Satu bulan setelah putus dari Nobita, itu artinya dua bulan setelah diperkosa Alesandro Gustafo.....
Puspa POV
Pertanyaan Nobita masih terngiang-ngiang di telingaku. Di satu sisi aku tak sudi bila harus menikah dengan Alesandro Gustafo, apapun yang terjadi. Mau jadi apa aku? Istri kedua? Ogah.. Wanita mana yang ingin di/madu?? Dalam keadaan normal saja banyak yang enggan apalagi jika harus jadi istri kedua karena sebuah aib, hamil diperkosa tunangan orang. Haaah.. Aku berteriak kencang di lapangan dekat kos sepulang kuliah. Melepaskan kesuntukanku. Untung tidak ada orang lain.
Namun, di sisi lain, aku juga harap-harap cemas, sudah dua bulan ini haidku belum datang jua. Kalau diitung-itung sih menurutku pada malam kejadian itu aku tidak dalam masa subur. Alias seandainyapun aku bercinta dengan cowok dan cowok itu mengeluarkan pejuhnya di dalam rahimku bisa dibilang kecil bahkan nihil kemungkinan aku hamil. Yang membuatku galau, kug ya aku gak haid dua bulan ini. Aku hanya berharap semoga ini memang karena siklus haidku yang sedari dulu tidak stabil. Ini bukan kali pertama sih aku sampai dua bulan gak haid. Waktu remaja dulu seingatku aku pernah mengalami dua atau tiga kali siklus yang sama, dua bulan telat eh bulan ketiga malah "banjir deras". Doaku panjatkan semoga aku tidak hamil.
Author POV
Sementara itu, nun jauh di sana tanpa sepengetahuan Puspa ada sosok yang selalu mendoakan Puspa di setiap kesempatan. Mendoakan cewek itu agar tidak hamil karena ulah Ale. Sosok itu adalah . . . . . Nobita POV "Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosaku, dosa Puspa, dosa kami. Jagalah ia dari aib ini. Jagalah ia dari kehamilan yang tak diinginkan. Aamiin." Tak terhitung berapa kali doa itu ku panjatkan. Usai dikabari Puspa bahwa ia ternoda, di setiap akhir ibadahku ku selipkan doa itu. Teman-teman kerjaku heran kenapa akhir-akhir ini ibadahku jauh lebih lama dari biasanya. Aku, Nobita yang semakin terlihat khusyuk sampai-sampai tubuhku mengurus. Tak ada yang tahu aib ini selain aku, Puspa, cowok b******k itu -siapa namanya? Gustafo?-, dan Tuhan. Aku jaga betul rahasia ini walau terkadang orang tua Puspa menghubungiku sekedar bertegur sapa. Haah, beban ini sungguh berat, Kawan! Bayangkan kekasih yang kau jaga mati-matian kesuciannya meski kadang agak m***m ketika kencan, mahkotanya telah terenggut hanya dalam satu malam oleh cowok lain. Semenjak balasan sms Puspa tempo hari, aku depresi. Tidur tak nyenyak, makan tak enak, kerja tak semangat. Sampai-sampai aku harus menghubungi psikolog di sebuah rumah sakit demi mempertahankan kesehatan mentalku. Sudah tiga puluh hari aku dan Puspa putus. Tiada kabar lagi darinya. Aku tak berani mengganggunya. Aku mafhum bagaimana kondisi kejiwaannya. Puspa, aku tetap mendoakanmu supaya apa yang tak kau inginkan tak terjadi.
Setidaknya, itulah keinginanku saat ini sebagai seorang mantan. Puspa POV Saat mandi kali ini, aku merasakan ada yang tak beres dengan perutku. Nyeri sekali. Tak berapa lama, haidku datang! Aku menghela nafas, lega sekali. Yeey, aku tidak hamil! Akhirnya yang ku tunggu-tunggu datang! Usai membereskan urusan haid ini. Aku spontan bersujud tanda syukur. Aku bergegas mengambil hand phone. Aku segera mengirim sebuah pesan: "Bi, haidku datang. Aku tidak hamil!" 'Send' Aku harus mengabari Nobita segera. Bukan untuk kembali sebagai kekasih, tapi sebagai partner berbagi kisah hidup. Sebenarnya di lubuk hatiku paling dalam aku masih mencintainya. Tapi sepertinya aku lebih nyaman bila tak bersatu dengannya. Cukup sampai di sini. Begini saja.
Nobita POV
'Ting.. tong” Ponselku berbunyi seperti bel rumah tanda ada sms masuk. What? Dari Puspa? Tumben.. "Bi, haidku datang. Aku tidak hamil!" Mataku berbinar membacanya. Bergegas aku bersujud mengucapkan terima kasih pada Tuhan. "Terima kasih, Tuhan. Doaku didengar. Doaku Kau kabulkan. Syukurlah." Bangkit dari sujud, air mataku mengalir. Terlepas sudah beban berat yang membuatku sampai harus meminun obat anti-depresi. Aku bertekad membiarkan Puspa bahagia mulai sekarang. Apapun keputusannya.