Mungkin laki-laki itu akan jatuh pingsan. Leo masih terus menautkan tangannya dengan tangan Aiko. Hatinya tengah membuncah kesenangan, pikirnya apakah waktunya tepat baginya untuk menyatakan perasaannya pada Aiko. Ataukah ia harus menunggu sebentar lagi untuk memastikan Aiko nyaman berada di dekatnya?

