Sudip mengenai wajan begitu mengganggu telinga Farhana yang sedang mengecek ponsel dan mencari lokasi kontrakan untuknya di Bandung nanti. Diana memang tak bisa pelan dalam memasak, senyum saja yang lembut, dalam bekerja dia tidak bisa kemayu, meski itu pekerjaan perempuan.
Suara air dari keran mengalir deras, Fahri datang mematikan air yang terbuang sia-sia. “Matikan dulu,” ucapnya.
“Iya maaf,” dengkus Diana.
Farhana segera bangkit saat Fahri menghampirinya, dia malas jika harus mendengar ceramah Fahri sepagi ini. Jarak usia yang sangat jauh membuat Fahri benar-benar bertanggung jawab dalam menggantikan posisi Harun di rumah itu.
“Mau ke mana kamu?” tanya Fahri seraya duduk.
“Siap-siap.”
“Duduk dulu, Kakak mau bicara!”
Terpaksa Farhana duduk kembali, sebelum Fahri memencak lantaran tidak terima jika Farhana menolak perintahnya.
“Gimana sama anak sulung keluarga Pranaja? sudah kamu temui?”
Farhana mengernyit. “Makhluk apa itu?”
Fahri memukul kepala adiknya dengan sendok. “Dia calon suami kamu, bicaralah yang sopan.”
Farhana merengut sembari menggosok kepalanya dengan telapak tangan. “Sakit, Kak.”
Fahri mendengkus dan mengabaikan rasa sakit Farhana. “Waktu ayah meninggal, yang datang ke sini hanya pak Billy dan bu Sinta saja, sementara tiga anaknya tidak sama sekali.”
Farhana mengangguk. ‘Bodo amat,’ gumam Farhana dalam hati. Dia benar-benar tidak peduli.
“Kapan kalian mau bertemu?”
Farhana pura-pura bersikap ramah. Dia memang cukup pandai berakting. “Hari ini memang mau ketemu,” bohongnya. Jelas-jelas dia meminta Nesya untuk menemui pria itu besok.
“Setelah itu aku langsung cuss--” Dia mengayunkan tangannya seperti pesawat yang melesat terbang di langit, “ke Bandung,” imbuh Farhana.
“Jangan bikin malu,” sergah Fahri.
Farhana mengangguk, kemudian bangkit. “Nggaklah.”
“Hana …,” panggil Diana.
Farhana segera memenuhi panggilan Diana. Dia berdiri tepat di sebelah wanita itu.
“Ini bekal kamu dan ini buat sarapan kita pagi ini.”
“Makasih, Kak.”
“Sekalian bantu kakak, buat rapiin meja makan,” pinta Diana.
“Hmm ….” Farhana membawa mangkuk besar berisi nasi goreng seafood ala Diana. Kemudian dia meletakkannya di atas meja. “Aku nggak bisa makan bareng, udah janji mau--” Farhana terdiam sejenak sembari mengedarkan pandangan. “Loh ibu mana?”
“Di kamar,” jawab Fahri singkat.
Farhana segera meninggalkan ruang makan dan langsung menuju ke kamar ibunya. Dia mengetuk pintu itu perlahan. “Bu, Hana mau berangkat,” ucapnya pelan.
Usai membukakan pintu dengan lebar. Rahmi berdiri di depan Farhana, dia tersenyum lembut menyambut anaknya, Namun, senyum Rahmi membuat Farhana merasa sedih.
“Jangan tunggu kabar buruk, baru kamu mau pulang,” ucap Rahmi sembari meneteskan air mata.
Farhana merengut. “Ibu kok ngomong gitu.” Dia menahan bendungan dari matanya dengan menatap ke atas sekilas. “Hana pasti pulang tiap weekend.”
Rahmi kemudian tersenyum. “Semoga kamu menepati janji kamu.” Dia masih teringat bagaimana anak gadisnya itu berjanji, sehingga menumbuhkan harapan di hati ayahnya.
Farhana langsung menghambur ke pelukan ibunya. “Maafin Hana, semoga Allah memberikan ibu umur yang panjang.”
Rahmi mengangguk. “Aamiin.” Dia membelai rambut Farhana yang tergerai. “Jilbab kamu mana?”
Alih-alih menjawab, Farhana malah melepas pelukan sembari tersenyum.
“Kenapa dibuka?” tanya Rahmi lagi.
Farhana kembali tersenyum, lalu dia membasahi tenggorokannya, kemudian berujar, “Kayaknya Hana harus memperbaiki niat dulu deh, Bu.”
“Memang dulu kamu di jilbab karena siapa?”
Farhana menarik napas. “Gias,” jawabnya pelan.
Rahmi menghela napas sembari menggelengkan kepala. “Niat kamu dari awal memang salah, tapi siapa tahu meski dari awal salah, kamu tetap bisa istiqomah dalam kebaikan.”
Farhana kembali memeluk lengan sang ibu dan mengajaknya berjalan menuju depan rumah. Di sana koper dan ransel Farhana sudah teronggok di depan pintu. Hanya tas kecil yang menyampir di bahunya.
“Hana pergi ya, Bu,” ucap Farhana setelah melepaskan pelukan.
“Jilbab kamu--” Rahmi membelai puncak kepala anaknya, “pakai lagi, ya.”
Farhana terdiam sejanak, dia menatap manik hitam sang ibu yang sudah berembun. Farhana mengedikkan bahu. “Hana belum tahu, tapi nanti deh setelah Hana meluruskan niat. Hana janji."
Rahmi hanya mengangguk. Farhana memang keras kepala, sama seperti ayahnya. “Kamu jangan mudah mengumbar janji.”
“Nggak kok,” elak Farhana sembari terus melangkah.
Rahmi menghela napas. Farhana benar-benar mirip ayahnya. Hal itu membuat Rahmi merasakan kesedihan yang kembali mendera.
“Ibu jangan khawatir, ya.” Farhana kembali memeluk sang ibu. “Semua akan baik-baik saja.” Kemudian dia mengurai pelukan itu. “Kasih Hana waktu dua tahun.” Dia mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya ke depan.
Rahmi kembali mengangguk. “Hati-hati, semoga apa yang kamu inginkan diridhai Allah.”
Farhana kembali menurunkan bahu. “Ridha Allah, ‘kan ada pada Ridha ibu, makanya ibu harus ridhai Hana.”
“Iya.” Rahmi membelai rambut panjang itu.
Fahri, Diana dan Amalia sudah berdiri di belakang mereka. Farhana pun menoleh dan memeluk mereka bergantian. “Hana, pamit. Jaga ibu.”
Fahri mengangguk. “Semoga setelah ini kamu lebih dewasa.”
“Iya,” ucap gadis itu. Lalu Farhana menyeret kopernya. Kemudian menoleh. “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Dibantu sopir taksi online, Farhana memasukkan tasnya ke dalam bagasi. Kemudian dia melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil. Beberapa detik kemudian taksi melesat pergi dari halaman rumahnya.
Perjalanan Jakarta-Bandung tak membutuhkan waktu hingga seharian, apalagi kalau jalanan lenggang seperti ini.
Farhana menyeret koper dan berdiri di depan sebuah rumah bernuansa serba coklat, sementara pohon flamboyan berdiri tegak di depan rumah tersebut dan rumput gajah mini terhampar menutupi seluruh permukaan tanah.
Di depan gerbang tersebut tertera sebuah papan yang bertuliskan menerima kost putri. Farhana yakin dia tidak salah rumah. Perlahan tangannya terangkat dan mengetuk pintu tersebut.
Tiba-tiba seorang perempuan muda berdiri di depannya. "Mau ketemu siapa?" tanya gadis berambut sebahu itu. Tubuh gadis itu memang lebih tinggi dari Farhana. Namun, Farhana rasa perempuan itu berusia lebih muda darinya.
"Di sini menerima kost putri ya, Dek?" tanya Farhana ragu-ragu, lantaran perempuan muda itu tampak bingung. "Dek?"
"Bentar, saya tanya oma dulu," ucap gadis itu sembari menoleh ke belakang. "Tunggu ya, Mbak," pintanya.
Farhana mengangguk. Sementara gadis itu masuk ke dalam. Beberapa menit Farhana menunggu, gadis itu kembali bersama dengan nenek tua yang tampak masih segar dan cantik, rambut putihnya tertutup jilbab selendang yang menyampir di kepala, sementara sebagian anak rambutnya mengintip di antara pelipisnya.
"Siang, Nek," sapa Farhana seraya mengangguk ramah. "Saya Hana." Farhana merunduk dan meraih tangan keriput sang nenek, lalu mengecupnya.
"Mau ngekos?"
"Iya, Nek," jawab Farhana.
"Panggil Oma Yuli," Sahutnya. "Ini–" Oma Yuli merangkul bahu gadis muda itu, "Shafira, cucu kesayangan Oma."
Farhana mengangguk ramah dan mengulurkan tangannya pada Shafira. "Hana."
"Fira."
"Ayo masuk," pinta Oma Yuli.
Farhana mengikuti Oma Yuli dan cucunya masuk ke dalam rumah. Dia mengedarkan pandangan, rumah bernuansa coklat khaki itu terkesan mewah dengan sentuhan semi Eropa.
"Silakan duduk, Hana." Oma Yuli benar-benar menyambutnya dengan ramah. Farhana malah tidak mengerti kenapa Tuhan mengirimnya ke rumah tersebut. Meski begitu dia tetap duduk, lagi pula sudah terlanjur ada di sini, Farhana tidak mungkin kembali pulang.
"Kamu kuliah?" tanya Oma Yuli, sementara Shafira baru saja kembali dengan segelas air.
'Ini ada apa?' tanya Farhana dalam hati. 'Apa orang Bandung benar-benar seramah ini?'
"Atau kerja?" Oma Yuli kembali bertanya, lantaran Farhana terlihat melamun.
"Kerja, Oma," jawab Farhana. "Hana dikirim dari perusahaan pusat ke Cabang, Oma, besok mulai kerja."
Oma Yuli mengangguk. "Minum," pintanya.
Farhana kembali mengangguk sembari mengambil gelas dan menyeruput air putih dingin itu. Farhana tidak salah rumah, 'kan? Atau jangan-jangan Oma Yuli yang salah menyambut orang?
"Kamu orang pertama yang ngekos di sini," ucap Oma Yuli. "Kamar kamu nanti di belakang. Biar Fira yang antar kamu."
Farhana mengangguk, kemudian bangkit dan mengikuti Shafira. Dia akan lihat dulu kamarnya, lalu bernego soal harga perbulannya. Kini Farhana sudah berdiri di depan sebuah kamar dengan pintu berwarna putih bersih seperti baru dicat.
"Hana, ini kamar kamu, 500 sebulan," ucap Oma Yuli sembari membuka pintu tersebut.
Farhana menghela napas. Seolah dia kecewa dengan harga yang ditawarkan Oma Yuli. Namun, saat masuk ke dalam, dia terkesima dengan kenyamanan di dalamnya. Ranjang besar dengan kasur yang empuk, lemari dengan cermin besar serta meja belajar. Mungkin ini disediakan untuk para pelajar. Sementara di sudut kamar ada pintu menuju kamar mandi.
"Gimana?" tanya Oma Yuli.
"Saya ambil, Oma," jawab Farhana yakin. Dia merogoh uang dan memberikannya pada Oma Yuli. Lagi pula dia tidak ada pilihan lain, selain nyaman, ini juga merupakan tempat kos yang paling dekat dengan tempat kerjanya.
"Baik, kalau begitu, Oma tinggal ya," ucap Oma Yuli seraya berbalik dan melenggang pergi bersama Shafira.
Farhana mulai berkemas dan merapikan barang-barangnya. Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Farhana segera mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. "Assalamu'alaikum, Nes, kenapa?"
[Wa'alaikumussalam, Hana. Untuk besok gimana, jadi?]
"Ah iya, aku lupa." Farhana menepuk dahinya sendiri. Dia memiringkan kepala dan mengapit ponsel dengan bahunya, kemudian bangkit. "Nanti aku kirimkan di mana kamu harus bertemu dia," ucapnya sembari merapikan buku. "Sekalian kukirim kontaknya deh."
[Oke.] Jawaban tersebut menjadi satu-satunya kata untuk mengakhiri panggilan yang Nesya lakukan. Sesaat Farhana tercenung. Ada apa dengan Nesya, apa dia keberatan, atau jangan-jangan berubah pikiran?
Tak ingin ambil pusing, Farhana kembali merapikan barang-barangnya. Lagi pula kemarin Nesya tidak katakan soal keberatan atau tidak. Malah dia bersedia membantunya, lalu untuk apa hal tersebut menjadi beban pikirannya. Bukankah Farhana setengah memaksa pada Nesya.
Setelah selesai merapikan semua barang-barangnya dari koper ke lemari. Kini Farhana duduk bersandar. Dia mengambil ponsel yang teronggok di meja. Tiba-tiba harapannya terhadap Gias membuatnya gila. Sepertinya memang Farhana harus lebih dulu menelepon pria itu. Namun, sebelumnya Farhana mengirimkan tempat pertemuan Nesya dengan anak sulung keluarga Pranaja beserta dengan nomor ponsel pria itu. Semoga Farhana tidak keterlaluan dengan melibatkan Nesya ke dalam masalah ini.