Bab. 14 H-1 Pernikahan

1050 Words
Paras tampan Melvin membuat jantung Azura berdebar lebih cepat dari biasanya, melihat wajah tampan Melvin dari dekat membuat Azura merasa semakin terpana. "Apa yang aku harapkan? sadarlah Azura." Azura menyadarkan dirinya agar tidak jatuh terlalu dalam pada pesona Melvin, dia tahu bahwa Melvin lelaki dengan berjuta pesona yang tidak akan di tolak oleh wanita manapun. Berharap lebih kepada Melvin hanya akan membuat hatinya sakit, lebih baik dia menahan diri agar tidak terlalu larut dalam pernikahan kontrak ini. "Apakah aku berdosa jika jatuh cinta pada calon suamiku sendiri?" Melvin terlalu lelah hingga tak sadar telah beristirahat di kamar Azura. Mereka berada di satu ranjang yang sama setelah dua bulan peristiwa Azura kehilangan kesuciannya. Azura ingin menyentuh wajah Melvin, tetapi dia mengurungkan niatnya. Azura takut jika kegiatannya akan membangunkan Melvin yang tertidur dengan lelap. Adira masuk ke dalam kamar Azura setelah dia mengetuk pintu untuk meminta ijin, Azura sedikit merasa malu karena hanya dia berdua dengan Melvin di kamar ini. Melihat Melvin tidur dengan nyaman dan tenang membuat hati Adira merasa senang, sudah lama Melvin kehilangan tidur nyamannya. "Sudah waktunya makan malam, Melvin belum bangun juga." Adira melihat cucunya yang masih nyaman di dalam selimut hangat milik Azura. "Mas, terlihat kelelahan Nek." Azura mengatakan hal sesuai dengan apa yang dia lihat. Melvin mungkin tidak bisa tidur di rumah sakit, dia hanya tidur beberapa jam dan kembali fokus menjaga Azura dengan baik. Rumah sakit adalah hal yang membuat Melvin takut, dia takut jika kehilangan orang yang dia sayang di sana. "Bangunkan Melvin, sepertinya dia sudah tidur dengan cukup." Adira tidak ingin Melvin melewatkan makan malamnya. "Tapi Nek, aku tidak tega membangunkannya." Azura benar-benar tidak berani untuk membangunkan Melvin yang sudah tertidur dengan lelap ini. "Ya sudah, biarkan dia istirahat. Kamu makan sekarang saja," ucap Adira dan diangguki oleh Azura. Azura dengan perlahan turun dari ranjangnya, dia tidak ingin terlalu terburu-buru karena dia takut sesuatu terjadi pada anak yang ada di dalam kandungannya. Azura tidak ingin di benci oleh Melvin dan Adira karena tidak mampu menjaga calon pewaris keluarga Abraham dengan benar. "Mau kemana?" Melvin terbangun dari tidurnya karena gerakan Azura. Azura merasa menyesal, gerakan kecilnya mampu membuat Melvin terbangun dari tidurnya. "Nenek meminta kita untuk makan malam, aku tidak tega membangunkan, Mu." Azura menjelaskan dan hanya di balas dengan anggukan kepala oleh Melvin. Azura tidak tahu apakah Melvin marah atau tidak, yang pasti dia kini tidak berani untuk keluar terlebih dahulu jika Melvin tidak mengajaknya untuk keluar kamar. "Aku akan ke kamar mandi terlebih dahulu, kau bisa ke luar sekarang atau mau menungguku." Melvin mengatakan hal itu lalu masuk ke dalam kamar mandi milik Azura. Tidak ada ekspresi terkejut atau apapun di wajah Melvin, dia terlihat biasa saja. Mungkin hanya Azura yang merasakan sesuatu hal yang tidak biasa, tetapi Melvin menganggap hal ini sebagai hal wajar diantara mereka berdua. "Lagi pula aku hamil anaknya, apa yang aku takutkan jika dia tidur satu ranjang denganku?" Batin Azura berbicara, seharusnya dia tidak heran jika Melvin tidur satu ranjang dengan dirinya. Sebentar lagi mereka bahkan akan sah menjadi pasangan suami istri, lantas apa yang harus Azura takutkan lagi? *** Hari berlalu begitu cepat, besok pernikahan Azura dan Melvin berlangsung sesuai dengan rencana. Hati Azura berdebar tetapi dia berusaha untuk tenang karena ada Prasasti di sisinya. "Jangan gugup," ucap Prasasti. "Besok hari pernikahan ku, Bu." Azura benar-benar tidak bisa tidur karena hari esok. Azura senang, kepulangannya dari rumah sakit di sambut oleh ibunya yang datang dari kampung. Dia tidak perlu khawatir memikirkan ibunya dalam keluarga yang sakit seperti itu, mereka semua sakit mental dan hanya bisa menyelesaikan semua hal dengan kekerasan. "Apakah kamu sudah putus dengan Rangga?" Pertanyaan dari Prasasti sungguh sulit untuk di jawab oleh Azura. Azura tidak menjawabnya, dia tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya jika hanya kebohongan yang keluar dari mulutnya. Azura pun tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, terkait Ibu Rangga mencaci makinya karena mencintai anaknya. Semua rasa pedih itu hanya akan Azura simpan sendiri, bersama Rangga mungkin akan mengulang kisah tragis ibunya yang hanya dijadikan pembantu di keluarga ayahnya. Azura tidak ingin kisah itu terjadi pada dirinya, lebih baik Azura pergi dari pada hidupnya akan tersiksa di kemudian hari. "Aku tidak ingin membicarakan dirinya," ucap Azura. Prasasti tidak tahu apa yang terjadi dengan hubungan anaknya, dia berharap tidak akan ada masalah di kemudian hari yang bisa menganggu pernikahan Keduanya. "Maafkan aku Rangga, tapi ini yang terbaik untuk kita." *** Melvin gelisah, Amel ingin bertemu dengannya padahal besok adalah hari pernikahannya bersama dengan Azura. Melvin tidak akan membiarkan Amel mengacaukan pernikahan yang sudah dia dan Adira rencanakan. "Kenapa?" tanya Adira ketika melihat Melvin mondar-mandir sejak lima belas menit yang lalu. "Amel, dia sudah ada disini. Nek," ucap Melvin. "Apapun yang terjadi, jangan pernah temui dia. Dia yang sudah menolak mu berkali-kali, dia sudah semestinya sadar dengan konsekuensi yang akan dia terima." Adira tidak ingin Amel menggagalkan pernikahan yang sudah dia rencanakan sejak awal. Kerjasama dengan kolega bisnis itu tidak boleh gagal, nilai proyek yang miliaran tidak sebanding dengan Amel yang bahkan tidak ada harga dirinya. Mungkin Amel bisa membodohi Melvin, tetapi tidak dengan dirinya. "Apa yang harus Melvin lakukan, Nek?" tanya Melvin pada Adira. Melvin kecewa, tetapi dia tidak bisa memungkiri jika perasaan sayang pada Amel tetap ada, bahkan sampai saat ini. Melvin memang tidak pernah tahu apa yang Amel lakukan di luar sana, dia hanya percaya pada wanita itu sebagai kekasihnya, tetapi sejak kado di malam itu dia mulai mencoba untuk mengurangi rasa sayangnya karena kekecewaan yang terlanjur dalam di hatinya. "Abaikan dia! Kamu fokus dengan pernikahan mu," ucap Adira tidak ingin Melvin terjebak di lubang yang sama. Adira meminta ponsel Melvin, dia tidak akan membiarkan Melvin di bodohi oleh Amel. Wanita ular itu seharusnya sadar dia menghadapi keluarga Abraham, dia pikir semudah itu membohongi Adira? "Nek, jangan. Biarkan aku yang membawanya," ucap Melvin memohon. "Nenek akan mengembalikan esok hari, istirahat. Besok hari yang panjang," ucap Adira lalu meninggalkan Melvin dan kembali ke kamarnya. Dia hanya berniat melihat kondisi Melvin sebelum hari pernikahan, dia tidak menyangka jika Amel masih menghubungi Melvin sampai saat ini. Apapun yang terjadi dia tidak akan membiarkan Amel merusak pernikahan ini. Melvin tidak bisa berbuat apapun, dia hanya bisa mengikuti apa yang neneknya inginkan. Entah bagaimana dia harus menghadapi kemarahan Amel, tetapi yang pasti. Semua ini terjadi karena Amel yang memulai. "Aku pasrah kan semuanya kepadamu, Tuhan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD