Bab. 13 Notifikasi kedatangan Amel

2013 Words
Azura membuka matanya dengan perlahan, sinar lampu yang terlalu terang serasa menusuk netra Azura untuk tetap menstabilkan pandangannya. "Mau minum?" satu ucapan Melvin yang terdengar di telinga Azura, ketika dia bangun dari tidurnya. "Hem," ucap Azura. Melvin membantu Azura untuk minum, dia tidak akan memberitahu Azura mengenai kondisi Prasasti yang sama-sama berada di ruang rawat rumah sakit ini. "Ini sudah malam, Nenek tidak pulang?" tanya Azura pada Adira yang masih duduk di samping Melvin. "Aku menunggumu bangun, kondisimu sudah membaik?" tanya Adira. "Aku sudah lebih baik dari sebelumnya Nek," ucap Azura. "Ya sudah kalau begitu, Nenek pulang dulu ya?" pamit Adira pada Azura dan Melvin. Melvin mengantar Adira keluar dari ruang rawat ini, dia ingin mengatakan suatu hal tentang kondisi Prasasti yang dia temukan sore tadi. "Nek," ucap Melvin mencekal tangan Adira. "Ada apa?" tanya Adira. Melvin lalu menggandeng neneknya masuk ke dalam ruang rawat tepat di sebelah ruang rawat Azura, Adira sedikit terkejut karena ada ibu dari Azura disini. "Sampai sini jam berapa?" tanya Adira yang langsung menghampiri Prasasti. Prasasti terlihat senyum, dia bingung akan mengatakan apa. Dia bahkan tidak ingat apapun setelah kedatangannya di apartemen mendapatkan penolakan dari keamanan. "Nek, Ibu Azura tadi pingsan. Melvin dan Regi membawanya kesini," ucap Melvin menjelaskan. "Sebenarnya, Azura sedang di rawat di rumah sakit ini." Adira mengatakan hal itu pada Prasasti. Ekspresi wanita itu berubah, dia berkaca-kaca dan langsung bertanya apa yang terjadi pada Azura hingga dirinya di rawat di rumah sakit. "Mual parah, dia kekurangan cairan dan nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya. Tolong jangan bertemu Azura terlebih dahulu, kondisimu akan memperparah kondisi Azura jika dia tahu bahwa ibunya di rawat." Adira meminta agar Prasasti tidak bertemu dengan Azura dalam kondisi seperti ini. Prasasti mengangguk, kondisinya hanya akan menambah beban pikiran pada Azura. Dia mengerti akan permintaan Adira, semua demi kebaikan Azura yang memang harus tetap tenang dalam kondisi hamil muda. Notifikasi pesan di ponsel Melvin berbunyi, dia lalu membukanya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan pada nomor pribadinya ini. "Aku akan pulang 3 hari lagi, apakah kamu senang?" Melvin mengabaikan pesan dari Amel. Dia tidak peduli dengan wanita itu, hatinya kecewa karena Amel semua ini harus terjadi padanya. Apa susahnya menikah? kenapa dia terus menolak di saat Melvin serius dengan hubungan mereka? Melvin bertanya pada hatinya dan dia tidak mendapatkan jawaban atas apa yang membuatnya resah. "Melvin, kamu mendengar apa yang nenek katakan?" Melvin terkejut karena neneknya memukul pelan punggungnya. "Melvin sedang tidak fokus Nek," ucap Melvin jujur. "Kamu jaga Azura, Nenek akan pulang bersama dengan Prasasti." Adira mengulangi ucapannya walaupun dia kesal karena harus berkata dua kali akan hal yang sama. "Ibu sudah diperbolehkan pulang?" tanya Melvin pada Regi. "Sudah Pak, sebentar lagi suster datang melepas infusnya. Kondisinya sudah membaik, beliau hanya butuh istirahat yang cukup," ucap Regi menjelaskan. "Regi, tolong temani Nenek dan Ibu pulang. Aku tidak tenang, ini sudah larut malam." Regi menyanggupi permintaan Melvin, ini tugasnya dan dia tidak akan menolak apa yang sudah menjadi perintah atasannya. Adira meminta Melvin segera kembali ke ruang rawat Azura, dia tidak ingin jika Azura merasa sendiri ketika merasakan sakit di tubuhnya. Ibu hamil terlalu sensitif dan Adira ingin Azura merasa bahagia dalam kehamilannya. "Aku ke Azura dulu ya," ucap Melvin pamit kepada mereka semua. Melvin merasa bahwa hal ini merupakan suatu hal yang asing baginya, perasaan tidak nyaman kadang timbul tetapi Melvin mencoba menepisnya, semua yang dia lakukan demi kebaikan bersama. Melvin tidak akan membuat neneknya bersedih, semua ini demi mengukuhkan posisinya sebagai pewaris dari keluarga Abraham. "Aku akan menjaga apa yang seharusnya Papa dapatkan," *** Amel sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, dia merasa lebih tenang untuk pulang sesuai dengan jadwal yang telah di tentukan. Dunia modelling sangat keras, Amel harus menghadapi rekan model lain yang merasa tersaingi akan keberadaannya. Amel tidak memungkiri bahwa banyak orang yang terkadang melakukan cara kotor demi mendapatkan posisi tersebut, termasuk dirinya. Sejak awal, Amel adalah orang yang tidak peka. Dia selalu melakukan segala hal sesuai dengan apa yang dia inginkan, termasuk dengan kisah asmaranya bersama Melvin. Ada rasa bersalah dalam hatinya, banyak hal yang dia sembunyikan pada Melvin sebelum mereka menjalin suatu hubungan. "Kenapa dia tidak membalas pesanku? bahkan teleponku diabaikan begitu saja." Batin Amel yang kini sedang bergegas menata barangnya karena besok dia akan segera pulang. "Aku tidak bisa tinggal diam, apa yang lelaki itu lakukan hingga meninggalkan diriku seperti ini." Kesal Amel pada kekasihnya. Amel memang bukan wanita yang baik, banyak hal yang sudah diketahui oleh Adira tentang wanita yang menjadi kekasih cucunya. Adira hanya diam karena Melvin mencintai wanita itu, Melvin mampu menerima segala kekurangan ketika Amel dan Melvin menjalin hubungan sejak awal. "Sialan" Umpat Amel pada Melvin yang tidak mengangkat telponnya ketika Amel kembali menghubunginya. Bel apartemen Amel berbunyi, dengan penuh kekesalan dia membukanya. Melihat wajah Rangga semakin membuat wajahnya terasa masam. Satu bulan pertama ketika Amel berada di New York Rangga menyusulnya, lelaki itu mengatakan jika pekerjaan di Bangkok sudah selesai dan dia di tugaskan untuk pergi ke New York menemani atasannya yang harus mengerjakan sesuatu yang penting di sini. "Sialan, kau lagi!" Maki Amel lalu meninggalkan Rangga. "Apa yang membuatmu seperti itu?" tanya Rangga yang mengambil minuman alkohol kaleng di kulkas milik Amel. "Biasa, lelaki itu bahkan tidak menjawab pesanku." Amel mengatakan semuanya pada Rangga. "Dia sudah menawarkan pernikahan, kau pula yang menolak mentah-mentah tawaran itu. Jika aku yang menjadi dirinya, pastilah aku kecewa." Rangga dengan santai mengatakan hal itu. Rangga tidak pernah tahu apa yang Amel takutkan, dia menyimpan rapat rahasianya dan tidak ingin siapapun mengetahui kelemahannya. "Kau tidak akan tahu," ucap Amel yang meninggalkan Rangga untuk merapikan pakaiannya. "Aku pikir kau sudah selesai menata baju," ucap Rangga. "Aku tidak dirimu, mana mungkin aku tepat waktu." Amel semakin kesal karena Rangga selalu saja mengoceh dengan segala hal yang dilihatnya. Seharusnya Rangga sadar jika barang yang dia bawa lebih sedikit dibandingkan barang milik Amel yang sudah jelas sangat banyak, Amel bahkan tidak memiliki asisten. Dia tidak suka ada seseorang yang mengaturnya, dia hanya memiliki management yang mengatur semua jadwalnya. "Kerjakan asisten, maka kau tidak perlu melakukan hal seperti ini." Saran Rangga yang tidak akan Amel gubris. Rangga diam ketika Amel tidak menjawab, dia juga merasa resah karena Azura tidak menjawab telepon sejak kepergiannya ke luar negeri. Ada rasa khawatir tetapi dia merasa yakin bahwa kondisi Azura akan baik-baik saja di sana. "Bagaimana atasanmu?" tanya Amel. "Tak ada yang spesial," ucap Rangga. "Bukankah dia cantik, kau tidak tergoda?" tanya Amel. Rangga terdiam, bersama atasannya sepanjang waktu membuat suatu hal terjadi diantara mereka. Rangga tiba-tiba merasa bersalah kepada Azura karena sudah menodai kesetiaan yang mereka bangun selama ini. "Kau sudah melakukan itu padanya kan?" tanya Amel. Rangga memijat kepalanya yang tiba-tiba menjadi pening, ibunya bahkan meminta Rangga untuk meninggalkan Azura dan bersama dengan wanita yang menjadi atasannya. Kini Rangga mengerti, apa alasan Azura tidak menjawab segala pesan dan telepon darinya, bisa saja segalanya diakibatkan oleh ibunya yang melarang keras hubungan mereka berdua. "Sialan," maki Rangga dan membuat Amel terkejut. "Kenapa?" tanya Amel. "Aku baru ingat, apakah ibuku memarahi Azura dan meminta agar Azura meninggalkanku? setelah kepergian ku dia tidak pernah menjawab pesan dan Ibuku terus memintaku bersama dengan wanita yang menjadi atasanku." Rangga baru mengerti setelah sekian lama dia berpikir. "Sudahlah, tinggalkan saja Azura. Lagi pula dia tidak bisa memuaskan mu," ucap Amel. "Sialan, bukankah dia temanmu juga?" tanya Rangga yang kesal pada Amel. Amel tidak pernah menganggap Azura sebagai temannya, wanita miskin itu tidak pernah sebanding dengan dirinya yang bisa mendapatkan segalanya. Azura hanya pembantu, dia yang akan melayani segala hal yang diinginkan oleh Amel, termasuk menyerahkan kesuciannya untuk Melvin. Amel tidak menjawab pertanyaan Rangga, dia hanya menyeringai dengan licik, dia tidak pernah peduli dengan apa yang Azura rasakan. "Kau tidak menjawabnya!" kesal Rangga pada Amel. "Kenapa? kau butuh di puaskan?" ujar Amel yang langsung duduk di pangkuan Rangga. Wanita murahan memang selalu melakukan apa yang dia inginkan, dia tidak pernah peduli dengan hubungannya dan tidak peduli dengan seseorang yang mempercayainya sebagai teman. "Aku akan memuaskan mu malam ini" *** Azura sedang menahan diri, rasanya ada sesuatu yang memaksa keluar dari kandung kemihnya. Dia ingin pergi ke kamar mandi tetapi Azura tidak ingin Melvin terbangun dari tidurnya karena ulah Azura ini. "Astaga, aku sudah di ujung." Batin Azura. Melvin terbangun karena gerakan Azura, dia lalu bertanya apa yang bisa dia bantu saat ini. Melvin masih terlihat mengantuk dan membuat Azura tidak tega untuk kembali merepotkan Melvin demi kepentingannya sendiri. "Aku ingin ke kamar mandi," ucap Azura yang sudah tidak tahan dengan dirinya. Melvin mengambil kantung infus dan meminta Azura memeganginya, Melvin menggendong Azura seperti biasanya dan membawanya ke toilet seperti yang diinginkan olehnya. Perlakuan Melvin yang seperti ini cukup membuat hati Azura merasa berdebar, tetapi Azura cukup sadar diri bahwa segala hal yang Melvin lakukan demi kebaikan anak yang ada di dalam kandungannya. Nikah kontrak yang selalu dikatakan Melvin membuatnya sadar diri bahwa dia tidak boleh berharap lebih atas segala perilaku yang Melvin lakukan kepada dirinya. "Panggil aku ketika kamu sudah selesai," ucap Melvin pada Azura. Melvin keluar dari toilet, dia duduk bersandar pada sofa empuk yang ada di ruangan ini. Kepala Melvin terasa pening, sudah berkali-kali berada di rumah sakit sejak kehadiran Azura sebagai calon istrinya. Melvin sering bolos kerja karena kondisi Azura yang mengkhawatirkan seperti ini. Ada suatu beban di pundak Melvin, dia tidak ingin calon anaknya berada dalam bahaya, apapun yang bisa dia lakukan akan dia usahakan agar anak yang ada di dalam kandungan Azura baik-baik saja. Melvin sadar, neneknya sudah berharap banyak pada anak yang ada di dalam kandungan Azura. Akhir-akhir ini neneknya terlibat bahagia karena sebentar lagi dia akan memiliki cicit, Melvin hanya tidak ingin merusak kebahagiaan neneknya dengan kebahagiaannya sendiri. "aku bahkan lupa membuat kontrak pernikahan itu," Melvin memijat pelipisnya pelan, banyak hal yang dia lewatkan karena kesibukan yang dia alami. Regi pun sudah cukup sibuk dengan segala tugas yang Melvin berikan, dia tidak ingin menambah beban Regi dalam masalah pribadinya ini. "Melvin, aku sudah selesai." suara Azura membuat Melvin segera bergegas masuk ke dalam toilet dan menggendong Azura seperti di awal. Pagi ini Melvin akan memaksa Azura untuk makan, dia tidak ingin Azura kekurangan nutrisi dan cairan karena rasa mual nya. "Aku bisa pulang kapan?" tanya Azura. "Sore ini kamu pulang, jangan malas makan biar ga lemas. Kalau masih mual kamu coba makan buah aja, biar setidaknya ada makanan yang masuk." Melvin menasehati Azura agar dia mau menuruti apa yang Melvin katakan. Azura mengangguk, dia tidak betah berada di rumah sakit terlalu lama. Dia tidak ingin merepotkan Melvin dan dia sudah bosan berbaring seperti ini sejak kemarin. "Sejak hamil aku merasa menjadi wanita yang lemah, aku bahkan tidak bisa melakukan segala hal seperti dulu." Batin Azura terluka karena dia menjadi wanita yang menyusahkan orang lain. "Tidak usah memikirkan hal yang tidak perlu," ucapan Melvin menyadarkan Azura. Azura takut jika Melvin bisa membaca pikirannya, selama ini dia banyak membatin dan jika Melvin tahu, dia akan malu dengan segala hal yang dia katakan dalam batinnya. "Aku tidak bisa membaca pikiranmu," ucapan Melvin membuat Azura terkejut. Dia melihat Melvin dan tidak berani mengatakan apapun, sungguh dia tidak menyangka jika Melvin bisa membaca pikirannya. "Tanpa membaca pikiran mu aku sudah tau dari raut wajahmu, tidak usah memikirkan hal yang tidak perlu. Anakku bisa dalam bahaya jika kau terus seperti itu," ucap Melvin mengingatkan. Melvin memang benar, Azura tidak bisa menyembunyikan raut wajah jika dia terkejut ataupun banyak memikirkan suatu hal yang membebani dirinya. "Aku akan mengusahakan yang terbaik demi anak ini," ucap Azura. Sampai saat ini Azura tidak tahu apa isi dari perjanjian kontrak yang Melvin buat, dia hanya percaya tanpa ingin menanyakan perjanjian kontrak itu pada orang yang bersangkutan. Pernikahan adalah suatu hal yang suci, Azura merasa bersalah karena sudah mempermainkan pernikahan karena kejadian satu malam yang mengubah hidupnya dengan begitu cepat. Orang lain mungkin akan bahagia bisa hidup mewah tanpa merasa kekurangan, tetapi ada suatu hal yang membuat Azura terbebani, semua itu karena hubungannya yang masih terikat pada lelaki lain. "Apapun yang terjadi, aku akan menghadapinya. Semua salahku," kejadian satu malam itu masih menjadi misteri yang sampai saat ini belum bisa Azura pecahkan, dia harap Tuhan akan memberikan kejelasan atas apa yang menjadi penyebab semua ini terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD