DO IT

1317 Words
Xander POV Aku sungguh marah terhadap diriku sendiri. Aku sebagai pria tak bisa berbuat apapun untuk membela Elsa di hadapan Dixie. Aku juga semakin marah pada diriku yang justru memperlakukan Elsa tak beda dengan pria lainnya. Tangis Elsa sepanjang perjalanan pulang semakin membuatku merasa sangat bersalah dan menjadi pria yang sangat buruk, karena tangis Elsa itu disebabkan oleh perbuatanku. "sudah sampai, kau turunlah. Kau masuk ke dalam dulu, lalu istirahatlah. Besok kita akan melakukan perjalanan jauh untuk menghadiri sebuah acara keluarga besarku."ucapku masih bercampur emosi. "Kau mau kemana?" Tanyanya karena melihat aku tidak mematikan mesin mobil dan tidak bersiap-siap turun.   Aku melihat sesaat dan matanya masih merah akibat menangis. "Aku harus ke suatu tempat untuk menyelesaikan urusanku. Aku akan pulang sebelum jam keberangkatan kita. Turunlah!" Sahutku tak mampu menatapnya lagi. "Xander...maafkan aku, kau berhati-hatilah di jalan, sampai jumpa besok."ucapnya lalu keluar dari mobilku.   Aku semakin merasa bersalah terhadap Elsa, dia masih begitu baik mencemaskan diriku, tapi aku sebagai pria tak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan dirinya. Aku terus melihat Elsa sampai dia menghilang ke dalam lobby apartment lalu kulanjutkan perjalananku. Aku harus ke club untuk meredakan emosi dan nafsu yang menguasai diriku. Aku selalu b*******h dan ingin merasakan setiap inch lekuk tubuh Elsa, namun aku tak mampu  untuk memaksanya, entah kenapa alasan yang aku sendiri tak tahu tapi aku ingin melakukan bukan sekedar s*x nafsuku saja, aku ingin bercinta dengan Elsa, jadi saat Elsa belum siap dan belum bisa percaya padaku untuk menyerahkan tubuhnya seperti tadi, maka aku tak sanggup untuk meneruskannya.  Elsa memang memiliki pekerjaan sebagai seorang jalang, namun bagiku dia bukanlah wanita jalang. Bagiku Elsa adalah sosok wanita yang sangat berbeda dengan wanita lainnya. Elsa seorang wanita yang selalu lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri, bahkan dia lebih memikirkan nama baikku dan keluargaku dengan mengorbankan dan membiarkan dirinya dihina oleh Dixie.   Elsa POV Aku masuk ke apartment Xander, sepi itulah yang kurasakan. Aku menghempaskan tubuhku ke sofa. "Bodohnya aku! Xander pasti marah padaku. Siapa aku ini berani menolak nafsu Xander. Bukankah seorang jalang tak boleh menolak nafsu dari pria yang sudah membayarnya?" Batinku sambil menangis lagi. Aku memilih untuk pindah ke dalam kamar. Aku lelah... kacau, badan dan pikiranku remuk juga hatiku sehingga mataku langsung tertidur saat menangis sambil terbaring di kasur empuk ini.   Sinar Matahari mulai mengintip di sela-sela gorden yang ada di kamar ini, membuatku menggeliat dan mengerjapkan mataku berkali-kali. "Sudah pagi...aku harus segera bersiap.."ucapku saat bangun dari tidurku. Selesai mandi dan berdandan sedikit aku keluar dari kamarku untuk menemui Xander. Seharusnya dia sudah pulang, karena kami akan berangkat ke suatu tempat untuk menghadiri acara pertemuan dengan keluarga besarnya.   "Pagi nona...." Sapa seorang laki-laki berjas hitam tinggi kekar sambil menunduk, membuatku terkejut saat membuka pintu kamarku. "Siapa kau?! Bagaimana caramu masuk?! Apakah kau teman Xander?!" Tanyaku padanya. "Maaf nona Elsa, saya Mike, sopir pribadi Tuan Xander. Saya diminta Tuan untuk menjemput dan mengantar nona ke bandara jika nona sudah siap." ucapnya sambil menunduk. "Ouw...lalu dimana Xander? Apakah saya akan berangkat sendiri?" Tanyaku lagi pada Mike. "Tuan Xander sudah menunggu anda di pesawat, dan kita harus sudah tiba di bandara dalam waktu 30 menit nona, atau....." Kalimatnya menggantung tak selesai. "Atau......apa? Kenapa?" Tanyaku menyelidik. "Atau saya akan dipecat, dan anda pasti sudah tahu jika seseorang dipecat dari XXL Corp maka tak akan ada perusahaan lain yang akan menerimanya bekerja."jelasnya. "Ouw iya saya sudah tahu itu, karena saya juga karyawan di kantor itu. Baiklah ayo kita berangkat, tapi tunggu saya ambil koper saya dulu." Ucapku lalu kembali masuk ke kamarku. "Tidak perlu membawa apapun nona, Tuan Xander sudah mempersiapkan semua keperluan anda." Sahutnya menghentikan langkahku untuk kembali masuk ke kamar. "Ouw..baiklah kalau begitu...ayo kita berangkat."ucapku dan langsung berjalan keluar, hanya membawa tas kecilku yang berisi ponsel dan dompetku saja.   Aku dengan diantar oleh Mike masuk ke dalam pesawat mewah milik Xander, tapi aku tidak melihat keberadaan Xander. Menurut Mike, Xander ada di dalam kamarnya sedang beristirahat. Akupun tak ingin menganggunya. Selama penerbangan Xander terus berada di dalam ruangannya di pesawat itu, entah apa yang dia kerjakan, akupun hanya menonton film duduk sendiri sambil sesekali melihat ke arah ruangan Xander, meski sudah setengah jam tapi pintunya masih saja tertutup. Aku sungguh bosan sendirian menghabiskan waktu selama perjalanan. Ada rasa rindu hadir dihatiku.   Setelah satu setengah jam akhirnya pesawat ini mendarat juga di sebuah bandara, di Toronto tepatnya.  Ceklek.. Pintu ruangan Xander terbuka, dan kulihat dia keluar dari ruangannya masih tetap tanpa melihat ke arahku.   "Ganti pakaianmu! kita akan bertemu keluarga besarku, jangan membuatku malu dengan penampilanmu!" ucapnya tanpa melihatku. Ada sebuah rasa nyeri di dan sesak di dadaku mendengar ucapan Xander barusan. "Jadi menurutnya penampilanku ini bisa membuatnya malu? sungguhkah hanya karena penampilanku saja? atau sebenarnya yang dimaksud adalah statusku sebagai wanita jalang yang akan membuatnya malu?" Pikirku dengan rasa nyeri.  "Maaf..kau bicara dengan siapa?" pancingku supaya dia melihatku. "Kurasa tak ada orang lain lagi di tempat ini selain kau dan aku. Kecuali kau buta atau tuli." sahutnya masih tak mau menatapku padahal dia duduk di seberangku.   Aku terus menatap ke arahnya, lalu datanglah Mike dengan seseorang berdiri di sampingku. "Nona Elsa, mari ikut saya, stylist anda sudah siap, sebaiknya kita segera masuk ke ruangan di belakang saya." Ucap Mike memintaku untuk mengikutinya. "Baiklah, lebih baik aku mengikutimu Mike daripada mengikuti Tuan Xander terhormat yang angkuh ini! katakan saja kalau dia malu dengan status jalangku ini! karena percuma! secantik apapun aku dandan tetap aku ini hanya wanita jalang bagi Tuan Xandermu!"  ucapku sengaja menggunakan panggilan yang dia tak suka.  aku segera berdiri namun langkahku terhenti oleh suara Xander. "Elsa! coba ulangi panggilanmu barusan!" Sahutnya dan trikku berhasil membuat dia menoleh padaku. "Oh..sekarang kau sudah mau melihatku lagi huh?!" Sahutku menoleh dengan sinis.   Aku melihat Xander berdiri dari kursinya dan melangkah maju mendekatiku "Coba ulangi panggilanmu tadi!" Nadanya sedikit lebih tinggi saat sudah berdiri di hadapanku. "Tuan Xander terhormat yang angkuh." jawabku datar mengulangi panggilanku terhadapnya tadi.   "Aaach!!! Xander turunkan aku! " Teriakku saat tiba-tiba Xander menggendongku dibahunya bagai sekarung beras dan kini kepalaku hanya melihat belakang punggungnya. "Kalian, tunggu kami di ruangan lain! ada yang harus kami selesaikan sebelum turun dari pesawat!" Perintah Xander pada Mike dan pramugari itu sambil terus berjalan ke dalam sebuah kamar tanpa peduli aku meronta dan memukul-mukul punggungnya. "Turunkan aku!" Teriakku. Xander pun menurunkan aku dari bahunya dengan melemparku ke atas tempat tidur. Xander menatapku tajam penuh kilatan gairah atau amarah yang aku sendiri tak jelas. "Wow! Xander pesawat ini memiliki kamar semewah ini? Pantas saja kau betah berada di dalam sini berjam-jam." Ucapku sengaja melantur dengan melihat ke sekeliling kamar itu, karena aku tak tahu jelas apa yang ada di otak Xander saat ini, dan meski aku belum siap melakukan s*x dengannya saat ini, tapi dia tetaplah tuanku yang menyewaku dengan bayaran mahal, jadi aku tak boleh menolaknya lagi. "Jangan melantur Elsa! siapa suruh kau memancingku dengan panggilan itu?! Bukankah aku sudah memberi peringatan keras padamu waktu lalu?! Atau peringatan ku itu terlalu lembut bagimu?!" Ucap Xander dengan tubuhnya sudah menindih diatasku langsung mengunciku dengan kedua lengannya di kanan kiri ku.   "Kenapa kau meninggalkan aku semalaman?! Kenapa kau menjauhi aku?! bahkan kau menghindar bertatapan denganku, kenapa?!" Tanyaku sungguh membutuhan penjelasan darinya.   Xander hanya diam menatapku tajam. Lalu tiba-tiba dia berdiri dan berjalan ke arah pintu. "Menghindar lagi huh?!" Tanyaku dan dia tetap diam tanpa kata, hanya berjalan ke arah pintu. "Okay fine! Aku akan melayanimu sekarang! itu yang kau mau kan?! Seperti kau biasa menginginkan para jalang yang kau sewa itu! silahkan kau lakukan juga padaku!" Emosiku membuatku menantang dirinya, dan Xander pun berhenti melangkah. Aku melihat kedua tangannya mengepal keras sekali di samping tubuhnya, dia sedang menahan emosi dalam dirinya sendiri. "Aku tak ada waktu sekarang, cepatlah bersiap diri supaya kita tidak terlambat. Aku menunggumu di luar pesawat." Sahut Xander lalu berjalan keluar kamar, meninggalkan aku sendirian di kamar itu, di atas tempat tidurnya.  Air mata ini kembali mengalir, aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Saat Xander menyentuhku dengan paksa seperti semalam, aku terluka, tapi saat Xander menolakku saat ini, akupun merasa sakit hati. Tak lama Mike datang masuk ke dalam kamar dengan membawa seorang stylist masuk dan memintaku untuk segera bersiap diri. Akupun bersiap diri menuruti permintaan Mike, karena aku tak mau terjadi hal yang buruk pada Mike karena ulahku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD