Skandal Tersebar

1738 Words
Rasanya seperti baru lima menit tertidur. Ndaru terbangun saat mendengar suara ketukan pintu. Keadaan kamar hotel yang ia tiduri masih gelap, tetapi dia bisa melihat cahaya mulai mengintip dari balik tirai jendela. Ndaru segera terduduk sambil mengusap wajahnya. Dia meraih ponsel dan melihat jam yang tertera. Jam tujuh pagi, artinya dia terlambat bangun. Suara ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini terkesan lebih keras dan cepat dari sebelumnya. "Pak Ndaru?" Itu suara Gilang. "Ya," balas Ndaru bergegas membuka pintu. "Ada apa?" tanyanya langsung. Gilang menghela napas kasar. Dia menatap atasannya itu dengan tatapan lelah. Ada apa? Seingat Ndaru dia tidak memiliki kegiatan pagi ini. "Apa yang terjadi semalam, Pak?" tanya Gilang. Seketika kantuk Ndaru hilang. Dia menatap asistennya lekat. "Apa maksud kamu?" Gilang memberikan sebuah iPad yang menampilkan beberapa gambar tangkapan layar. Ada beberapa potret yang sangat Ndaru kenal. "Nama Pak Ndaru kembali jadi trending topic. Kali ini bukan karena kedatangan Bapak ke Jakarta, melainkan adegan tak senonoh yang Bapak lakukan semalam." Sial! Ndaru mengabaikan Gilang dan bergegas duduk di sofa depan kamar. Kamar dengan tipe presidential room yang mereka tempati terlihat begitu nyaman. Namun sayang, Ndaru tidak bisa menikmatinya. Dia terbangun dengan berita yang menghebohkan. "Kamu bilang hotel ini aman dari wartawan?" Ndaru mulai gusar. "Bukan dari wartawan, Pak. Berita itu viral karena cuitan anonimus di aplikasi X." "Siapa yang menjamin kalau dia bukan wartawan?" "Saya akan mencari tahu nanti." Gilang memijat pangkal hidungnya. "Jadi kejadian itu benar, Pak?" Ndaru menutup iPad-nya dan mengangguk. "Kenapa Pak Ndaru nggak bilang?" Ndaru sendiri juga tidak tahu. Dia memang terkejut dengan aksi seorang gadis yang tiba-tiba menciumnya. Namun entah kenapa dia memilih untuk mengabaikannya. Toh, gadis itu juga pergi secara tiba-tiba. Ndaru pikir tidak perlu diperpanjang. Namun siapa sangka justru kejadian itu menjadi masalah baru untuknya? (Flashback on) Ndaru sudah terlalu lama menunggu Gilang. Dia juga sudah mengakhiri panggilan video dengan anaknya 15 menit yang lalu. Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam. Ndaru benar-benar ingin tidur. Dia tidak mau tubuhnya tumbang dalam keadaan berduka seperti ini. Ndaru memilih untuk menghubungi Gilang. Begitu nada dering pertama terdengar, panggilan langsung terangkat. "Kenapa lama?" tanya Ndaru. "Maaf, Pak. Saya sedang menunggu petugas hotel untuk menyiapkan kamar Bapak." "Masih lama?" "Sebentar lagi, Pak." "Kalau gitu saya langsung ke sana. Lantai berapa?" "Lantai 30, Pak." "Oke." Ndaru memutus panggilannya dan bergegas keluar dari ruangan VIP itu. Ini bukan kali pertama dia berada di Atma Hotel, jadi tidak sulit untuknya berjalan sendiri di tempat ini. Ndaru sempat menangani beberapa properti milik Atmadjiwo Grup sebelum menikah dulu. Hari yang sudah malam membuat suasana benar-benar sepi. Bahkan Ndaru berada di dalam lift seorang diri. Dia bersandar sambil mengatur napas, sesekali matanya terpejam karena rasa lelah. Begitu lift berhenti, Ndaru kembali membuka mata. Tanpa banyak menunggu, dia langsung keluar dari lift. Ternyata tidak sepenuhnya sepi, Ndaru melihat ada beberapa orang di sana. Belum sempat berlalu, Ndaru merasakan tarikan kencang pada lengannya. Dia berbalik dan merasakan tangan seseorang yang mencengkeram erat kemejanya. Tak sempat menjauhkan diri, Ndaru merasakan sesuatu yang lembut mendarat di bibirnya. Matanya membulat menyadari apa yang baru saja terjadi. Seorang gadis muda menciumnya. Ini tidak benar! Ndaru ingin mendorong gadis itu, tetapi dia merasakan rasa asin pada bibirnya. Sekarang dia malah terdiam kaku ketika menyadari jika gadis itu menangis dalam ciumannya. "Shana, apa-apaan!" Teriakan itu kembali menyadarkan Ndaru. Kali ini dia benar-benar ingin melepaskan diri, tetapi gadis itu malah meraih wajahnya dan memperdalam ciumannya. Sial! Beruntung pada akhirnya ciuman tak terduga itu berakhir. Ndaru masih terkejut sampai tak bisa mendengar jelas apa yang terjadi di sekitarnya. Bahkan dia tidak sadar sudah kembali masuk ke dalam lift bersama gadis asing itu. Tak lama pintu lift kembali terbuka. Gadis itu keluar dan bergumam minta maaf. Ndaru masih bisa mendengarnya. Bahkan dia juga bisa melihat air mata yang mengalir di pipinya. Sebenarnya apa yang baru saja ia alami? Ndaru menggeleng pelan dan mengusap wajahnya kasar. Seketika rasa kantuk langsung hilang digantikan dengan pusing yang menyerang. Kepalanya mendongak untuk melihat ke mana lift akan membawanya. Namun ada yang aneh, detik itu juga Ndaru sadar jika ia salah turun lantai dan kesalahan itu membawanya pada petaka malam yang tak terduga. Seharusnya dia menunggu Gilang dan tak pergi sendiri. (Flashback off) "Bapak kenal wanita itu?" Ndaru menggeleng. "Astaga!" Gilang tidak bisa menahan diri untuk berdecak. "Kenapa harus dengan wanita asing, Pak? Kalau Bapak mau, saya bisa carikan wanita yang bisa dipercaya—" "Apa maksud kamu?" Ndaru menatap Gilang tajam. "Kamu tau saya bukan pria seperti itu." "Maaf." Gilang menunduk. "Hari ini Bapak tidak bisa bersantai. Pak Harris ingin bertemu Bapak di rumahnya." Ndaru meringis. "Papa saya tau masalah ini?" "Semua orang sudah tau masalah ini, Pak." Bagus, baru satu hari tiba dia sudah membuat ulah. *** Sarapan kali ini tidak berjalan hangat sama sekali. Padahal untuk pertama kalinya selama tiga tahun Ndaru kembali sarapan bersama ayahnya. Namun ini bukan bagian dari acara lepas rindu, melainkan sidang dadakan. Keberadaan Guna dan kakak iparnya seolah membenarkan pikirannya. "Makan dulu, Mas," pinta Harris pada Ndaru. Ndaru menggeleng. "Nanti aja." Guna yang sedari tadi diam mendadak menghela napas kasar. Dia meletakkan sendoknya dengan kesal. Seperti tidak sabar untuk menghakimi adiknya. "Kamu kenapa, sih, Ndaru?" tanya Guna benar-benar frustrasi. "Kenapa bisa ketauan?" Ndaru mengusap alisnya pelan. Sepertinya kesalah-pahaman ini membuatnya tampak seperti pria b******n. Padahal kenyataannya dia adalah korban. "Kenapa kamu nggak bisa tahan sedikit aja sampai kamar? Kenapa harus di koridor hotel?" "Mas," potong Ndaru cepat. Dia tidak mau mendengar tuduhan menjengkelkan dari kakaknya lagi. "Itu semua salah paham." "Foto itu jelas, Ndaru. Salah paham gimana?" Kali ini Yanti yang berbicara. "Mbak sampe nggak kuat baca komen netizen tentang kamu." Percayalah, Ndaru juga demikian. Dia meringis ngeri membaca komentar orang-orang tentangnya. "Buset, abangnya baru meninggal eh malamnya langsung cocok tanam." "Oh, jadi ini duda incaran satu Indonesia? Cakep sih, tapi ampun... tahan dikit napa om." "Ternyata Atmadjiwo yang satu ini diam-diam menghanyutkan. Jangan-jangan yang lain gitu juga?" "Please, siapa ceweknya? Mau juga dicium klan Atmadjiwo!" "Bukannya Handaru ini deket sama model? Yang finalis ajang kecantikan itu?" "Abangnya yang mau nyaleg itu bukan? Kalo iya kasus adeknya bisa jadi sasaran empuk buzzer nih." "Yakin mau pilih keluarga Atmadjiwo jadi anggota dewan? Liat aja beritanya, nggak ada akhlak sama sekali." Begitulah kira-kira isi komentar para netizen yang budiman. Benar-benar membuat kepala Ndaru berdenyut. Bukan hanya kepalanya, tetapi semua anggota keluarga Atmadjiwo. Citra mereka ternoda karena skandal si bungsu. "Kamu kenal perempuan itu, Ndaru?" Ndaru menggeleng. "Tiba-tiba dia cium aku gitu aja. Mas Guna bisa cek CCTV kalau nggak percaya." "Apa ada orang yang sengaja jebak kamu?" Pertanyaan Yanti membuat semua orang terdiam. Ini bisa saja terjadi mengingat jika banyak orang yang ingin menjatuhkan keluarga mereka. Atmadjiwo seolah tidak memiliki celah, karena itu skandal panas harus tercipta. "Ndaru single, duda incaran banyak orang, kaya, sukses, nggak punya masalah, pasti ada orang yang sengaja senggol kita." "Nggak mungkin," gumam Ndaru pada akhirnya. Entah kenapa dia yakin dengan jawabannya karena teringat dengan air mata yang keluar dari mata gadis itu. "Mas Guna, untuk sekarang segera minta orangmu untuk hapus cuitan itu," perintah ayahnya. "Kita juga harus cari siapa dalang dibalik akun anonimus itu." Ndaru beralih pada Gilang. "Tolong cari sampai ketemu, Lang. Kalau bisa tuntut dia juga." "Baik, Pak." "Kita akan sibuk setelah ini. Nama kamu harus bersih, Mas." Meskipun terlihat tenang, tetapi Harris begitu tegas. "Semua demi kebaikan keluarga kita. Untuk karir politik Mas Guna dan juga karir kamu di perusahaan nanti. Jangan sampai kejadian ini membuat para pemegang saham nggak percaya Mas Ndaru untuk memimpin perusahaan." Benar. Skandal ini harus segera diatasi. *** Shana duduk di sofa dengan kaki tertekuk. Selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya. Dengan ditemani teh hangat, dia menatap Erina dengan wajah polosnya. Tatapan tidak bersalah itu membuat keadaan semakin tidak nyaman. Shana sudah siap jika kakaknya akan kembali mengomel kali ini. "Lo bikin masalah apa lagi, sih, Shana?" Erina memijat kepalanya yang terasa berat. "Kayak gue bikin masalah terus aja, Mbak," gumam Shana dengan bibir yang maju. "Lo pacaran sama Dito aja udah bikin gue pusing. Sekarang lo malah—" Erina tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. "Dito selingkuh, Mbak. Gue liat ada cewek setengah bugil di kamar itu." Shana kembali mengingat malam menyesakkan itu. "Iya, tapi ini bukan lagi tentang Dito, tapi lo! Bukan Dito yang viral malah lo yang jadi trending topic." Shana mengembungkan pipinya. Dia tahu jika ia salah. Namun sungguh, Shana tidak pernah berpikir jika aksi nekatnya semalam memberikan posisi yang merugikan untuknya. Bagaimana bisa foto ciumannya beredar padahal tidak ada siapa pun di sana selain dirinya dan Dito serta pria asing itu? "Terus ini gimana? Bukan Dito yang dihujat malah lo yang dituduh selingkuh. Lo nggak takut karir lo hancur?" "Wajah gue nggak keliatan banget, kok. Masih bisa ngelak." Benar katas Shana. Netizen masih kabur dengan identitas gadis di foto itu. Memang sudah ada yang berhasil menebak dirinya. Namun ada juga yang tidak mempercayainya. Pukulan keras Shana dapatkan di kepala. Dia menghindar dari Erina cepat. Kakaknya benar-benar marah kali ini. Profesi mereka memang bersinggungan dengan publik, tentu masalah ini akan mempengaruhi nama mereka. Apa lagi Shana. Ini pertama kalinya dia terlibat skandal yang merugikan. Selama ini dia dikenal sebagai penulis yang tidak memiliki masalah. Bahkan aktifnya dia di dunia filantropi memberikan citra yang positif. Namun lihat sekarang, semua hancur dalam satu malam. "Ada media yang hubungi lo?" Erina kembali duduk. "Banyak, gue sampe trauma buka email." Ya, Shana mendapatkan banyak email dari para wartawan yang ingin mencari kebenaran. Jangankan bertemu, untuk keluar rumah saja Shana tidak mau. Dia bahkan mengungsi ke rumah kakaknya sejak semalam. "Apa kita minta bantuan Mas Fathur aja, Mbak?" tanya Shana. Fathur Ranjana, kekasih Erina, pemilik dari Ranjana Media yang juga memiliki dua stasiun televisi. Tentu dia memiliki kekuatan untuk mengendalikan berita yang tersebar. "Kita udah sering minta bantuan dia." Suara langkah kaki yang mendekat membuat kedua gadis itu menoleh. Panjang umur. Pria yang mereka bicarakan datang dengan wajah masam. "Apa lagi kali ini, Shana?" tanya Fathur langsung. "Mas sudah capek urus berita miring tentang Dito. Eh, sekarang malah gantian kamu." "Aku khilaf, Mas." Shana menunduk. "Kamu bisa bantu Shana, Yang?" tanya Erina ragu. "Dia butuh pengalihan isu." "Bisa, tapi kayaknya kali ini berita nggak akan hilang gitu aja." Fathur menatap Shana lekat. "Kenapa harus Handaru Atmadjiwo, Shana?" Shana menggigit bibirnya pelan. "Cuma dia yang ada di sana." Erina menepuk dahinya pelan. Adiknya benar-benar membuatnya pusing. Benar, dia pusing bukan hanya karena foto ciuman Shana yang tersebar. Melainkan kenapa harus Handaru Atmadjiwo yang adiknya libatkan? Benar-benar petaka. *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD