Bab. 12 Asa yang tiada tujuan

2006 Words
Melvin menghampiri Regi, dia tidak menyangka jika melihat calon mertuanya pingsan di apartemen miliknya. Melvin tidak tahu jika mertuanya datang secepat ini. "Ada apa ini?" tanya Melvin yang membuat semuanya diam. "Dia memaksa masuk ke dalam, padahal jelas-jelas dia tidak memiliki unit di sini." Satpam menjelaskan apa yang memang sebenarnya terjadi, keamanan di apartemen ini sangat terjamin tetapi dalam kondisi seperti ini sangat merugikan karena mereka tidak tahu siapa yang mereka usir. "Dia calon mertua saya," ucap Melvin dengan dingin. Mereka mematung, tidak menyangka jika pemilik apartemen ini memiliki mertua yang lusuh dan bahkan tidak pantas jika menjadi cleaning service di apartemen ini. "Maafkan kami, kami tidak tahu apapun. Kami hanya menjalankan perintah," ucap Satpam tersebut. "Untuk saat ini dia akan tinggal di sini, hormati dia layaknya kalian mengormati saya." Melvin berpesan seperti itu dan mereka langsung mengangguk. Mereka segera membawa Prasasti ke rumah sakit, Melvin tidak akan memberitahu hal ini pada Azura, dia tidak ingin anak yang ada di dalam kandungan Azura terganggu karena kabar yang kurang mengenakkan seperti ini. "Jangan katakan apapun pada Nenek atau Azura," ucap Melvin pada Regi. Regi mengangguk, dia tidak akan berani membantah atasannya karena dia takut di pecat jika dia tidak mengikuti apa yang Melvin katakan. "Tubuhnya babak belur, entah apa yang terjadi pada dirinya hingga mengalami hal yang tidak menyenangkan seperti ini." batin Melvin rasanya menangis melihat tubuh mertuanya seperti ini. Regi tidak pernah melihat Melvin perhatian kepada orang lain, baru kali ini dia melihat Melvin yang begitu mementingkan ibu Azura yang bahkan baru di kenalnya. "Kenapa?" tanya Melvin. "Tak apa," ucap Regi. "Tidak ada yang memfoto kejadian ini kan?" tanya Melvin. Dia tidak ingin nilai propertinya turun karena ada kasus seperti ini, walaupun Melvin memiliki hati tetapi masalah bisnis dia harus tetap waspada. Melvin tidak ingin segalanya dimanfaatkan oleh pesaing untuk mencari celah kesalahannya. "Tidak ada, semua aman. Aku meminta pihak keamanan untuk membersihkan semuanya, terkait orang yang ada di sana," ujar Regi. Melvin mengangguk, dia tidak ingin muncul berita keesokan harinya. Masalah pernikahan yang akan berlangsung biarlah menjadi rahasia, semua akan tahu pada waktunya. *** Azura merasa lemas, hari ini dia mengalami mual yang lebih parah dari sebelumnya. Azura tidak mengerti kenapa dia menjadi manja setelah bertemu dengan Melvin, sebelumnya dia hanya merasa pusing tanpa melalui fase mual parah seperti hari ini. "Apakah kamu sudah mendingan?" tanya Adira pada Azura. "Kepalaku masih pusing Nek, segala hal yang aku makan selalu kembali." Azura sangat lemas dan bahkan seharian tidak bisa pergi kemana-mana. Adira bahkan membatalkan pertemuan dan berganti jadwal agar dia bisa menemani Azura yang mengalami hal seperti ini. Azura sudah meminta Adira untuk bekerja, dia tidak ingin menganggu kegiatan Adira yang sangat padat. Tetapi Adira tidak enak hati meninggal Azura yang dalam kondisi seperti ini. "Panggilkan dokter," Adira meminta orang kepercayaan nya untuk menelpon dokter keluarga Abraham. "Baik Bu," ucapnya. Adira segera menelpon Melvin, memintanya untuk segera pulang. Adira ingin Melvin melihat kondisi Azura yang semakin lemah untuk saat ini, Adira takut jika hal ini merupakan efek dari kekerasan yang Linda lakukan pada Azura ketika dia pulang kampung kemarin. Adira meminta semua orang keluar dari sini kecuali Ida, pelayan Azura. "Periksa semuanya, apakah lukanya masih lebam?" tanya Adira. Ida memeriksa semuanya, semua luka di tubuh Azura yang masih membiru karena terlalu kerasnya. Adira terkejut, bagaimana bisa Azura menahan rasa sakit ini? tidak hanya di lengan tetapi perutnya mengalami benturan. Adira tidak akan tinggal diam, dia akan memberikan pelajaran bagi Linda yang sudah melakukan hal keji seperti ini. "Apakah bayinya tidak apa Bu?" tanya Ida pada Adira. "Luka lebam di perutnya terlihat jelas, tunggu dokter datang setelah itu kita ke rumah sakit hari ini. Siapkan barang Azura, untuk jaga-jaga dia harus rawat inap." Adira segera keluar dari kamar dan menelpon Melvin agar segera pulang. Sudah pukul lima sore tetapi cucunya belum pulang, dia hanya ingin Melvin tahu bahwa kondisi Azura sedang tidak baik. Adira takut jika terjadi sesuatu pada anak yang ada di dalam kandungan Azura. "Segera pulang sekarang, Anakmu dalam bahaya." Kalimat terakhir yang Adira katakan sebelum dia menutup telponnya, Adira merasa pusing dan kini amarah menguasai dirinya. Linda tidak tahu siapa yang dia hadapi, bahkan calon penerus perusahaan terbesar ini di perlakukan dengan tidak manusiawi. *** Melvin segera pulang setelah mendengar telpon dari neneknya, Melvin meminta Regi untuk menjaga Prasasti sebentar sebelum dia di bawa pulang ke rumah keluarga Abraham. "Tolong jaga sebentar, aku ingin melihat kondisi Azura." Melvin pamit pada Regi dan dia langsung pergi saat itu juga. Regi merasa bahwa sikap Melvin perlahan berubah, Regi rasa sedikit demi sedikit perasaan yang Melvin miliki untuk Amel akan terbagi pada Azura. "Aku rasa kamu akan jatuh hati padanya," batin Regi setelah kepergian Melvin. Disisi lain, kini Melvin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi pada dirinya, dia tidak ingin sesuatu terjadi pada anaknya terlebih neneknya mengatakan bahwa Anak yang Azura kandung dalam bahaya. Melvin merasa bodoh, meninggalkan Azura terlalu lama. Tetapi dia tidak pernah menyangka jika kejadian ini terjadi padanya, baik Azura dan ibunya mengalami hal yang sama. Azura sampai rumah pukul setengah enam, dia segera menuju kamar Azura dan melihat kondisinya. "Harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh, benturan itu sepertinya sangat keras hingga meninggalkan luka seperti ini. Takutnya hal itu mengganggu perkembangan janin yang ada di dalam perutnya," ucap Dokter. "Kami akan membawanya ke rumah sakit sekarang, Dokter langsung kesana juga kan?" tanya Adira. "Saya akan ke sana sekarang juga untuk mempersiapkan pemeriksaan lebih lanjut," ucap Dokter lalu pamit. Melvin melihat kondisi Azura yang lemah, dia mendekati neneknya dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi saat ini. "Apa yang terjadi, Nek?" tanya Melvin. "Ada benturan di dekat perut Azura, aku takut jika hal itu mempengaruhi perkembangan calon anakmu. Kondisi Azura bahkan semakin lemas, dia demam saat ini." Adira terlihat sedih mengatakan hal ini. "Ayo ke rumah sakit sekarang. Nek," ucap Melvin yang segera menggendong Azura. Sudah berkali-kali dia melakukan hal ini, Melvin tidak pernah menyesal telah memperlakukan Azura dengan baik. Bagi Melvin, jika dia memperlakukan Azura dengan baik maka dia sama saja memperlakukan calon anaknya dengan baik pula, saat ini anaknya berada di dalam perut Azura, hal yang harus dia lakukan adalah menjaga Azura agar anaknya tidak mengalami bahaya. "Nenek akan naik mobil di belakang, Ida kau duduk di depan membawa barang Azura." Perintah Adira pada pelayan Azura. "Baik Bu," ucap Ida langsung berjalan cepat menyusul Melvin yang sudah terlebih dahulu berjalan ke depan. Adira tidak akan tinggal diam di rumah, kali ini kondisi calon cicitnya dalam bahaya. Dia tidak mau jika Azura keguguran karena Adira sudah terlanjur sayang dengan calon cicit yang bahkan belum lahir di dunia ini. Azura tersenyum tipis, anaknya belum lahir di dunia ini tetapi rasa sayang ayahnya sangat besar padanya. Kelak jika dia tidak bisa bertahan, Azura setidaknya merasa lebih tenang karena anaknya akan di perlakukan dengan sangat baik oleh ayah dan neneknya. "Terima kasih," ucap Azura yang kini memejamkan matanya di pelukan Melvin. "Jangan tidur, please." Melvin memiliki pengalaman buruk dengan hal ini. Terakhir kali, ibunya meninggal di pelukannya. Dia masih kecil tetapi mampu menopang ibunya yang dalam kondisi kritis, dia bersama ibunya di mobil menuju rumah sakit. Melvin mengingatnya dengan jelas, ibunya memejamkan matanya dan meninggalkan dirinya untuk selamanya. "Aku lelah," ucap Azura. "Buka matamu," ucap Melvin memohon. Azura tidak tahu apa yang Melvin takutkan, tetapi dia mengikuti apa yang Melvin inginkan. Azura mengeratkan pelukannya dan kini kepalanya tepat di lekukan leher Melvin yang hangat, Azura merasa nyaman di pelukan Melvin. "Terima kasih," ucap Azura. "Jangan mengatakan hal yang membuatku takut," ujar Melvin pada Azura. Azura tidak lagi menjawab Melvin, dia tidak sadarkan diri ketika rasa pening di kepalanya tidak bisa dia kendalikan lagi. Dia terlalu lemah untuk tetap sadarkan diri dalam kondisi seperti ini. "Azura," panggil Melvin. Tidak ada jawaban, nafas Azura terasa sangat lemah di leher Melvin. Dia takut jika Azura akan meninggalkan dirinya, entah apa yang terjadi pada Melvin, tetapi dia tidak ingin kehilangan Azura walaupun dia baru mengenalnya. "Lebih cepat!" *** Prasasti mulai membuka matanya, dia melihat lelaki yang dia kenal tetapi dia tidak tahu siapa namanya. "Ibu tidur saja, " ucap Regi. "Anda siapa?" tanya Prasasti. "Saya asisten, Pak Melvin. Saat ini saya yang akan menjaga anda, Pak Melvin sedang pulang sebentar karena ada urusan yang mendesak." Regi mengatakan hal itu karena tidak ingin membuat Prasasti curiga. Sampai saat ini pun Regi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah, dia hanya tahu bahwa kondisi Azura sedang tidak baik, Regi tidak mungkin mengatakan jika Azura sakit pada Prasasti karena hal itu hanya akan menambah beban pada pikiran Sasti. "Dokter mengatakan jika anda demam, semua ini akibat dari banyaknya luka yang anda dapatkan." Regi menjelaskan apa yang dia ketahui. "Aku ingin pulang dan bertemu Azura," ucap prasasti. "Iya, tunggu sampai kondisi ibu lebih baik. Pak Melvin akan segera datang dan mengajak anda pulang ke rumahnya," ujar Regi. Suster datang membawakan makan malam, Regi meminta Prasasti menghabiskan makanannya agar dia bisa segera pulang dan lebih baik kondisinya. "Baik," ucap Prasasti yang tidak ingin menyusahkan Regi yang sudah mau menjaganya. "Saya ijin ke kantin sebentar ya," ucap Regi karena dia lapar ingin membeli camilan. "Iya," ujar prasasti. Regi lalu keluar dari rung rawat inap, dia menuju ke kantin karena perutnya sudah tidak bisa diajak kerjasama lagi. Ketika dia mulai makan, ponselnya berbunyi. Melvin menelponnya, dia langsung mengangkat karena tidak ingin membuat Melvin menunggu terlalu lama. "Apa? di ruang mana?" tanya Regi. "Sebelah ruang ibunya," ucap Melvin. "Ya, aku segera ke sana. Aku sedang makan di kantin," ucap Regi. "Ya sudah, santai saja. Aku akan menjaganya sekalian," ujar Melvin tidak ingin Regi terburu-buru ketika makan. Walaupun bos nya kejam tetapi dia tidak pernah mengganggu Regi ketika makan, dia selalu meminta Regi melanjutkan makannya. "Apakah kondisi Azura memburuk?" tanya Regi pada dirinya sendiri. Regi lalu segera menyelesaikan makannya, dia tidak ingin Melvin menunggu lama. Terlebih kini bos nya sedang bingung karena kondisi calon istrinya yang kurang stabil. *** Melvin merasa tenang setelah pemeriksaan yang dilakukan pada Azura, kondisi janin di perut Azura baik. Tidak ada hal fatal yang bisa mengakibatkan keguguran. "Selain rasa sakit, benturan yang keras dapat menyebabkan perut Anda memar. Hal tersebut menandakan pecahnya pembuluh darah di bawah jaringan kulit akibat benturan yang terjadi. Alhasil, warna kulit perut pun menjadi biru keunguan. Kondisi ini dapat memudar seiring waktu." Ucapan dokter terus terngiang di otak Melvin, untuk saat ini memang tidak ada masalah pada janin yang ada di perut Azura, tetapi jika hal ini kembali terulang bisa saja Azura mengalami keguguran. "Aku tidak akan mengijinkan Azura pulang ke rumah itu," ucap Adira. "Aku juga tidak akan mengijinkan hal itu terjadi, Nek." Melvin menghela nafasnya dengan perlahan. Kejadian ini mengingatkan dirinya agar lebih berhati-hati dalam menjaga Azura, pernikahan mereka sebentar lagi akan berlangsung. Melvin tidak ingin semuanya kacau karena datangnya pengganggu yang membuat suasana menjadi riuh. "Biarkan Azura di rawat dua hari, dia terlalu lemas karena tidak ada asupan makanan yang masuk ke tubuhnya. Seharian ini dia terus mual setelah makanan masuk ke perutnya," ucap Adira. "Empek-empek yang dia inginkan apakah keluar juga?" tanya Melvin. "Iya, semuanya. Tidak ada yang bertahan lama di perutnya, Nenek bahkan membatalkan pertemuan karena tidak tega melihat Azura." Adira memang berhati lembut kepada orang yang dia sayangi. Bagi Adira, Azura sudah menjadi anggota keluarganya dan dia tidak akan membiarkan Azura mengalami semua masa berat ini sendiri, dia akan membantu Azura karena kini calon penerus keluarga Abraham ada di perutnya. "Nek, apa aku harus cuti? sebentar lagi pernikahan dilangsungkan tetapi kondisi Azura seperti ini." Melvin meminta pertimbangan pada neneknya. "Lebih baik kamu cuti, apakah ada hal penting lain yang harus kamu urus dalam Minggu ini?" tanya Adira. "Mungkin akan aku majukan besok, agar aku bisa fokus pada pernikahan. Walaupun pesta sederhana setidaknya harus dengan perencanaan yang matang," ucap Melvin. "Nenek setuju akan hal itu," ujar Adira pada Melvin. Melvin akan meminta Regi mengatur ulang jadwal, memang segalanya di atur ulang secara mendadak tetapi inilah yang terbaik untuk dirinya. "Asa yang dia harapkan menjadi titik akhir pelabuhan hidupnya, kini berubah menjadi asa yang tiada tujuan. Melvin hanya mengikuti alur ,begitupun Azura. Mereka adalah korban yang menjadi satu akibat keserakahan seseorang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD