Malam Petaka

1840 Words
Ketenangan kembali menyapa. Namun sayang Ndaru tidak bisa memejamkan mata. Dia menatap jalanan dengan mata terbuka. Mencoba menerka jalan hidupnya yang tak akan lagi sama. "Sepertinya Bapak butuh pengawal untuk beberapa hari ke depan." Gilang berucap. "Saya lihat ada beberapa wartawan yang nekat mengikuti kita." "Mereka merepotkan." Ndaru mengeluh. Padahal dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. "Bapak adalah bagian dari keluarga Atmadjiwo kalau lupa." "Nama saya tidak seharum kedua kakak saya." "Justru itu." Gilang menoleh. "Bapak misterius. Ya... meskipun keluarga Atmadjiwo memang tertutup, tapi Bapak berbeda. Itu yang membuat publik penasaran." Tanpa diduga Ndaru tersenyum kecut. Dia mengerti maksud ucapan Gilang. Kedua kakaknya memang memiliki nama yang harum. Berbeda dengan dirinya yang seolah menyembunyikan diri. Sebenarnya sama saja, hanya saja Ndaru memilih untuk tidak berhubungan langsung dengan publik. Bukan bermaksud menjauhi keluarga. Hanya saja Ndaru memiliki alasan tersendiri kenapa ia mengasingkan diri. "Sudah saatnya Pak Ndaru kembali." Kadang ucapan Gilang bisa membuat pikiran Ndaru kembali lurus. "Pak Guna akan masuk ke dunia politik. Demi menarik simpati masyarakat, Pak Guna tidak bisa lagi memimpin perusahaan. Hanya Pak Ndaru yang bisa." "Nanti saya pikirkan." Ndaru mengakhiri diskusi singkat mereka. Perjalanan kembali hening. Ndaru masih menatap jendela mobil sedangkan Gilang fokus pada iPad-nya. "Pak, sepertinya kita tidak bisa ke apartemen," ucap Gilang setelah membaca pesan dari keamanan apartemen. "Ada banyak wartawan di sana. Dipastikan sudah ada yang berhasil menyusup masuk." Ndaru menghela napas kasar. "Cari tempat yang aman, Lang. Saya benar-benar butuh tidur tanpa gangguan." "Baik, Pak." Gilang kembali fokus pada ponselnya. Tak lama ia kembali berbicara. "Kita ke Atma Hotel untuk sementara, Pak. Saya harus mengurus keamanan apartemen dulu sebelum Bapak kembali ke sana." Ndaru mengangguk. Benar, Atma Hotel bisa menjadi pilihan. Hotel bintang 6 itu adalah salah satu properti milik Atmadjiwo Grup. Keamanan hotel tentu tidak perlu diragukan. "Kita ke Atma Hotel, Pak," ucap Gilang pada sopir keluarga yang menemani mereka sejak tiba di Jakarta. Mobil yang Ndaru naiki masuk ke dalam area Hotel tanpa hambatan. Berbeda dengan beberapa mobil di belakang yang harus mendapat pemeriksaan. Dapat dipastikan keamanan akan semakin diperketat. Kedatangan Handaru Atmadjiwo yang dikenal sebagai Aset Negara dan Duda Incaran Satu Indonesia itu tentu menarik perhatian masyarakat. Bahkan Gilang sudah berkata jika namanya trending di beberapa sosial media. Konyol. Saat ini mereka sudah berada di dalam Atma Hotel. Ndaru dibawa ke sebuah ruangan yang digunakan untuk para tamu VIP. Sambutan hangat ia dapatkan, lengkap dengan fasilitas yang memanjakan. "Jika Pak Ndaru menginginkan sesuatu, bisa langsung hubungi saya, Pak," ujar manager hotel. "Terima kasih," balas Ndaru. "Bapak tunggu di sini sebentar. Saya harus cek kamar Bapak dulu," ujar Gilang diikuti oleh manager hotel. Meninggalkan Ndaru sendiri yang tak ingin diganggu. Sekali lagi. Dia lelah. Getaran pada ponsel Ndaru rasakan. Dia membuka ponselnya dan melihat nama pengasuh anaknya. Ah, lagi-lagi Ndaru melupakan Juna. Dia mengangkat panggilan itu cepat. Seketika rasa khawatir melanda. Ada apa wanita itu menghubunginya tengah malam seperti ini? Gambar yang pertama kali muncul adalah wajah anaknya. Seketika senyum Ndaru mengembang. "Papa," suara menggemaskan itu begitu Ndaru rindukan. "Kenapa Mas Juna belum tidur?" Selagi menunggu Gilang, Ndaru akan melepas rindu dengan anaknya yang merengek karena merindukannya. *** Tengah malam, Shana terbangun dari tidurnya. Sudah menjadi kebiasaan jika dia sering terjaga secara tiba-tiba. Cukup mengganggu tidurnya, tetapi ini sudah menjadi kebiasaannya sejak beberapa tahun terakhir. Dengan malas, Shana keluar dari kamar dengan satu gelas kosong. Dia ingin mengambil air putih demi menyegarkan diri kembali. Saat melewati sofa ruang tengah, Shana mendengar sesuatu. Dia berhenti berjalan dengan kening berkerut. Seperti suara getaran ponsel. Shana membuka tumpukan bantal sofa dan menemukan sebuah ponsel di sana. Bukan ponselnya, melainkan ponsel Dito. Ternyata ponsel pria itu tertinggal saat ia pergi dengan tergesa untuk menemui Jodi tadi. Kening Shana berkerut saat melihat ada 12 panggilan tak terjawab dari Kiki, asisten Dito. Sepertinya ada yang penting karena Kiki melakukan panggilan berkali-kali. Shana yang tidak bisa tidur, memilih untuk kembali ke kamar. Dia mengganti pakaian tidurnya yang tipis dengan pakaian tebal. Tak lupa ia juga mengambil kacamatanya. Setelah itu dia meraih kunci mobil dan bergegas keluar. Dia memutuskan untuk mengantar ponsel Dito. Shana takut jika panggilan Kiki memang benar-benar penting. Saat di dalam mobil, ponsel Shana berdering. Ada nama Bagas di sana, manager kafenya. "Halo?" sapa Shana. "Mbak! Gawat, Mbak!" Bagas terdengar panik di seberang sana. "Ada apa, Gas? Ngomong yang bener." "Saya liat Mas Dito di hotel sama cewek!" ucap Bagas menggebu. "Sialan! Emang bener mokondo tuh cowok." Shana terdiam dengan kaku. Dia mengabaikan segala gerutuan dan umpatan Bagas di seberang sana. Ia berusaha untuk mencerna semuanya. "Lo nggak salah liat, Gas?" Akhirnya Shana menemukan suaranya kembali. "Beneran, Mbak! Ini saya lagi di acara pesta bujang temen saya sebelum nikah. Saya liat Mas Dito masuk ke kamar sebelah." "Di Hotel mana, Gas?" "Atma Hotel, Mbak." Bagas kembali mengumpat. "Anjrit! Niat banget sampe check in di hotel bintang 6. Udah, Mbak. Putusin aja!" "Gue boleh minta tolong?" "Apa, Mbak? Labrak Mas Dito? Boleh banget, temen saya banyak di sini." "Bukan." Shana memejamkan matanya erat. "Nanti lo bilang ke resepsionis hotel kalau gue juga temen lo. Biar dibolehin masuk." Dia juga tahu jika penjagaan Atma Hotel begitu ketat. "Mbak Shana mau labrak Mas Dito sendiri?" "Iya." Sekarang Shana tahu jika perubahan Dito bukan karena Jodi, melainkan ada wanita lain. *** Memang benar jika komitmen tidak selalu menjamin kesetiaan. Perubahan akan terjadi jika ada kejenuhan. Namun apa harus dengan pengkhianatan? Apa susahnya mengakhiri sebuah hubungan? Egois untuk akhir yang baik lebih bagus dari pada menutupi kesalahan. Shana menatap pintu kamar hotel di depannya dengan datar. Jangan berpikir jika ia tidak marah. Tentu ia marah. Namun dia sudah tidak tahu bagaimana rasanya mengungkapkan rasa kesalnya. Shana lelah dengan segala tingkah Dito yang mengecewakannya. "Mau saya bantu dobrak, Mbak?" bisik Bagas dari belakang tubuhnya. Shana menarik napas dalam dan menggeleng. Dia melirik Bagas sebentar dan beralih pada teman-teman pria itu yang juga ikut mengintip dari kamar sebelah. Dalam hati Shana mendengkus. Dia tidak percaya jika Bagas membawa supporter untuk drama malam ini. "Lo balik aja," perintah Shana. "Balik ke acara lo tadi. Biar Dito gue yang urus." "Tapi Mbak—" "Please, Gas." "Oke." Akhirnya Bagas menyerah. Dia berjalan ke kamar temannya dengan pelan. Sesekali menoleh berharap jika Shana akan memanggilnya. "Gas?" panggil Shana tiba-tiba. "Ya, Mbak?" Dengan semangat Bagas kembali mendekat. "Pastiin temen-temen lo tutup mulut." Shana menghela napas kasar. "Gue nggak mau jadi trending lagi di X." Bagas tertawa. "Sejak Mbak Shana pacaran sama Mas Dito, Mbak selalu jadi trending topic." Dia mengabaikan wajah kesal Shana. "Netizen aja masih heran kenapa seorang Shana Arkadewi, penulis cerita fantasi terkenal mau pacaran sama sutradara playboy kayak Dito Alamsyah?" Menyadari Shana yang tidak ikut tertawa, Bagas menghentikan ucapannya. Dia menepuk bibirnya berkali-kali karena sudah kelewatan. Akhirnya dia memilih untuk menunduk sebentar dan undur diri. Bagas tidak mau membuat Shana lebih marah dan memutasinya ke cabang kafe luar kota. Begitu telah memastikan Bagas dan teman-temannya masuk, Shana kembali menatap pintu di hadapannya. Pintu kamar yang Bagas yakini sebagai kamar Dito bersama selingkuhannya. Sebelum mengetuk pintu, Shana kembali menarik napas dalam. Jika ucapan Bagas terbukti benar maka dia akan berhenti. Keberadaan Dito di hidupnya tidak bagus untuk kesehatan mentalnya. Shana mengetuk pintu. Sekali tidak ada jawaban. Dua kali masih tidak ada jawaban. Untuk yang ketiga kalinya, dia mengetuknya dengan keras. Bahkan dengan menggunakan kepalan tangannya. Rencananya pun berhasil. Pintu terbuka dan muncul Dito dengan wajah bantalnya. Pria itu hanya mengenakan celana pendek boxer-nya. Seperti melihat hantu, Dito terkejut dengan keberadaannya. Sepertinya pria itu lebih memilih untuk melihat hantu untuk saat ini dari pada dirinya. "Shana?" Dito bergerak untuk menutup pintu di belakangnya. "Kamu di sini?" "Mana Jodi?" tanya Shana tenang. "Jo—jodi?" Dito terlihat panik. "Dia barusan pulang." "Oh." Shana mengangguk mengerti. Dia tiba-tiba terdiam membuat Dito bingung. Namun kelengahan itu Shana manfaatkan. Gadis itu mendorong Dito kuat dan masuk ke dalam kamar. Suara televisi yang menyala dengan pelan membuat Shana curiga. Benar saja, di atas tempat tidur, dia bisa melihat seorang wanita yang tengah bersantai. Dengan keadaan setengah telanjang. "Shana!" Dito menyusulnya. "Sayang, dengerin aku. Ini nggak seperti yang kamu pikirin." Shana berbalik menatap Dito. Tatapannya masih sama. Terlihat datar tanpa ekspresi marah. Dengan santainya dia memberikan ponsel Dito yang tertinggal. "HP kamu ketinggalan tadi." "Shana, kamu salah paham, Sayang." Dito melempar ponselnya dan berusaha meraih tangan Shana. Shana bergerak mundur cepat. Dia tidak sudi Dito menyentuhnya. "Mulai sekarang kita putus." Akhirnya Shana berhasil mengucapkan kalimat itu. "Enggak! Nggak mau, aku nggak mau!" Wajah Dito mulai memerah. Dia masih berusaha meraih Shana. "Jangan putusin aku. Aku bisa jelasin semuanya." Shana melirik jam tangannya sebentar. "Sudah malam. Aku harus pulang." Lalu ia berbalik pada wanita yang masih berada di atas tempat tidur. Terlihat takut dengan cengkeraman erat pada selimut untuk menutupi tubuhnya. "Untuk kalian berdua, selamat bersenang-senang. Saya permisi." Setelah itu Shana pun benar-benar pergi. Langkahnya tampak lebar, berusaha untuk menghindari Dito. Ternyata pria itu tidak menyerah. "Shana! Aku nggak mau putus!" Dito berteriak dari dalam kamar. Dia tampak repot mengenakan pakaiannya kembali. Shana memilih abai. Dia menekan lift untuk segera membawanya pergi. Dalam hati dia berdoa agar Dito tidak mengejarnya. Namun takdir berkata lain. Dari sudut matanya, Shana bisa melihat pria itu keluar kamar dengan tergesa. Rahang Shana mengeras, mengumpat pada lift yang tak kunjung terbuka. Hingga pada akhirnya pintu lift pun terbuka. Shana mengangkat wajahnya dan melihat seorang pria yang ingin keluar dari lift. Panggilan Dito benar-benar meresahkan dan membuatnya panik. Hingga pada akhirnya Shana pun melakukan hal gila. Dia menarik pria asing yang keluar dari lift tadi dan mencengkeram erat kerah kemejanya. Pria itu menatapnya terkejut. Namun percayalah, Shana juga terkejut dengan apa yang ia lakukan. "Maaf," gumamnya yang mulai berjinjit untuk mencium pria itu, tepat di bibir. Benar. Shana memang sudah gila. Pikirannya juga kacau. Hatinya sangat hancur. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menghindari Dito. Dia membenci pria itu. "Shana, apa-apaan?" teriakan Dito semakin jelas terdengar. Shana merasakan adanya perlawanan dari pria asing yang ia cium secara tiba-tiba. Dengan cepat kedua tangannya berpindah untuk menahan wajah pria itu. Matanya juga terpejam agar tidak melihat keadaan sekitar. Jujur, Shana takut dengan apa yang akan terjadi setelah ini. "Shana!" Dito bergerak memisahkannya dengan pria itu. Pada akhirnya Shana pun melepaskan ciumannya. "Kamu gila!" teriak Dito marah. "Aku juga bisa, Dito. Aku juga bisa," lirih Shana pelan. Tanpa ia sadari jika air mata yang ia tahan sedari tadi ternyata sudah jatuh entah sejak kapan. "Kamu keterlaluan, Shana!" Wajah Dito memerah. Shana tidak menjawab. Dia menarik pria asing itu dan membawanya kembali masuk ke dalam lift. Dito tidak lagi mengejarnya. Mungkin pria itu juga masih terkejut melihat aksinya. Shana menekan angka 18 pada lift, tepat satu lantai di bawah kejadian tak terduga tadi. Begitu lift terbuka, Shana keluar meninggalkan pria itu dengan menunduk. Sebelum pintu lift tertutup, dia pun berbalik. Ternyata pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Maaf," gumam Shana sekali lagi sebelum akhirnya pintu lift pun benar-benar tertutup. Detik itu juga, Shana pun jatuh terduduk. Tenaganya benar-benar habis dikuras oleh emosi. Dia memang tidak menangis terisak, tetapi percaya lah melihat Shana menangis adalah suatu kemustahilan. *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD