2. Bukan cewek biasa

2263 Words
Ini bukan pertama kalinya Inggit pacaran. Dulu juga pernah, tepatnya waktu SMA. Tapi tidak bertahan lama karena si cowok bilang Inggit itu tidak seperti cewek normal pada umumnya. Alasannya kurang lebih sama. Inggit tidak mau digrepe-grepe dan terlalu berbahaya. Kadang-kadang terlihat seperti punya dua kepribadian. Tapi, Inggit tidak ambil pusing. Toh, dia juga tidak peduli dengan cinta-cintaan pada masa itu. Bahkan sampai sekarang pun, dia tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan serius dengan cowok mana pun. Karena, yaaa… apa, ya? Susah jelasinnya. Dia sayang, tapi nggak bisa kasih hatinya sepenuhnya gitu loh. Tapi, rasa kecewa akibat hubungan yang kandas itu tetap ada. Bagaimana tidak? Selama ini Inggit merasa sudah berjasa dalam hidup si mantan pacarnya itu, tapi tetap saja Inggit masih ada kurangnya di mata dia. Sekarang, Inggit bingung, harus minta jemput siapa lagi besok untuk berangkat kerja? Minta bangunin siapa lagi setiap pagi? Minta siapa lagi buat ingetin dia makan? Sekarang dia sudah nggak punya ayang. Ah, semprul! Inggit berjalan terseok-seok menuju tempat kos-nya yang berseberangan dengan tempat kos cowok. Dari ujung jalan tadi, dia bisa mendengar suara gitar plus nyanyian anak-anak kos yang cukup dikenalnya dengan baik itu. Sebagian dari mereka anak kuliahan sementara yang lainnya lagi sudah bekerja. Begitu melihat Inggit melintas di depan mereka dengan langkah terseok-seok, salah satu dari mereka pun bersuara. “Deeeek, cinta nggak selamanya indah, Deeek!” Lalu, disusul dengan suara tawa yang membahana. Inggit mengibaskan rambutnya dan menatap keenam cowok di depannya itu dengan tajam sebelum menendang tong sampah di depannya ke arah mereka. Dalam hitungan detik saja, mereka berlari terbirit-b***t masuk ke dalam rumah kos. “Ngapain lu lari, Bang? Dasar cemen!” Terdengar suara ribut-ribut mereka dari dalam sana. “Lah, kalian pada ngikutin gue lari?” “Serem anjir! Itu beneran si Inggit apa bukan, sih? Kok kayak gitu?“ “Lu kayak nggak tahu si Inggit aja. Dia kalau lagi kumat emang suka gitu!” Mereka mengintip Inggit dari celah jendela. Tampak tubuh sintalnya berjalan melewati pagar rumah kos-nya sebelum menghilang di balik pintu bercat kuning tersebut. “Tumben dia nggak dianterin pulang sama ayang?” “Jangan-jangan beneran putus lagi, Bang!” “Kalau putus, emang kenapa?” “Pengen pacarin, tapi takut.” “Tunjukin dong kejantanan lu sama dia, Bang!” “Pala lu! Yang ada gue langsung dikebiri.” “Maksud gue, keberanian lu, Bang!” Cowok berkepala plontos itu mengangguk-angguk. “Besok deh gue coba ngelamar jadi pawangnya dia. Gue juga penasaran sama dia dari pertama kenal. Anaknya gemoy banget, tapi rada aneh.” *** “Habis dari mana? Kok tumben pulang jam segini?” tanya Sisil, teman satu kosan-nya yang kebetulan baru keluar dari kamar sewaktu Inggit sudah membuka pintu kamarnya. “Habis pacaranlah.” “Aseeek.” “Habis diputusin gue.” “Hah? Kok bisa? Mau heran sih, tapi elu. Ya gimana…,” kata Sisil, yang juga sudah kenal dirinya sejak lahir. Inggit cuma cemberut mendengarnya. “Nggak mau nangis gitu?” “Ngapain?” “Kan habis patah hati.” “Ngapain gue nangisin cowok kayak gitu!” “Lah, emang nggak sayang?” “Sayang sama duit gue selama ini habis buat dia!” “Selama ini lo anggap dia pacar apa anak angkat lo, sih? Kenapa hidupnya lo yang nanggung?” “Nggak tau. Udah, ah, gue mau tidur!” Inggit langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu. Setelahnya, dia melompat ke tempat tidur lalu memeluk guling. “Dasar cowok gila. Dia pikir, dia bakal nemuin cewek sebaik gue? Nggak bakal!” Beberapa saat kemudian, Inggit melirik jam dindingnya. “Besok kerja lagi. Males banget!” Kamar itu pun berubah warna menjadi oranye setelah Inggit menyalakan lampu tidurnya. Seburuk apa pun masalah hidupnya, Inggit tidak pernah mau menghabiskan waktunya untuk meratapi nasibnya. Kalau sudah terjadi, ya sudah. Mau diapa-apain juga percuma. Jadi, ya… mendingan dia abaikan saja karena hal itu pasti akan berlalu seiring berjalannya waktu. *** “Pagi, Inggit…,” sapa seorang cowok berkepala plontos padanya saat dia berdiri di tepi jalan gang untuk menunggu ojek online. Inggit meliriknya dan tersenyum. “Pagi, Bang.” “Nungguin siapa? Ayang, ya?” “Udah nggak punya ayang.” “Eh? Kok bisa?” “Ya gitu deh.” “Mau dianterin nggak sama Bang Satria?” “Nggak deh, lagian udah janjian sama ojol.” “Oh, ya udah. Nanti pulangnya mau dijemput nggak?” “Nggak deh. Nggak enak sama mbak Kunti.” “Santi.” “Eh, iya, Santi.” “Aku nggak ada hubungan apa-apa tahu sama si Santi. Cuma sekedar temenan doang gitu.” Inggit tertawa garing, merasa hal itu bukan urusannya. Pria bernama Satria yang lebih tua 4 tahun darinya itu seolah mau menjelaskan hubungannya dengan anak ibu kos yang kata-katanya naksir dengannya sejak pandangan pertama. “Jadi nggak perlu ngerasa nggak enak gitu. Diasikin aja, hehehe.” Tahu-tahu, ada abang ojol berhenti di depan mereka. Inggit langsung naik ke boncengan kemudian melambaikan tangan singkat pada cowok bernama Satria itu. “Duluan ya, b*****t!” ujarnya seiring melajunya sepede motor. Bibir Satria bergerak-gerak, ingin meluruskan. “Kok, b*****t? Nggit? Oi, Nggit? Jangan panggil b*****t dong! Panggil ayang gitu?” *** Inggit bekerja sebagai pegawai kantoran biasa di sebuah perusahaan besar di ibu kota. Gajinya terbilang cukup besar untuknya hidup seorang diri. Itu sebabnya, sebagian dari hasil gajinya sering dia berikan kepada mantan pacarnya itu untuk membantu memenuhi kehidupannya sebagai pengangguran. Tapi, hari ini dia menyesali kebaikannya, karena ujung-ujungnya dia malah dapat apesnya alias diputusin. Seandainya saja sebagian dari gajinya itu dia tabung untuk membeli motor, mungkin Inggit tidak perlu repot-repot janjian dulu sama ojol kalau mau pergi ke mana-mana seperti sekarang ini. Mana kalau janjian suka nggak nyambung lagi! Disuruh nganterin pulang ke mana, dianterin ke mana. Seperti kemarin malam. Inggit minta dianterin ke alamat kosannya, tapi si kang ojol malah berhenti di depan kuburan. Untung mereka berdua nggak kesurupan. Niat nganterin apa mau ngajakin reog, sih? Habis gajian nanti, kayaknya dia bakal beli motor deh. Kalau duitnya kurang, tinggal begal anak orang. “Pagi, Mbak Inggit...,” Seorang pria bertubuh gemuk dan berambut keriting seperti sarang lebah menghampirinya. "Pagi, Bambang...." Tak lama kemudian, seorang cewek bertubuh mungil muncul di belakang mereka. “Bebi, kebiasaan, ya! Sungkem dulu kalau mau masuk!” Si cewek menyodorkan tangannya. “Eh, iya, aku lupa, Bebi. Maaf, yah!” Sambil tersenyum, si cowok menempelkan punggung tangan pacarnya itu ke keningnya. Melihat kelakuan dua rekan kerjanya itu Inggit tertawa. Bambang dan Dara adalah dua sejoli yang sama-sama diterima bekerja di perusahaan ini, tepatnya setahun yang lalu. Inggit mengenal keduanya dengan sangat baik karena mereka sering pergi bersama-sama setiap kali ada hari libur. Entah itu makan bersama di luar, ke bioskop, dan lain-lainnya. Bisa dibilang kalau mereka itu satu frekuensi dalam hal apa pun. Meski usia Inggit lebih tua beberapa tahun dari keduanya, tapi Inggit merasa klop banget sama keduanya. Bahkan, mereka punya grup curhat pribadi yang berisi lima orang anggota yang khusus dipergunakan untuk menggibahkan sesuatu yang dianggap tabu. “Mbak Inggit kok naik ojol? Ayangnya mana?” tanya Dara. “Udah putus,” jawab Inggit sambil berjalan masuk ke dalam gedung. Dara dan Bambang saling berpandangan kemudian sama-sama mengejar langkah Inggit. “Kok bisa, Mbak?” tanya Dara lagi. “Panjang ceritanya.” “Yang mutusin siapa?” “Dia.” “Hah? Kok bisa seorang Mbak Inggit yang gemoy diputusin sama cowok? Gila kali ya tuh cowok!!!” “Yang sabar, ya, Mbak, aku juga sering kok diputusin. Tapi, tetap aja ujung-ujungnya balikan, hehehe,” kata Bambang dan cengengesan. “Gue udah nggak mau balikan sama cowok kayak dia. Sumpah, nggak bakal gue mau sekalipun dia jilatin jempol kaki gue.” “Lah, kenapa, Mbak? Nggak sayang gitu udah pacaran setahun tapi putus?” “Sialnya butuh satu tahun buat gue untuk tahu kalau dia bukan orang yang tepat. Seandainya gue tau dari awal.” Dara merangkul Inggit dengan penuh persahabatan. “Dari awal, aku juga udah nggak suka loh lihat dia, Mbak. Soalnya ya, ngapain coba Mbak Inggit pacaran sama cowok yang nggak ada kerjaannya kayak gitu? Emang sih, dia masih kuliah. Tapi, ya kalau misalnya dia mau macarin anak orang, minimal dia punya penghasilanlah. Ngapain kek, kerjaan apaan kek. Masa iya, Mbak yang nanggung hidupnya dia! Syukur deh kalo putus, semoga nanti ketemu yang lebih baik.” Inggit tersenyum. “Iya, bodohnya gue baru sadar.” “Eh, Bebi, aku mau ke toilet bentar, ya? Kamu duluan aja,” pamit Bambang. “Toilet cewek apa cowok?” “Toilet cowoklah, Sayang. Aku kan manusia berburung.” “Iya tapi kenapa kemarin kamu masuk ke toilet cewek?” “Waktu itu aku nggak sadar. Pas lagi pipis, tiba-tiba ada yang masuk, aku kaget. Untung yang masuk Mbak Inggit, hehehe.” “Udah nggak usah dibahas lagi. Trauma gue ingatnya,” kata Inggit kemudian mendecih. Bambang cengengesan kemudian berlalu dari sana. “Mbak, emangnya kemarin lihat apanya aja?” “Hah?” “Sampai trauma gitu. Emang lihat apanya?” “Kaget doang pas lihat dia di dalem. Penasaran dia ngapain di sana, gue samperin aja, nggak taunya lagi pipis.” “Astagfirullah.” Dara menutup mulutnya. “Ngapain disamperin, sih, Mbak? Aku aja pacarnya nggak pernah nyamperin dia pas lagi pipis.” “Penasaran. Dia ngapain berdiri di situ. Bukan maksud apa-apa. Sumpah deh!” “Iya, iya, percaya kok!” cetus Dara kemudian terbahak-bahak. Inggit tersenyum kecil. “Tapi, aku salut loh sama kalian berdua. Udah pacaran lama tetap masih bertahan. Emang kamu nggak bosen sama si Bambang?” “Jangan salah, Mbak! Aku sama dia itu udah sering putus nyambung. Selama lima tahun pacaran, ada kali kita putus sampai seratus kali.” “Hah? Serius? Gimana ceritanya tuh? Dua kali putus dalam seminggu?” “Pokoknya sering deh.” “Keren ya masih bisa bertahan walaupun udah putus nyambung gitu. Lah, gue? Sekalinya putus, nggak bakalan mau balikan lagi!” “Nggak tahu kenapa, sih, aku nggak bisa putus lama-lama dari Bambang. Aku sadar sih dia jelek, mukanya kayak setan, tapi aku tuh… gimana, ya? Susah jelasinnya. Aku nggak bisa menjalani hari-hariku tanpa dia gitu loh. Kayak… aku kehilangan arah. Nggak ada tujuan gitu." “Ceileh.” “Beneran tahu, Mbak! Meskipun ada banyak banget cowok yang mukanya cakep-cakep nih deketin aku, aku tetap setiap sama Bambang. Aku tuh bego apa gimana, sih, Mbak?” “Dia pernah nyakitin kamu nggak?” “Nggak pernah, selama ini aku terus yang nyakitin dia. Malah kadang kayak suka bandingin dia gitu sama cowok lain.” “Kamu harus pertahanin dia, Dar. Aku yakin kalian bakalan berjodoh. Bambang orangnya baik, anaknya asik. Yang paling penting itu, dia tahu gimana caranya buat kamu bahagia.” Dara mengangguk setuju. “Iya, Mbak, sejauh ini… aku nggak pernah menemukan seseorang yang bikin aku nyaman selain Bambang, hehehe.” Inggit tertawa. “Iya, tahu kok. Yang langgeng, ya!” kata Inggit sambil menepuk-nepuk bahu Dara. Setelah tiba di dalam ruangan, seorang perempuan berambut pirang sebatas punggung berlari ke arah mereka dengan semangat. “Udah pada tahu belum?” tanyanya setelah tiba di hadapan mereka. Namanya, Khadijah, biasa dipanggil Dijah. Dijah juga salah orang yang beruntung masuk ke dalam grup gibah mereka. “Tahu apa?” tanya Inggit sambil menaruh tasnya ke atas meja. “Pak Arifin, bos kita, katanya mau pensiun gitu. Katanya sih, mau digantiin sama anaknya.” “Serius? Anaknya yang mana, ya? Anaknya akan delapan. Yang mana satu?” “Nggak tahu yang mana. Tapi, sih, gue berharap, anaknya yang ganteng terus masih lajang, hihihihi.” Dijah tertawa genit. “Plis, ya, Mbak Dijah. Bukan apa-apa, ya. Pak Arif aja jelek, item begitu. Gimana ceritanya dia punya anak yang ganteng? Buah itu nggak jatuh jauh dari pohonnya. Palingan juga nggak jauh beda sama bapaknya,” ujar Dara. Inggit tertawa. “Nah, bener, bisa jadi tuh.” “Pak Arif kalau dilihat-lihat manis kok. Istrinya cantik banget tau. Kalian belum pernah lihat, kan?” “Masa, sih?” tanya Dara dan Inggit secara bersamaan. Selama ini, mereka memang belum pernah bertemu dengan istri bos mereka itu. Bahkan foto keluarganya saja tidak ada di dalam ruangannya. Tapi, sepengetahuan mereka, pak Arif punya anak delapan. “Iya, beneran cantik banget. Gue pernah nggak sengaja lihat. Kok dia mau ya sama pak Arif?” “Iyalah, pak Arif hartanya kan nggak bakal habis tujuh turunan. Ya maulah. Sekarang itu, nggak penting tampang ganteng, yang penting duitnya buanyak, hahahah.” “Pantesan kamu betah sama Bambang. Si Bambang anak konglongmerat, ya?” Dara nyengir. “Enggak, sih.” “Terus ngapain masih mau sama dia?” Dara menggaruk-garuk kepalanya. “Gimana ya? Susah jelasinnya." Inggit mengabaikan obrolan keduanya dan memilih fokus pada ponselnya yang berdering sejak tadi. “Ngapain pak Arif nelepon gue?” “Hah?” Inggit menatap layar ponselnya dengan bingung. “Kenapa, ya? Tumben loh dia nelpon ke Hp gue.” “Jangan-jangan….” “Jangan-jangan apa?” “Apa hayo?” Inggit mendecih ke arah Dijah lalu mengangkat panggilan tersebut. “Halo, Pak, selamat pagi? Ada yang bisa saya bantu, Pak? Oh? Bapak ada di ruangan sekarang? Iya, Pak, saya segera ke sana. Iya, Pak, sebentar, ya, Pak….” Inggit lalu menurunkan ponselnya. “Kenapa, Mbak?” tanya Dara penasaran. “Gue disuruh ke ruangannya sekarang. Bentar, ya!” Inggit buru-buru pergi dari sana. “Ngapain, ya?” tanya Dijah tak kalah penasaran. “Kepoin, yuk!” Dijah serta merta menarik Dara untuk mengejar Inggit yang sekarang sedang menuju ruangan Presiden Direktur perusahaan mereka itu. “Ih, Mbak, mau ngapain, sih?” “Udah ikut aja!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD