b***h Always Be A b***h

1198 Words
Elsa POV Kami sudah dalam perjalanan ke sebuah tempat untuk makan malam merayakan ulang tahun Xander, Namun pikiranku masih saja teringat pada ciuman kami di apartment tadi beberapa saat sebelum kami memtuskan untuk pergi.  Ciuman Xander masih sangat terasa di bibirku, lembut dan sangat menggairahkan. Sebenarnya aku tak ingin mengakhiri ciuman lembut tadi, karena terasa begitu dalam seolah dari hati, seolah dia sedang mencium kekasihnya, tapi.....Aachhh... tak mungkin Xander memakai hatinya, dia pasti hanya nafsu penasaran saja terhadap bibirku. Tapi sungguh ciuman Xander sungguh sangat lembut, aku sungguh-sungguh terlena dan masih sangat ingin menikmatinya, aaarrgghh!! aku sungguh gila! aku merasa diriku sungguh seorang jalang saat ini, aku menginginkan Xander lebih dari sekedar ciuman, terlebih lagi tanganku saat ini masih di dalam genggamannya, dan ibu jarinya terus membelai punggung tanganku, aku sungguh menikmatinya jadi kubiarkan saja, bahkan aku meleleh di bawah sana.   Aku sedikit terkejut karena Xander menghentikan mobilnya di depan sebuah cafe elite, dan sedang memakai hoodienya untuk menutupi identitasnya entah dari siapa dan mengapa. "Cafe? Kita akan makan malam di cafe?" Tanyaku saat Xander mulai membuka pintu di sampingnya dan hendak melangkah turun keluar dari mobil. "Iya, kenapa? Kau tak suka cafe?" Tanyanya balik, sejenak membatalkan langkahnya untuk keluar dari mobil. "hmmm bukan tidak suka, hanya....... ah sudahlah! ayo kita turun dan masuk!" Ajakku mantap meski ragu dalam hatiku.   Aku ragu, ya, aku ragu. Aku ragu bukan karena itu sebuah cafe, andaikata itu cafe yang lain aku mungkin tidak akan keberatan, tapi ini sebuah cafe elite. Sebuah cafe yang sangat terkenal khusus bagi orang-orang yang berkelas atas saja. Di dalam sana pasti akan ada yang mengenaliku atau bahkan pria yang pernah menyewaku sebagai pemuas kebutuhan nafsunya. Aku tak punya pilihan lain, ini cafe pilihan Xander, dan hari ini adalah hari ulang tahunnya, aku tak mau dia kecewa, karena mungkin saja ini memang tempat favoritenya. Akupun setuju untuk kami makan malam di cafe itu. Aku terus berharap dan berdoa dalam hati, semoga tak ada yang mengenaliku, biarlah ini menjadi malam keberuntunganku supaya tidak merusak suasana bahagia bagi ulang tahun Xander. Cafe yang elegan, tak terlalu ramai, lumayan tenang untuk bersantai dan mengobrol. "Selamat malam Mr. Xander, mau pesan apa?" Tanya pelayan sambil tersenyum padaku. Dia mengenaliku, karena aku memang pernah beberapa kali datang kemari dengan pria yang berbeda-beda sebelum kami menghabiskan malam di hotel m***m mommy. "Rupanya kau sudah terkenal di tempat ini, apa kau sering datang kemari?" Tanyaku padanya. "Tidak terlalu sering, kau mau makan apa?" Sahutnya sambil terus melihat buku menu. "Aku tak tahu, kau pilihkan saja untukku." Ucapku. Lalu Xander memesan beberapa makanan dan minuman. Barusaja pelayan itu pergi, aku langsung melihat seorang wanita sexy melangkah ke arah meja kami. Aku mengenalnya, namanya Michelle, dia satu profesi denganku di dunia gelap prostitusi.  "Hai Xander my dear..." Sapanya sambil tangannya langsung melingkar di leher Xander dan memeluknya dari belakang, serta mencium pipi Xander dengan mesra. Aku hanya diam melihat tingkahnya terhadap Xander, Jalang memang begitulah sikapnya.   "Siapa kau?!" Tanya Xander bingung menoleh  ke samping. "Hai Michelle..." Sapaku pada wanita itu. "Hai Elsa.."sahutnya. "Kau mengenal dia?"tanya Xander bingung dan kini menoleh padaku. "Ouw...you hurt me Xander, kita sudah melewati malam yang indah bersama, kenapa kau melupakan kenangan indah kita?" Keluh Michelle sambil berjalan ke samping untuk pindah posisi ke pangkuan Xander. "Maaf aku tak mengingatmu, dan sekarang aku sudah memiliki wanitaku, jadi silahkan kau pergi dari meja kami." Usir Xander dengan sopan.   "Oh...Elsa..Elsa..selalu Elsa.....kenapa kau selalu  mengambil pelanggan ku Elsa? Tak cukupkah kau dengan Dixie?" Keluh Michelle yang kali ini penuh nada kebencian dan iri padaku. Aku hanya diam, tapi Xander seolah paham dengan maksud ucapan Michelle padaku. "Maaf anda bisa tinggalkan kami se..ka...rang!!" Usir Xander mulai dengan nada tinggi. "Baiklah...baiklah, tak perlu sekasar itu Xander, Elsa juga wanita jalang, dia tak lebih baik dariku asal kau tahu itu, dan kau Elsa...sekali jalang sampai kapanpun kau akan tetap jalang, dan diperlakukan sebagai jalang yang akan dibuang setelah tuannya bosan. INGAT ITU!!!" Ketus Michelle lalu pergi dari meja kami dengan sangat kesal.    Hatiku sakit rasanya mendengar ucapan Michelle, tapi semua ucapannya benar dan realistis. "Silahkan tuan dan nona.." ucap pelayan yang datang mengantar pesanan kami.   Kami hanya makan dalam diam, Xander terus menatapku sambil menyantap makanannya, sedangkan aku hanya bisa menunduk tak berani menatapnya. "Apa yang ada di pikiran Xander sekarang? Apa dia terhasut oleh ucapan Michelle tadi?" Batinku tapi tetap diam dan menunduk. "Elsa....Elsa....my girl, kemana saja kau akhir-akhir ini?" Mendadak seorang pria datang dan langsung duduk di sampingku serta menarik daguku untuk menoleh padanya lalu mencium bibirku dengan sembarangan. "Hmmmpphh....hmmppph...lepaskan aku!" Kudorong dia sekuat tenaga menjauh. Aku terkejut mengetahui siapa pria itu.  Dixie. Sesaat hatiku dipenuhi emosi amarah dan kebencian, perasaan sakit hati yang sangat dalam. "Jauhkan tanganmu darinya Dixie! sekarang dia adalah wanitaku!" Ketus Xander yang semakin membuatku terkejut, karena rupanya Xander sudah mengenalnya. Pria berengsek yang tak punya hati. "Hahahaha  Xander, dia ini wanita milik semua pria kaya, siapa berani bayar lebih tinggi pasti dia akan memilihnya, kau tau itu?" Ucap Dixie sambil tertawa keras tanpa melepas tangannya yang seenak hati melingkar di pundakku. "Dixie...lepas...!" Ucapku sambil menyingkirkan tangannya dan bergeser jauh darinya. "Kau sudah selesai? Sebaiknya kita pergi dari tempat ini." Ajak Xander lalu berdiri meletakan sejumlah uang dimeja dan menarik tanganku, akupun hanya mengangguk menuruti langkahnya dengan segera menuju ke pintu keluar cafe.   "HAHAHAHAHA XANDER! JANGAN KAU RUSAK REPUTASIMU HANYA UNTUK SEORANG JALANG!!! ELSA AKAN SELALU MEMILIH PRIA YANG LEBIH KAYA DARIMU!!!" Ocehan Dixie dengan berteriak sampai semua mata di dalam cafe itu memandang ke arah kami.   Xander seketika menghentikan langkahnya dan hendak berbalik ke Dixie tapi aku segera menahan tangannya, dia menatapku seoaljh bertanya mengapa dan kugelengkan kepalaku kepadanya lalu mengajaknya kembali berjalan keluar. Untunglah dia menurutiku kalau tidak, pasti sudah ada keributan di cafe itu yang tentunya akan memalukan nama besar keluarga Xander.   "Thanks Xander " ucapku pelan sambil terus menunduk. "s**t!!! Kenapa kau tidak membiarkan aku melampiaskan amarahku kepada Dixie?!" Marah Xander sambil memukul setir. "Sudahlah, Jangan kau kotori tanganmu Xander, kenyataan yang mereka katakan memang benar dan realistis. Aku memang jalang." Ucapku menerima kenyataan yang sangat pahit itu.   Ciiiitt...... Mendadak mobil berhenti, aku hampir meloncat ke kaca depan, untung saja ada seatbelt yang menahanku.   "Elsa, kau dengar baik-baik dan ingat selalu! Kau ini calon istriku! bukan jalangku! Ingat itu selalu dan bersikaplah sebagai calon istriku!" Ucap Xander dengan nada penuh tekanan ingin menegaskan statusku sebagai calon istrinya. "Tidak, bukan Xander, aku hanya istri kontrak di atas surat perjanjian, dan setelah 2 tahun kita akan berpisah lalu kembali ke hidup masing-masing." Sahutku tetap tak berani menatapnya. "Jadi kau masih berpikir dan menganggap dirimu seperti itu? baiklah, kalau kau selalu ingin diperlakukan sebagai jalang, akan kuturuti supaya kau puas!" Ucapnya sambil mematikan mesin mobil lalu mendekatiku mengunci posisiku dengan kedua tangannya. Aku takut melihat tatapannya yang penuh amarah itu. "Xander...kau mau ap....."tak selesai kalimatku bibirku sudah dilumat Xander dengan kasar, tangannya memegang tengkukku memperdalam ciumannya. "Hmmpphh....hmmph" aku meronta tapi tak dihiraukan oleh Xander. Tangan Xander satu lagi bergerak meremas payudaraku, ciumannya turun merasuk ke leherku. Kasar...sangat kasar dan penuh amarah, tidak seperti tadi. Kelembutan bibir Xander tidak lagi aku rasakan, dan aku sungguh tidak ingin diperlakukan seperti ini oleh Xander. "Xander...jangan....please..." Aku memohon dan menangis berusaha mendorong dan menghentikan perbuatan kasar Xander padaku.   Xander langsung menghentikan perbuatannya, dia menatapku dan menghela nafas berat lalu kembali ke posisi duduknya menghadap setir.  "s**t!!!" Marahnya sambil memukul setir, lalu menyalakan mesin dan mobil kembali melaju di jalan raya. Aku terus menunduk menahan tangisku, tapi air mataku tak mau berhenti mengalir hingga kami sampai di apartment.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD