Xander POV
Perkenalan antara Elsa dan kedua orangtuaku sangat berjalan dengan baik, mommy langsung menyukai Elsa bahkan langsung menyayangi Elsa, membuat hatiku merasa lega karena Elsa sangat baik memainkan perannya sebagai kekasihku. Sejak malam perkenalan itu, meski kami tinggal bersama dan Elsa tetap bekerja seperti biasa di XXL Corp namun kami tetap berangkat ke kantor dengan cara masing-masing dan tetap seperti biasanya. Elsa menggunakan transportasi umum sedangkan aku menggunakan mobilku. Kami telah sepakat untuk merahasiakan tentang perjanjian kontrak kami pada siapapun. Satu alasanku, karena aku tak ingin ada orang jahat yang akan menggunakan Elsa sebagai alat untuk menekanku.
Meski di Kantor sikap kami bagai orang asing yang tidak saling kenal seperti biasanya, namun setiap malam kami akan bertemu dan makan malam bersama di apartment. Aku sangat menikmati masakan Elsa setiap pagi dan malam hari, karena siang hari adalah waktunya Elsa untuk mengunjungi anak-anaknya di rumah dan makan siang bersama mereka.
Malam ini mommy kembali menghubungiku seperti biasanya untuk menanyakan kabar Elsa, karena aku memang sengaja tidak memberikan nomor ponsel Elsa pada kedua orang tuaku, supaya aku tetap bisa memantau sejauh mana hubungan dan obrolan orang tuaku terutama mommy ku dengan Elsa.
"Okay mom..kita akan datang ke acara itu, see you soon... I love you mom.." Ucapku mengakhiri sambungan telepon dengan mommy.
Mommy mengundang aku dan Elsa untuk hadir dalam sebuah acara rutin pertemuan keluarga besarku. Mommy ingin memperkenalkan Elsa pada seluruh keluarga besarku, betapa bangganya dia pada Elsa. Aku sudah berusaha menolak untuk membawa Elsa ke pertemuan itu, aku takut akan terjadi hal buruk jika Elsa mulai dikenal sebagai kekasihku bahkan calon istriku, dan juga karena aku cemas akan satu hal, yaitu tentang status Elsa sebenarnya, mungkinkah mommy akan kecewa jika tahu bahwa Elsa adalah seorang wanita jalang??? Tapi aku hanya bisa menghela napas panjang dan akhirnya menuruti permintaan mommy, karena bagaimanapun aku beralasan, aku tetap tak akan bisa menang melawan debat dengan mommy. Aku terlalu menyayanginya sebagai ibuku yang terbaik.
Aku melihat arlojiku, tak biasanya Elsa pulang terlambat tanpa menghubungiku terlebih dahulu. Perutku juga sudah kelaparan, karena terbiasa disediakan makan malam oleh Elsa, jadi aku tak pernah makan di restoran manapun sepulang kantor. Sekarang aku menjadi sangat nyaman dengan apartmentku sekarang, ada teman mengobrol, bercanda, saling mengejek, bahkan menyiapkan makan malam untukku.
Tapi malam ini Elsa sudah terlambat hampir dua jam dan tanpa kabar padaku. Aku mulai mencemaskannya, selain aku merasa lapar.
"Kemana dia?" Tanyaku cemas sendiri. Kucoba hubungi telepon selular Elsa, tapi tidak diangkat.
"Ck...kemana sich dia?! s**t!!! Angkat teleponku Elsa!" Omelku resah karena kesekian kalinya dia tak mengangkat teleponnya.
"Aku harus menyusulnya! jangan-jangan terjadi hal yang berbahaya di tempat anak-anak Elsa." Ucapku pada diriku sendiri dan langsung mengambil kunci mobilku, lalu membuka pintu apartment untuk keluar mencari Elsa.
"SURPRISE!!!" Teriak Elsa yang sudah berdiri didepan pintu dengan membawa cake lengkap dengan namaku dan beberapa lilin menyala.
Aku terkejut, diam dan hanya memandang aneh ke arahnya yang malah tertawa lebar padaku.
"Happy Birthday Tuan Xander.." ucapnya sambil tersenyum.
"Kau.....coba ulangi lagi panggilanmu padaku tadi!" Kesalku.
"Oops...sorry...hehehehe" sahutnya sambil terkekeh.
"Kenapa sih buka pintunya lama sekali?! kakiku sudah sampai kram berdiri di depan pintu hampir satu jam sambil memegang cake ini. Kau lihat tuh lilinnya aja hampir habis meleleh! Nih pegang cake nya! tanganku sudah sangat pegal!" Omelnya sambil menyerahkan cake ke aku dan dia langsung masuk ke dalam apartment meninggalkan aku berdiri di pintu karena masih terkejut dengan semua ini, namun hatiku tersenyum bahagia.
"Kau dari mana saja?! kenapa pulang terlambat?! Aku cemas dan hampir menyusulmu mencari ke tempat anak-anakmu!" omelku sambil meletakkan cake diatas meja.
"Tuan Xander yang terhormat, kau tuli ya? Aku sudah katakan kalau aku dari tadi berdiri di depan pintu demi menjaga kejutan ulangtahunmu! Kau saja yang responnya lambat!" Omelnya balik kepadaku sambil merebahkan kepalanya ke sandaran sofa dan meluruskan kakinya ke depan.
Aku bergerak mendekat padanya dan langsung duduk di dektanya lalu kutarik tangannya, dan wajah kami sangat dekat. sedaritadi melihat Elsa mengomel seperti itu membuatku semakin menginginkan bibirnya.
"Coba kau ulangi panggilanmu tadi! sepertinya kau sengaja menggodaku Elsa."ucapku berbisik ditelinganya.
"Eh..hmm hentikan Xander. Aku hanya kesal saja padamu, karena kau justru mengomel padahal sudah kupersiapkan kejutan untukmu." sahutnya sambil meronta menghindar dari tatapanku, namun semakin ku eratkan tanganku dan kuletakkan ditengkuknya.
"Xander....Xander... Apa yang akan kau..mmmmpphhhh!" Kalimatnya tak selesai karena bibirnya sudah kututup dengan bibirku. Aku sungguh tidak mampu menahan lagi keinginanku untuk merasakan bibirnya yang sangat mengundang gairahku.
Awalnya dia menolak meronta namun kemudian Elsa diam dan menit berikutnya bibir Elsa justru ikut bergerak membalas ciumanku, membuatku semakin menginginkan dirinya dan semakin kutahan tengkuknya pada tanganku, semakin kuperdalam bibirku, lidahku mulai memaksa masuk ke dalam mulutnya, Elsapun mendesah. Lidah kami bermain bertautan saling menikmati. Kulepas ciuman kami, Elsa sedikit menolak untuk memisahkan diri, namun akhirnya ciuman kami berakhir dengan dahi dan hidung kami masih saling menempel.
"Maafkan aku Elsa, dan terima kasih untuk kejutan ulang tahunku." Ucapku dengan napas kami yang masih saling memburu.
"Terima kasih juga karena kau sudah mencemaskanku."ucap Elsa.
Wajah kami masih terus saling menempel dan menatap satu sama lain. Kukecup bibirnya lembut lalu kulepas tanganku dari tubuhnya dan kembali duduk menghadap ke arah cake yang dibawanya.
Aku langsung meniup lilin yang hampir habis itu, tanpa mengucapkan permohonan apapun sebelumnya. seketika Elsa memprotesku.
"kenapa kau tidak mengucapkan permohonanmu terlebih dahulu?!" ucap nya protes dan sedikit kesal padaku.
"aku sudah memiliki semuanya Elsa, aku juga sudah mendapat kejutan darimu dan yang paling penting aku sudah mendapatkan ciumanmu di hari ulang tahunku. Jadi tak ada lagi yang ingin kuminta di hari ulang tahun ini."sahutku tanpa menoleh padanya, tapi aku tahu pasti diam nya Elsa pasti karena dia terkejut mendengar ucapanku yang senang mendapatkan ciuman bibirnya.
Aku tak ingin suasana ini semakin akward dan aneh diantara kami, aku tak ingin menjadi canggung lalu hanya saling diam dan kehilangan keramaian yang biasa ada sejak kehadiran Elsa. Aku pun segera berdiri dan melangkah ke pintu.
"Aku lapar Elsa, Bagaimana kalau kita pergi keluar untuk makan malam dan merayakan ulang tahunku?" Usulku dan disetujui oleh Elsa dengan anggukan dan tersenyum. Elsa pun segera bangun dari sofa dan menyusul langkahku keluar dari apartment.
"Elsa, terima kasih untuk moment istimewa tadi." Ucapku di dalam mobil menoleh ke sampingku. Elsa hanya tersenyum, kuraih tangan Elsa dan kugenggam tak kulepas, Elsapun tak menolak, kami hanya saling menatap beberapa kali dengan tersenyum bersama.