Kenakalan Nobita dan Kenakalan Puspa Bersama Yang Lain

1394 Words
Nobita's POV  "Hai, Greysha." "Hai, juga Nobi. Apa kabar?" "Baik. Kamu?" "Baik juga. Hehe." "Lama ya tak bertemu. Mau mampir ke apartemenku?" "Emang boleh?" "Lho, kenapa tidak?" "Baiklah kalau kau mengizinkan. Aku tak keberatan." Begitulah perjumpaanku dengan Greysha, adik angkatanku di College dulu. Kami berjumpa lagi pada sebuah pesta yang diadakan seorang pengusaha multi-nasional. Greysha rupanya jadi pengusaha sekarang. Tubuhnya kini langsing. Beda saat kami di College dulu. Sepertinya dietnya berhasil. Hari ini aku akan berkunjung ke apartemennya. Pakaian resmi dengan jas berdasi ku pakai sebagai andalan. Rencananya, setelah mampir aku akan pergi ke sebuah seminar eksklusif mengenai budaya. Hmm, dengan bermobil aku keluar dari kondominiumku. Baru saja Puspa menelepon bilang mau ada praktek lapangan selama sebulan. Jadi, ia pamit. Sebulan tanpa kontak pastinya akan sangat hampa, pikirku. Tak terasa, aku sudah sampai di apartemen Greysha. Ku ketuk pintu biliknya. Tak berapa lama pintu terbuka, aku terpana. Bagaimana tidak? Greysha menyambutku dengan pakaian santai ala rumahan. Longgar, tapi menampakkan sebagian paha dan menerawang sampai aku pun bisa melihat bahwa payudaranya tak berlapiskan apa pun di balik baju. Montok! Masuk, Nobi" serunya. "Terima kasih." sambil tersenyum aku melangkah masuk. Aku terpesona, penataan ruang yang sangat sistematis dan berkelas. "Mau minum apa?" tanyanya begitu aku duduk di sofa ruang tamu. "Cukup teh saja." jawabku. "Baiklah. Tunggu sebentar ya.." ia beranjak menuju meja dapur tak jauh dari pandanganku. "Kamu masih tinggal sendirian?" "Iya, Nobi. Sejak ayahku meninggal beberapa waktu lalu. Aku tinggal di sini sendirian." "Ou, maaf. Aku jadi mengingatkanmu pada mendiang Bapak." "Ou, tak apa. Santai saja." Ia melangkah menujuku sambil membawa segelas teh. "Silakan diminum, Nobi."  "Terima kasih. Srrt, aaah" seruku setelah meneguk sebagian teh buatan Greysha. Rasanya agak aneh. Tak terbiasa di lidahku. Kami kemudian berbincang-bincang, bernostalgia mengenang masa lalu. Semakin lama Greysha semakin mendekati posisi dudukku. Pahanya yang putih dan mulus membuatku tak fokus. Aku pun merasakan tubuhku mulai memanas. Ada gairah yang tak biasa yang membangunkan kelaminku. Membuatku gelisah. Apalagi Greysha memegang tanganku. Meremas jari-jariku. Membuatku terbuai lalu.. "Cup" tanpa ku sadari lidahku menempel pada lidahnya. Rupanya ia tak menolakku, justru membuka bibirnya lebar-lebar menyambut ciumanku. Lidahnya menari-nari menandingi lidahku. Kami terjebak dalam ciuman panas beberapa waktu. "Elmmmm... elmmmm.. Muaaach"  "Aaahhh.. muuaach." elmmm.. elmmm.... Tangannya mulai merabai punggungku. Aku balas dengan merabai punggungnya sampai bokongnya. Ku remas-remas b****g suburnya. "Uughh.. ughh.. Nobi.." Ia mulai mendesah dan menyebut namaku. Terbawa suasana, kami telah berada di atas ranjangnya. Ia di bawahku. Ia mulai membuka kancing bajuku. Sebaliknya, aku mulai meremas toketnya. "Iihhh.. aghh.. Nobi nakal." sergahnya. Kami pun kini sama-sama bertelanjang d**a. Dan, ohh kelaminku mulai memberontak ingin mencuat dari sarangnya. Aku mencumbu mulut Greysha sementara tangannya mulai merogoh celanaku. Mencari-cari k****l. Setelah ia menemukannya, ia remas dengan kerasnya. "Aghh, kamu juga nakal, Grey." kataku. "Ayo kita telanjang, Nobi." pintanya.  Gayung bersambut akupun mengiyakannya. Ku lepas baju Greysha dan melemparkannya tak tentu arah. Kini ia benarbenar bugil polos tanpa ada yang membungkus tubuh indahnya. Gantian, ia pun juga melepaskan semua bajuku dan dilemparkannya jauh-jauh. Kami saling memandang tubuh bugil kami. Perlahan ia mengelus dadaku mendekat merapatkan dirinya kepadaku. Aku terlena. Tanpa sadar tanganku beranjak memeluknya. Tubuh polos kami menempel. Kelaminku di bawah sanapun mulai bangkit menantang. Mulai menusuk perutnya. Greysha tahu akan hal itu. Ia gesekkan perut mulusnya ke kontolku. Membuatku melayang. Ku rebahkan tubuhnya ke ranjang. Ku tindih ia. Ku kecup dahinya. Ku belai rambutnya, ku urai ke segala arah. Ke atas, ke samping. Cup! Ia pun membalas dengan mencium leherku. "Ssshhh... hmmmm"    Keluhnya mulai keluar. Aku pun turun. Ku elus lembut pipinya. Oh, Greysha memang salah satu kenalanku yang paling seksi dan paling berani dalam mengekspos dirinya. "Muuah ... muaach" Ku ciumi pipinya. Ia memejamkan mata. Tubuhku menindihnya. Ranjang ini mulai bergetar mengikuti pergulatan kami. Kontolku di bawah mulai menegang. Saat kontolku mulai mengarah ke vaginanya, tetiba aku teringat Puspa. "Ah, Greysha. Kita tak boleh melakukan ini." seruku sambil menjauh dari tubuhnya. "Kenapa? Karena Puspa, kekasihmu itu?" katanya manja. "Sejujurnya, Iya." kataku. "Ayolah, Bi. Puaskan aku malam ini.. Tak perlulah kau menusuk mekiku. Cukup aku kulum juniormu lalu kita bisa saling memuaskan."    Greysha menarik tubuhku lagi ke dalam pelukannya. Ia pun memutar tubuhnya. Dia bergeser ke bawahku. Kepalanya dihadapkan pada kontolku. Tak ku duga ia seagresif ini. Begitu melihat mengemutnya. kontolku, ia langsung "Aaahhh" keluhan nikmatku terlepas jua menikmati pose 69 kami. Greysha benar-benar menganggap komtolku seperti es krim. Dijilat, disepong. Membuatku meremas rambutnya dan menekan-nekan kontolku masuk mulutnya. Menggenjotnya laksana menggenjot v****a. "Ughh.. aghh" "Shhh.. aahh" Aku juga mengulik-ngulik memeknya. Tiga jariku masuk liang surganya dan menekan klitonya. Birahi kami saling terpuaskan malam ini... Puncaknya, di suatu titik aku meledak di mulutnya dan ia pun mengalirkan cairan surganya. Kami meraih puncak. Kami pun terhempas lemas dan saling berpelukan tanpa diselimuti apapun. * * * * * * * Puspa's POV Hmm,,, tumben-tumbennya Alesandro mengajakku keluar sore ini. Ku akui ia gagah, atletis, dan menarik. Dengan motor gedenya membuat ia semakin mempesona gadis-gadis di kampusku. Termasuk aku juga, hehe. Sejenak aku ingin melupakan Nobi. Aku ingin merasakan dekat dengan Alesandro. Ia memintaku memakai baju sporty kali ini. Katanya biar matching sama motornya. Itu artinya aku harus memilih baju-bajuku yang agak ketat. Celana pensil, kaos ketat, dipadu jaket kulit membuat bodyku semakin membentuk padat berisi. Tak apalah sekali-kali.  Toh, dengan Nobipun aku sering memakai kustom press-body. Ia menjemputku di kos. Penampilannya kali ini macho sekali. Sungguh, membuat dadaku berdebar-debar. Motor gedenya membuatku terpaksa harus mengangkang. Sepertinya ia sengaja membuatku terlihat liar pada kencan pertama ini. Sepanjang perjalanan, ia memintaku memeluknya erat. Kecepatannya yang bak pembalap menjadikanku suka atau tidak suka memeluknya erat. Posisi ini membuatku mengangkang lebih lebar sekaligus menempelkan payudaraku ke punggungnya. Bulu kudukku berdiri saat seringkali pangkal pahaku bersenggolan dengan pantatnya. Libidoku mulai naik, aku mulai gelisah. Ditambah kebiasaanku yang tak memakai bh kalau pergi keluar praktis semakin memacu peredaran darahku. Ou, aku menempel sempurna bak prangko pada tubuh Alesandro. Hanya pakaianlah pembatas kami. "Aaah.. ahh" tak terduga desahanku keluar. "Ya, Puspa?" Oh, My God! Ia mendengarnya. Wajahku bersemu merah hingga ku sadar seperti ada yang berjalan di kulit pahaku. Rupanya Alesandro mengelus-ngelus pahaku yang terbungkus celana pensil ini. Sambil menyetir ia menggrepe-grepe aku. Gila! Jari-jarinya mengarah ke resleting celanaku. Sampai di sana ia mengelus dan menghujamkan jarinya tepat di atas pembungkus vaginaku. Ouuh, rupanya ia birahi batinku. "Ahh.." Lenguhan kecil terlepas dari mulutku. Gokil, ini enak banget. Ia mengerjaiku. Jari tengahnya diputar-putar. Aku membalasnya dengan menjulurkan kedua tanganku ke arah selangkangannya. Lalu.. ku pegang senjatanya yang terasa mengeras terbungkus celana. Jadilah kami memuaskan hasrat sambil berboncengan di atas motor. Sebuah sensasi yang menantang. Aku belum pernah merasakan sebelumnya. "Ugghh..."  Author POV  Mereka berasyik-masyuk grepe-grepean hingga tiba di lokasi wisata tujuan mereka. Alesandro memarkirkan motor di sudut lokasi wisata yang kebetulan sepi. Di sana ada sebuah gazebo bambu, cocok untuk berduaan. Dituntunnya Puspa untuk duduk membelakangi dirinya sampai di pangkuannya. Gairah yang membakar Puspa membuatnya pasrah pada tingkah Alesandro. Begitu duduk di pangkuan Alesandro, cowok itu langsung menyergap pangkal paha Puspa yang masih terbungkus celana ketat itu. Ia mainkan jari-jarinya di sana. Di putar-putarnya jari tengahnya tepat di tengah pangkal paha yang ia duga adalah posisi m***k Puspa. Spontan Puspa pun melenguh.. "Acch... Scvchhh.. Ouuuh" Menerima serangan Alesandro, ia betulbetul dipacu untuk nenjadi liar. Di sela-sela erangannya, kadang berkelebat bayangan Nobi. Sensasi-sensasi yang timbul mengingatkan Puspa pada sensasi yang sama yang diperolehnya ketika kencan dengan Nobi. Ia kadang digrepe Nobi. Ia akui itu. Tapi grepean Alesandro sangat dahsyat baginya. Membuatnya semakin mengerang. "Aaaaah.... Ahhhh.. ucchhh ... ashhhh.." Hingga mereka dikagetkan oleh nada dering ponsel Alesandro yang tiba-tiba berbunyi. "Maaf, Puspa aku harus angkat telepon ini." "Ou, Ok." Puspa pun menggeser duduknya dari atas pangkuan Alesandro. Ia bergerak menuju pojok lain dari gazebo. "Dari siapa?" tanyaku. "Isabella." "Ouh, siapa ya Isabella itu?" "Ia tunanganku, Puspa." "Jadi kanu udah punya tunangan ya.." "Iya, tapi begitu melihatmu. Aku suka padamu, Puspa. Maukah kau jadi kekasih gelapku?" "Apa? Kekasih gelap? Maaf, Ale. Aku gak bisa." seruku terkejut. "Tapi aku sangat menyukaimu, Puspa." "Kau akan menikah, Ale. Lagian aku juga udah punya cowok. Hmm, lebih baik kita pulang saja sekarang. Aku gak mau bahas hal ini lagi." "Jadi kau menolakku, Puspa?" "Maaf, Ale. Tapi begitulah." "Baiklah kalau itu maumu. Ayo kita pulang saja."  Mereka pun bergegas kembali ke motor. Dalam perjalanan pulang hanya hambar terasa. Tak ada lagi grepe-grepean. Hanya saja, terlintas sebuah rencana jahat di benak Alesandro. Rencana jahat untuk balas dendam pada Puspa. 89 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD