Part 9 -Fita Kumat-

692 Words
Part 9 -Fita kumat- "SUAMI DURHAKA!! KENAPA KAU MENDORONGKU?!" Pagi Su Ho di awali dengan teriakan cetar membahana Fita. Belum lagi teriakan Fita tepat di telinganya. Jangan ditanyakan lagi bagaimana sakitnya telinga Su Ho. "KENAPA SIH KAU SELALU MELAKUKAN KEKERASAN KEPADAKU?!" Fita menjambak rambut Su Ho dengan kuat hingga suaminya meringis kesakitan. "Kau sungguh suami yang kejam!" Fita semakin menarik rambut Su Ho dengan kuat hingga banyak rambut Su Ho yang rontok. Seakan tak puas, ia naik ke atas tempat tidur. Kemudian ia mendorong tubuh suaminya dengan kuat hingga Su Ho menggelinding ke atas lantai. "HAHA! RASAKAN ITU!" tawanya layaknya tokoh antagonis yang sedang menyiksa tokoh protagonis. "FITA!!" Yang dibentak langsung kabur keluar kamar. Tak lupa pula mengunci Su Ho di dalam kamar. Pembalasan dendam hoho. "Sayang, Su Ho mana?" tanya Xia Le. "Dia sakit." "Apakah parah?" Kini Mia Mey yang bertanya. "Tidak." Fita menatap Mia Mey dengan tatapan menggemaskannya. "Aku lapar." Semua orang yang berada di meja makan menghela nafas panjang. Mereka tak kuat menghadapi keimutan Fita yang tiada taranya. Lebih imut daripada bayi sekali pun. "Ayo makan." seru Xia Le selaku istri raja sebelumnya. Otomatis posisinya lebih tinggi dibandingkan dengan Lu Yi dan Mia Mey. **** Malam harinya baru lah Fita memasuki kamarnya dengan perasaan bahagia. Seharian ini kerjaannya adalah mengusili pelayan, menjahili Ji Rae, memberikan harapan palsu kepada Se Ta, memuji Xian Ling (anak laki-laki Xia Le), dan melihat para prajurit berlatih Fita merebahkan tubuhnya di atas kasur seraya memejamkan matanya damai. "Kau berniat membunuhku hah?" Ia langsung membuka mata mendengar pertanyaan lemah Su Ho. Ia mengerjap beberapa kali melihat Su Ho yang menatapnya dengan tatapan datar. "Aku sa--" Bruk! Tubuh besar Su Ho menimpa tubuh mungil Fita secara tiba-tiba. "Hei, bangunlah! Kau berat!" perintah Fita. Karena tak kunjung mendapatkan sahutan dari Su Ho, Fita mendorong Su Ho ke samping. Matanya membulat ketika melihat wajah pucat suaminya. "Ya ampun! Aku lupa memberinya makan seharian ini." pekik Fita dan segera berlari ke dapur kediaman mereka. Ia yang notabenya tidak bisa masak langsung berujar dengan histeris kepada pelayan yang bertugas di sana. "Cepat masakkan sesuatu yang pedas! Aku tidak mau suamiku mati kelaparan!" Para pelayan tentu saja langsung melaksanakan perintah Fita dengan sigap. Tak lama kemudian makanan pun siap. "Awas saja kalau dia mati, kalian yang akan menerima hukumannya." ancam Fita dan bergegas pergi. Meninggalkan para pelayan yang terbengong. Fita meletakkan makanan di samping Su Ho. "Woi, bangun!" Ia menggoncang tubuh Su Ho dengan kuat. Su Ho tak kunjung bangun hingga ia memutuskan untuk mengambil cara lain, yaitu menyiram wajah Su Ho dengan segelas air. Su Ho terduduk sambil terbatuk-batuk. Ia menatap Fita dengan tajam. "Untung lah kau bangun. Aku tidak ingin kau mati." "Kenapa?" Entah darimana rasa penasaran Su ho tiba. Fita tersenyum manis hingga Su Ho terpesona. "Karena aku belum puas menjahilimu." Raut wajah Su Ho berubah datar seketika. "Kau makan sendiri, ok. Aku mau tidur. Bye!" Fita meletakkan piring di atas pangkuan Su Ho. Lalu, ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Su Ho menarik napas berulang kali karena tingkah jahat istrinya. Menjambaknya, menendangnya, menguncinya, tidak diberi makan, dan terakhir menyiramnya dengan air tanpa berperikemanusiaan. Su Ho gemas sekali. Saking gemasnya, ia ingin memeluk tubuh Fita sampai remuk. Dengan kasar, ia melahap makanan yang diberikan Fita. Baru sesuap, ia langsung membuang makanan yang di dalam mulutnya ke lantai. "Pedas sekali." kesalnya dan mengambil teko air. "Sial! Habis." Dengan sangat terpaksa, Su Ho turun dari tempat tidurnya menuju dapur untuk minum. Di dalam selimut, Fita terkikik geli tanpa merasa bersalah sama sekali. "Rasakan itu suami durhaka! Kena karma kan karena sudah berbuat jahat ke istri cantik jelitamu ini?" sinisnya. Seolah tak puas, Ia berjalan dengan cepat ke arah pintu kamar dan mengunci pintu kamar. "Mampus! Tidur di luar!" Fita berlari ke tempat tidurnya dan menghempaskan tubuhnya ke sana. "Tidak akan ada lagi yang menganggu tidur syantikku." bisiknya senang. Tak butuh waktu yang lama ia masuk ke alam mimpinya. Sementara di luar kamar, Su Ho mengumpat kesal dan marah. Ditendangnya pintu kamar mereka hingga rusak. Fita yang tidur di atas kasur tidak merasa terusik sama sekali oleh kegaduhan yang dibuat suami dinginnya. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD